Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Watak Asli


__ADS_3

Agung menunda meetingnya dengan client pagi ini, karena ia harus ke sekolah. Menemui wali kelas Nayla yang meneleponnya kemarin sore.


“Mohon maaf sebelumnya pak. Saya sebagai wali kelas ingin memberitahu, kalau Nayla terancam tinggal kelas.”


“Hah? Tinggal kelas? Anak saya kan rajin ke sekolah bu. Pekerjaan Rumahnya juga selalu dikerjakan,” tukasnya dengan menatap tajam sang wali kelas.


“Nayla memang rajin, tapi itu tidak bisa menjadi jaminan untuk dia naik kelas pak. Berdasarkan peraturan yang berlaku, siswa tidak bisa dinaikkan ke kelas tiga kalau tidak bisa membaca. Kalaupun dinaikkan, itu hanya percobaan. Yang kalau tidak berhasil, diturunkan lagi ke kelas dua.”


“Begini saja, tolong ibu usahakan bagaimanapun caranya agar anak saya tetap bisa naik kelas. Imbalannya, saya akan kasih uang berapa pun yang ibu mau.”


“Mohon maaf sekali pak Agung, saya tidak bisa bantu.”


“Sekolah macam apa ini? Urus begini saja tidak becus. Kalau begitu, sekarang juga buatkan Nayla surat pindah. Saya akan menyekolahkan dia di sekolah lain.”


“Percuma bapak pindahkan Nayla. Karena di sekolah mana pun, aturannya tetap sama pak. Siswa akan tinggal kelas jika tidak bisa membaca. Kalau bapak pindahkan Nayla ke sekolah lain, fokusnya justru bertambah. Pertama, dia harus beradaptasi dengan teman-teman barunya. Kedua, dia harus belajar membaca agar tidak tinggal kelas. Kalau tetap di sekolah ini, Nayla hanya harus fokus belajar membaca.”


“Kalau begitu, Nayla tetap akan bersekolah di sini. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar secepatnya Nayla bisa pintar membaca. Maaf, karena terlalu emosi saya jadi bentak-bentak ibu.”


“Iya, tidak apa-apa pak. Saya paham kok kalau bapak sedang pusing. Baiklah, bapak boleh pulang sekarang! Terima kasih sudah berkenan hadir menemui saya.”


“Terima kasih atas pengertiannya bu. Seharusnya saya yang berterima kasih ke ibu. Sudah begitu peduli pada anak saya.”


Setelah mengucapkan salam, Agung langsung berangkat ke kantor. Ia duduk sejenak terlebih dulu di ruangannya. Memperbaiki moodnya sebelum ketemu client.


Sepulangnya dari kantor, Agung langsung pulang ke rumah. Ia bergegas ke kamar anaknya. Tampak Nayla sedang tidur siang.


“Mulai sekarang, kamu tidak boleh tidur siang! Pulang dari sekolah, harus belajar membaca sampai sore. Tadi pagi, papa ke sekolah. Kata bu Dara kamu terancam tinggal kelas. Kalau di semester ini belum pintar membaca, siap-siap saja tinggal kelas. Kalau sampai tinggal kelas, papa akan bawa kamu ke kampung mamamu. Kamu tinggal dan sekolah di sana saja,” bentak Agung.

__ADS_1


“Jangan membentak begitu dong mas! Kasihan Nayla,” ucap Ega sembari menenangkan Nayla yang tengah menangis.


Nayla sudah pernah berkunjung ke kampung ibunya. Tapi tidak lama, karena Nayla tidak betah tinggal di sana. Selain karena kampungnya yang sunyi, juga karena nenek Nayla di sana suka marah-marah.


“Kamu tidak usah ikut campur. Kamu itu orang baru di keluarga kami. Belum tahu Nayla senakal apa. Mulai sekarang, kamu jangan terlalu memanjakan dia!”


“Tidak ikut campur kamu bilang mas? Saya ini istri kamu loh. Semua hal menyangkut kamu dan Nayla itu urusan saya juga.”


“Enteng sekali mulutmu mengatakan istri. Sementara tugas utama seorang istri tidak kamu kerjakan. Kamu itu lebih seperti baby sitter yang bertugas menjaga Nayla. Kebutuhanku sebagai lelaki normal tidak pernah kamu penuhi.”


Agung melangkah keluar, meninggalkan Nayla dan Ega yang terluka hebat karena kata-katanya. Lelaki hidung belang ini melajukan mobilnya ke apartemen Bella. Sekretarisnya di kantor.


Di apartemen itu, Bella memuaskan Agung. Perasaan stress Agung, kini berangsur-angsur berkurang. Yang ia rasakan saat ini hanyalah kenikmatan yang diberikan Bella.


Sementara di rumah, Ega sebenarnya ingin sekali menangis. Menumpahkan semua kekesalannya pada Agung. Tapi Nayla yang masih anak-anak, lebih butuh untuk ditenangkan dibanding dia.


Bagaimana tidak? Ega paling takut menikah dengan lelaki pemarah. Tapi suaminya saat ini adalah lelaki yang jika marah suka membentak dan menyalahkan orang lain.


“Puas sekali, di antara semua perempuan yang pernah kutemui. Kamulah yang paling memuaskanku Bella.”


“Kamu sudah menikah, tapi tetap saja mendatangiku saat birahimu memuncak. Kenapa kamu tidak menikahiku saja? Kalau kita menikah, kamu tidak repot lagi mendatangi apartemenku seperti ini. Ceraikan saja istri barumu itu! Perempuan tidak berguna. Tidak bisa melayani suami dengan baik.”


“Kau benar sayang, dia memang perempuan tidak berguna. Seharusnya saya menikahi kamu, bukan dia.”


Agung dan Bella kini tertawa renyah bersamaan. Menertawakan Ega yang mereka anggap istri tidak berguna.


“Kalau setahun ini Ega tidak memberikanku anak, saya akan menikah lagi. Tapi bukan dengan kamu Bella. Kamu memang sangat memuaskanku. Tapi sampai kapan pun, saya tidak akan menikahi perempuan sepertimu.” Agung bermonolog dalam hati.

__ADS_1


Perasaan Agung mulai membaik. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah sebelum masuk waktu magrib.


Sesampainya di rumah, ia mendapati Ega mengusap kepala Nayla yang tengah tertidur. Ia kemudian mendekat untuk meminta maaf atas perkataan kasarnya barusan. Tapi Ega tidak berkata apa-apa.


“Rabu nanti, ada bawahanku yang menikah. Dulu waktu masih sama Alya, dia selalu temani saya ke kondangan. So nanti, kamu yang akan temani saya.”


“Saya mau ikut, asal Nayla diajak juga.”


“Kenapa harus bawa Nayla sih?” tanya Agung kembali emosi.


“Kenapa sih mas kamu marah-marah terus?”


“Bagaimana saya tidak marah, kamu itu selalu saja membantah perintah saya. Diajak ke pesta, kamu malah mau bawa Nayla juga. Kalau dia berulah di sana, saya yang malu Ga.”


“Saya canggung kalau bertemu orang baru mas. Kalau ada Nayla, saya punya teman untuk bicara. Tidak mungkin kan saya SKSD ke bawahan kamu. Atau diam saja seperti orang bodoh. Stay cool, I can guarantee Nayla tidak akan bertingkah yang aneh besok.”


“Suka hati kamu saja,” kata Agung sebelum masuk ke kamar mandi.


...****...


“Pakaian kamu kenapa begini? Ini juga Nayla ikut-ikutan pakai hijab segala.”


“Maksud kamu? Pakaian saya dari dulu memang seperti ini mas.”


“Pakai hijabnya nanti saja, pulang dari kondangan. Jangan pakai terusan juga, yang hadir di nikahan nanti itu orang-orang elit Ga. Bajunya seksi semua, tidak ada yang hijaban kayak kamu. Kamu itu mantan dosen, tapi penampilan kamu norak sekali.”


“Hijab itu bukan hiasan mas, yang bisa dilepas kapan saja hanya karena terlihat tidak elit. Memakai hijab itu kewajiban setiap muslimah yang sudah baligh. Kamu seharusnya bersyukur karena saya dan Nayla mau berhijab. Jadi di akhirat nanti kamu tidak dimintai pertanggungjawaban mengenai ini.”

__ADS_1


“Mulai lagi ceramahnya.Tiap hari tingkah kamu dan Nayla semakin aneh saja. Kalau tahu begini, lebih baik saya berangkat bersama Bella.”


*Jangan lupa tinggalkan jejak, readers


__ADS_2