Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 10


__ADS_3

Kana duduk di depan Yoga, sementara di depan mereka ada Arif yang telah menjelaskan situasinya pada Yoga juga Jodi. Yang pasa saat itu, Yoga dan Jodi seketika langsung tertawa terbahak-bahak dan memberikan sumpah serapah mereka kalau suatu hari nanti Arif bisa benar-benar kepincut oleh asisten rumah tangganya itu.


"Hmmm," Yoga memperhatikan wajah Kana dengan seksama. Tangannya terulur menyentuh dagu Kana dan membolak-balikkan wajah Kana seperti sedang menggoreng tempeh. Entah kenapa ada rasa tidak suka melihat jemari Yoga yang lebih lentik dari model iklan lotion anti nyamuk menyentuh dagu Kana.


Sementara Kana polos dan lempeng-lempeng saja di perhatikan Yoga kanan dan kiri.


"Kapan terakhir kali kamu exfoliation wajah kamu?" tanya Yoga.


"Hah? Apa Dok? Populasi wajah saya?" tanya Kana penuh kebingungan.


"Bukan populasi, Kana, jauh banget loh dari exfoliation ke populasi... eh hampir mirip deng." Yoga mengulangi lagi ucapannya sampai Arif harus berdeham mengembalikan kewarasan Dokter kecantikan itu.


"Kayaknya kamu nggak pernah exfoliation atau minimal maskeran gitu, ya?"


"Yah, boro-boro, Dok. Sabun cuci muka saya aja sekalian pakai sabun batangan yang buat mandi. Biar irit." jawab Kana tanpa sungkan atau pun malu.


Yoga mengangguk-angguk mengerti. Sangat jelas tercetak pada kulit wajah Kana kalau kulit wanita itu tidak pernah tersentuh perawatan sama sekali. Tapi, Yoga cukup kagum karena, kulitnya tidak berjerawat sama sekali, hanya kering dan komedoan sedikit.


"Gimana, Ga? Bisa nggak lo kasih Kana perawatan?"


"Bisa sih, tapi gue harus cek dulu jenis kulitnya Kana, ya. Gue harus scanning dulu supaya bisa ngasih jenis krim perawatan yang tepat."


"Eh, tunggu bentar, Dokter-Dokter." Kana mengangkat tangannya. "Perawatan? Saya perawatan gitu? Pake skincare-skincare-an kayak orang-orang gitu?"


"Iya, Kana. Supanya kulit kamu lebih terhindrasi, bersih dari komedo dan glowing." jawab Yoga.


"Waduh." Kana langsung membeliakkan kedua matanya. "Nggak usah deh, Dok." kata Kana pada Arif.


"Kok nggak usah?" tanya Arif mengerutkan kening.


"Duit dari mana saya buat bayar perawatan segala, Dok? Mau beli sabun batangan aja saya nyari yang beli satu gratis dua."


Yoga tak tahan untuk menahan senyumnya.


"Kana, katanya kamu mau balas sakit hati kamu sama mantan. Ya harus ada perubahan di kamunya dong. Supaya dia menyesal." kata Arif.


"Iya bener banget, Kana. Kalo mantan kamu ngeremehin kamu secara fisik, maka yang harus kamu lakukan adalah melakukan perubahan pada penampilan kamu. Bikin si mantan termehek-mehek karena udah nyia-nyiain kamu gitu loh." ujar Yoga dengan gaya konsultan yang berpengalaman.


"Tapi saya nggak punya uang untuk bayar Dokter." kata Kana dengan sangat jujurnya.


"Nggak usah mikirin biaya, biar Arif yang urus." jawab Yoga dengan pedenya tanpa melihat apa lagi bertanya dulu pada Arif. Si Dokter Arif hanya bisa tersenyum masam tapi juga membenarkan ucapan Yoga.

__ADS_1


Dia yang berinisiatif akan membantu wanita itu, maka dia yang akan membiayai misi mereka.


"Bener Dokter mau ngebiayain perawatan muka saya sampe muka saya glowing kayak model iklan?" tanya Kana.


"Iya. Kan saya yang mengusulkan ide ini untuk kamu, jadi kamu tinggal nurut aja sama semua arahan saya." kata Arif.


"Tapi nanti nggak akan ada embel-embel motong gaji saya, kan?" tanya Kana curiga.


"Nggak lah." Yoga yang menjawab. "Saya saksinya nih. Kalo Arif sampe motong gaji kamu, laporin aja ke satpam apartemen."


"Udah deh, kamu percaya saja sama saya. Misi kita untuk balas sakit hati kamu harus sukses sempurna. Jadi hal pertama yang akan kita lakukan adalah merubah penampilan kamu, tapi sebelumnya, kamu harus perawatan diri juga, supaya hasilnya perfect!"


Akhirnya Kana setuju setelah memastikan kalau Arif nantinya tidak akan memotong gajinya. Setelah itu, Kana dan Yoga melakukan sesi konsultasi seputar kulit di ruangan Yoga. Memakan waktu hampir satu jam, dan itu cukup membuat Arif resah dan gelisah.


"Oi, kenapa lo?" tanya Jodi yang baru saja selesai melakukan operasi, Dokter spesialist anestesi itu bahkan masih mengenakan outfit operasinya. "Kayak orang lagi ambeyen."


"Sialan lo." Runtuk Arif. Bolak balik melihat ke arah ruangan Yoga yang berseberangan dengan ruangannya.


"Gue lagi nungguin Kana konsul di ruangan Yoga."


"Kana? Jadi juga dia perawatan sama Yoga?" tanya Jodi sambil nyengir kuda. Kemudian Jodi bergegas menuju ruangan Yoga.


"Mau liat mukanya Kana sebelum dieksekusi sama Yoga."


.***


Setelah menghabiskan waktu dua mingguan untuk perawatan kulit wajah dan tubuhnya, Yoga cukup terheran-heran karena kulit Kana termasuk kulit yang nggak 'rewel' dengan produk-produk kecantikan. Padahal sebelumnya, kulit itu tidak pernah tersentuk produk perawatan kulit. Dan hasil perawatan langsung oleh Yoga sudah terlihat perubahannya. Bagian hidungnya tidak lagi seperti kulit landak, yang berkomedo tajam-tajam.


Kulitnya yang kusam mulai terlihat cerah. Bibir tipis Kana pun tak luput dari perawatan Yoga. Lip serum dan lip scrub yang Yoga berikan diaplikasikan dengan rutin oleh Kana, sampai bibirnya yang dulu agak gelap perlahan mulai berubah pink natural.


Body lotion, sabun mandi yang khusus untuk mencerahkan dan minuman bercolagen pun juga dianjurkan oleh Yoga. Dan semua bentuk perawatan tubuh Kana semuanya dibiayai oleh Arif.


Mengingat betapa baiknya Arif, membuat Kana berinisiatif untuk membalas kebaikan Arif. Bukan dengan uang, karena dia tidak punya uang untuk membayar kembali Arif. Kana memutuskan untuk datang lebih pagi mulai pagi itu, bahkan sebelum Arif bangun dari tidurnya. Kana sudah sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan ringan, secangkir kopi bahkan menyiapkan bekal makan siang untuk dibawa Arif.


"Lho, Kana? Kamu sudah datang?" Suara serak Arif. Muka bantalnya mencuri perhatian Kana. baru kali ini dia melihat penampilan Dokter Arif yang biasanya selalu rapi terlihat begitu manusiawi. Rambut pendeknya yang acak-acakan, muka bantal yang membuat Arif terlihat kiyut, dan kaos oblong hitam dengan celana pendek hitam.


"Selamat pagi, Dok! Sapa Kana dengan semangat pagi seperti penyiar radio. "Ini kopinya, Dok. Ini saya buat roti panggang diisi pake telur orak-arik sama sayurannya." Kana meletakkan semua menu itu di atas meja makan, bahkan sampai menarik kursi untuk ditempati Arif.


Arif melihat Kana dengan tatapan curiga. Tapi, juga menikmati kehadiran Kana sepagi ini. Jadi, dia sudah bisa langsung menikmati aroma terapi alami yang berasal dari aroma tubuh Kana, yang sampai sekarang, aroma itu masih menjadi misteri.


Apa gue ikutin sarannya Yoga dan Jodi aja, ya, untuk minta Kana tinggal di sini? Pikir Arif sambil menyeruput kopi buatan Kana. Lagi-lagi, hasil buatan tangan si Curut membuat Arif membeliakan mata.

__ADS_1


"Kopinya enak!" puji Arif.


Kana hanya tersenyum manis. Seperti bukan hal aneh dan hal baru menerima pujian tentang kopi buatannya.


"Dok,"


"Kana,"


Kata mereka bersamaan.


"Kamu duluan saja." Arif mempersilakan.


Kana berdiri sambil memeluk sebuah nampan di dadanya. Ia tersenyum malu-malu pada Arif kemudian berdeham.


"Saya rasa, saya perlu membalas kebaikan Dokter untuk saya." kata Kana.


Arif menyimak sambil menyeruput lagi kopi enaknya. Bahkan kopi buatannya sendiri tidak pernah senikmat ini.


"Jadi saya memutuskan pindah kosan. Saya sekarang ngekos di dekat apartemen ini. Jadi saya bisa lebih cepat datang ke apartemen Dokter. Saya bertekad akan membalas kebaikan Dokter dengan memberikan servis yang memuaskan!"


Arif hampir saja menyemburkan kopinya mendengar bagaimana Kana menyebutkan akan memberikan dirinya servis yang memuaskan.


"Maksud kamu?" Tiba-tiba saja Dokter muda yang tampan dan sukses tapi jomblo itu diserang sekawanan kegugupan. Ia mengusap-usap bagian belakang tengkuk lehernya. Serentetan imajinasi terlarang bersatu dan memenuhi isi otak Arif yang tiba-tiba jadi random.


"Saya akan bekerja lebih giat dan penuh semangat, dan mulai hari ini saya akan datang lebih pagi, masak sarapan, buat kopi dan siapkan bekal untuk Dokter. Kalau Dokter mengijinkan, saya juga bersedian menyiapkan pakaian Dokter.... eh," Kana terlihat berpikir sejenak. "Enggak deng, kalo nyiapkan pakaian kerja, kata Ibu itu pekerjaan seorang istri untuk suami. Kan saya ART."


Entah kenapa pernyataan dan penjelasan malah semakin membuat Arif diserang kegugupan dan kawan-kawannya. Jantungnya mulai kembali berdebar-debar, apa lagi Kana begitu bersemangat dan begitu... cerah. Seolah inner beauty wanita itu mulai terpancar sedikit demi sedikit. Dan sorot mata indah Kana semakin mempesona Arif.


"Jadi, mulai sekarang, Dokter jangan kaget kalo pas Dokter keluar kamar, sudah ada saya disini." kata Kana mengakhiri pidato singkatnya.


Entah sejak kapan, Arif sungguh menikmati segala bentuk keekspresifan Kana. Ketika wanita itu melotot, ketika bersedih, ketika tertawa, ketika bersungut, ketika bersemangat. Bahkan ia tidak lagi keberatan dengan keberadaan Kana yang berisik dan banyak tanya.


Ada apa dengan gue?


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2