Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 31


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, tidak ada satu hari pun tanpa buket bunga di depan kamar kosan Kana, buket bunga dengan kartu ucapan permintaan maaf yang ditulis langsung oleh Arif. Bukan hanya bunga, abang-abang ojek online pun rajin mengantarkan makanan, minuman, cemilan untuk Kana, bahkan kadang mengirim camilan dalam jumlah besar agar bisa dinikmati dengan para tetangga-tetangga kosan Kana.


Upaya menyogok untuk mendapatkan maaf dan kepercayaan Kana rupanya tidak sia-sia. Karena pada satu hari yang mendung, saat sinar matahari dihalangi oleh gumpalan awan-awan kelabu, Kana mendapatkan tidak ada kiriman buket bunga baru, yang sudah membuat lingkungan kosan Kana seperti taman bunga, dan hal itu membuat Kana khawatir. Setiap mendengar suara motor, Kana akan langsung keluar kamar untuk melihat apakah paket kiriman bunga dari Arif? Oh, ternyata bukan. Hanya Abang kurir pengantar paket dari diskon 9.9 yang dipesan tetangganya.


"Sakit kali pacarmu, Kan." celetuk tetangganya yang rupanya memperhatikan keresahan pada wajah Kana.


"Dia bukan pacarku."


"Lah bukan pacar tapi setiap hari kirim bunga. Sayang banget Kan kalo ditolak."


Kana meringis.


"Coba di telepon, Kan, kita-kita mah takutnya si Mas nya sakit."


"Kok kalian yang malah kayaknya peduli banget?" ujar Kana, santai, atau lebih tepatnya pura-pura santai. Padahal hatinya rada tidak terima kalau cewek-cewek menaruh perhatian ke dokter Arif.


"Ya peduli lah, kan kadang pacarmu itu sering kirim kita-kita makanan juga, bisa makan rame-rame, trus ini juga kosan udah kayak taman bunga, tinggal pakein kios aja kali ya."


"Eh! Aku baru inget deh, si Mas nya itu pernah dateng ke sini."


"Lah kan emang iya."


"Maksudnya sebelum insiden si Mas nya dobrak pintu. Nah, itu malem sebelumnya dia dateng nyariin kamu, Kan. Tapi kamu kerja. Dia keliatan banget khawatir. Trus dia bilang kalo dia itu calon suami kamu lho!"


Sontak semua kepala menengok kepada Kana, sementara yang ditengok jantungnya jedag-jedug dan raganya membeku.


"Wah, gila sih Kan kalo kamu nolak cowok kayak gitu."


"Udah ganteng."


"Mapan."


"Perhatian."


"Apa lagi yang kamu cari coba?"


"Nih ya, sebagai janda, aku kasih nasehat. Orang-orang kayak kita nih jangan kebanyakan milih-milih, kalo ada yang terang-terangan sayang, mau berkorban, nggak pengangguran, dan yang pasti mau sama kita, ya terima aja. Nggak usah drama nggak cinta lah. Nantinya juga bakalan cinta."

__ADS_1


Lagi-lagi Kana hanya meringis. Duduk bersama para tetangganya membuat Kana membisu. Dia yang biasanya buka suara, mendadak enggan untuk mengeluarkan suaranya. Bukan karena malas, tapi karena perasaan dan pikirannya sedang lari-larian tidak ditempat.


Masalahnya tidak sesederhana itu apa yang ada dipikiran Kana soal statusnya dengan Arif. Di kepalanya, Arif adalah majikannya, dan memang masih berstatus majikan. Meski sudah sangat jelas dan terang Arif meminta Kana untuk menikah dengannya. Tapi perbedaan status yang sangat jomplang membuat Kana selalu menampar diri untuk sadar dan tidak terbuai dengan mimpi.


Menjadi pendamping seseorang pria seperti Arif sepertinya impian semua gadis sepertinya. Hanya saja bagi Kana, itu akan tetap menjadi mimpi. Ia tidak mau menghancurkan citra Arif yang sempurna dengan menikahi ART dari kampung yang tidak berpendidikan tinggi.


Sore itu pun Kana akhiri obrolan singkat yang membuat galau hatinya dengan bersiap untuk berangkat kerja ke club malam nanti.


*


*


Malam ini di club sangat ramai. Ah, malam Minggu memang selalu padat. Lantai dansa dipenuhi orang-orang yang menggoyangkan badan mereka mengikuti hentakan musik yang dimainkan Dj. Lampu warna warni yang membuat kepala puyeng, musik yang membuat jantungnya lompat-lompat, ditambah aroma alkohol bercampur aroma keringat membaur menciptakan aroma yang bikin perut mual.


Kana berniat untuk memilih toilet sebagai tempat menghindari kerumunan, tapi sayangnya begitu sampai di toilet, ia mendengar dua bilik diisi oleh suara dua perempuan yang sedang muntah. Dan ada tiga perempuan lagi yang terlihat teler di depan kaca wastafel, bahkan satu dari mereka benar-benar kehilangan akal karena terlihat mengelus-elus keran wastafel sambil mendesah-desah tidak jelas.


Jijik. Itu yang muncul dalam pikiran Kana.


Pikirannya pun kembali teringat bagaimana Arif sangat marah saat tahu dirinya kerja di club, karena sebagian besar isi dari club ini adalah orang-orang yang nyaris kehilangan akal sehat mereka. Mungkin juga kehilangan yang seharusnya dijaga.


Tiba-tiba membayangkan Arif sakit, sendirian di apartemen membuat hati Kana resah dan gelisah.


Kana akhirnya memilih keluar dari kamar mandi, tapi sialnya dia lagi-lagi bertemu dengan pria yang pernah cek cok di belakang gedung, yang mana si pria itu lah yang tidak sengaja mendaratkan bogem mentahnya di wajah Kana.


"Eh, eh, tunggu." kata pria itu mencekal siku Kana. "Lo yang waktu itu nggak sengaja gue tonjok, kan?" kata pria itu.


"Iya." jawab Kana jujur sambil berusaha melepaskan sikunya dari cekalan tangan pria itu.


"Sorry ya, gue bener-bener nggak sengaja waktu itu."


"Iya, iya, Mas, nggak apa. Bisa lepasin tangan saya aja nggak, saya mau balik kerja lagi."


"Kenapa sih memangnya buru-buru banget kerja lagi. Santai aja dulu. Hmm? Gimana sebagai permintaan maaf gue, gue traktir lo minum?"


"Saya nggak haus, makasih!"


"It's a pleasure drink, girl. Lo nggak harus haus untuk meminumnya." kata pria itu, semakin menguatkan cekalannya. Matanya sudah berkilat aneh, dan senyumnya sudah membuat Kana ingin lari seribu langkah.

__ADS_1


*Maaf, tapi saya cuma minum akua sama sirop Marjan doang."


Pria itu terkekeh, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Kana, refleks Kana menjauhkan wajahnya. "Kamu lucu sekali."


Beuh, perpaduan antara bekas alkohol, rokok, dan mungkin juga jigong menghasilkan polusi yang mematikan.


"Lepas tolong! Jangan ganggu saya!"


"Eih, siapa yang ganggu sih?" Tangannya yang lain mulai tidak sopan, tangan itu menyentuh dagu dan mengusap pipi Kana.


"Lepasin saya, atau saya akan teriak!" Ancam Kana. Matanya sudah melotot. Rasanya ingin menangis.


"Teriak aja, semua orang disini berteriak, dan apa yang kita lakukan ini normal, sayang!"


Benar, juga, sedari tadi orang-orang hanya melewati mereka begitu saja tanpa peduli.


"Lepas!"


"Gimana kalo kita ke hotel aja, istirahat disana dan saya akan memanjakan kamu."


"Gila! Lepas! Tolong!" Kana mulai berkeringat dingin. Ia mencoba melepaskan cekalan tangan pria itu. Tapi yang terjadi malah pria itu berusaha mencium Kana.


Kana berusaha mencakar, memukul, menendang dan lain sebagainya sebagai bentuk dasar bertahan dan melawan. Bahkan ketika dia terjatuh, nggak ada satu orang pun yang datang peduli dan menolongnya.


Benar-benar dunia sudah gila! Kemana kepedulian semua manusia? Apakah tindakan asusila seperti ini di normalkan?


Kana sudah menangis, dia terus meronta, tidak membiarkan mulut bau itu menyentuhnya. Sampai tiba-tiba ia merasa cekalan dan cengkraman pria itu ditarik lepas dari tubuhnya.


Syukurlah, masih ada orang baik yang memiliki rasa kemanusiaan.


Kana membuka mata, seseorang berdiri memunggunginya. Punggungnya yang lebar melindungi Kana dari pria mabuk yang gila yang berusaha melecehkannya di tempat ini. Pria itu pun tanpa segan menghajar pria mabuk itu sampai terjungkal. Hingga keributan pun tak terelakkan. Baru lah saat keributan dari perkelahian dua pria membuat sekuriti datang untuk memisahkan dan menghentikan keributan.


Detik berikutnya, ketika pria penyelamatnya membalikkan tubuh, tatapan dari sorot matanya yang khawatir membuat tangis Kana pecah seketika, dan tanpa sadar ia memeluk penyelamatnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ya~


__ADS_2