
Seperti biasa, Nayla menyalami tangan ayahnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Pagi ini ia berangkat ke sekolah dengan ditemani ibu sambungnya.
Ega sudah berjanji untuk menunjukkan lokasi sekolah Nayla pada Nisa. Makanya ia meminta sopir untuk mampir dulu di BTN Nisa.
“Maaf ya Sa, tidak bisa temani kamu sampai registrasinya selesai. I should go to campus soon, masuk pagi soalnya.”
“It’s okay Ga, by the way thanks a lot for showing me this school. Terima kasih juga atas jemputannya.”
“Sama-sama.” Tak lupa Ega memberikan bekal yang telah ia siapkan untuk anak sambungnya itu. Setelahnya, sopir melajukan kembali mobilnya ke kampus.
Semenjak memiliki ibu baru, Nayla tidak pernah lagi jajan di sekolah. Karena Ega sangat memperhatikan makanan yang dikonsumsi anaknya itu. No makanan yang tidak higenis, apalagi junk food yang sempat menjadi makanan favorit Nayla sebelum menjadi anaknya.
Tidak hanya berubah dari segi makanan, Nayla juga sudah mulai mahir membaca. Ia yang dulunya juga malas belajar, sekarang mulai aktif menjawab pertanyaan yang diberikan guru di kelas.
Bu Asma merasa sangat senang melihat perkembangan anak walinya itu. Rasanya tidak sia-sia ia memanggil ayah Nayla untuk menemuinya waktu itu.
Di jam istirahat, Nayla menikmati bekal makan siangnya. Nasi goreng dengan hiasan tomat di pinggirnya. Serta telur mati sapi yang kuningnya telah bu Dara pisahkan tadi pagi. Rasanya nikmat sekali di lidah.
Sementara di kantor, Agung menghubungi Ega berkali-kali. Ia mulai kesal mendapati istrinya itu tidak merespon panggilan teleponnya. Tanpa pikir panjang Agung melajukan mobilnya ke kampus tempat Ega mengajar.
Sesampainya di kampus, dengan coolnya ia menanyakan letak ruangan dosen pada satpam yang berjaga di situ. Sayangnya, di ruangan itu ia tidak melihat batang hidung istrinya. Dosen yang berada di dalam pun mengarahkan Agung ke ruangan tempat Ega mengajar.
“Kenapa kamu di sini mas? Don’t you see I’m teaching?” ucapnya sedikit kesal.
“Saya menelepon berkali-kali, tapi tidak kamu angkat. So don’t blame me for coming here. Anyway, masih lama ngajarnya?”
“Nope, sebentar lagi kok mas. Kamu tunggu di mobil saja, malu dilihat mahasiswaku.” Ega sedikit berbisik. Ia baru merasa lega saat Agung keluar dari ruangan itu.
“Minta tipsnya dong ma’am, cara dapat suami yang tampan seperti suaminya ma’am.” Mahasiswa yang lain menyorakinya.
“Ha ha ada-ada saja kamu.” Ega meletakkan absensi ke meja mahasiswa yang duduk di barisan paling depan.
“Serius ma’am, your husband is so handsome. Tipsnya dong ma’am, please!”
“Oh, kamu serius rupanya. Tips apa ya yang bisa saya berikan? Emmm, maybe jadilah perempuan yang berkarismatik. Jangan cengeng seperti anak kecil, coz man hate it. Dan yang paling penting menurut saya itu, harus percaya diri that you are special by your own way. Jangan pernah sembunyikan kekuranganmu. Maka lelaki yang akan mendekat adalah yang benar-benar mencintai kamu setulus hati. Entah yang mendekat itu yang handsome or not. Yang terpenting kan dia benar-benar sayang ke kamu. Okay cantik?”
__ADS_1
“Okay ma’am. Terima kasih sarannya.”
“Sama-sama, by the way thank you so much for your great attention in my subject guys. See you next week and assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam warahmatullah ma’am.”
Ega meninggalkan kelas, bergegas ke parkiran. Ia berjalan, tapi pikirannya terngiang-ngiang pada sarannya barusan. Bagaimana bisa ia sebijak itu dalam memotivasi mahasiswanya.
Lelaki yang benar-benar sayang? Bahkan Agung sendiri menikahinya bukan karena benar-benar sayang. Tapi demi memiliki penerus perusahaan yang lahir dari rahim perempuan baik-baik sepertinya.
Sesampainya di parkiran, Ega langsung memasuki mobil. “Kita mau kemana sih mas? Kayaknya penting sekali. Sampai-sampai kamu bela-belain cari saya di kelas.”
“Anaknya OB paling setia di kantorku diakikah. And the problem is I don’t know what to bring there. That is why saya culik kamu di kampus.”
“Biasanya orang-orang bawa amlop, ada juga yang bawa perlengkapan bayi.”
“Well, kita ke toko perlengkapan baby sekarang.”
...****...
“Aamiin, terima kasih doanya pak Parman.”
“Iya, sama-sama. Dimakan dulu hidangan ala kadarnya pak.
Agung mencari keberadaan Ega, ingin mengajaknya untuk makan. “Hey, what are you doing here? Makan dulu!”
“Tunggu sebentar mas. Coba lihat ini, kucingnya imut-imut semua ya.” Ega menggendong seekor kucing yang gemuk.
“Yang lain berebutan menggendong anaknya pak Parman. Cuman kamu yang lebih suka menggendong anak kucing. Bagaimana mau punya anak kalau kamu saja begitu?”
“Soalnya bahaya kalau menyentuh bayi. Anak bayi kan rentan terkena virus, badannya juga masih lembek. Jadi tidak boleh disentuh, apalagi digendong sembarangan. Tidak seperti kucing, bisa diangkat-angkat begini. Kalau masalah anak, itu tergantung Allah. Kalau sudah rezeki, pasti Allah kasih kok.”
“Ceramah lagi, sudah lepaskan kucingnya. I am starving.” Ega membersihkan tangannya, lalu melangkah bersama Agung ke tempat makan.
Sepulangnya dari situ, Agung melajukan mobil ke sekolah. Ia juga mengantar Damar pulang.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, mereka berbincang-bincang.
“Kamu jangan sekali-kali kasar ke Nayla. Kasihan sekali anaknya tetangga sahabatmu itu. Anaknya menangis terus, ibunya pasti kasar sekali.”
“Astaghfirullah, sekuker itu mas. Apa pekerjaanmu di kantor berkurang? Sempat-sempatnya menggosipi orang lain.”
“Yang saya bilang kan fakta. Kamu dengar sendiri kan anaknya menangis terus? Kekerasan pada anak itu.”
“Itu urusan dia mas. Yang paling tahu sikap anaknya itu ya ibunya sendiri, bukan kamu. Terserah dia dong mau mendidiknya bagaimana, bukan urusan kamu juga. Banyak-banyak bercermin lah mas. Apa kamu sudah berhasil mengurus Nayla? Jangan bisanya mengurusi kehidupan orang, kalau kehidupan sendiri juga berantakan.”
Agung kesal sekali mendengar Ega menasehatinya. Tangannya sudah ia angkat, hampir saja mendarat di pipi kanan Ega.
“Papa mau apa?” tanya Nayla yang baru saja selesai mengganti pakaian sekolahnya.
“Papa gemes sekali melihat pipi tante.” Agung yang tadinya mau menampar, kini mencubit lembut pipi Ega yang pucat karena ketakutan akan dikasari lagi.
“Tante, tadi kata bu guru Senin depan ada pemilihan pembaca puisi. Yang paling bagus dipilih mewakili sekolah dalam lomba baca puisi se-Sulawesi. Katanya, Damar mau ikutan.”
“Bagus dong, kamu juga ikut kan sayang?” tanyanya antusias.
“Tidak tante.” Nayla menunduk lesu.
“Yah, kenapa Nayla tidak ikut?” Ega semakin mendekat ke arah Nayla.
“Saya kan belum jago membaca tante. Masih terputus-putus, bagaimana bisa baca puisi?”
“Bisa dong sayang, nanti tante bantu. Kamu memang belum lancar membaca, tapi kamu bisa menghafal puisinya. Nanti tante buatkan puisi yang pendek, biar gampang kamu hafal. Sekalian tante ajari intonasi dan gerakannya juga.” Nayla kebingungan mendengar kalimat terakhir Ega.
“Kamu bingung ya intonasi itu apa?” Nayla mengangguk setuju.
“Intonasi itu . . . tinggi rendahnya suara. Besok kamu daftar juga! Mulai hari ini, kita berlatih bersama. Kamu pasti bisa kok sayang. Coba saja dulu, kalau tidak terpilih kita coba lagi tahun depan.”
“Iya tante.” Nayla lalu memeluk Ega. Mereka berdua kini saling berpelukan.
*Terima kasih sudah berkenan mampir, jangan lupa tinggalkan jejak
__ADS_1