
“Pakai ini! Saya tunggu di luar.” Agung menyodorkan gamis cantik yang senada dengan warna pakaian yang ia kenakan saat ini.
Tak lama, Ega menghampiri Agung di mobil. Dengan kecepatan tinggi, Agung melajukan mobilnya ke pesta pernikahan Jack.
“Apa benar ini tempatnya? Kenapa bentuknya seperti PUB ya?” batin Ega.
Ia merasa risih sekali, tak pernah terlintas di benaknya sekali pun untuk berkunjung di pesta pernikahan ala-ala dugem seperti itu.
Dengan langkah pelan Ega memasuki gedung yang berbau alkohol itu. Ia melihat ke sekeliling, ada banyak perempuan dengan baju kekurangan bahan sedang menari riang.
Beberapa botol wine tidak alpa di atas meja. Suara musik menggema, memenuhi ruangan itu. Benar-benar suasana yang begitu miris di netra dan rungunya.
“Ayo minum bos!” Bella memberikan segelas wine sembari meraba wajah Agung.
Pakaian seksi dan sentuhan Bella, membuat Agung jadi bergairah.
“Saya keluar sebentar, lupa sesuatu di mobil.”
Di luar, Ega menyeka air matanya. Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya begitu akrab dengan perempuan lain? Adegan Bella tadi mengingatkan Ega pada kejadian mesum di ruangan Agung tempo hari.
Sebelum ke pesta tadi, Agung bersikap lembut padanya. Membuat Ega berpikir untuk mengubah kebiasaan buruk suaminya itu. Tapi faktanya, justru dia yang ditarik masuk ke dunia kelam Agung.
“Darimana saja kamu Alya? Sudah lama sekali saya menunggu kamu kembali dari Belanda. Ayo kemarilah, kita ke apartemen.”
Ega berteriak histeris, tapi tak ada yang menghiraukannya. Suara musik yang begitu keras, membuat tamu undangan tak bisa mendengar suara apa-apa dari luar.
Beberapa menit berlalu, Ega belum juga kembali. Dengan perasaan was-was Agung keluar mencarinya. Beruntung ia datang tepat waktu. Hampir saja James yang mabuk, merampas haknya sebagai suami Ega.
Pukulan keras mendarat di wajah James. “Bangsat, berani-beraninya kamu menyentuh istriku hah. Kubunuh kamu James.” Agung juga mencekik leher James.
“Hentikan mas! Dia sedang mabuk. Kalau dia mati, kamu yang akan dipidana. Kasihan Nayla mas,” ucap Ega semakin histeris.
Malam ini adalah malam paling kacau dalam hidupnya. Semenjak menikah dengan Agung, kehidupannya tak pernah tenang. Selalu saja ada masalah yang menghampirinya.
Agung menurut, ia melepaskan tangannya dari leher James. “Mau kemana kamu?” tanyanya pada Ega yang berjalan meninggalkan gedung nikahan Jack.
__ADS_1
Perasaan yang campur aduk membuat Ega tak sanggup lagi untuk bicara. Air mata yang bercucuran, gambaran betapa terlukanya ia.
“Belum sejam kita di sini dan kamu sudah mau pulang. Kamu jangan terlalu cengeng dong Ega. Hal seperti tadi biasa terjadi. So now hapus air matamu dan kita kembali ke dalam. Kamu tenang saja, you are safe with me.”
“Kamu keterlaluan mas, look at me! Am I fine? Untuk apa saya menemani kamu di dalam kalau sudah ada Bella yang selalu kamu bangga-bangakan itu? Silakan dilanjutkan happy-happynya mas! Lanjutkan mabuk sepuasnya, setelah itu having s-e-x dengan Bella. Memang itu kan yang kamu suka?”
“Diam kamu Ega!” Agung mengangkat tangannya, bersiap untuk menampar Ega.
“Tampar! Tampar lagi mas! Sekalian bunuh saya saja biar kamu puas. Saya juga sudah muak dengan sikap kasar kamu.” Ia berlari meninggalkan Agung.
“Hey, ini sudah jauh malam. Bahaya pulang sendirian,” ucap Agung sembari menahan langkah Ega.
“Apa pedulimu dengan keselamatan saya? Kamu takut saya kenapa-kenapa, kamu lupa ya justru kamu yang selalu menyakiti saya. Tidak usah sepeduli itu mas, saya belum mengandung anakmu.”
“Justru karena kamu belum hamil, I have to protect you. Nanti setelah melahirkan anakku, kamu bisa bebas keluar malam sendirian sesuka hati. Sebelum itu, lelaki mana pun tidak boleh menyentuh kamu. Anakmu, harus benar-benar real anakku.”
“Seberkualitas apa pun perempuannya, anaknya tetap akan low quality kalau ayahnya itu kamu mas. Kamu terlalu mendambakan anak yang baik, tapi kamu sendiri buruk. Seharusnya kamu berkaca, kalau mau keturunan yang baik ya kamu juga harus berubah menjadi baik. Kalau aktivitasmu saja buruk begini, jangan pernah berharap kamu bisa dapat anak yang baik.”
Agung tidak berkata apa-apa lagi. Ia kembali menarik paksa tangan Ega. Kemudian mendorongnya masuk ke dalam mobil. Agung lalu melajukan mobil kembali ke rumah.
...****...
Ega menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu, ia tidur dengan posisi membelakangi Agung.
Keesokan harinya, Ega dan Nisa bertemu di depan rektorat untuk jalan santai. Ketampanan pak Ayyas dan Agung membuat mahasiswi klepek-klepek.
Setelah jalan santai, mereka berempat ke stand penjual minuman. “Boba dua, yang chocolate dan brown sugar. Jus mangga satu, kalau suami kamu suka minum apa Ga?” tanya Nisa.
“Minum susu,” ucap Ega sembari menyeka keringatnya.
“Hah? There is no pure milk here.”
Wajah keheranan Nisa menyadarkan Ega dari gagal fokusnya. “Astaghfirullah, maksud saya dia suka minuman yang banyak susunya. Pesankan es campur saja Sa.”
Pak Ayyas yang sudah berpengalaman, tersenyum geli saat mengingat ucapan Ega tadi. “Kalau masih menyusu pulangkan saja ke orang tuanya. Bilang, anak yang masih menyusu belum bisa menikah.”
__ADS_1
“Honey, it’s not funny at all.” Nisa mencubit keras pinggang pak Ayyas.
“Aduh, maaf sayang. Just kidding, no more!”
“Sayang, tukaran yuk.” Pak Ayyas memberikan boba rasa chocolatenya yang sudah ia minum setengah ke Nisa, begitupun sebaliknya.
“Boro-boro mau romantis seperti pak Ayyas. Minuman kesukaanku saja Agung tidak tahu. Kalau mukul, dia juaranya. Asam, hidupku seasam jus mangga ini karenanya.” Ega membatin sedih.
“Ini, kembaliannya ambil saja.” Agung memberikan uang berwarna merah muda ke penjual.
Mereka kembali ke aula rektorat setelah menghabiskan minumannya. Para peserta jalan santai dag dig dug ser menunggu nama pemenang undian disebutkan oleh panitia.
“Peserta yang beruntung lainnya adalah nomor undian sembilan puluh satu. Hadiahnya adalah seekor kambing. Kepada peserta dengan nomor undian sembilan puluh satu silakan maju ke depan untuk mengambil hadiahnya.”
“Coba lihat mukanya, biasa saja. Beda sekali dengan pemenang sebelumnya,” ucap Abizar keheranan.
“Wajarlah mukanya biasa saja. Dia itu suaminya bu Ega Zar, ceo paling kaya di kota ini. Seekor kambing begitu tidak ada apa-apanya dibandingkan hartanya yang melimpah,” balas Denise.
“Bu Ega sudah menikah? How come you know that?” Abizar mengernyitkan alisnya.
“Hasil kepo lah. Gara-gara kejadian kemarin, saya jadi kepo dan cari tahu siapa sebenarnya bu Ega.”
“Pupus sudah harapanku untuk mendekati bu Ega. Ternyata dia sudah menikah. Dan suaminya, orang terpandang yang bergelimang harta. While me, I’m nothing on her.” Abizar bermonolog dalam hati.
Banyak mahasiswa yang minta foto bersama Ega, sang dekan idola di kampus.
Saat mahasiswa lelaki yang minta foto, Agung tidak membiarkannya berdiri langsung di samping Ega. Harus diperantarai dia.
“Ga, beli minuman yuk untuk anak-anak kita. Bagaimana kalau es campur, mau?”
“Jangan, ada nangkanya. Nayla tidak suka makan nangka, es dawet saja!”
“Ini nih yang buat saya yakin untuk tidak melepaskan kamu,” batin Agung sembari menatap Ega yang fokus berbicara dengan Nisa.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1