Karena Terlambat Menikah

Karena Terlambat Menikah
Merenggut Paksa


__ADS_3

Nayla baru saja pulang dari sekolah. Ia ingin memperlihatkan nilai PRnya yang baru kali ini dapat 100.


Saat menghampiri Ega di taman rumah, ia dapati perempuan yang begitu ia sayangi tengah menangis.


Saat Nayla menanyakan alasannya menangis. Ega tidak menjawabnya. Tangis Ega justru semakin pecah saat Nayla mendekatinya.


Nayla memasuki rumah, menghampiri ayahnya yang tengah berbaring di kamar.


“Papa, kenapa tante menangis?” tanya Nayla kesal.


“Tadi papa mau ajarin tante Ega cara buat adik untuk kamu. Tapi tante Ega tidak mau belajar. Jadi papa paksa dia belajar, akhirnya dia menangis.”


“Papa bohong ya? Tante Ega kan selalu rajin belajar.”


“Papa tidak bohong sayang. Selama ini papa kan tidak pernah bohong ke Nayla. Sekarang papa tanya, Nayla mau punya adik tidak?”


“Mau pa. Mau,” jawab Nayla kegirangan.


“Kalau begitu, bilang ke tante Ega supaya dia rajin belajar sama papa. Biar kamu bisa cepat punya adik.”


Dengan polosnya, Nayla kembali mendekati Ega. “Tante, jangan nangis lagi ya! Kalau tante sedih, saya ikutan sedih. Tidak apa-apa kok kalau saya belum punya adik. Yang penting tante tidak menangis karena tidak mau belajar cara bikin adik.


“Terima kasih ya sayang, sudah mau mengerti tante.” Pelukan hangat Ega mendarat di punggung Nayla.


Ega tak menyangka, anak sekecil Nayla bisa bersikap sebijak itu. Nayla lebih memilih untuk tidak memiliki adik demi melihatnya bahagia.


Karena ketulusan anaknya itu, Ega berjanji dalam hati tidak akan meninggalkan Nayla sebelum mahir membaca.


Ega menghentikan tangisnya. Dengan menggenggam tangan Nayla, ia memasuki rumah.


Ia akan tetap tinggal seatap dengan Agung yang telah melanggar janji suci pernikahan mereka. Bukan karena cintai, tapi demi Nayla yang masih sangat membutuhkan kehadirannya.

__ADS_1


Di malam hari saat Nayla telah terlelap, Ega mengajak Agung untuk berbincang empat mata di luar. Melanjutkan pembahasan tentang perselingkuhan Agung tadi siang.


“Kamu telah berkhianat di belakang saya mas. Waktu itu kamu bilang akan serius, tapi ternyata kamu justru terlalu banyak bercanda pada pernikahan kita. Saya tetap akan di sini, dengan syarat saya bisa kembali bekerja.”


“Saya bercanda pada pernikahan kita juga karena kamu duluan yang bercanda pada nafsu saya. Impas kan? Okay, kamu boleh bekerja lagi.”


Tanpa aba-aba, Agung mencium hidung mancung Ega. “Ini hadiah atas ketegaranmu. I just wanna tell you, jangan pernah berpikir bisa meninggalkan saya. Kamu akan selamanya di sini, coz saya tidak akan melepaskanmu begitu saja.”


“Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak meninggalkan kamu selain Nayla. Never forget, I never love you mas. Just you who always beg my love.” Ega memundurkan wajahnya, agar tidak bersentuhan lagi dengan wajah Agung.


Karena kesal, Agung menarik kera baju Ega. “Jangan sekali-kali kamu berani menunjukkan power di hadapan saya. I don’t need your love, but your body Ga. Kamu hanya boleh pergi setelah melahirkan seorang penerus untukku.”


“Ada banyak perempuan di dunia ini. Kamu bahkan punya sekretaris cantik itu untuk melahirkan anakmu. Lalu kenapa harus saya yang melakukannya untukmu mas?” tanyanya dengan rintik yang berjatuhan dari matanya.


“Kamu sedang bercanda atau pura-pura amnesia dengan status saya? Orang terpandang seperti saya, tidak pantas punya anak dari rahim perempuan murahan seperti Bella. Listen to me carefully Ega! Mau tidak mau, suka tidak suka, kamu tetap harus melahirkan anak untuk saya.”


“Saya juga tidak mau memiliki anak dari lelaki murahan seperti kamu mas,” balasnya dengan suara bergetar saking marahnya.


Agung menarik paksa Ega yang masih terisak karenanya. Membawanya ke sebuah kamar yang selama ini selalu terkunci, bahkan pembantu pun tidak tahu isi kamar itu seperti apa.


Di dalamnya, Agung mengeluarkan sebuah lingerie merah dari lemari mewah yang berada di sudut. Ia menyemprotkan parfum terlebih dahulu ke lingerie itu. Kemudian membuangnya di hadapan Ega.


“Pakai itu sekarang juga. Ingat ya Ega, menolakku sama dengan membahayakan nyawa keluargamu. Dengan uang yang kupunya apa pun bisa kulakukan. Termasuk mencelakai keluargamu tanpa terjerat hukum.”


Tak pernah terpikirkan di benak Ega, Agung akan memperlakukannya seperti itu. Lelaki bak malaikat yang ia temui pertama kali di Belanda, ternyata tidak lebih dari sesosok monster yang menyamar.


“Kenapa tidak ada darah di sini? Demi menghindar, kamu berpura-pura menstrruasi. Berani sekali kamu membohongi saya.”


Gertakan Agung membuat Ega semakin ketakutan. “Saya tidak membohongi kamu. Saya baru saja mandi wajib mas,” ucapnya lirih.


Emosi Agung semakin kacau tak terkontrol. Segera ia menghempaskan tubuh Ega ke atas ranjang. Dengan begitu kasarnya, ia mulai mengecup istri polosnya itu berkali-kali. Meraba sana sini sesuka hatinya tanpa belas kasihan lagi.

__ADS_1


Ega meringis kesakitan, berkali-kali ia memohon pada Agung untuk menghentikan aktivitasnya. Namun Agung yang kini diambang kenikmatan tak menghiraukannya. Dengan brutalnya, ia terus menikmati setiap inci tubuh istrinya.


Setelah merasa puas, barulah Agung melepaskan istrinya. Ia merasa semakin puas, saat melihat ada bercak darah di atas seprei putih yang memang sengaja ia siapkan untuk first night bersama Ega.


“Terima kasih sayang, kamu ternyata seratus persen pure. Sekarang, kamu tidak punya alasan lagi untuk meninggalkan saya. Mahkota yang selama ini kamu simpan baik-baik sudah saya rebut. Now, you are mine Ega. Only mine.”


Ega hanya diam mendengar ucapan Agung. Tubuhnya serasa remuk, hatinya hancur berkeping-keping, logikanya buntu. Air mata yang bercucuran lah yang berbicara banyak. Ungkapan betapa terlukanya ia karena tindakan Agung barusan.


Akan semakin sulit baginya untuk meninggalkan Agung, karena hal yang paling berharga yang ia punya sudah diambil paksa oleh suaminya itu.


“I think hanya Bella yang benar-benar bisa membuat puas. Ternyata, Ega jauh lebih nikmat dari Bella. Gosh rasanya beda sekali, saya ketagihan.” Agung bermonolog dalam hati.


Ia kembali mendekati Ega. “Tatap saya, jangan membelakang seperti itu. Tidak pantas seorang istri mengacuhkan suaminya.”


Ega tetap tak ingin berbalik. Bahkan melihat wajah Agung saja ia sudah tak sanggup. Baginya Agung sudah benar-benar keterlaluan. Bukan hanya psikis Ega yang terganggu, fisiknya juga.


“Mau kemana?” tanya Agung saat melihat Ega berusaha bangun.


Dan lagi, Ega tidak menjawab. Dengan tertatih, ia memasuki kamar mandi yang ada di kamar itu. Karena sudah agak larut, ia memutuskan untuk wudhu saja. Besok baru akan mandi junub.


Sementara di ranjang, Agung mengambil gawainya. Dengan gawai super mahalnya itu, Agung memotret bekas darah di seprei.


Baru kali ini Agung memerawani perempuan. Semua perempuan yang pernah ia tiduri tidak ada yang virgin, termasuk mantan istrinya sekalipun.


Ega lah satu-satunya perempuan yang memberinya sensasi berbeda. Hal yang memang sudah lama ia cari.


Ada kebanggan tersendiri untuk itu. Saking bangganya telah memerawani perempuan, Agung menyimpan baik-baik seprei tadi di dalam lemari.


Ega keluar dari kamar mandi. Dengan tatapan penuh kepuasan, Agung memberikan kunci kamar padanya.


Ega langsung beranjak membuka kamar yang tengah terkunci itu. Ia lalu keluar, berjalan ke kamar biasanya, disusul Agung.

__ADS_1


*Terima kasih masih setia membaca novel author yang jauh dari kata sempurna ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya readers


__ADS_2