
Karena dadakan, Agung dan Ega sampai lupa mengecek cuaca di Cappadocia saat bulan Januari. Untung saja Ega tipe yang sedia payung sebelum hujan. So, ia memasukkan sepasang jaket winter ke koper.
“Sia-sia suruh kamu bawa lingerie merah itu. Tidak dipakai juga. Ambilkan vitaminnya saja, kita campurkan ke kopi ini. Semoga dengan meminum vitamin ini, kita tidak terkena flu.”
Ega mengambil serbuk fly yang disimpannya baik-baik di dalam koper. Segera, ia campurkan ke kopi yang asapnya masih mengepul.
Dua puluh menit berlalu, Ega mulai melepas jaketnya. Tiba-tiba, ingatannya flashback pada saat Agung memberikannya jus buah berry.
“Mas, kamu usil sekali. Katanya vitamin, tapi efeknya seperti jus yang kamu kasih malam itu.”
“Ha ha maafkeun sayang. Sini, kita buat buah hati berwajah tampan, seperti penduduk asli sini.”
Mereka kembali bekerjasama membuat buah hati. Di tengah pergulatan mereka, gawai Agung berdering tanpa henti. Ia jadi kesal sekali, terlebih saat melihat nama Bella.
Gawai super mahal itu segera ia non aktifkan. Kemudian kembali ke ranjang, melanjutkan kembali aktivitasnya yang sempat tertunda.
“Tadi panggilannya masuk, tapi tidak diangkat. Sekarang jadi tidak bisa dihubungi. Bos sialan, sudah berani dia mengabaikanku. Dulu juga dia yang mengemis-ngemis minta dilayani. Sekarang, malah dia yang jual mahal. Awas saja kamu bos, tunggu pembalasanku nanti.”
“I am so satisfied, thanks darling. Cepat hamil ya,” ucap Agung sembari mengecup kening Ega. Aktivitas ini terus mereka ulangi setiap hari.
Besok, mereka akan kembali ke Indonesia. Jadi hari ini, mereka fokuskan untuk jalan-jalan. Juga membeli oleh-oleh khas Turki.
“Kita makan sup mercimek dulu ya mas. I am starving.” Agung mengangguk setuju.
Sup hangat saat udara sedang dingin-dinginnya, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Setelah itu, mereka mulai keliling mencari oleh-oleh. Singgahlah mereka di sebuah toko.
“Boleh tidak saya beli tiga caydanliknya, ibu satu, di rumah satu, untuk Nisa juga satu. Dia suka ngeteh soalnya. Tapi, mama juga . . .”
“Kenapa ibu? I can’t hear clearly. Kamu bicara seperti orang berbisik saja.”
“Lupakan saja mas! Tidak penting.”
“Beli saja berapa pun yang kamu mau. Tidak usah khawatirkan harganya. In Syaa Allah uangku cukup kok untuk membayarnya.”
“Serius mas?” Anggukan Agung yang disertai senyuman membuat Ega jadi tak segan untuk membeli oleh-oleh sesuka hatinya.
“Sekalian beli teh trabzon. Beli cezve juga, enak sekali minum kopi sambil merokok.”
“Merokok membunuhmu mas!”
“Well, begini saja. Saya janji akan berhenti merokok kalau kamu hamil.”
__ADS_1
“Let’s see.”
Oleh-oleh sudah siap, tiket juga. So, mereka akan balik ke Indonesia. Sebelum Nayla tiba di rumah.
...****...
“Selamat ya sayang. Juara satu lomba baca puisi se-Sulawesi, marvelous.”
“Iya. Terima kasih ya tante, sudah rajin mengajari saya.”
“Terima kasih ya. Semenjak menikah dengan kamu, Nayla berubah drastis ke arah yang positif.”
“Tidak usah berterima kasih. Mengajari anak memang amanah seorang ibu. Hey, Nayla kenapa nangis sayang?”
“Kangen mama, tante. Dulu kalau berhasil bikin mama senang, mama pasti masakin sesuatu.” Nayla sampai terisak-isak.
“Uhhh, sayang. Nanti tante masakin kamu. Tante masak makanan yang sering ada di Sulawesi Barat. Lidahmu pasti sudah terbiasa kan dengan makanan di sana?”
“Iya, habisnya makanan di Sulawesi Barat enak-enak semua .”
“You are right sayang. Nanti tante masakin kamu salah satu makanan khas sana, tapi kamu janji jangan nangis lagi ya.”
“Iya tante. Oh ya tante, ajari saya bahasa Inggris juga. Mau bisa bahasa Inggris kayak papa dan tante.”
“Let me help you!” Agung mengikuti Ega ke dapur.
Ega mulai meramu makanannya, memipil jagung manis dan seterusnya. “Tadi katanya mau bantu, tapi diam saja di situ.”
“Jangan salah sayang, dari tadi saya berdoa supaya masakan kamu enak.”
“Ya ampun mas, kamu ada-ada saja. Kalau cuman bantu doa, kamu tidak usah ikut ke sini. Duduk yang manis sambil nonton TV di luar pun bisa. Risih tau bekerja sambil diperhatikan begitu.”
“I don’t know why, saya sangat suka memperhatikan kamu. Tapi kalau kamu risih, saya akan ke kamar. Tidurrr, buat yang banyak ya sayang.”
Ega kembali fokus memasak. Dengan bantuan keluarga pisau dan panci, ia berhasil menyulap jagung dan kawan-kawannya menjadi makanan sederhana rasa sempurna.
Bu Nuri membantunya menyajikan makanan itu di atas meja. Pun memanggil Agung dan Nayla untuk mencicipi masakan Ega.
“Ini apa tante?”
“Binte sayang, dihabiskan ya!”
“Emmm, enak tante. Tapi sayang, kurang banyak.”
__ADS_1
“Lain kali tante akan buat yang banyak.”
“Jangan dengarkan kata Nayla. Karena kata Nayla itu benar.”
Ega tersenyum manis. Faktanya, salah satu hal yang menggembirakan bagi perempuan adalah, saat yang mencicipi masakannya mengatakan enak. Apalagi kalau dihabiskan, duhhh senangnya.
“Bagaimana rasanya mas?”
“Emmm...rasa jagung.”
“Ya iyalah rasa jagung, memang terbuat dari jagung mas.” Ega menepuk jidatnya.
“Rasanya enak, tapi lebih enak yang masak.”
Spontan, Ega melotot ke arah Agung. Ingin sekali rasanya ia mencubit ginjal suaminya itu.
Bu Nuri yang tengah mencuci piring menahan tawanya, mendengar tuannya begitu blak-blakan. Untung saja Nayla belum mengerti candaan orang dewasa.
...****...
Setelah shalat magrib, Ega kembali mengajari Nayla membaca iqra. Kali ini Agung turut berpartisipasi, ia duduk di samping Ega. Sudah lama ia tidak mengaji, terakhir kali waktu pengambilan nilai mengaji di SMA.
Adem sekali rasanya duduk di samping Ega. Timbul rasa terharu juga. Kehadiran Ega, membawa begitu banyak warna dalam hidupnya dan Nayla.
Adzan isya berkumandang. Seperti kemarin malam, Agung ke mesjid. Sementara para perempuan di rumahnya, shalat berjama’ah di mushallah mininya.
Sepulangnya dari mesjid, Agung dan Ega mengajari Nayla berbahasa Inggris.
“Kita mulai dari menghafal kosakata. Dalam bahasa Inggris, kosakata itu seperti peluru, sementara pelajar adalah pistolnya. Kalau mau mudah menembak, harus punya banyak peluru.”
“Bahasa kamu ketinggian untuk Nayla, Ga. Let me explain it to Nayla. Maksudnya itu kalau mau bisa bahasa Inggris, kamu harus hafal banyak kata dalam bahasa Inggris. Seperti love, artinya cinta.”
“Oh, begitu ya pa. Nayla sering dengar orang bilang I love you, artinya apa ya pa?”
“Aku cinta kamu,” ucap Agung sembari menggenggam tangan Ega.
“Cara balasnya bagaimana?”
“I love you too,” balas Ega cepat.
“I love you pa. I love you tante.”
“I love you too sayang.” Ega dan Agung memeluk Nayla.
__ADS_1
*Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers. Love you...