Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Project yang Sama


__ADS_3

“Pergi ke kampus bawa motor,” kirim Abizar ke WhatsApp Sukran.


“Cakeepp,” balas Sukran cepat.


“Di tengah jalan bannya bocor,” kirimnya disertai emoticon nangis.


“Cakeepp.”


“Cepat ke sini bro. Bukan pantun ini, woyyy.” Abizar mengirimkan foto ban motornya yang bermasalah.


“What, sorry sorry bro. Kirain pantun tadi, saya ke situ sekarang.”


Sukran menghampiri Abizar, selang beberapa menit ia sudah tiba. Dengan bantuannya, dalam hitungan menit motor Abizar sudah ada di bengkel.


Sukran dan Abizar jadi terlambat ikut latihan drama, karena harus mengurusi ban motor Abizar terlebih dulu.


Masalah selesai, mereka segera ke kampus. Tak lama, mereka memasuki ruangan khusus yang disediakan oleh pihak kampus untuk mahasiswa pecinta seni seperti mereka.


“Lagi apa sih Ris?” tanya Kikan yang duduk di samping Risti.


“Lagi cari jaringan yang bagus,” sahut Risti seraya membalik gawainya.


“Ada air minum?” tanya Abizar yang baru saja tiba di ruangan itu.

__ADS_1


Riki langsung memberikan air mineral sisa Risti pada Abizar. Risti tidak menyadari air mineralnya diambil Riki.


Saat jaringan kartu datanya sudah stabil, ia jadi haus sekali. Ingin minum tapi air mineralnya sudah dihabiskan oleh Abizar.


“What are you doing? Kenapa kamu menghabiskan air minumku?” tegur Risti pada Abizar yang memegang botol air mineralnya.


“Jadi ini bukan air minum kamu?” tanya Abizar pada Riki. Senyuman freak dari sahabatnya itu cukup jelas untuk menjawab pertanyaannya barusan.


“Emang the real bestaiii kamu Rik. Riki, Riki, bikin malu saja. Maaf ya Risti, saya tidak tahu kalau ini air minum kamu. Makanya saya habiskan, nanti saya ganti ya.”


“Tidak usah diganti,” balas Risti dengan menampakkan bulan sabit di bibirnya.


“Kamu kenal dia Zar?” tanya Sukran.


“Muka kalian kok mirip ya,” kata Sukran sembari memandangi Risti dan Abizar secara bergantian.


Mendengar itu, Abizar dan Risti jadi canggung. Riki akhirnya berinisiatif mencairkan suasana awkward itu. “Jodoh kali, makanya mukanya mirip. Coba kalau Jodi, mukanya laki.”


“Krik Krik Krik,” ledek Abizar pada candaan Riki yang terdengar garing.


“Perhatian semua, pentasnya akan diadakan pekan depan. So, kita harus latihan dengan sungguh-sungguh setiap harinya. Untuk ceritanya, kita akan mementaskan novel yang berjudul Hipotesis Cinta. Kalian semua setuju kan?” tanya sang ketua.


“Setuju,” gema mahasiswa yang ada di situ.

__ADS_1


“Untuk pemeran pak Dhiaz, kita butuh yang mukanya dewasa. Kamu saja,” tunjuk ketua pada Abizar.


“Untuk pemeran Aisyah, kita butuh yang pakai hijab. Yang agak cerewet juga. Kamu sepertinya cocok,” tunjuknya pada Risti.


“Berhubung kalian bertiga bersahabat, so Riki berperan jadi pak Sakti. Sukran jadi pak Putra,” lanjutnya.


Begitu seterusnya yang dilakukan oleh sang ketua, membagi peran pada mahasiswa yang bersedia untuk tampil drama. Pembagian peran dan script drama kini sudah diselesaikan oleh ketua.


Karena sudah tak ada urusan di kampus, Risti langsung ke Rumah Sakit tempat ibunya dirawat. Ia memasuki ruangan itu dengan wajah murung.


“Kamu kenapa? Seperti orang galau saja,” tanya bu Sinar pada anak bungsunya itu.


“Saya terpilih jadi pemeran utama di pentas drama kampus ma, alhamdulillah berperan jadi asisten dosen. Tapi sayang,” ujar Risti yang baru saja tiba di ruangan itu.


“Sayang kenapa?” tanya bu Sinar penasaran.


“Yang jadi dosennya itu Abizar ma.”


“Abizar? Siapa dia?” Bu Sinar memfokuskan telinganya pada Risti.


“Itu ma, adiknya mantanku yang super duper kurang ajar.”


“Adiknya Bobby?”

__ADS_1


“Iya ma.”


__ADS_2