Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Pengkhianatan


__ADS_3

“Bagaimana tugas writing anak PBI E, sudah kamu periksa kan Rin? Apa ada yang tidak mengumpulkan tugas?”


“Semuanya kumpul tugas, tapi grammarnya jelek-jelek semua. Cuman tugas Abizar yang grammarnya agak bagusan. Yang paling bikin kesal itu, mereka kan kamu suruh buat essay minimal seribu kata Ga. Malah banyak yang kurang dari itu.”


“Ha ha ha. Namanya juga kelas E. Mahasiswanya Error semua,” potong Fiqa.


“It’s okay Rin. Setidaknya mereka mau dulu mengerjakan tugas. Bagus tidaknya grammarnya itu urusan belakang. Kalau masuk mengajar pekan depan nanti, kamu peringati lagi masalah tugas ini. Just tell me kalau masih ada yang berani macam-macam ke kamu. Biar saya lapor ke pak rektor.”


“Okay Ga. Tidak salah pak rektor tunjuk kamu jadi dekan. Sudah cantik, pintar, tegas, baik hati, sholehah pula. Beruntung sekali suami kamu dapat istri paket complete.”


Ega diam saja, sifatnya memang begitu. Selain salting, ia juga seringkali diam saat dipuji. Bukan karena tidak menghargai pujian yang dilontarkan orang lain. Tapi karena malu dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.


“Saya ke kelas duluan ya guys,” ucap Fiqa kemudian mengambil tasnya.


“Iya,” ucap Ega dan Erin bersamaan.


Erin juga berjalan ke kelasnya. Sementara Ega, ia ke auditorium kampus. Kemarin, ia menyanggupi permintaan pak rektor untuk membawakan materi public speaking di seminar nanti.


“That’s all materi tentang cara menjadi public speaker yang handal. Kalau ada yang kurang jelas, silakan ditanyakan.”


“Bismillahirrahmanirrahim, assalamu ‘alaykum warahamatullahi wabarakatuhu. Terima kasih telah memberikan kesempatan kepada saya untuk bertanya. Well, nama saya Hamka. Jadi begini bu, dari dulu ketakutan terbesar saya saat menjadi public speaker adalah, saya suka takut kalau audiens tidak memperhatikan ketika saya berbicara. Mungkin bisa kasih tipsnya bu. Terima kasih.”


“Kalau suka, silakan dilanjutkan!” Balasan Ega ini mengundang tawa audiens.


“Just kidding ya, sekadar ice breaking. Pertanyaan yang bagus sekali dari ananda Hamka. Masalah ini memang seringkali dikeluhkan oleh public speaker. Terkadang audiens memang mudah sekali teralih fokusnya ke hal-hal lain. Bahkan lebih parahnya, terkadang ada audiens yang membuat forum di dalam forum. Pemateri bahas apa di depan, di bahas apa di belakang. Jika mendapat problem yang seperti ini, jangan langsung ditegur pelakunya. Audiensya pasti akan malu. Kita sebagai pembicara harus jeli mengatasi situasi seperti ini. Menjadi pemateri means ruangan adalah sepenuhnya milik kita. So, kita bebas berjalan saat membawakan materi. Kalau ada yang cerita, berhenti di dekatnya. Lalu tanyakan sesuatu yang berkaitan dengan materi yang kita bawakan. In Syaa Allah audiensnya akan berhenti bercerita.”


...****...


Dua jam berlalu, seminarnya sudah selesai . Ega langsung mengambil tas, bersiap untuk menjemput Nayla di sekolah. Pulang nanti, ia akan melatih Nayla lagi membaca puisi.


Tiba-tiba gawainya bergetar, Risti memintanya untuk bertemu. “Iya, nanti saya ke situ dengan Nayla.”

__ADS_1


Ega meninggalkan auditorium, di parkiran sudah ada pak sopir yang menantinya. Segera, pak sopir melajukan mobil ke sekolah Nayla. Kemudian ke rumah mertua Ega.


“Kak Egaaa,” Risti memeluk Ega yang baru saja tiba.


“Kamu kenapa dek?” tanya Ega sambil mengusap punggung adik iparnya itu.


“Bobby kak . . .” Belum juga usai bicara, Risti sudah menangis sesenggukan.


“Iya, Bobby kenapa?” Ega mengajak Risti untuk duduk.


“Bobby upload foto dengan perempuan lain. Mereka terlihat so sweet kak. Sejak pulang ke Bone, Bobby jadi berubah. Dia tidak pernah lagi menghubungi saya duluan. Bahkan chat saya juga tidak dibalas sama sekali kak.”


“Kamu sudah tanyakan masalah ini ke Abizar?”


“Belum kak, saya malu.”


“Nanti biar saya yang tanyakan. Sekarang kita shalat dzuhur dulu, semoga hati kamu bisa lebih tenang nanti. Minta sama Allah agar diberikan solusi yang terbaik untuk masalah kamu ini.”


Setelah shalat, Ega langsung menelepon Abizar. Tanpa basa-basi, ia menanyakan tentang foto perempuan yang diupload Bobby.


“Coba tanya ke Bobby kenapa dia tidak membalas chatnya Risti. Tapi jangan bilang ke kakak kamu kalau saya yang suruh tanyakan ya.”


“Iya bu, saya chat kak Bobby dulu. Kita lanjut di WhatsApp saja.”


Abizar memutuskan panggilan dari Ega. Beberapa menit kemudian, Abizar mengirimkan semua hasil screenshot chatnya dengan Bobby.


Perempuan yang bersama Bobby bukan hanya sepupunya, tapi juga pacar barunya. Saat Abizar bertanya kenapa dia tega selingkuh. Bobby akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya.


Bobby sebenarnya tak ingin putus dari Risti.


Tapi penyakitnya tidak memungkinkan lagi bagi Risti untuk mencintainya.

__ADS_1


Bobby terserang rheumatoid arthritis. Awalnya biasa saja, lambat laun peradangannyan terus meningkat. Akibatnya jempol kakinya harus diamputasi.


Kini kaki Bobby tidak sempurna lagi. Dengan kondisi kakinya yang seperti itu, ia memutuskan untuk tidak kembali lagi ke Makassar.


Tiap kali melihat kakinya, Bobby merasa tertekan sekali. Bagaimana jika tak ada lagi perempuan yang mau padanya? Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


Di saat-saat terpuruknya, Anti selalu berada di sampingnya. Membuat Bobby akhirnya jatuh cinta. Dengan mudahnya ia mengacuhkan perasaan Risti yang selalu menunggu kabarnya.


Risti merasa kesal sekali dengan sikap Bobby. Seharusnya dia tidak menyembunyikan masalahnya. Tidak seenaknya juga berpacaran dengan perempuan lain, saat status mereka masih belum putus.


Bobby akhirnya membalas chat Risti. Pertama-tama ia meminta maaf. Setelah itu ia meminta Risti untuk tidak menceritakan semuanya pada Anti.


Risti kecewa sekali, berhari-hari ia menunggu chat dari Bobby. Tapi balasan Bobby barusan benar-benar di luar ekspektasinya.


“Tidak ada maaf untuk kamu. Karma itu real Bobby. Hari ini kamu khianati saya, besok-besok tunggu saja kamu yang akan dikhianti.”


Risti menunggu terlebih dulu centang biru di chatnya. Setelah yakin Bobby membacanya, Risti memblokir kontak mantan kekasihnya itu.


“Kenapa kamu tega sekali merebut Bobby dari saya? Kita sama-sama perempuan, kamu harusnya tahu rasanya dikhianati seperti apa. Semurah itu ya kamu,” kirim Risti ke akun facebook Anti.


“Bukan saya yang mendekati Bobby, tapi Bobby sendiri yang mendekati saya duluan. Dia juga tidak pernah cerita punya pacar.”


“Eh ulat bulu, muka kamu benar-benar tebal ya. Saya kan sudah bilang saya pacarnya Bobby. Kamu masih membela diri juga.”


“Itu bukan urusan saya. Bobby tidak mungkin meninggalkan kamu kalau dia benar-benar cinta. Buktinya dia lebih memilih saya.”


“Memang pantas kamu dan Bobby bersama. Kalian berdua punya sifat yang sama.”


“Sifat yang sama? Apa itu?”


“Sama-sama kurang ajar.”

__ADS_1


Anti tak berkutik membaca chat itu. Risti juga sudah terlalu muak untuk membalas chat dari orang bebal seperti Anti.


*Terima kasih sudah berkenan mampir, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers


__ADS_2