Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Hurt


__ADS_3

“Ga, meet up yuk. Sudah sepekan kita tidak ketemu.” Ega membaca chat masuk dari Nisa.


“Boleh, boleh, ada oleh-oleh dari Turki juga for you. Besok saya ke situ ya, bareng husband and Nayla.”


“Okay, bestie. I am waiting for you.”


Nisa meletakkan gawainya, mematikan lampu, lalu tidur di samping suaminya.


Tepat pada pukul 10:00, Ega and family mengetuk pintu BTNnya. Di tangan sahabatnya itu ada bingkisan, yang ternyata berisi caydanlik, teh trabzon, juga lokum.


“Eh ada Nayla. Mari masuk sayang, sudah dari tadi Damar menunggu kamu. Mau main bareng katanya.” Nisa membuka pintu lebar-lebar.


“Nayla sini! Kita makan buah, ada banyak buah di kulkas.”


Nayla mengikuti Damar sampai ke dapur. Sesampainya di ruangan untuk mengolah makanan tersebut, Damar membuka kulkas. Di saat yang sama, netra Nayla memperhatikan isinya.


“Di kulkas kamu banyak sekali ubi jalar. Kamu suka makan ubi jalar ya?”


“Bukan saya, tapi papa. Ubi jalar ini biasanya mama olah jadi pastel, makanan kesukaan papa. Kalau saya tidak seberapa suka. Tapi tetap harus rajin makan ubi jalar oleh papa. Katanya biar tidak terkena cacar seperti nenek Arni dulu. Oh ya Nayla, kamu mau makan buah apa?”


“Semangka saja. Di rumahku juga sering banyak buah loh, tante Ega suka beli. Katanya harus rajin makan buah, biar badan sehat . Tante Ega juga tahu loh manfaat dari semua buah yang dibeli.”


“Oh ya?” tanya Damar setengah ragu.


“Iya, kamu tidak percaya ya? Ayo sini kita tanyakan, biar kamu lihat sendiri.”


Nayla berlari ke ruang tamu, diikuti Damar. Ia jadi tak sabar ingin menunjukkan ke teman barunya itu, kalau dia tidak berbohong.


“Tante, di kulkas Damar ada jambu air, melon, anggur, sama semangka. Manfaatnya apa tante?”


“Semuah buah yang kamu sebutkan itu bisa memperlancar buang air kecil sayang,” jawab Ega cepat.


Ia sudah terlatih untuk itu. Memilik anak dengan tingkat penasaran yang tinggi seperti Nayla, mengharuskannya tahu banyak hal. Bahkan hal sepele seperti mempelajari manfaat dari semua buah.


“Kalau ubi jalar?”


“Ubi jalar bisa mengobati alergi. Masih ada?”


“Jelaskan tentang ini juga tante!”


“Ini adalah oleh-oleh khas Turki, namanya lokum. Salah satu jenis makanan penutup. Lokum ini pertama kali ditemukan oleh Haci Bekir Efendi.”


“Tuh dengar sendiri. Sekarang kamu percaya kan sama saya?”

__ADS_1


“Iya percaya, tapi Nayla. Tante Ega kan mama kamu. Seharusnya kamu panggilnya mama, bukan tante.”


“Hush, Damar tolong bawa ini ke dapur!” Nisa memberikan caydanlik dan teh trabzon ke anaknya.


Nayla mengekor, mengikuti apa pun yang dilakukan Damar. Saat meletakkan caydanlik dan teh trabzon di atas meja, terdengar suara yang tak asing.


“Ada suara cicak. Suaranya lucu ya Damar? Tapi susah dicontohkan.”


Nayla berkata seperti itu sembari melirik ke sekitar, mencari sumber suara hewan autotomi itu.


“Memang susah dicontohkan, karena suara itu bukan dari mulutnya tapi dari ekornya yang dipukul-pukulkan ke tembok.”


“Hah? Dari ekornya ya? Kirain dari mulutnya. Sakit dong kalau ekornya dipukul-pukulkan?”


“Tidak sakit Nayla, itu kan memang kebiasaannya. Cicak justru memutuskan ekornya demi melindungi diri saat dikejar musuh.”


“Buntung dong, yaahh kasihan cicaknya tidak punya ekor lagi.”


“Ekornya akan tumbuh lagi kok setelah satu bulan.”


“Kamu hebat sekali Damar, bisa tahu itu semua.”


“Mama dan papa suka membaca buku. Jadi saya juga suka baca buku seperti mereka.


...****...


“Seingat saya husband dulu sering baca surah Ali Imran ayat 38. Iya kan honey?”


“Iya, Ega sudah isi ya?” tanya pak Ayyas dengan wajah berseri.


“Belum, sedang diusahakan.”


“Semoga kamu cepat dikaruniai anak ya bro.” Pak Ayyas menepuk-nepuk bahu Agung.


“Juliana VC Ga. Sini, sini!”


“Hey kalian berdua, miss you so bad. Kalian apa kabar?”


“Baik, kapan-kapan ke sini dong Jul!”


“Iya, nanti lain kali. Pensaran mau lihat istananya ibu Saleha ha ha. Masih calm aja neng.”


Di saat yang sama, Risti juga menghubungi Ega. “Kak, kakak dimana? Saya mau ketemu sekarang, boleh?”

__ADS_1


“Di rumah sahabat kakak. Iya boleh, boleh, kamu dimana?”


“Di rumah, kakak yang cepat ya ke sini.”


“Iya, saya ke situ sekarang dek.”


Tak bisa berbincang lama dengan Juliana dan Nisa. Ega harus segera mendatangi adik iparnya yang sudah menantinya. Dengan berat hati, ia izin undur diri pada kedua sahabatnya itu.


...****...


Di ruang tamu sudah ada Risti menantinya. Ia tampak tidak baik-baik saja. Kedua matanya bengkak, tapi air mata masih terus mengalir darinya.


“Kenapa menangis dek?” Ega langsung duduk menenangkan Risti.


“Bobby menikah dengan pacar barunya kak.”


Untuk kesekian kalinya, Risti menyeka air matanya. Betapa tidak, lelaki yang masih amat ia cintai kini menikah dengan perempuan lain. Tak ada lagi harapan untuk balikan dengan Bobby.


“Kamu yang sabar ya. Menikahnya Bobby dengan perempuan lain adalah cara Allah menjauhkan kamu dari lelaki yang tidak baik sepertinya. Allah juga tidak ingin kamu berlama-lama berkubang dalam aktivitas pacaran.” Dengan perasaan iba, Ega mengelus-elus punggung Risti.


“Tapi saya masih cinta sama Bobby kak. Saya


tidak bisa terima diperlakukan seperti ini. Demi perempuan gatal itu, dia rela mencampakkan saya.”


“Sesuatu yang kita cintai belum tentu yang terbaik untuk kita dek. Biarkan saja Bobby dengan perempuan itu, dia tidak pantas menikah dengan kamu. Laki-laki yang buruk memang untuk perempuan-perempuan yang buruk juga.”


“Bobby benar-benar jahat kak. Dianggap apa hubungan kami selama ini? Bagaimana pun caranya, saya akan balas dendam ke Bobby.”


“Jangan bertindak gegabah dek. Balas dendamlah ke Bobby dengan cara yang benar. Tunjukkan kalau kamu bisa bahagia tanpa dia. Jadilah perempuan elegan, yang bisa jaga sikap dan harga diri. Jangan pernah mengemis cintanya. Kamu terlalu berharga untuk melakukan hal murahan seperti itu.”


“Kalau begitu, saya tidak akan


mengingat-ngingat Bobby lagi. Saya juga tidak mau pacaran lagi kak. Pacaran hanya bikin sakit hati.”


“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga dek. Selain bikin sakit hati, pacaran memang tidak diperbolehkan dalam agama kita.”


Risti jadi semakin respect pada Ega. Ipar rasa saudara, begitulah penilaiannya pada Ega. Perasaannya berangsur-angsur membaik.


Dengan perasaan lapang, Ega kembali ke rumah. Kata satpam, seorang perempuan yang lebih tua darinya sedari tadi menunggu mereka di dalam.


Perasaannya tidak menentu, siapakah gerangan perempuan yang dimaksud pak satpam itu?


*Terima kasih masih mau membaca, jangan lupa tinggalkan jejak ya! Have a nice day readers...

__ADS_1


__ADS_2