
“Apa ini?” tanya Ega curiga. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Agung yang bisanya kasar brubah jadi begitu baik padanya.
“Jus buah berry. Kamu pasti haus kan? Dari tadi kamu bicara terus. Anggap saja jus ini sebagai tanda terima kasih, karena kamu sudah mengajari Nayla seharian.”
“Terima kasih.” Ega mengambil jus yang diberikan Agung.
“Umm, segarnya jus buatanku ini. Dihabiskan dong, jarang-jarang loh saya baik hati begini.”
Agung tersenyum manis sekali. Lebih manis dari jus yang dibuatnya.
“Iya, fresh sekali.” Ega terus meneguk jusnya hingga tak tersisa lagi.
“Minum terus sayang! Sebentar lagi efeknya pasti bekerja. Jadi tidak sabar melihat keganasanmu.”
Agung bermonolog dalam hati, matanya memandang tajam ke arah Ega. Sebentar lagi, mangsanya yang akan mendekat sendiri.
Dua puluh menit berlalu, fly serbuk yang Agung campurkan di jus Ega mulai bereaksi. Di luar sedang hujan lebat, tapi Ega merasa gerah sekali.
Ia jadi tidak bisa fokus memeriksa tugas-tugas yang dikumpulkan mahasiswanya. Bahkan duduk saja rasanya juga tidak tenang.
Ada sesuatu dalam dirinya yang meronta-ronta untuk dipenuhi. Perasaan itu semakin besar tatkala melihat Agung bertelanjang dada di kamar. Ia mondar-mandir tidak jelas di dalam kamar.
“Dia pasti sudah horny. Serbuknya sudah bereaksi, tapi dia tidak minta duluan. Hebat juga ya pertahanannya.” Agung membatin penuh kemenangan.
Agung mendekati Ega. Istrinya yang biasanya sulit untuk diajak kerja sama, kini menurut saja. Tak protes sama sekali saat Agung menggendongnya naik ke atas ranjang.
“Kamu cantik sekali malam ini Ga.” Bahkan kalimat paling menjijikkan dari mulut Agung itu terdengar normal sebagai sebuah pujian.
Jika biasanya Ega pasif, kali ini justru dia yang mendominasi. “Kamu ternyata sangar sekali,” ucap Agung setelah permainan panas mereka.
Ega merasa malu sekali. Saking malunya ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Tingkahnya itu justru membuat Agung tertawa keras melihatnya.
...****...
“Tadi malam hujan lebat, pasti banyak bunga yang mekar. Udara di luar pasti segar sekali. Sepedaan yuk.”
“Badanku pegal semua mas. Kamu pasti memasukkan sesuatu ke jus berrynya kan? Jahat sekali kamu mas.” Ega menarik kembali selimut yang ditarik Agung tadi.
__ADS_1
“Tenang saja, saya yang mengayuh. Kamu tinggal duduk manis. Mumpung kamu tidak ke kampus, ayo bangun Ga!”
Suara Agung yang mulai meninggi membuat Ega ketakutan. Jangan sampai jiwa monster Agung keluar lagi, bisa berabe nanti.
“Pelan-pelan dong mas. Jangan ngebut!” Tetap saja, Agung membalap sepedanya.
“Kamu takut jatuh ya? Makanya peluk yang erat!” Dengan terpaksa, Ega memeluk Agung.
Tak lama setelahnya, Agung memarkirkan sepedanya. “Kenapa berhenti mas?”
“Beli buah dulu untuk Nayla,” ucapnya sembari mengeluarkan uang kertas. Ia memang sengaja membawa uang, persiapan membeli jajanan di pinggir jalan.
”Ini kan buah mangga. Tidak usah beli mas, percuma. Nayla, pasti tidak akan makan. Dia kan tidak suka makan yang asam-asam.” Ega menepuk jidatnya.
“Dasar bodoh, I’m Nayla’s father. Tidak mungkin saya tidak mengenali anak sendiri. Saya beli ini untuk kamu Ga,” batinnya.
Setelah itu mereka kembali ke rumah. Krena kelamaan bersepeda, Nayla berangkat ke sekolah tanpa menyalami mereka berdua.
Saat Agung sedang mandi, gawainya berdering tak hanya sekali. Setelah mengumpulkan keberanian, Ega akhirnya memeriksa gawai itu. Melihat nama Bella, Ega menjadi kesal.
“Sudah jam delapan, kenapa belum ada di kantor sayang?” tanyanya dengan nada seperti mendesah.
“Rasain kamu Bella. Kalau lagi gabut gini, jiwa usilku kambuh. Siapa suruh kamu menelepon, makanya jangan kegatalan. Makan tuh sayang.” Ega tertawa lepas sambil menghapus riwayat panggilan Bella.
“Pantas saja sikapnya mulai dingin. Sudah dapat jatah rupanya. Lelaki sialan, habis manis sepah dibuang. Giliran tidak dikasih, datangnya ke saya juga.” Bella meluapkan kekesalannya dengan menendang kursi Agung.
Agung sudah selesai mandi. Dengan cekatan ia mengenakan pakaian yang sudah disetrika pembantu. Tak lupa juga sarapan sebelum ke kantor.
Ega merasa jenuh sekali di rumah. Untung saja Agung mengizinkannya untuk ikut ke kantor. Awalnya tujuannya ikut ke kantor hanya untuk melepas jenuh. Tapi kehadiran Bella di ruangan Agung membuatnya risih.
“Nih ulat keket nempel terus ya. Perlu digaruk keknya,” batinnya.
“Good morning Bella cantik! Apa kabar?”
“Good morning kak, alhamdulillah baik.”
“Bella, kamu kan cantik. Kenapa belum menikah? Sayang loh kecantikan kamu kalau cuman jadi pajangan.”
__ADS_1
“Mungkin karena saya terlalu berharga, jadi para lelaki minder mau melamar saya.” Bella menatap nakal ke arah Agung.
“Hargamu berapa sih sampai bikin lelaki minder?”
“Tidak bisa dihitung kak. Saya itu tak ternilai.” Bella memilin rambutnya.
“Gratis dong?” Ega tersenyum licik.
“Saya ke ruangan dulu. Lupa, ternyata masih banyak yang belum saya kerjakan.”
Suasana ini membuat Agung jadi tidak mood lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia memutuskan untuk balik ke rumah saja.
...****...
Agung mengganti pakaian kantornya dengan pakaian olahraga. Sudah lama ia tidak ke ruang olahraganya itu. Ega yang benar-benar gabut ikutan ke ruangan itu untuk melihat-lihat Agung berolahraga.
Agung memasangkan sarung tinju pada Ega. “Kamu harus belajar ilmu bela diri.”
“But I don’t know how to do this.”
“It’s easy, anggap saja samsak ini adalah orang yang paling ingin kamu pukul sekarang.”
Ega mulai meninju samsaknya. Yang muncul di
pikirannya saat memukul samsak itu adalah Agung dan Bella. Lebih tepatnya momen saat Bella bercumbu dengan Agung di kantor.
“Kalian berdua jahat,” teriak Ega ke samsak. Ia melepaskan sarung tinjunya, lalu berlari ke kamar.
Agung keheranan melihat tingkah absurd Ega
barusan. Ia menyusulnya untuk mencari tahu yang sebenarnya terjadi. Yang ia dapati, Ega menangis sesenggukan di dalam kamar.
“Kamu tidak pernah cinta ke saya kan mas? I never hurt you, but you? Kamu selalu berbuat sesuka hati. Kalau tahu akan diperlakukan seperti ini. Saya tidak akan pernah mau mengenal kamu mas.”
“Pertama kali melihat kamu di Belanda, saya sudah jatuh cinta. Sikap kamu membuat saya begitu jatuh cinta. Kamu cerdas tapi tidak sombong. Itu yang membuat kamu berbeda dari perempuan lain di mataku. Kamu juga selalu tampil apa adanya. Those all made me fall in love to you.”
“It’s literally bullshit. Kalau cinta, kenapa kamu selalu ringan tangan ke saya? Kamu juga diam-diam berhubungan dengan Bella di kantormu. Padahal kita sudah resmi suami istri.”
__ADS_1
“Let bygones be bygones dong Ga!” Agung yang kesal tidak melanjutkan ucapannya. Ia keluar dari kamar, menuju ke ruang olahraga. Ditinjunya samsak itu tanpa henti.
*Terima kasih masih setia membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers