Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Cinta Dinosaurus


__ADS_3

“Apa kabar?” kirim pak rektor ke nomor Ega via WhatsApp.


“Alhamdulillah baik pak,” balas Ega disertai emoticon smile setelahnya.


“Sayang sekali ya kamu berhenti ngajar. Padahal dies natalis kampus sebentar lagi.”


“Iya pak. Memangnya boleh kalau saya mau mengajar kembali?” tanya Ega setengah bercanda.


“Boleh, tentu saja boleh bu. Posisi dekan belum ada yang menggantikan. Kebetulan juga, besok itu ada seminar untuk mahasiswa baru. Kalau mau, ibu saja yang jadi pemateri. Soalnya, dosen yang lain kurang berkompeten untuk itu. Sekalian bahas pengalaman ibu saat kuliah di Belanda. Mahasiswa kita pasti tertarik mendengarnya.”


“Ini serius? Bapak tidak bercanda kan?”


“Tiga rius bu Ega. Bagaimana dengan tawaran saya tadi? Bisa kan bu?”


“Wah, terima kasih banyak pak. In Syaa Allah bisa pak.”


“Sama-sama ibu cantik.” Pak rektor kembali membalas chat Ega dengan mengeluarkan jurus buayanya.


“Seharusnya saya yang berterima kasih. Senang sekali rasanya bisa lihat kamu lagi di kampus. Oh bu Ega, kamu benar-benar membuat saya mabuk kepayang.”


“Bicara apa kamu pa? Ega, siapa dia? Kamu niat menikah lagi ya? Sok-sokan mau tambah. Tiga istri saja kamu tidak bisa adil,” tukas istri pertamanya.


“Itu salah satu scene film yang pernah saya nonton ma.”


“Oh, film yang judulnya Azab Sang Rektor Tukang Kawin kan?”


“Hah? Kamu jangan terlalu sensitif dong sayang! Kamu begini karena kurang piknik ya? Bagaimana kalau kita ke pantai besok? Menikmati sunset yang indah. Tapi kasihan sunsetnya kalau ada kamu.”


“Kasihan kenapa pa?” Saking penasarannya, bu rektor meletakkan gawainya. Pandangannya kini ia fokuskan pada suaminya.


“Sunsetnya pasti minder, karena kalah indah sama kamu.”


“Oh ya? Segitunya ya gombalnya, ha ha LUCU. Tidak usah ke pantai pa, kasihan . . . bu Linda menggantung ucapannya.


“Kasihan apa ma? Kalau bicara jangan setengah-setengah begitu dong!”


“Kasihan buayanya kalau kamu ke pantai, mereka pasti minder. Lebih buaya kamu soalnya.”


“Buaya-buaya begini kamu tetap cinta kan?”

__ADS_1


“Iya cinta, tapi jangan sampai cinta saya ke kamu perlahan-lahan seperti dinosaurus pa.”


“Bagus dong ma kalau seperti dinosaurus. Lebih buas dinosaurus kan daripada buaya. Berarti, maksud mama cinta mama ke papa lebih besar dari yang dulu?”


“Ya, bukan lah pa.” Tatapan sinis bu Linda berikan atas pernyataan pak Juanda barusan.


“Bukan? Terus yang benar apa ma? Kasih tahu dong cinta seperti dinosaurus itu bagaimana, papa penasaran.”


“Cinta seperti dinosaurus itu . . . maksudnya pernah ada, tapi sudah punah.”


“Yaaahh, kok punah? Jangan begitu dong ma!”


Bu Linda tidak berkata apa-apa lagi. Ia menarik selimut, kemudian terlelap di samping suami menyebalkannya.


...****...


“Mau kemana?” tanya Agung yang tengah merapikan dasinya. Bersiap untuk ke kantor setelahnya.


“Kampus.” Ega berjalan keluar rumah tanpa berbalik ke arah Agung berdiri. Kejadian semalam membuatnya benci sekali pada Agung.


“Biar saya antar,” Agung berjalan cepat ke arah Ega. Ia menarik tangan Ega yang sudah bersiap masuk ke mobil. Sopir pribadi mereka sudah siap untuk mengantar Ega ke kampus.


“Jangan tarik-tarik dong mas! Saya bukan anak kecil yang bisa kamu dikte seenaknya begini.”


Agung menatap Ega persis seperti tadi malam,


membuatnya ketakutan. Terpaksa ia menurut saja demi menghindari masalah.


“Ingat ya Ega, you are mine. So, jangan coba-coba merespon lelaki lain di luar rumah. Kamu masih ingat kan resiko dari melanggar permintaanku?”


Ega mengangguk lemas. Ia diam saja mendengar semua ocehan Agung. Sesampainya di kampus, Ega segara membuka pintu. Bersiap-siap keluar dari mobil mewah Agung.


“Mau kemana sayang? Kamu lupa sesuatu loh,” ucap Agung sembari menarik tangan Ega.


“Mau ke kampus lah mas, tidak mungkin kan saya ke Binjai latihan tinju pohon pisang. Lupa? Tidak ada yang kelupaan kok,” kata Ega setelah memeriksa tasnya.


“Tidak usah jauh-jauh latihan tinju ke Binjai. Nanti biar saya ajarkan kamu di rumah. Kamu pasti belum tahu kan kalau di ruang olahraga kita ada samsak dan sarung tinju? Makanya jangan malas olahraga!”


“Apaan sih mas? Ga’je tau, tell me what did I forget? Reply me fast mas, keburu mahasiswa barunya pada datang ini.”

__ADS_1


“Makanya jangan bicara terus. Ini, cium tanganku!” ucap Agung sembari menyodorkan tangannya yang kekar karena sering olahraga.


Dengan muka murung, Ega mencium punggung tangan Agung.


“Kedepannya kamu harus selalu begini.”


Ega hanya diam mendengar perkataan Agung. Tapi kepalanya ia anggukkan, supaya Agung tidak bertambah murka ke dia.


Agung tertawa lepas saat Ega sudah melangkah agak jauh dari mobil. Ega yang awalnya sangat sulit ia taklukkan, kini mengekor saja seperti bebek.


...****...


“Dari tadi kamu senyum-senyum terus. Ada apa sih?” tanya Bella sembari menarik dasi Agung. Ia semakin mendekat ke wajah bos genitnya itu. Bersiap untuk mendaratkan bibir seksinya.


“Saya sedang tidak mood untuk bercinta Bella. Tolong kembali ke ruanganmu sekarang! Ada banyak berkas yang harus saya tanda tangani sekarang.”


“Ada yang aneh dengan Agung. Baru kali ini dia menolak saya. Apa dia sudah insyaf ya?” Bella membatin kesal tatkala keluar dari ruangan Agung.


Sementara di kampus, Ega sudah tiba di ruang seminar. Belum ada dosen lain yang datang. Panitia pelaksana dari BEM juga belum tiba.


Sepertinya mereka pulang dulu untuk mandi.


Ega memang sengaja berangkat ke kampus lebih awal dari jam yang pak rektor sebutkan tadi malam. Baginya lebih baik menunggu peserta seminar di kampus, daripada diganggu Agung di rumah.


“Katanya di seminar nanti, ada dekan cantik yang akan membawakan materi seputar pengenalan kampus. Kata senior, dia diangkat jadi dekan karena pak rektor kecantol cintanya.”


Abizar berkata seperti itu karena tidak tahu, kalau perempuan yang ada di depannya adalah dekan yang ia maksud.


Postur yang mungil, penampilan yang tidak tampak seperti dosen, membuat Abizar berpikir kalau Ega yang duduk di depan adalah mahasiswa baru sepertinya.


“Kalau dijadikan dekan karena cantik, berarti dosennya tidak cerdas dong.” Riki tertawa keras setelah menimpali ucapan Abizar.


“Kalian ini suudzan terus. Belum juga kenal, kalian sudah menjudge duluan. Kalau masih kata orang, belum bisa dikatakan benar. Tiap orang kan punya persepsi berbeda,” balas Sukran.


“Saya sih yakin dengan kata senior. Kalau dekan kita itu memang cuman tampang muka,” tutur Abizar dengan begitu percaya diri.


“Yang ditunjuk jadi rektor itu bukan orang sembarangan Zar. Impossible juga kalau rektor asal rekrut dekan hanya karena dia cantik. Dekannya kan awardee luar negeri. Awardee dalam negeri saja luar biasa, apalagi yang di luar negeri.”


“Bagaimana kalau kita taruhan saja? Kalau nanti materinya jelek, kamu traktir kami berdua. Kalau materinya bagus, kita berdua yang traktir kamu sepuasnya. Bagaimana ?”

__ADS_1


“Saya tidak maulah, haram.”


*Terima kasih sudah berkenan membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers


__ADS_2