Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Agung yang Dulu


__ADS_3

“I see pulang dari jalan santai kamu banyak melamun honey. Actually what’s up with you? Tell me please!”


“Lelaki yang menghamili, yang tidak mau bertanggungjawab ke adiknya Rahman itu Agung.”


Pak Ayyas membalas pertanyaan istrinya dengan nada sedih. Kejadian itu sudah berlalu lama. Tapi tetap saja, kesedihan tak luput dari diri guru tampan ini saat mengingatnya.


“Astaghfirullah al adzim, maksudnya Agung suaminya Ega?” Pak Ayyas menjawab dengan anggukan kepala.


“Pantas Ega kurusan, dia pasti tertekan jadi istri lelaki brengsek seperti Agung itu. Kasihan sekali Ega, saya sebagai sahabatnya harus bagaimana ya honey?”


“Saya juga tidak tahu sayang. Semoga saja Agung sudah tidak seperti yang dulu lagi. As I know, seburuk apa pun lelaki dia akan berubah di tangan perempuan yang tepat. Mungkin Allah sengaja mempertemukan mereka, supaya Ega bisa mengubah Agung.”


“Ya Allah, semoga Ega diberikan kebahagiaan.”


“Aamiin,” ucap pak Ayyas lalu memeluk Nisa. Ia sudah mengantuk sekali, mau tidur. Rintik malam akhirnya menina bobokan mereka bertiga.


...****...


“Kambingnya lucu tante, ada janggutnya.” Nayla semangat sekali memberi makan kambing yang dimenangkan ayahnya.


“Kamu suka mengembala ya sayang?” tanya Ega sembari mengusap kepala Nayla.


Anaknya itu mengangguk dengan wajah berseri atas pertanyaan yang diberikan Ega.


“Kambing itu harus segera dipotong, atau kasih ke pembantu saja biar dibawa pulang. Saya tidak mau Nayla belajar mengembala. Seperti orang susah saja.”


“Jangan suka takabur mas. Kita tidak pernah tahu kehidupan kita akan seperti apa kedepannya. Roda kehidupan itu terus berputar mas. Hari ini kamu diberikan harta yang melimpah. Tapi kedepannya, apa kamu bisa menjamin akan kaya terus?”


“Bisa lah, bahkan digunakan sampai tujuh turunan pun hartaku tidak akan habis.”


“Astaghfirullah. Kamu harus banyak-banyak istighfar mas. Jangan sampai Allah murka atas ucapanmu.”


Ega membawa Nayla menjauh dari Agung. Takutnya ucapan kesombongan Agung diimitasi oleh Nayla yang berada di dekatnya.


“Kalau tidak boleh dipiara. Kambingnya disate saja tante, kakek sama nenek suka sekali makan sate kambing.”


“Wah, terima kasih yah sayang atas informasinya. Sesuai permintaan kamu, kita akan bakar-bakar sate di rumah nenek. Tapi kamu bilang dulu ke nenek, bisa kan?”


“Bisa tante.” Nayla tersenyum, giginya yang teramat putih tersusun begitu rapi.

__ADS_1


Ega mulai mengoperasikan gawainya. Segera ia menelepon mertuanya. Hanya beberapa detik panggilannya sudah diangkat, Ega langsung memberikan gawainya ke Nayla.


“Boleh sekali cucu kesayanganku. Sudah lama kamu tidak ke sini sayang, nenek kangen.”


“Yeee, boleh. Terima kasih nenekku yang paling cantik sedunia. Nayla, tante, dan papa siap-siap dulu ya. Assalamu ‘alaykum.”


“Wa’alaykum salam sayang.”


Bu Sinar meletakkan kembali gawainya di samping novel yang baru saja ia baca. Novel dengan judul My Teacher My Mate itu menjadi salah satu novel favoritnya.


“Bikin repot saja,” Agung menggerutu saat menaikkan kambing ke mobil.


“Kok repot sih? Yang suka makan sate kambing orang tua kamu sendiri loh mas.”


“Jadi maksudnya kamu peduli ke mertuamu? Kamu pasti sudah jatuh cinta ke saya kan? Makanya kamu berusaha mengambil hati mama dan papa? Jadi flashback, dulu kamu yang sok jual mahal sekali.”


“I am always classy till now. Ingat baik-baik, saya tidak pernah menggoda kamu duluan seperti Bella. Saya juga tidak pernah bilang cinta ke kamu. Tidak usah kePDan!”


“Katanya tidak cinta, tapi cemburu lihat saya dengan perempuan lain. Benci bilang cinta ya?”


“Cinta dan komitmen itu berbeda mas. Menjaga komitmen belum tentu karena cinta. Tapi cinta sudah pasti cinta.”


“Pepatah macam apa itu? Kamu mulai rada-rada gila Ega.”


“Oh ya? Emmm you are right, saya jauh lebih gila daripada kamu. Siap-siap saja dengan kegilaanku nanti malam. Semoga kamu sanggup menghadapi kegilaanku ya sayang. Gosh, I can’t wait for it.” Ucapan Agung membuat Ega bergidik.


Setelah perdebatan panjang itu, Agung memboyong anak dan istrinya ke rumah orang tuanya. Terlihat jelas, keluarga Agung merasa sangat bahagia dengan kehadiran mereka bertiga.


...****...


“Itu siapanya Bobby?” tanya Nisa pada Risti yang tengah memperbaiki hijabnya.


“Adiknya kak.”


“Kenapa kamu tanya-tanya tentang lelaki itu?” tanya Agung sedikit posesif.


“A little kepo. Kebetulan dia mahasiswaku.”


“Sial, pacarnya kak Bobby ternyata keluarganya bu Ega. Jadi malu sudah bermasalah. Wait, ada yang unik. Ekspresi bu Ega saat di rumah ternyata beda sekali dengan di kampus. Di sini dia kelihatan ramah. Kalau di kampus senyumnya ngumpet terus,” batin Abizar.

__ADS_1


Ia dan Bobby diminta untuk bergabung. Mereka semua kini menikmati hidangan yang ada.


Setelah lama berbincang-bincang, terdengar adzan asar berkumandang.


“Shalat bro,” ajak pak Ayyas pada Agung. Semua lelaki yang ada di situ terpaksa ikutan ke mesjid.


Hanya sedikit masyarakat sekitar rumah orang tua Agung yang ke mesjid untuk shalat berjama’ah. Di antara mereka semua, pak Ramli seorang lah yang paling tua.


“Silakan jadi imam pak,” Agung mengarahkan tangannya ke depan. Dengan perasaan berat, pak Ramli maju ke shaf paling depan.


“Bagaimana papa akan jadi imam? Baca Qur’an saja dia tidak bisa.” Agung membatin keheranan melihat ayahnya maju ke depan.


“Untung saja kalau shalat asar suara tidak dikeluarkan. Jadi mereka tidak tahu kalau saya sebenarnya tidak bisa baca Qur’an.” Pak Ramli bermonolog, perasaannya lapang sekali.


Setelah shalat, mereka semua pamit ke pak Ramli. “Kamu tidak boleh pulang ya Gung. Papa sama mama masih kangen sama Nayla. Malam ini kamu kamu harus nginap di rumah.”


“Iya pa. Tenang saja!”


Sesampainya di BTN-nya, Nisa mengirimkan beberapa foto ke grup Ukhty Fillah. “Di rumah mertuanya Ega guys,” ketiknya.


“Itu rumah apa istana? Cantik sekaleh epribadeh. Jiwa sederhanaku meronta-ronta zayyanggg,” balas Zulfitri.


“Beruntungnya jadi Ega, bisa jadi istri Ceo terkaya di Sulawesi. Ada lawan kah?” seloroh Aida.


“Kaukah itu Ega? Adakah review baju dinas?” Juliana juga ikut nimbrung.


“Balasanmu mengingatkan pada kado pernikahanku dulu tsayyy,” timpal Fina ke Juliana.


“You are funny guys. By the way, Saleha yang baik hati dan tidak sombong. Dimana engkau berada?” tanya Dania.


“Disampaikan kepada para istri hebat di grup ini, agar segera memasuki kamar masing-masing. Suami kalian sudah menunggu dari tadi. Jangan lupa pakai baju dinasnya guys.” Ega mengirim chat tersebut disertai dengan emoticon senyum.


“Sahabat terpolos kita sudah bisa bicara kotor juga rupanya.” Zulfitri menyertakan emoticon ngakak di balasannya.


“Hati-hati disengat lebah jantan Ga,” kelakar Dania.


Percakapan di grup itu terus berlanjut. Pembahasannya semakin seru saja. Sayangnya Ega tidak bisa ikut nimbrung. Agung yang sudah tak tahan mengambil gawainya.


“Let me show you how crazy I am, as my promise this morning.” Lagi-lagi Agung menunjukkan jiwa kelelakiannya pada Ega.

__ADS_1


Sementara di kamar yang lainnya, Nayla kembali membuat pak Ramli dan bu Sinar terkagum-kagum. Nayla mengajak mereka berdua untuk wudhu terlebih dahulu sebelum tidur. Tak lupa, Nayla juga membaca doa tidur. Dimana hal ini tak pernah dilakukan sebelumnya oleh kakek dan neneknya.


*Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2