
“Jangan! Tolong jangan lakukan ini James. Kamu bukan suamiku.” Ega memohon lirih, berharap serigala lapar di hadapannya mau berubah pikiran.
“Kenapa takut sayang? Ini bukan yang pertama kalinya. I am sure, kamu pasti sudah berkali-kali melakukannya dengan suamimu.”
James melepas gamis Ega dengan paksa. Di luar ekspektasinya, bukan celana dal*m juga bra yang nampak.
Ternyata Ega masih memakai pertahanan kedua, legging hitam dan kaos potongan berwarna orange masih menutupi kulit mulus mangsanya itu.
James semakin tertantang, ia jadi semakin buas saja. Ia benar-benar sudah tak tahan ingin menikmati semua yang ada di balik pakaian Ega.
Sementara Ega, ia semakin ketakutan melihat ekspresi pria jal*ng di hadapannya. “Tolong! Tolong saya!” teriaknya disertai tangis.
Ega terus berteriak, walau tahu itu nihil. Tak mungkin ada orang yang mau berkunjung di hutan belantara seperti itu.
Pekikan Ega terdengar, membuat jiwa psikopat Agung meronta-ronta, ia jadi tak sabar ingin menghabisi James. “Seharusnya malam itu dia kubunuh saja,” tuturnya dengan mata menyala-nyala.
Di saat yang bersamaan, pak Ayyas juga memekik. Kaget bukan kepalang, ada batu dari atas yang menggelinding ke arahnya.
Tak dapat menghindar, batu itu pun mengenai kepala pak Ayyas. Mengakibatkan darah mengalir dari kepalanya.
__ADS_1
Agung terpaku, ia tak tahu harus berbuat apa. Haruskah ia menghampiri pak Ayyas di saat istrinya juga berteriak meminta tolong?
“Temui Ega, cepat Agung! Jangan hiraukan saya, istrimu lebih membutuhkanmu sekarang. Just go on, saya baik-baik saja.”
Pak Ayyas duduk, luka di kepalanya terasa kian perih. Cairan berwarna merah itu juga tak kunjung berhenti mengalir dari lukanya.
Pak Ayyas terpaksa harus membuka bajunya untuk menghentikan pendarahan. Roti sobek lelaki tampan dan dewasa itu terpampang nyata.
Tapi tak apa, toh itu tidak termasuk aurat. Apalagi di saat-saat darurat seperti itu. Jika bukan karena urgen, pak Ayyas juga tidak akan mau bertelanjang dada di luar rumah.
Sementara di dalam gubuk, James semakin brutal saja. Ega benar-benar dibuat polos. Sedikit lagi, Ega akan ia gagahi. Tapi sebelum itu, ia membuka borgol Ega terlebih dahulu.
“Awww, perempuan sialan.” Terlalu sakit, James memegangi dua telur kedasihnya.
Ega berlari keluar dari gubuk itu, tak sehelai benang pun yang melekat di tubuhnya. Saat itu juga, Agung sudah tiba di puncak.
Dengan ragu-ragu, Ega mendekatinya. Memastikan terlebih dahulu, bahwa lelaki yang ia lihat itu benar-benar suaminya.
“Kenapa bisa begini sayang?” tanya Agung lalu memeluk istrinya yang tampak sangat ketakutan.
__ADS_1
Kehadiran suaminya di hutan belantara itu sungguh tak pernah ia sangka. Ega pun memeluk Agung dengan tangis haru. Akhirnya ia bisa selamat dari belenggu James.
Dengan cepat Agung melepaskan bajunya untuk ia pakaikan ke istrinya yang tengah bug*l. Baju Agung yang besar terlihat seperti daster di tubuh Ega.
James menyusul Ega, nyalinya seketika ciut kala melihat Agung ternyata ada di situ. Dengan langkah seribu, ia berusaha meloloskan diri dari Agung.
“Jangan lari kamu James, hadapi aku kalau berani. Waktu itu kamu mabuk, jadi masih bisa kutolerir. Tapi sekarang, tidak ada lagi pengampunan. Kau akan mati di tanganku.”
Saat Agung mengejar James, Ega kembali ke gubuk untuk mengenakan pakaiannya. Tak lupa ia membawa borgol yang James gunakan tadi untuk menahannya.
Hanya dalam hitungan menit, James sudah Agung lumpuhkan. Agung kini meninjunya tanpa ampun lagi. Ia benar-benar tak terima, istri yang paling ia cintai disentuh lelaki lain.
“Jangan dibunuh mas, kalau dia mati kamu akan dipenjara.” Tapi Agung tidak mengindahkan ucapan Ega.
“I love you so much mas. I can’t enjoy my day without you in my side. Please stop it!” lanjut Ega.
Mendengar ungkapan cinta dari sang istri, hati Agung mulai luluh. Ia pun berhenti melayangkan pukulannya pada James.
Segera borgol di tangan Ega, ia pasangkan ke James. Setelah itu, ia menghubungi polisi untuk menangkap James.
__ADS_1