
Tiga hari berlalu setelah Kana kembali dari desa dan kembali beraktivitas seperti biasa. Dan sudah tiga hari juga ia tidak bertemu dengan Arif karena Arif yang menginap di rumah sakit lantaran banyaknya jadwal operasi dan konsultasi dengan pasien-pasiennya. Meski begitu, Kana selalu membawakan sarapan dan bekal makan siang ke rumah sakit. Kadang dititipkannya ke meja represionis, kadang kalau beruntung dia bisa bertemu dengan Yoga dan menitipkannya pada Yoga. Tapi entah kenapa ia memilih untuk tidak mengantarkannya ke ruangan Arif langsung.
Semenjak diskusi mereka di bawah tenda nasi uduk pecel lele, Kana merasa belum siap untuk bertatap muka lagi dengan Arif, bukan karena dia belum memutuskan atas tawaran Arif, tapi karena semenjak itu di dalam jantungnya selalu seperti ada drum kecil yang digebukin, gaduh sekali jantungnya.
Kana menyadari dan tidak memungkiri bahwa dirinya telah jatuh hati pada kebaikan Arif. Hanya saja, strata sosial cukup membuat dirinya tak berani untuk mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Ia cukup tahu diri, dirinya tak pantas bersanding dengan seorang dokter bedah muda yang sukses.
Kana membuang napas panjang, sambil memeluk tangkai sapu panjang di belakang gedung club, ia menengadahkan kepalanya menatap langit malam yang sepi dari bintang.
Apa yang harus dia lakukan? Tawaran Arif memiliki alasan yang sangat masuk akal. Kepulangannya ke desa tiga hari lalu dengan membawa kabar hubungannya dan rencana pernikahannya dengan dokter kota, membuat nama baik keluarganya menjadi baik kembali. Jika ia menggagalkan rencana pernikahan itu, bukan tidak mungkin warga akan semakin mengejek dan merendahkan nama keluarga mereka.
Tapi jika ia menerima tawaran Arif, menikah selama satu tahun, tinggal satu atap, setiap hari bertemu dan berinteraksi, bukan kah itu akan menyiksa dirinya juga Arif? Apa lagi, sangat jelas dalam pikiran Kana bahwa seseorang seperti Arif tidak mungkin memiliki rasa suka apa lagi sampai mencintai perempuan desa dan kampungan seperti dirinya. Mengingat mantannya saja sangat cantik dan jelas bukan dari strata sosial ke bawah.
"Apa yang harus aku putuskan?" keluhnya.
Disaat dirinya sedang menikmati kegalauan yang menyerang hatinya, keributan terjadi, ketika dua orang diseret keluar oleh pihak keamanan club. Dua orang pria itu terpaksa ditahan oleh masing-masing pihak keamanan karena dua orang itu terlihat masih ingin saring menyerang.
Kana yang melihat keadaan sudah tidak kondusif lagi untuk menggalau, ia pun memilih untuk beranjak dari tempatnya, tapi sayang, tepat ketika ia berjalan menuju pintu gedung, salah seorang dari dua pria itu lepas dari cekalan petugas keamanan, dan orang yang menjadi sasarannya malah dibuat menghindar dari terjangan bogem pria yang lepas kendali itu.
BUG!
Bogeman keras dan kuat itu pun mendarat di target yang salah.
.
.
.
"Nggak pulang lagi lo?" tanya Yoga yang melongokkan kepalanya ke dalam ruangan Arif. Jam praktek sudah habis, jadwal operasi akhirnya kosong, dan Arif memilih untuk tetap berada di ruangannya, merebahkan dirinya di atas brankar pemeriksaan.
"Nanti." jawab Arif sekadarnya sambil menutup matanya dengan tangan.
"Nggak kangen memang sama Kana?" Kali ini bukan suara Yoga yang bertanya, melainkan suara Jodi.
__ADS_1
Arif hanya membuang napas. Sementara dua sohibnya itu saling mengedikkan kepala, kemudian saling menggeleng.
Mereka berdua kompak masuk ke dalam ruangan Arif yang padahal jelas-jelas si pemilik ruangan butuh waktu untuk istirahat.
"Kenapa lo? Gue perhatiin semenjak pulang dari desanya si Kana, lo jadi sering ngelamun galau." kata Jodi.
"Bahaya banget loh kalo lo kayak gitu pas lagi ngoperasi." Yoga mengingatkan.
"Kalian bisa nggak, nggak berisik dan pulang aja? Gue mau tidur."
"Lah memang sekarang di apartemen lo udah nggak ada kasurnya sampe-sampe lo harus tidur di kasur periksa?" Alih-alih menuruti permintaan sahabatnya, Jodi dan Yoga malah duduk dengan nyaman di dua single chair depan meja Arif.
"Gue lagi nggak bisa pulang, karena gue harus menjernihkan pikiran gue."
"Apartemen lo kenapa memang?"
"Apartemen gue baik-baik aja. Tapi gue rasa, gue nya yang enggak."
"Lah sakit apaan Lo?" tanya Jodi.
"Gue janji sama keluarganya Kana akan nikah sama Kana bulan depan."
"Wow!" Yoga melebarkan matanya.
"What?!" Jodi pun sama melebarkan matanya selebar permadani. "What did you do to her?"
"Nggak pernah terjadi apa pun antara gue dan Kana, tapi apa yang terjadi di desa kemaren itu... Gimana ya, banyak banget yang di luar kendali."
"Tapi bukannya kalian memang udah merencanakan sandiwara kalo kalian itu pacaran di depan mantannya si Kana, kan?"
"Yeah. It went well."
"Trus kenapa tiba-tiba jadi ada janji mau nikahan segala?" tanya Yoga.
__ADS_1
Arif menarik napas panjang, dan mulai menceritakan apa saja yang sudah terjadi di desa selama tiga hari itu, pengalaman yang memang belum sempat Arif ceritakan kepada kedua sohibnya itu karena jadwalnya yang padat.
Selama Arif bercerita tentang apa yang dia alami di desa, bisa dipastikan ekspresi dua sahabatnya itu. Terkejut-kejut, tertawa-tawa, dan tentu saja ledekan tak ketinggalan mereka hadiahkan untuk sang dokter bedah itu. Apa lagi ketika sampai pada cerita dimana Arif merasa aneh dengan perasaannya yang tidak rela jika Kana memutuskan untuk menggagalkan rencana yang sudah dia janjikan di depan keluarga Kana.
"Fix, lo jatuh cinta sama Kana!" Jodi langsung menarik satu kesimpulan.
"Jatuh cinta?" Ujar Arif ragu. "Atau sebenarnya yang ngebuat gue nggak rela adalah, nama baik gue akan jelek di mata keluarga Kana kalau gue nggak menepati janji?"
"Omong kosong, itu cuma alasan aja untuk lo mengelabuhi perasaan lo sendiri." Yoga mengibaskan tangannya.
"Sekarang coba ingat-ingat, setiap kali Lo nggak ketemu sama Kana, apa nggak ada rasa rindu? Apa nggak ada rasa khawatir? Dan kalo lagi ketemu, apa nggak ada rasa ingin dekat-dekat dengannya? Apa nggak ada rasa gemes-gemes gimana gitu lihat dia? Apa jantung Lo nggak jedag-jedug?" Jodi panjang lebar membuat Arif merasakan dan memahami perasaannya sendiri.
Arif mengingat semua rasa dan gejolak yang dia rasakan setiap kali melihat Kana dan mengingat kembali kekhawatiran setiap kali membayangkan gadis itu tinggal sendirian di tempat kosan itu.
"Please banget, jangan jadikan alasan status sosial menghalangi diri lo untuk jujur sama hati lo sendiri." Yoga mengingatkan.
Arif menggeleng.
"Oke, kita balik dulu deh, Lo coba pikirkan lagi kata-kata gue dan Jodi, gue yakin cuma Lo yang paham sama hati lo sendiri. Yang perlu lo lakukan cukup jujur sama diri lo sendiri, dan dengarkan kata hati lo." Yoga bangkit, seraya menggedikkan kepalanya pada Jodi, kode agar Jodi ikut bangkit dari tempat duduknya.
"Satu lagi, jangan jadikan pengalaman kegagalan lo sama Yunia jadi alasan trauma macem abege ya! Awas aja kalo otak Lo cetek begitu."
Akhirnya setelah memberikan petuah-petuah bijak nan dewasa ala Yoga dan Jodi, Arif kembali ditinggalkan sendirian di dalam ruangannya. Bergelut dengan perasaannya sendiri, menyelami dan meresapi juga memahami apa yang hatinya rasakan dan apa yang hatinya inginkan.
Cukup lama Arif berdiam diri di ruangannya, ia memejamkan matanya. Sampai satu titik dia yakin apa yang dia rasakan, dan apa yang kata hatinya katakan.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ya~