
"Bagaimana caranya, Dok?" tanya Kana mengulangi setelah tiga detik tidak ada jawaban dari Arif.
"Kita akan buat dia menyesal karena udah menyia-nyiakan kamu. Gimana?"
"Kita? Saya sama Dokter? Dokter mau balas dendam juga sama Mas Danu? Memangnya Mas Danu punya salah juga sama Dokter?" Sederet pertanyaan polos itu keluar begitu saja dari bibir tipis Kana.
"Enggak sih, tapi saya kesel aja dengar dia mengkhianati kamu setelah ngumbar janji palsu."
"Tapi kenapa Dokter ikutan kesel?" Kana masih bertanya karena masih tidak mengerti kenapa majikannya ikutan kesal dengan Danu dan malah pengen ikut-ikutan membalas perbuatan dan pekhianatan Danu pada Kana.
"Karena... karena saya juga pernah berada di posisi seperti kamu. Saya juga pernah dikhianati dengan cara yang sama seperti yang pacar kamu lakukan sama sahabatmu. Sama persis. Jadi, saya tau bagaimana sakitnya hati kamu."
"Wah, ternyata punya muka ganteng, karir bagus, tetap nggak menjamin akan punya pasangan yang tulus ya, Dok?"
Arif nyengir masam. Tidak tahu harus bersikap bagaimana mendengar pernyataan Kana. Pernyataan yang lebih terdengar seperti ledekan jika situasinya berbeda.
"Ternyata kita punya nasib percintaan yang sama, ya, Dok. Tapi, Dokter masih lebih beruntung dari pada saya."
"Apanya yang beruntung?"
"Dokter punya kerjaan yang gajinya gede, punya muka yang ganteng, walaupun udah putus, pasti banyak yang mau sama Dokter. Lah kalo kayak saya, Dok. Udah miskin, dekil, jelek, nggak punya keahlian khusus, nggak punya karir yang cemerlang. Siapa lagi yang mau sama saya?" Kana membuang napas lesu.
"Hei, siapa bilang kamu nggak punya keahlian khusus? Kamu tau nggak,"
"Nggak." Sahu Kana secara refleks.
"Masakan kamu enak. Kamu punya bakat masak, itu bisa jadi nilai jual kamu kalau kamu ambil kursus masak, dapet sertifikat, dan itu bisa kamu gunain untuk melamar di restoran atau restoran hotel." kata Arif membesarkan hati Kana yang merasa begitu insecure dengan diri dan hidupnya.
Kana kembali menghela napas. Sepertinya tidak terlalu terpengaruh dengan kalimat penggusir ke-insecure-an yang dikatakan Arif.
"Oke, balik ke topik. Kamu mau nggak kita kerja sama untuk ngebuat mantan kamu dan sahabat kamu menyesal karena udah meremehkan dan mengkhianati kamu?"
"Mau lah, Dok! Dokter mau anterin saya ke kampung dan bantuin saya ngelabrak Mas Danu dan Juni?" tatapan Kana berubah penuh bara kemarahan.
"Eits, nggak begitu cara membalas perbuatan mereka. Kita akan balas mereka dengan cara yang elegan dan langsung menyentil pankreas mereka."
"Hah? Kok sampe ada kekerasan fisik gitu, Dok?" Kana bertanya dengan nada ngeri.
__ADS_1
"Hah? Kekerasan fisik apanya?" Arif balik bertanya dengan loading yang tiba-tiba agak ngadat.
"Itu tadi Dokter bilang sampe nyentil pankreas segala? Gimana caranya coba? Dibedah dulu gitu?"
Mau tak mau Arif terkekeh gemas, apa lagi melihat betapa serius dan polosnya ekspresi juga tatapan mata Kana ketika bertanya pada Arif. Refleks tangan Arif terulur untuk mengacak rambut Kana seperti mengacak rambut anak kecil yang baru saja ditenangkan setelah merengek minta jajan mie lidi yang penuh dengan micin.
Lalu hatinya seperti tersengat semut rangrang, berdenyut tapi bedanya, denyutan pada hatinya tidak menyakitkan. Melainkan memberikan efek desiran hangat pada pembuluh darahnya dengan sangat tiba-tiba. Arif kemudian menarik tangannya dengan canggung dan menghindari tatapan polos dari mata indah Kana.
"Jadi, ehem, gimana? Kamu mau nggak membalaskan sakit hati kamu tapi bukan dengan cara yang bar-bar. Melainkan dengan cara yang elegan dan lebih efektif efeknya."
"Saya nggak ngerti gimana balas dendam yang elegan itu seperti apa. Tapi kalo Dokter yakin cara itu bisa membuat Mas Danu dan Juni menyesal, saya mau!"
"Bagus!" Arif menjentikkan jarinya dengan puas.
"Jadi, kapan kita balas mereka, Dok? Besok?"
"Ya nggak besok juga lah, kita harus membuat rencana yang matang. Biar saya yang urus, kamu tinggal ikuti arahan saya saja. Gimana?"
"Oke. Setuju!" Kana mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Arif secara formal. Arif tersenyum dan menyambut jabatan tangan ART yang baru saja patah hati itu.
Kana mengangguk mantap.
"Kalau begitu saya berangkat kerja dulu. Oh, ya, omong-omong, Yoga bilang kamu ada kerjaan di tempat lain kalau siang?"
"Iya Dok."
"Memangnya gaji yang saya kasih nggak cukup sampe kamu kerja di tempat lain lagi?"
"Cukup."
"Trus kenapa kamu nyari kerjaan lain lagi?"
"Kalo untuk kerjaan saya yang cuma beberes aparetemen, gaji yang Dokter kasih itu sudah cukup Bahkan walaupun ditambah saya masak, gaji dari Dokter masih terbilang cukup dan wajar. Tapi kalo untuk memenuhi semua kebutuhan dan keperluan hidup saya dari biaya hidup di kota, ngasih ke orang tua, cicil bayar hutang ke nenek lampir, dan nabung untuk menyongsong masa depan saya yang belom keliatan cerahnya, ya gaji dari Dokter sangat kurang." jelas Kana dengan sangat jujur tanpa ditutupi. Meski ada bagian penjelasan yang membuat Arif mengernyitkan dahi pada bagian Kana membayar hutang pada nenek lampir?
Nenek lampir? Arif benar tidak salah dengar, kan?
Meski penasaran siapa yang dimaksud nenek lampir, tapi Arif harus menahan diri, ada batasan yang tidak bisa dia kulik terlalu jauh jika bukan si pemilik cerita sendiri yang menceritakannya.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya tambahkan gajimu. sebesar gaji yang kamu terima di tempat kerjaan kamu setiap siang itu. Tapi sebagai gantinya, kamu full kerja untuk saya, dari pagi sampai sore. Gimana?"
"Sore saya sudah boleh pulang?"
"Ya, kamu bisa pulang dan istrirahat ketika sudah sore. Gimana?"
"Tapi, kalau saya resign dari kerjaan saya itu, kasian anaknya, Dok." kata Kana.
"Anaknya siapa yang kasian?"
"Anak majikan saya. Majikan saya yang itu masih muda, sepantaran saya usianya. Suaminya jarang pulang, dan dia wanita karir gitu, baby sitter-nya baru saja dipecat karena ngasuh anaknya nggak bener. Masa anaknya setiap hari dikasih obat batuk biar anteng dan tidur mulu. Kan kasian. Anaknya masih tiga tahun. Lucu dan gemesin banget. Saya yang nggak tega malah kalo dia diasuh sama orang yang nggak suka anak-anak." jelas Kana.
Sebuah penjelasan yang entah bagaimana prosesnya, memberikan kehangatan pada hati Arif yang masih berdenyut tadi.
"Kamu... suka anak-anak?"
"Iya lah, Dok! Saya malah merasa aneh sama orang-orang yang bilang nggak suka anak-anak." Kana menggeleng. "Anak-anak itu adala makhluk paling lucu, pelipur lara, paling tulus dan paling suci. Makhluk yang melahirkan sosok ibu. Makhluk yang menjadikan seorang perempuan menjadi seorang Ibu."
Lagi-lagi perkataan Kana membuat lidah Arif membeku. Ingatannya menggali kenangan pada masa lalu hidupnya ketika ia masih bersama Yunia. Saat mereka tengah duduk di sebuah taman dengan pemandangan anak-anak kecil di depan mereka berlarian dengan gembira.
Saat itu Arif bertanya berapa banyak anak yang akan mereka punya kelak. Tapi jawaban Yunia di luar dugaan Arif.
"Aku nggak suka anak-anak, Rif. Mereka terlalu merepotkan dan mood-ku yang sering naik turun pasti akan sangat nggak stabil kalau punya anak."
"Jadi?"
"Kalo kamu mau ada anak, kita bisa adopsi anak dan mempekerjakan baby sitter setelah kita nikah nanti."
Tapi, pernyataan dari seseorang yang pernah Arif remehkan ini justru menjadi pernyataan yang begitu memberikan kehangatan, kedamaian yang menjalar pada jantungnya hingga organnya itu berdebar-debar.
.
.
.
Bersambung ya~
__ADS_1