Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Rektor Limited Edition


__ADS_3

Dengan cepat, tangan Ega mulai menyentuh bungkusan lain yang dibawa Agung. Ia mengernyitkan alis saat mendapati beberapa kerudung panjang menjuntai. “Ini untuk siapa mas?” tanyanya.


“Untuk siapa lagi kalau bukan untuk istriku?” jawab Agung sembari tersenyum.


“Kamu yakin ini untuk saya?” tanya Ega lagi.


Kali ini Agung tidak menyahut. Pertanyaan istrinya hanya dijawab dengan anggukan pelan.


“Tapi, mas.”


“Tapi apa?”


“Pakai kerudung menutupi dada saja mama tidak suka, apalagi kalau pakai yang panjang begini. Kalau mama lihat saya pakai ini, bisa dicoret kamu dari kartu keluarga.”


Agung tertawa, “Sejak menikah saya memang sudah dicoret dari kartu keluarga."


Ega ikut tertawa, “Iya juga ya. Tapi serius ini untuk saya mas?”


Seperti respon sebelumnya, Agung kembali mengangguk.


“But why?” ujar Ega dengan sejuta tanda tanya di otaknya.

__ADS_1


“Untuk menghindari James-James yang lain.”


Bak sekuntum bunga, Ega seketika merekah mendengarnya. Kanvas hatinya yang sepekan ini polos tak berwarna, kini mulai dipenuhi warna-warni indah yang ditoreh Agung.


Keesokan harinya di kampus, “Bu Ega datang tidak di pentas nanti malam?” tanya pak rektor pada Risti.


“Iya, datang pak.”


“Alhamdulillah.”


Hanya kata itu yang pak rektor lontarkan. Tak seperti biasanya, kali ini ia tak ingin berbasa-basi. Setelah itu, ia langsung berpaling dari Risti.


Di malam hari, Ega dan Agung berangkat ke kampus. Sudah sampai, mereka langsung saja ke tempat pentas. Lalu duduk di garda terdepan .


Alya yang ingin menyaksikan Risti, juga datang bersama Nayla. Ia duduk tepat di samping Agung. Ada yang berbeda dengan penampilannya, membuat Agung menatap aneh pada penampilan baru itu. Alya yang dulunya Islamophobia kini datang dengan mengenakan hijab.


Sementara di sisi lain, “Kamu lapar ya?” tanya Abizar pada Risti yang terus memegangi perutnya.


Risti menggeleng, “Terus kenapa kamu pegang perut terus?” tanya Abizar lagi.


Risti meringis, “Nyeri haid.”

__ADS_1


Mendengar itu, Abizar lalu memberikannya bantal yang biasa ia pakai untuk tidur saat lelah berlatih.


“Dia sakit perut Zar. Bukan ngantuk,” tegur Sukran.


“I knew that. Risti, simpan bantalnya di perutmu lalu tekan. Tunggu sebentar, saya carikan kamu Kiranti dulu.”


Seperginya Abizar, Risti langsung melakukan perintah partner pentasnya itu. Tak pernah terpikirkan di benak Risti, ide nyeleneh Abizar ternyata berhasil mengurangi rasa sakit di perutnya.


Sebentar lagi ia harus tampil, tapi nyeri di perutnya benar-benar tidak bersahabat. Beruntung ada Abizar yang sangat peduli padanya. Abizar benar-benar kembali dengan membawa Kiranti.


Nyeri di perut Risti akhirnya semakin membaik setelah meminumnya. Sebentar lagi ia akan tampil, setelah persembahan dari pak rektor.


“Itu pak rektor lagi apa sih?” tanya Riki keheranan.


“Pantomim maybe,” balas Sukran.


“What, itu pantomim? Ya ampun pak rektor, ada-ada saja tingkahnya. Pantomim kok malah mirip zombie sih,” keluh Abizar.


Risti lalu memfokuskan pandangannya ke panggung, ia kembali tertawa lepas melihat bunga yang pak rektor berikan untuk bu Ega dirampas oleh Agung. Saat itu juga, nyeri di perutnya serasa hilang seketika.


“Level kegilaan setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang parah, ada juga yang sedang. Jujurly, level kegilaan pak rektor jauh di atas rata-rata,” ungkap Abizar.

__ADS_1


“Prestasi yang tidak patut dibanggakan,” timpal Riki lalu tertawa.


“Eits, jangan salah Rik. Orang yang mampu mengubah setiap hal kecil menjadi lelucon dan berhasil membuat semua orang di sekitarnya tertawa adalah orang yang jenius. Look, semua orang di sini tertawa. It means kita memiliki rektor yang jenius,” balas Sukran si manusia setengah malaikat.


__ADS_2