Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Pernikahan Kedua


__ADS_3

Agung menikah demi mendapatkan seorang putra, yang bisa menjadi penerus perusahaannya. Ia juga membutuhkan istri yang bisa merawat Nayla dengan baik.


Sementara Ega, alasannya ingin menikah adalah agar bisa terhindar dari gangguan pak rektor, yang mengincarnya untuk dijadikan istri keempat.


Dengan alasannya masing-masing, Agung dan Ega kini sepakat untuk menikah. Padahal seharusnya tujuan umat muslim untuk menikah ialah untuk menjalankan perintah Allah. Menyempurnakan separuh agama. melaksanakan sunnah Rasul, dan sebagainya.


Pernikahan mereka dilangsungkan saat musim libur. Sehingga Dinda, adik pertama Agung yang melanjutkan S2-nya di luar negeri, bisa balik ke Indonesia untuk turut serta memeriahkan acara nikahan kakaknya.


Ini pernikahan kedua Agung. Tapi tetap saja ia merasa deg-degan, seperti saat ijab qabul di pernikahannya yang dulu dengan Alya.


Mahar yang ia berikan pada Ega begitu fantastis. Baru kali ini ada pemberian mahar yang begitu besar di kampung Ega. Membuat panas dingin para tetangga yang suka menggosipinya.


“Hebat juga ya ternyata si Ega. Terlambat menikah, pas nikah dengan lelaki yang kaya raya. Meskipun suaminya duda, tapi bergelimang harta.”


“Betul bu Bintang, Ega ini sekali menikung dua tiga orang terlampaui,” sahut bu Rami.


Begitulah sudut pandang manusia, ia seperti plastisin yang dapat berubah-ubah wujud dengan cepat. Yang kemarin mengatai tanpa henti, kapan saja berbalik memuji-muji.


Usai menikah, Agung membawa keluarga kecilnya ke rumah baru. Di taman terdapat banyak bunga lavender. Tersedia banyak permainan anak juga.


Agung juga menepati janjinya pada Ega mengenai pembantu. Ia bahkan merekrut satpam, sopir pribadi, serta tukang kebun.


...****...


“Mau pilih seprei yang mana?” tanya Ega sembari memperlihatkan tiga seprei baru, dengan motif dan warna yang berbeda.


“Pilih kamu saja,” ucap Agung sembari mengedipkan matanya.


“Yang serius dong mas. Jangan gombal terus!” Ega memanyunkan bibir.


“Terserah kamu saja sayang.” Agung lalu duduk di atas tempat tidur.


“Sebagai kepala keluarga, kamu itu harus tegas mas. Kamu harus bisa memutuskan apa pun dengan bijak. Jangan malah bilang terserah saat ditanya. Abu-abu, classy dan elegan. Merah, bisa membangkitkan semangat. Kalau pink, penuh kelembutan. Mau yang mana?”


“Yang abu-abu saja. Supaya darah v*rgin kamu bisa kelihatan jelas.” Agung mendekat pada Ega seperti buaya lapar.


Bak kancil yang selalu berhasil mengelabui buaya. Ega mengatakan sangat lelah saat Agung meminta jatah malam pertamanya.


Tak ada des*han di malam pertama pernikahan mereka. Agung malah dihadiahi kekurangan Ega. Perempuan yang begitu sempurna di matanya itu, rupanya mendengkur saat tidur.


Untungnya Ega tidak mendengkur setiap malam. Ia hanya mendengkur jika di siang hari aktivitasnya padat.


Yup, karena kelelahan lah Ega mendengkur. Sehingga saat ia terlelap, otot-otot tubuhnya menjadi rileks. Saking rileksnya ia pun mendengkur, seperti yang malam ini Agung saksikan.


Keesokan harinya di siang hari, sepulang dari kantor. Agung kembali meminta jatah pada istrinya. Untungnya Nayla sudah pulang sekolah.


Jadi Ega bisa mengelak lagi untuk memberikan jatah dengan melibatkan Nayla. Ia beralasan ingin menemani Nayla tidur siang.


Demi memprioritaskan jam tidur anaknya, Agung kembali mengalah. Dan lagi, si kancil yang cerdik kembali berhasil mengelabui sang buaya buntung.


Kedudukan kini menjadi 2-0 bagi Ega. Padahal kedudukan yang sebenarnya adalah, skor Ega tertinggal jauh dari suaminya.


Agung yang tak mampu mengontrol hawa nafsunya, segera keluar rumah. Menuju ke hotel esek-esek, bersama salah satu kupu-kupu favoritnya di kota Makassar.


Ega yang sholihah, tentunya tak tahu kalau suaminya ternyata doyan jajan di luar. Di matanya kekurangan Agung hanyalah seorang perokok aktif, juga agak lalai memperhatikan anak. Selebihnya, Agung adalah lelaki yang cukup baik.

__ADS_1


Saat sedang menemani Nayla tidur siang, gawai Ega berdering tanpa henti. Ia tak menyangka, pak rektor ternyata masih genit ke dirinya. Padahal dia sudah menikah.


Sebagai perempuan yang telah berstatus sebagai istri orang, Ega mulai membatasi hubungannya dengan lawan jenis yang bukan mahramnya, seperti pak rektor.


Ega yang sudah berhenti bekerja di kampus, sebenarnya sangat ingin memaki-maki pak rektor. Ia juga ingin sekali memblokir lelaki yang doyan kawin ini dari kontaknya.


Tapi setelah berpikir secara matang-matang, Ega memilih untuk tetap menjaga sikap. Tetap bermain cantik dan elegan seperti biasanya.


Amarah yang meluap-luap, bukanlah emosi yang layak untuk ditampakkan. Apalagi oleh perempuan yang berkelas sepertinya.


Ega akhirnya menghindar dengan cara meminta maaf pada pak rektor, karena tak bisa mengangkat telepon darinya. Alasan pamungkasnya adalah Nayla sedang tidur siang di sampingnya.


Ega juga mengatakan kalau suaminya pencemburu. Ia tak diizinkan untuk menyimpan kontak lelaki lain yang bukan keluarganya.


Bukannya menyerah, pak rektor justru semakin bersemangat ingin mendapatkan Ega. Bahkan baginya, Agung adalah saingan.


Ega merasa lega telah mengungkapkan semua pada pak rektor. Ia tak tahu kalau pak rektor adalah pemburu yang tangguh, yang akan terus berusaha untuk mendapatkan buruannya.


Setelah bangun dari tidur siangnya. Ega mengajak Nayla untuk mandi bersama. Mereka berdua kini berada di kamar mandi.


Setelah itu, mereka keluar rumah. Menikmati suasana menjelang sore dengan ditemani buah anggur di taman yang asri.


Mengonsumsi anggur ungu di taman yang dipenuhi dengan bunga lavender ungu. The real definisi Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?


“Tante, kalau buah anggur manfaatnya apa sih?” Otak Nayla bernostalgia ke momen ia makan buah di apartemen Ega, ketika berlibur di Belanda.


Tante, Ega sebenarnya sedih saat mendengar Nayla memanggilnya dengan sebutan itu. Ingin sekali rasanya ia menyuruh Nayla untuk memanggilnya mama. Tapi diurungkan, biarlah Nayla yang berinisiatif memanggilnya mama.


“Anggur adalah buah yang bisa mencegah penyakit rematik sayang.”


“Kalau mau seperti tante, kamu harus rajin membaca sayang.”


“Saya belum bisa membaca tante.” Muka Nayla yang tadinya ceria, kini menjadi murung.


Ega tersentak kaget mendengar pengakuan Nayla. Namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja demi menjaga perasaan anaknya ini.


Ega tak menyangka, Nayla anak yang kaya raya ternyata belum tahu membaca. Dengan uang yang banyak, Agung seharusnya mencarikan guru privat belajar membaca terbaik bagi anaknya.


Fakta tentang Nayla ini mengingatkan Ega pada materi yang ia dapatkan di kampus. Di mata kuliah perkembangan pendidikan, ia belajar tentang kecenderungan dominan otak anak dan dampaknya pada proses pembelajaran.


Dari situ Ega menyimpulkan bahwa Nayla adalah anak dengan tipe dominan berotak kanan.


Selain sulit mengerjakan soal-soal matematika, anak dengan kecenderungan berotak kanan juga kesulitan dalam mengeja suku kata.


Hal inilah yang membuat anak dominan otak kanan terlambat bisa membaca. Dibanding anak yang cenderung berotak kiri.


Ini juga mengingatkan Ega pada Sinta, sahabatnya di kampung.


Waktu masih duduk di bangku kelas satu SD, Sinta adalah murid yang sangat bodoh. Nilai rapornya semua rendah, kecuali olahraga.


Di antara semua pelajaran, Sinta paling lemah di matematika. Setiap kali diminta naik mengerjakan soal matematika di depan, Sinta pasti tidak pernah menjawab dengan benar.


Saat wali kelasnya melakukan lomba membaca cepat antara dua siswa di kelas, Sinta pasti selalu kalah. Ini terjadi karena Sinta memang malas sekali belajar.


Seringkali Ega mendapati Sinta tak ingin diajar membaca di rumah. Kalaupun mau, Sinta pasti ngeyel bacaannya benar saat ditegur. Padahal Sinta memang salah.

__ADS_1


Hingga pada suatu hari, sikap Sinta berubah drastis. Setelah diberikan satu buku bergambar oleh ibu Desi, Sinta jadi bersemangat dalam belajar.


Ibu Desi merasa sangat senang melihat perkembangan Sinta ini.


Saat lomba membaca cepat di kelas, bu Desi tidak mengadu Sinta dengan siswa lain.


Ibu Desi mengambil alih tugas siswa lain ini. Dialah yang berlomba dengan Sinta.


Sang wali kelas ini tak ingin menyurutkan semangat belajar siswanya yang menggebu-gebu.


Untuk menyenangkan hati Sinta, ibu Desi berpura-pura lambat membaca. Membiarkan Sinta menang pada lomba membaca kali itu.


Trik ini ternyata berhasil membuat Sinta jadi rajin membaca. Tak hanya bisa membaca, Sinta juga jadi lebih baik di semua mata pelajaran.


Hal ini mengantarkan Sinta yang tadinya sangat bodoh, menjadi peringkat satu di kelas.


Ega dan Sinta menjadi semakin akrab setelahnya, karena Sinta sering bermalam di rumah Ega saat ada lomba tingkat gugus kecamatan.


Di malam sebelum lomba, mereka berdua memang selalu belajar hingga larut malam di rumah guru pembimbing.


Rumah Sinta yang jauh dari rumah guru ini, membuatnya takut untuk pulang malam. Karena itulah ia menginap di rumah Ega.


Pertama kali belajar bersama untuk persiapan lomba, Ega ditunjuk mengikuti lomba IPA, sementara Sinta mewakili lomba matematika.


Padahal Ega yang cenderung berotak kiri, sebenarnya lebih mahir di pelajaran matematika.


Sedangkan Sinta yang cenderung berotak kanan, lebih suka IPA. Membayangkan gambar daun, hewan, dan sebagainya membuatnya lebih mudah mengingat pelajaran IPA dengan baik.


Bu Indri mulai mengetes kemampuan Ega dan Sinta. “Ega, sapi bernafas dengan apa?” tanyanya.


“Dengan perut bu,” jawab Ega setelah berpikir agak lama.


Sinta terkekeh mendengar jawaban Ega. “Paru-paru Ega. Bukan perut,” sahutnya.


Bu Indri lalu beralih ke Sinta. Menanyakan tentang perkalian, Sinta kesulitan menjawabnya. Justru Egalah yang menjawabnya dengan cepat.


Sinta lalu menawarkan Ega untuk barter mata pelajaran. Ega mengiyakan, disusul bu Indri.


Di hari lomba, Ega yang memiliki pembawaan santai, menenangkan Sinta yang panikan.


Hingga bel berbunyi, siswa perwakilan masing-masing sekolah di gugus 5 berkumpul di depan kantor.


Peserta lomba ini kemudian diarahkan ke ruangan lomba.


Dengan tenang Ega mengikuti lombanya. Sementara di ruangan lain, Sinta tampak panik sekali di sesi cerdas cermat.


Anak yang cenderung berotak kanan, memang tidak bisa diberi tugas yang dibatasi oleh waktu. Karena ini akan membuat mereka panik.


Di sesi cerdas cermat, siswa harus berebutan menjawab soal yang diberikan oleh panitia.


Beruntung kemampuan Sinta yang mudah mengingat gambar, membuatnya bisa menjawab satu soal dengan benar. Lomba pun berakhir dengan kemenangan Sinta dan Ega.


Kekurangan Nayla itu mengingatkan Ega pada Sinta. Sebagai ibu yang baik, Ega bertekad akan mengajar Nayla dengan sungguh-sungguh. Agar bisa seperti Sinta, bahkan lebih.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2