
“Pacar barunya Bobby kurang ajar sekali. Awas saja kalau ketemu, kujambak rambutnya habis-habisan. Kalau perlu kucukur rambutnya seperti Ronaldo Wati.”
“Hush, tidak boleh begitu dek. Tanpa kamu kasari pun, dia tetap akan terluka. Percaya deh, dia juga akan terluka sama persis dengan yang kamu rasakan saat ini.”
“Terima kasih ya kak sudah mau repot-repot datang ke sini cuman untuk mendengar curhatanku.”
“Sama-sama dek.”
Perasaan Risti akhirnya baikan. Hatinya yang tadinya kelabu, kini mulai berwarna seperti pelangi. “Biarkan saja mereka bersama. Biarkan dua orang bangsat itu bersatu Ris. Mereka tidak selevel dengan kamu,” batinnya.
Sudah sore, Ega dan Nayla pamit pulang. Malam ini Ega tidak mengajari Nayla baca puisi, melainkan membaca iqra. Terlihat jelas, apa pun yang dilakukan bersama Ega, Nayla pasti suka.
Selang beberapa menit, Agung mengambil alih aktivitas Ega saat mertuanya menelepon. Ega melangkah keluar rumah, lalu duduk di taman. Berbincang-bincang dengan ibunya sembari menatap indahnya langit malam.
“Assalamu ‘alaykum.”
“Wa’alaykumussalam warahamtullah ma.”
“Bagaimana kabar kamu dan keluarga?”
“Alhamdulillah sangat baik ma.”
“Bagaimana dengan suami kamu. Dia baik kan ke kamu?”
“Iya, baik. Kenapa mama bertanya seperti itu?”
“Mama hanya takut dia memperlakukan kamu dengan buruk. Dia kan orang yang sangat berada, sementara kamu berasal dari keluarga yang sederhana. Jangan sampai kan dia memandang kamu sebelah mata.”
“Tidak sama sekali ma. Mas Agung sangat baik. Mama tidak usah mengkhawatirkan masalah itu.”
Tanpa sepengetahuan Ega, Agung menguping pembicaraan istri dan mertuanya itu. Selama ini, ia seringkali menyiksa Ega. Ia tak menyangka, istri yang sering ia kasari rela berbohong demi menjaga nama baiknya.
“Alhamdulillah kalau begitu. Rajin-rajin baca surah Al-Furqan ayat 74, kalau mau rumah tanggamu langgeng seperti mama dan papa."
Ega dan ibunya berbicang lama. Hingga tak terasa, sudah isya saja. Ibunya mengakhiri panggilan teleponnya untuk melaksanakan shalat isya.
Dengan sempoyongan, Ega kembali ke kamar.
“Mau apa mas?” tanya Ega setelah tiba di kamar.
“As you see, saya pakai peci dan celana panjang. Mau apa lagi kalau bukan mau shalat sayangku, cintaku, istriku?”
“Hah? Lelaki muslim yang sudah baligh wajib shalat lima waktu di mesjid mas. Boleh shalat di rumah, tapi shalat sunnah. Shalat lima waktu juga bukan permainan, yang hanya kamu lakukan saat moodmu sedang bagus.”
“Mulai sekarang, saya akan shalat lima waktu terus. Saya juga akan ke mesjid untuk shalat lima waktu berjama’ah.
__ADS_1
“Alhamdulillah kalau begitu. Sudah sana ke mesjid, keburu iqamah tu.”
Dari lubuk hati yang paling dalam, Ega merasa biasa saja. Terlalu sering disakiti, membuatnya sulit untuk berafirmasi positif pada Agung.
Ega, Nayla, dan bu Dara kini shalat isya berjama’ah di mushallah rumah. Bu Nuri sebagai imam, berdiri di antara Ega dan Nayla.
“Cium,” Agung yang baru saja pulang dari mesjid menyodorkan punggung tangannya ke Ega.
Saat Ega mencium punggung tangannya, secepat kilat Agung menciumi kepala Ega. Aneh, satu kata yang mewakili perasaannya saat ini. Ega menengadah, kali ini senyum Agung benar-benar manis di netranya.
“Apa ini efek dari serbuk fly? Tapi hari ini Agung tidak pernah kasih saya jus.”
Ega menepis monolognya, segera ia mengambil Al-Qur’an bersampulkan warna coklat itu. Mulai detik ini, ia akan mengamalkan tips dari ibunya. Setiap mengaji di rumah, ia tidak akan pernah alpa membaca surah Al-Furqan ayat 74 itu.
“Dan orang-orang yang berkata, ’Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.’ Pantas saja mama menyarankan membaca ayat ini. Semoga saja Agung bisa berubah,” batinnya.
...****...
Tak terasa, sepekan sudah berlalu. Atas motivasi ibu sambungnya, Nayla memberanikan diri untuk tampil di seleksi lomba baca puisi.
Tatapan penuh keraguan, juga tawa teman-temannya, tak menyurutkan tekadnya untuk turut berpartisipasi. Seperti kata ibunya, jika gagal coba lagi tahun depan.
Ucapan itu yang terus Nayla genggam erat. Sehingga tiap kali ingin putus asa, kata-kata ibu sambungnya itu lah yang menguatkannya.
“Saleha, dalam karyanya Pejuang Ilmu
Di bangku sekolah ini kita bertemu
Awalnya, kita hanya saling melempar perahu nan ayu
Nyatanya, sapaan, gurauan, bahkan tangisan berhasil merangkul kita menjadi satu
Impian demi impian kita bangun setinggi langit
Atas nama pendidikan kita semua berakit
Lewati samudra rintangan yang berujung penat
Demi meraih cita-cita yang bermartabat.”
Setelah itu, Nayla membungkuk ala orang Jepang. Tepuk tangan bergemuruh atas penampilannya barusan. Nayla yang tadinya dipojokkan, kini dipuja-puja.
“Bagus sekali puisinya nak.”
Baru kali ini kepala sekolah, yang body dan kepribadiannya seperti cekgu besar di Upin Ipin itu tidak ketus pada Nayla.
__ADS_1
Seingatnya, tiap kali ia dipanggil ke kantor karena berkelahi, bu kepsek pasti melotot ke arahnya. Baru kali ini saja bu kepsek tersenyum padanya.
“Wali kelas Nayla siapa ya?”
“Saya bu,” sahut bu Asma.
“Hebat sekali bu Asma, ibu berhasil menyulap Nayla menjadi siswa yang patut dibanggakan.”
“Nayla bisa begitu bukan karena saya bu. Saya hanya bantu mengarahkan, selebihnya usaha Nayla sendiri bu.”
“Tetap saja kamu berperan penting. Oh ya, tolong kamu hubungi walinya Nayla. Suruh datang ke sekolah temui saya besok.”
“Iya bu, nanti saya sampaikan.
...****...
Di sore hari, bu Asma menghubungi nomor Agung. Tanpa basa-basi, ia menyampaikan amanat bu kepsek tadi pagi.
Agung kembali tidak dapat mengontrol diri, energi negatif kembali menguasainya. “Kamu buat kesalahan apa lagi Nayla? Sudah berapa kali papa bilang, jangan buat masalah di sekolah. Papa malu dicap gagal mengurus kamu.”
Gertakan Agung membuat Nayla menangis. Ega langsung memeluk putrinya itu. Pelukan Ega, membuat perasaannya berangsur-angsur membaik.
“Nayla sayang, bukannya hari ini kamu ikut lomba baca puisi ya?” Nayla mengangguk.
“Kamu buat apa tadi di sekolah? Sampai papa disuruh ke sekolah besok karena kamu sayang?” tanya Ega begitu lembut.
“Saya tidak buat apa-apa tante, cuma baca puisi.”
“Ya sudah kalau begitu, ayo sini kita tidur. Sudah malam, kamu pasti ngantuk kan?”
Nayla mengangguk lagi, Ega menggendong Nayla masuk ke kamar. Tindakannya itu berhasil mengembalikan senyum Nayla.
Melihat Nayla terlelap, Agung mengkode Ega.
“Kasihan Nayla mas ditinggal sendiri.”
“Sebentar saja sayang, please!”
“Janji ya tidak lama?”
“Iya, janji.”
Agung memboyong Nayla ke kamar khusus untuk memproduksi buah hati. Agung menepati janjinya, hanya sebentar. Setelah itu, mereka langsung wudhu. Akan mandi junub sebelum memasuki waktu shalat subuh.
*Terima kasih masih setia membaca, sehat selalu dan jangan lupa tinggalkan jejak ya readers
__ADS_1