
Sepekan berlalu, bu Sinar memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
“Sebaiknya kamu juga angkat kaki. Saya tahu kamu mamanya Nayla, tapi kamu juga harus tahu diri Alya. Kita sudah resmi bercerai dan saya sudah punya istri. So please, keluar dari rumah ini sekarang juga. Ini uang untuk biaya hidup kamu di luar.”
“Tidak usah repot-repot mengusir Alya. Dia akan ikut mama ke rumah. Ayo Alya, kamu ikut mama!”
Alya mengambil kopernya di kamar tamu. Dengan langkah cepat ia keluar dari rumah mewah mantan suaminya itu.
“Yes, dua penyihir jahat sudah pergi. Akhirnya bisa bebas dari omelan mereka,” ucap bu Nuri.
Bukan hanya dia yang senang dengan hengkangnya bu Sinar dan Alya, tapi juga satpam dan sopir pribadi di rumah Agung. Sikap kasar dan over bossy dari kedua perempuan itu, menyebabkan pekerja di rumah Agung tidak betah dengan keberadaan mereka.
“Kepala saya jadi sakit, semua karena Alya. Masih pagi sudah bikin emosi saja.” Mendengar keluhan suaminya, Ega langsung memijat kepalanya.
“Tunggu sebentar ya mas, saya buatkan kamu kopi. Biar kepalamu ini tidak sakit lagi.”
Ega berdiri, bersiap untuk ke dapur. Namun Agung menahan tangannya. “Suruh bibi saja sayang! Kamu pijat lagi saja kepalaku, I love it.”
“Iya mas.”
Ega pun ke dapur, ia meminta bu Nuri menyiapkan kopi untuk Agung. Setelah itu, ia kembali ke kamar untuk melanjutkan memijat kepala suaminya.
“Tadi malam saya mimpi, kamu tidak ke kampus hari ini. Kamu tidak kemana-mana, di rumah saja seharian.”
Ega merespon ujaran Agung dengan mengambil gawainya. Ia menghubungi tiga ketua tingkat, untuk memberikan tugas. Karena hari ini ia tidak akan ke kampus.
Dari luar, bu Nuri mengetuk pintu kamar. “Masuk bi!” titah Ega setelah ketukan itu.
Bu Nuri masuk, meletakkan kopinya. Lalu kembali ke dapur untuk bersih-bersih dan menyiapkan menu makan siang.
“Kunci kamarnya!” perintah Agung padanya.
__ADS_1
Perasaan Ega mulai tidak karuan. Kalau sudah seperti itu, sang singa pasti sudah lapar. Sebentar lagi ia akan menerkam mangsanya.
Agung mengambil segelas kopi itu, meneguknya perlahan-lahan. Beberapa menit berlalu, kopinya sudah habis setengah. Agung meletakkan kembali kopinya, kemudian mendekat ke tambatan hatinya.
“Hidungmu ini lucu sekali, saya suka.”
Agung meletakkan jari tengahnya di sudut mata Ega. Jari manisnya ia letakkan di bawah jari tengah. Ternyata Agung mengurut hidung Ega.
“Kamu lagi apa sih mas? Sakit tau.”
“Ini tips memancungkan hidung, supaya hidung kamu semakin mancung sayang.” Agung tertawa tanpa menghentikan aktivitasnya.
Ia terus mengurut hidung Ega. Sekitar delapan hingga sepuluh kali. Hidung Ega jadi merah dibuatnya. Untung saja itu ia lakukan hanya semenit.
Sesi itu ternyata membangkitkan gairahnya. Sekejap Agung polos, istrinya juga dibuat begitu. Sudah berbulan-bulan mereka menikah, tapi Agung tetap saja meminta jatahnya setiap hari.
Ia barulah berhenti mencumbui istrinya, saat suara radio shalat dzuhur menggema dari arah surau. Sebelum melaksanakan shalat, mereka mandi junub terlebih dahulu.
Setelah itu barulah Agung ke mesjid. Sementara Ega, ia mengeringkan rambutnya dulu sebelum shalat dzuhur di rumah.
Seharusnya Agung yang mengajari Ega, apa boleh buat. Ia baru bertobat setelah menikah dengan Ega. Suara dering gawai mengalihkan fokus mereka. Agung langsung mengambil gawainya yang tak kunjung berhenti berdering itu.
“Assalamu ‘alaykum kak,” ucap Risti di seberang sana.
“Wa ‘alaykumussalam, ada apa dek?”
“Kami ada rumah sakit kak, mama sakit.”
“Rumah sakit? Mama sakit apa sampai harus dibawa ke rumah sakit?”
“Dokter bilang mama terkena radang usus buntu. Mama sekarang sudah di ruangan operasi kak.”
__ADS_1
“Astaghfirullah, kami ke situ sekarang.” Agung memutuskan panggilannya. Setelah bersiap-siap, ia dan Ega langsung cus ke rumah sakit.
Ega menenangkan hati dan pikirannya di mobil, agar tidak terpancing di rumah sakit nanti. Sedini mungkin ia membangun pertahanan, jangan sampai kemarahan bu Sinar yang tadi pagi dilampiaskan ke dia lagi nantinya.
Semuanya sudah ada di rumah sakit, termasuk Nayla yang dijemput Alya saat pulang sekolah tadi. Mereka semua menunggu di luar, sembari mendoakan yang terbaik untuk bu Sinar.
Di ruang operasi, dokter mulai membuat sayatan di perut bu Sinar. Membuang usus buntu yang terinfeksi, yang menyebabkan radang usus buntu.
Alhamdulillah, operasi berjalan lancar. Demi mencegah terjadinya infeksi pada luka, sang dokter meresepkan obat antibiotik. Keluarga bu Sinar pun masuk.
“Kamu masih waras kan? Masa’ menjenguk orang sakit bawa tomat dan yogurt. Masih mending sih bawa yogurt. Tapi tomat? Hello, orang itu bawa buah apel. Atau buah apa kek, asal jangan tomat juga kali. Gimana sih? Katanya dosen, tapi kok goblok ya.”
Alya merasa senang sekali, akhirnya ada celah baginya untuk merendahkan derajat Ega di mata ayah mertua juga adik iparnya.
“Kenapa bawa yogurt dan tomat sih sayang? Kenapa tidak bawa buah yang lain saja?” tanya Agung lembut. Ia tak ingin kalau sampai Ega terluka karena berpikir ia lebih berpihak pada Alya.
“Karena yogurt bisa bikin imun meningkat. Kalau rajin konsumsi yogurt, mama jadi tidak gampang sakit. Kalau tomat bisa bikin usus sehat. Mama kan habis operasi usus buntu. Saya cuman mau usus mama sehat. Maaf ya untuk kebodohan saya.”
Ega menunduk, ia merasa bersalah sekali. Kehadirannya di keluarga Agung memang sebuah kesalahan. Sejak hari pertama ia menikah dengan Agung, bu Sinar memang sudah benci padanya.
Jika saja ia tidak bertemu Agung di Belanda. Ia tidak akan bertemu bu Sinar, mertua yang tak pernah menganggapnya sebagai menantu.
Jika saja ia bisa cuek pada orang lain. Ia tidak akan peduli pada Nayla dan Agung saat itu, yang menyebabkan Agung bisa jatuh cinta padanya. Bahkan sampai mengancamnya untuk melahirkan anak, jika ingin keluarganya baik-baik saja.
“Kamu sudah dengar sendiri kan penjelasan Ega? Dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mama. Seharusnya kamu ngaca Alya, mama itu sakit gara-gara kamu.”
“Kenapa jadi salah saya?” tanya Alya sewot.
“Karena semuanya memang salah kamu Alya. Kamu yang selalu mengajak mama makan sembarangan. Kamu selalu kasih makanan yang tidak sehat ke mama. Akibatnya sekarang mama terkena radang usus buntu.”
“Sudah, sudah Gung. Jangan bentak Alya lagi. Ini semua salah mama, bukan salah dia.”
__ADS_1
Gemes, pak Ramli ikut nimbrung. “Jangan berdebat lagi! Kita sedang di tempat umum, bukan di rumah. Yang terpenting sekarang itu kesehatan mama kalian.”
*Maaf baru up, sibuk di novel sebelah. Terima kasih ya readers masih setia membaca novel ini. Asli terhura, semoga terhibur ya. Love you so much...