
Dua bulan kemudian, “Besok saya mau ke sekolah temani Nayla mengambil rapor. Kata bu Asma, dia peringkat tiga di kelas.”
“Kalau begitu biar saya dan Ega saja yang wakili. Nayla bisa dapat peringkat kan karena Ega yang matia-matian mengajarinya setiap hari,” balas Agung.
“Tapi Nayla anak saya, bukan anak dia.”
“Siapa bilang Nayla bukan anak Ega? Sejak saya menikahinya, dia resmi jadi istri saya sekaligus mamanya Nayla.”
“Biar kak Alya saja yang mendampingi Nayla mas, saya juga ada kelas besok.” Ega tetap menampakkan senyumnya, walau sebenarnya ia sedikit terluka.
“Nah gitu dong. Makanya kamu cepat punya anak juga! Biar bisa ke sekolah mendampingi anak mengambil rapor.”
“Maunya juga gitu kak. Tapi mau bagaimana lagi? Kami sudah ikhtiar, tapi Allah belum berkenan memberi amanah anak ke kami.”
“Kamu sih telat nikah, makanya jadi susah kan punya keturunan.”
“Mas saya tunggu di mobil ya.” Ega meninggalkan mereka dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Bisa tidak, sebelum bicara dipikir-pikir dulu?” bentak Agung pada Alya. Ia lalu berlari mengejar Ega.
“Alya memang seperti itu, suka bicara sembarangan. Jangan dimasukkan di hati ya sayang!”
“Kak Alya memang benar mas. Sudah genap setahun kita menikah, tapi saya belum hamil juga. Saya ikhlas untuk kamu ceraikan mas.” Bulir-bulir kesedihan terus menetes dari kedua netra Ega.
“Kita coba setahun lagi. Kalau kamu belum hamil juga, kita program bayi tabung saja.”
Ega tak bergeming, dadanya begitu sesak untuk bicara. Agung meraihnya ke pelukannya.
“Saya sudah tidak bisa mencintai perempuan lain lagi. Di hati saya hanya ada kamu Ga. Jangan pernah katakan cerai lagi ya!”
__ADS_1
Ega mengangguk pasrah, Agung pun melajukan mobil ke rumah. Malam ini mereka diam-diaman di kamar.
Besoknya, Agung khawatir melihat Ega muntah-muntah. “Kamu kenapa sayang?” tanyanya.
“Cuman mual mas, lemas juga. Kamu tidak usah khawatir, nanti juga baikan kok. Cepat ke sekolah mas, Nayla pasti kecewa kalau kamu tidak datang melihatnya.”
“Tapi kamu lagi sakit sayang.”
“Kan ada bu Nuri, ada pak Camar juga di sini. I am fine, just go to school please.”
“Baiklah, tapi kalau ada apa-apa langsung bilang ke bibi ya.”
“Iya mas, pasti.”
Agung mencium kening Ega sebelum berangkat ke sekolah. Seperginya Agung ke sekolah, Ega mengambil gawainya, untuk memberikan tugas online ke mahasiswa sebagai gantinya tidak masuk mengajar hari ini.
Bu dokter memasuki kamar Ega, ia mulai menjalankan tugasnya. Setelah melakukan pemeriksaan, ia tersenyum kecil. “Anda tidak sakit bu,” ujarnya.
“Tidak sakit? Tapi saya merasa lemas sekali bu dokter. Saya juga muntah-muntah terus dari tadi.”
“Morning sickness memang seperti itu bu.”
“Morning sickness? Maksud bu dokter saya hamil?” tanya Ega dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, selamat ya bu.”
“Alhamdulillah. Terima kasih ya bu, sudah repot-repot datang ke sini untuk memeriksa saya.”
“Sama-sama bu, ini memang sudah menjadi kewajiban saya sebagai dokter.”
__ADS_1
Sang dokter kemudian memberikan beberapa jenis vitamin ke Ega. Setelah menerima honor dari Ega, pak Camar mengantarnya kembali ke Rumah Sakit.
Sementara di sekolah, Agung buru-buru ingin pulang. “Kamu kenapa sih buru-buru begitu? Anakmu sedang bahagia tapi kamu malah terlihat tidak betah lama-lama di sini,” tegur Alya.
“Ega sakit,” jawab Agung cepat.
“Kita jenguk tante Ega yuk ma.” Nayla memelas pada ibunya.
“Baiklah, kita jenguk dia. Bagaimana pun dia juga mamamu.”
“Yeee, ma kasih mama sayang.”
Mereka bertiga akhirnya sudah tiba di depan rumah. Dengan langkah cepat mereka berjalan ke kamar Ega sedang berbaring.
“Bagaimana keadaanmu sayang?” tanya Agung khawatir sekali.
“Baik mas,” balas Ega. Senyuman manis menghiasi wajahnya.
“Kata dokter bu Ega hamil pak,” celetuk bu Nuri dengan rona bahagia.
Agung spontan bersujud di atas lantai. “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.”
Nayla bersorak girang. “Yeee, dapat adek baru.”
“Selamat ya Ega,” kata Alya terpaksa.
“Iya kak.”
Dilike ya kakak 👍👍
__ADS_1