Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Rumah Mertua


__ADS_3

Di akhir pekan ini, Agung mengajak Ega menginap di rumah ibunya. Dengan senang hati, Ega menyiapkan pakaian untuk mereka bertiga kenakan di rumah mertuanya.


Mereka tiba di sana setelah asar. Ega yang ingin mengakrabkan diri, langsung bergabung dengan adik ipar dan ibu mertuanya yang tengah duduk di taman rumah.


Sayangnya, ada perbedaan yang signifikan antara Ega dengan mereka berdua. Risti dan bu Sinar sangat suka mengomentari orang-orang yang lewat di depan rumah.


Sementara Ega tidak seperti itu. Ia tidak ikut nimbrung saat mertua dan adik iparnya membahas orang lain.


“Mama lebih suka Alya daripada Ega. Kalau sama Alya, bahas apa pun seru. Beda kalau sama Ega. Dia diam saja kalau diajak ghibah,” ucap bu Sinar setelah Ega dan Nayla masuk duluan ke rumah.


“Iya ma, beda seratus delapan puluh derajat.” Setelah berkata seperti itu, ibu dan anak ini ikut masuk ke rumah.


Di malam hari saat berkumpul di ruang keluarga, bu Sinar memperhatikan kuku Nayla yang panjang. Ia lalu meminta pembantu untuk mengurusi kuku cucunya itu.


“Sini, biar saya bi yang potongkan kuku Nayla. Bibi istirahat saja,” tutur Ega disertai senyum manisnya.


Dengan senang hati bu Dara memberikan potong kukunya ke Ega. Memang sudah dari tadi ia igin berbaring di kamar. Tapi ditunda karena perintah mendadak dari nyonya besar.


Nayla tertidur saat Ega memotongkan kukunya. Setelah selesai, Agung menggendong Nayla masuk ke kamar. Ega menyelimuti anaknya itu. Lalu ikut berbaring di sampingnya.


Agung tidak membiarkan momen ini berlalu begitu saja. Ia mengambil kesempatan untuk memeluk dan menyentuh Ega sesukanya.


“Mumpung di rumah mama. Diapain aja Ega pasti tidak marah. Mana berani dia membentak saya di sini,” batin Agung kegirangan.


Agung mulai melancarkan aksinya, sayangnya Ega tidak semudah itu untuk dibodohi.


“Mas, kuku kamu ternyata lebih panjang dari kuku Nayla. Tunggu di sini ya, saya ambil potong kuku dulu.”


“Gagal maning, gagal maning. Ega, Ega, kamu pikir saya akan menyerah karena penolakan kamu yang berkali-kali ini. Dengan menghindar begitu, saya justru semakin tertantang untuk mendapatkan kamu.”


Ega kini kembali ke kamar dengan membawa potong kuku, yang ia gunakan untuk memotong kuku Nayla tadi.

__ADS_1


“Bibir itu pasti belum pernah disentuh. Gosh, I want it now. Tahan dulu Gung, nanti saja. Kamu harus bisa cari momen yang tepat. Kalau tidak, umpanmu ini bisa lepas.”


Agung bermonolog dalam hati saat menatap Ega, yang tampak begitu serius memotong kukunya. Fantasi liar silih berganti bermain di kepalanya.


“Sudah selesai, lebih bagus kan kalau pendek begini? Lain kali jangan dipanjangkan lagi kukunya!” ucap Ega seperti saat mendikte Nayla.


Tiba-tiba saja Agung mhelhumhat bibir istrinya itu. Ega memberontak, berusaha melepaskan pagutan suami mesumnya. Tapi Agung terus menahannya, seperti tak ingin berhenti untuk melakukannya.


“Melakukan ini dengan Ega rasanya beda sekali. Bahkan Bella yang profesional tak ada apa-apanya dibanding Ega. Sial, bibirnya benar-benar candu.” Agung membatin sejenak sebelum melepaskan Ega.


“Kalau mau cium bilang-bilang dong mas! Jangan asal nyosor begitu,” ucapnya emosi.


Meski sedang emosi, Ega tidak meninggikan suaranya. Selain agar Nayla tidak bangun, juga supaya mertuanya tidak mendengar percakapan mereka.


“I kiss you sebagai ucapan terima kasih sudah memperhatikanku. Memotongkan kukuku yang panjang ini. Lagian kamu kan istriku, kenapa harus minta izin?”


Tidak hanya emosi karena Agung, Ega juga merasa sangat malu. Saking malunya, ia buru-buru berbaring di samping Nayla. Kemudian dengan cepat ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut.


Ega merasa panas dingin mendengar ucapan Agung barusan. Namun sebisa mungkin ia stay calm. Agar tidak ketahuan sedang berpura-pura mengantuk.


“Kamu ngomong apa sih mas? Saya mengantuk sekali, mau tidur. Besok saja ya ngobrolnya.”


Agung yang tertipu dengan tipu muslihat Ega mengurungkan niatnya untuk mengecup bibir istrinya itu. Meski begitu, ia tetap tidur sambil memeluk Ega.


Tak terasa, sudah subuh saja. Ega kembali membangunkan Agung dan Nayla untuk shalat subuh. Dengan sedikit tertatih, Agung melangkah ke mesjid. Orang-orang di mesjid terus menatapnya.


Selama ini, keluarga Agung terkenal sebagai keluarga kaya raya tapi malas beribadah. Itulah kenapa jamaah subuh terus menatap Agung. Itu karena baru kali ini mereka melihat Agung ke mesjid.


Sementara di rumahnya, bu Dara juga setengah tak percaya melihat perubahan Nayla. Sejak ia bekerja pada keluarga Agung, baru kali ini ia tidak sendiri melaksanakan shalat subuh.


Majikannya hanya melaksanakan shalat saat Idul Fitri dan Idul Adha saja. Di luar itu, perlengkapan shalat tak pernah mereka sentuh.

__ADS_1


Bu Dara semakin tersentuh saat Nayla mencium tangannya setelah shalat subuh. Ia tak menyangka, anak yang dulunya begitu angkuh. Kini menjelma menjadi anak yang sholihah.


“Engkau benar-benar Maha Baik ya Allah. Engkau kirimkan bidadari tak bersayap di keluarga ini. Semoga kehadiran nyonya Ega bisa merubah keluarga ini menjadi lebih religius.” Bu Dara berujar dalam hati.


Bukan hanya bu Dara yang merasa bahagia dengan kehadiran Ega, pak Ramli juga. Ia merasa sangat gembira, melihat Nayla sudah bisa makan sendiri. Tanpa menunggu disuapi bibi dulu.


“Kerennya ponakan tante, sudah bisa makan sendiri. Sudah tidak benci sayur juga. You are the best kak.”


Risti mengacungkan jempolnya pada Ega yang telah berhasil mengubah Nayla menjadi lebih baik.


Bu Sinar sebenarnya juga kagum dengan pola asuh menantu barunya ini. Tapi ia tetap tidak bisa menerima Ega dengan baik, karena Ega berhijab.


Seharian berada di rumah mertua berhasil menciptakan keintiman antara Ega dan Risti. Dari dulu Risti menginginkan pendengar yang baik seperti Ega.


Risti merasa sangat senang, akhirnya ia mendapatkan orang yang tepat untuk mendengarkan segala keluh kesahnya. Ia menjadi terbuka pada Ega.


Ia bahkan bercerita mengenai hubungannya dengan pacarnya, yang sedang tidak baik-baik saja beberapa hari ini.


Waktu itu, Risti pertama kali bertemu Bobby di tempat servis komputer milik Bobby sendiri. Risti menemani Hasanah untuk memperbaiki laptopnya.


Bobby yang jatuh cinta pada pandangan pertama, langsung meminta nomor HP Risti.


Agar tidak terkesan seperti lelaki hidung belang, Bobby beralasan jika nomor Hasanah tidak bisa dihubungi. Maka ia bisa menghubungi nomor Risti sebagai alternatifnya.


Saat sedang asyik-asyiknya Risti bercerita, Agung malah memanggil Ega dan Nayla untuk pulang. Karena besok, Nayla harus kembali bersekolah.


“Kalau mau cerita, jalan-jalan ke rumah saja ya dek! Mau chat juga boleh. In Syaa Allah, kakak akan balas.”


Risti pun meminta nomor HP kakak iparnya itu. Setelah menyebutkan 12 digit angka, Ega bergegas ke mobil.


Agung kini melajukan mobil. Sesampainya di rumah, gawainya berdering. Wali kelas Nayla menelepon, memintanya untuk ke sekolah besok. Katanya, ada hal penting yang ingin ia bicarakan.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak, readers


__ADS_2