
“Astaga, sudah mau jam tujuh. Saya harus balik James. Nayla pasti sudah menunggu di rumah. Saya sudah janji mau antar dia ke sekolah hari ini. Terima kasih ya untuk makanannya.”
Alya melangkah keluar dengan terburu-buru. Beruntung, Nayla belum berangkat ke sekolah. Dengan sigap, ia membawakan tas Nayla.
“Tas kamu kenapa berat sekali sayang? Bawa apa saja kamu ke sekolah?”
“Bawa buku, pensil, sama nasi goreng buatan papa, ma. Bawa air minum juga.”
“Papa?” Alya memastikan ucapan anaknya barusan.
“Iya ma, papa sering buat nasi goreng. Masakan papa enak sekali. Yang paling enak itu tumis kangkungnya, lebih enak malah dari buatan bu Nuri.”
“Hebat juga ya istri barunya, bisa mengubah Agung yang arrogant jadi jinak. Waktu sama saya, mana pernah dia masak. Masa iya saya kalah sama yang baru. Tidak Alya, kamu harus bisa merebut hati Agung kembali.” Alya bermonolog dalam hati.
“Lain kali tidak usah bawa bekal ke sekolah. Papa kan punya banyak uang sayang. Beli saja makanan di sekolah! Pundak kamu nanti sakit loh kalau tiap hari bawa tas berat begini.”
“Kata tante Ega tidak boleh jajan sembarangan di luar ma, tidak sehat. Jadi harus bawa bekal terus ke sekolah.”
Alya kembali membatin kesal. “Oh, jadi nama perempuan sialan itu Ega. Gara-gara dia, Nayla jadi sedikit membangkang. Tidak seperti dulu, dia selalu menuruti apa pun yang saya katakan.”
“Ya sudah, terserah kamu saja.”
Mereka berdua kini memasuki mobil yang di dalamnya sudah ada pak sopir menanti. Saking semangatnya, Alya mengantar Nayla sampai ke depan kelas.
...****...
Senja kembali menyapa, mereka duduk di balkon rumah sembari menikmati teh trabzon yang tertampung di dalam caydanlik berwarna merah.
Tiba-tiba, suasana hening itu dirusak oleh dering gawai Agung. Di layar gawai itu tertera nama bu Asma. Entah informasi apa lagi yang akan ia sampaikan.
Agung langsung menerima panggilan itu. Netranya yang tadinya tajam namun bersahabat, kini menyala tatkala bu Asma mengakhiri panggilannya.
“Kenapa kamu berkelahi lagi di sekolah?” teriak Agung pada anak satu-satunya.
“Bukan salah saya pa, dia duluan yang mengolok-olok. Dia bilang saya bodoh.”
Nayla mencucurkan air mata. Ia khawatir ayahnya akan menghadiahinya pukulan.
“Kamu kan memang bodoh, kenapa marah? Sampai berkelahi segala. Papa eneg Nayla, tiap pekan harus ke sekolah karena kenakalan kamu.”
__ADS_1
“Dia duluan yang memukul saya pa. Kata tante Ega, kalau ada yang memukul kita. Jangan diam saja, harus dilawan balik.”
“Istri barumu benar-benar keterlaluan. Sudah tahu Nayla nakal, malah diajari untuk melawan.”
Mereka semua berbalik melihat si penutur, rupanya itu bu Sinar.
“Mama, saya kangen.” Alya berlari untuk memeluk mantan mertuanya.
“Mama juga kangen sayang. Makanya mama datang ke sini, mau lihat kamu. Sekalian nginap untuk beberapa hari.”
Agung menahan amarahnya, ia tidak berani membentak Nayla di hadapan ibunya. Sementara Alya, kedatangan bu Sinar memancingnya menggunakan kesempatan itu untuk menyudutkan Ega.
“Lain kali jangan berkelahi lagi ya sayang. Kamu harus belajar sabar, jangan mudah terpancing dengan omongan orang lain.” Alya mengelus-elus rambut Nayla.
“Kali ini saya kecewa dengan kamu,” ucap Agung lalu berjalan ke garasi.
Ia mulai melajukan mobilnya ke sembarang tempat yang sunyi, untuk berteriak sekencang-kencangnya.
Sementara Ega, ia masuk kamar. Percuma juga ia mendekati Nayla. Sudah ada Alya yang menjadi sandaran anak sambungnya itu saat bersedih.
Di kamar yang sangat mewah itu, Ega menitikkan air matanya. Tinggal di rumah mewah justru membuat hidupnya tersiksa.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Agung belum juga pulang. Mungkinkah ia menghibur diri bersama Bella, dikala Ega juga sangat butuh untuk dihibur?
Biasanya juga Ega tidak peduli dengan keberadaan Agung di rumah. Dulunya, ia justru senang jika Agung alpa dari pandangannya. Tapi malam ini, ia tidak bisa tidur karena memikirkan suaminya itu.
“Jangan dipikirkan lagi Ga. Ada banyak perempuan di luar sana yang bisa menghiburnya. Tugasmu di sini hanyalah melahirkan anak untuknya. Bukan perhatian atau bahkan jatuh cinta padanya.” Ia bermonolog sebelum memutuskan untuk tidur.
Saat Agung kembali, Ega sudah terlelap. Di peluknya tubuh mungil istrinya itu. Nyaman sekali, seketika ia merasa tenang.
Adzan subuh membangunkan mereka. Ega tersenyum lega menyadari Agung tidur sambil memeluknya. Agung melek, Ega cepat-cepat memejamkan matanya. Membuat Agung berpikir kalau Ega masih tidur.
Agung kembali mengecup dahi Ega. Setelah itu, ia bangkit untuk shalat berjama’ah di mesjid. Ega kembali berbunga-bunga. Gosh, untuk pertama kalinya ia jatuh cinta ke lawan jenis.
...****...
“Mau kemana ma?” tanya Agung kala melihat ibunya tampil begitu fashionable.
“Mama, Alya, dan Nayla mau jalan-jalan ke Barru. Ada sepupu kamu yang akikahan di sana. Anaknya laki-laki loh,” sindir bu Sinar pada Ega yang belum juga hamil.
__ADS_1
“Nayla kan sekolah ma. Terus Ega tidak diikutkan?”
“Bolos sehari tidak apa-apalah. Ega kan mau ke kampus. Lebih baik dia tidak usah ikut, di kampung papamu tidak ada yang pakaiannya over Islamic begitu.”
“Iya ma,” tukas Ega.
Ia sebenarnya tidak punya kelas hari ini. Tapi percuma juga mengatakannya, karena mertuanya pasti tidak suka jika ia ikut. Padahal Ega ingin sekali mengakrabkan diri dengan keluarga Agung.
“Don’t be sad sayang! Kamu bohong kan? Biasanya juga kamu tidak ada kelas.” Ega mengangguk, hampir saja air matanya berlinang.
“Ikut saya ke kantor saja. Nanti sekalian kita jalan-jalan.” Agung menggenggam tangan Ega sampai ke garasi.
“Silakan masuk istriku sayang,” ucapnya saat membukakan pintu mobil. Perlakuan Agung berhasil membuat mood Ega membaik.
Selang beberapa jam, bu Sinar beserta cucu dan mantan menantunya tiba di kampung suaminya.
“Coba lihat perempuan-perempuan di sini, mereka masih muda tapi sudah punya anak. Itu karena mereka menikah muda. Kamu juga harus begitu sayang, jangan seperti si Ega. Karena terlambat menikah, dia jadi susah punya anak.”
Ega tak ada di situ, tapi bu Sinar tetap saja menanamkan stigma negatif ke Nayla. Agar cucunya itu ikut membenci Ega sepertinya.
...****...
“Sudah selesai mas?”
“Belum.”
“Terus kenapa berhenti?”
“I can’t focus, kita jalan-jalannya di kamar saja ya.”
“Hah?” pekik Ega.
Agung tidak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah cepat ke parkiran kantor.
Kali ini ia ngebut. Memboyong istri kecilnya ke kamar. Lingerie dengan warna cerah ia semprotkan parfum daisy marc jacobs.
Kombinasi aroma buah dan bunga dari parfum itu semakin membuat Agung bergairah. Ia mulai merangsek istri yang amat ia cintai itu.
*Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1