
"Maksudnya, Kana pernah kerja jadi ART gitu di tempatnya Dok... Mas Arip. Kan, awal Kana kerja, ya kerja disitu." Kana buru-buru mengoreksi pernyataannya yang sudah membuat jantung dan lambung Arif kembang kempis. Perut sudah kenyang, eh malah ketahuan bohong, kan nggak lucu!
"Oh ya, jadi waktu kamu telepon Ibu, itu kamu baru mulai kerja di rumah calon suamimu?" Pertanyaan Ibu sontak mengundang kegaduhan di sekitarnya.
Arif terbatuk tersedak duri ikan asin yang sepertinya tertinggal. Rudi menyemburkan air yang baru saja masuk ke dalam mulutnya bersama sisa nasi yang ada di dalam sana. Bapak pun sama terkejoednya dengan ucapan sang istri sampai gigi palsunya lepas.
"Kenapa sih? Kok pada heboh?" Ibu membantu Bapak menancapkan kembali gigi palsu Bapak, sementara Kana sudah menepuk-nepuk pelan punggung Arif. Dan Rudi mengelap sendiri bekas semburannya. Untung tidak masuk ke dalam piring-piring lauk. Hanya masuk ke dalam piring makannya sendiri.
"Lagian Ibu ada-ada aja, pake calon suami segala." Protes Rudi.
"Loh kenapa memangnya? Salah?" tanya Ibu begitu polos. Sekarang Arif baru menyadari dari mana kepolosan Kana berasal.
"Ya, kan Kak Kana dan Mas Arif juga baru juga kali pacarannya, masa iya mau langsung nikah. Kita juga belum kenal siapa Mas Arif ini selain kerja sebagai dokter." ujar Rudi panjang. Sepertinya malah Rudi yang lebih posesif pada Kana dan tidak mudah percaya begitu saja dengan tampilan Arif yang rapih, wangi dan sopan.
"Sekarang Ibu tanya ke Nak Arif," Ibu beralih pada Arif yang sudah reda batuknya.
"Iya, Bu?"
"Nak Arif serius, kan, sama Kana? Bukan cuma mau main-maninin anak Ibu aja? Mau nikahin Kana secepatnya, kan?" Pertanyaan Ibu pun mengundang perhatian Rudi dan Bapak. Dua pria beda generasi itu menatap Arif dan Kana, menunggu jawaban dari pria kota yang mengaku sebagai kekasih anak gadis di rumah itu.
Duh, kenapa jadi rumit begini, nih? Gumam Arif dalam hatinya. Ia sungguh tidak memperediksi bahwa orang tua Kana akan langsung merestui hubungan semu mereka. Begitu dilema Arif berada pada situasi itu. Merasa sangat bodoh karena tidak menyiapkan rencana cadangan untuk hal semacam ini.
"Iya lah, Bu. Mas Arip ini pria sejati, bukan cowok modelan kayak Mas Danu." Kana yang justru mengambil alih jawaban. Tapi jawaban yang dilontarkan gadis mungil itu justru akan membawa Arif pada dilema lainnya. Tapi jika ia menjawab dengan jawaban yang bertolak belakang dengan pernyataan Kana, maka sudah dipastikan dia akan dihujat dan rencana untuk membalaskan dendam Kana pada si Danu akan berantakan. Itu adalah misinya.
"Kok Kakak yang jawab sih? Harusnya Mas Arif dong? Kenapa Mas Arif diem aja? Nggak serius ya sama Kana? Cuma mau main-mainin Kana aja ya?!" Rudi mulai memelototkan kedua matanya.
"Heh, kamu ini bisa tenang sedikit nggak sih? Emosian aja bawaannya anak ini." Tegur Bapak yang telah menyelesaikan makannya. Setelah mengobok tangannya pada wadah kecil khusus cuci tangan mirip dengan wadah yang disiapkan kalau makan di warung makan Padang.
"Bukannya nggak serius, Rud." Arif akhirnya angkat bicara. Berusaha menenangkan sendiri mentalnya untuk tetap berbicara dalam nada tenang dan menyakinkan semua pemirsa di depannya. "Saya hanya terlalu kaget mendengar pertanyaan Ibu. Jujur, saya pikir Bapak dan Ibu nggak akan langsung merestui kami. Mengingat ini kali pertama saya berkunjung memperkenalkan diri."
__ADS_1
"Oalah Nak, mana mungkin ngga merestui." Sahut Ibu dengan nada girang. "Ibu malah bersyukur sekali Kana bertemu dengan Nak Arif. Ibu malah kepikiran Kana setelah kabar si Danu kurang asem itu selingkuh sama sahabatnya Kana sendiri. Ibu takut Kana sedih berlebihan, takut Kana jadi nggak doyan makan, mana anak Ibu udah kurus kering, kalo nggak doyan makan bisa tambah kurus nanti."
"Kana masih doyan makan kok, Bu. Tenang aja." Sahut Kana jujur. "Tapi kan memang Kana susah gemuk, Bu. Makan sebakul juga tetep kerempeng gini."
"Eh, iya ya, kamu kan memang susah gemuk ya Nak. Coba minum vitamin penambah lemak Nak, siapa tau jadi lebih berisi." Sahut Ibu, roman-romanya mulai teralihkan dari isu keseriusan hubungan Arif dan Kana.
Tapi tidak dengan Rudi, dan Bapak juga.
"Intinya, Bapak dan Ibu merestui kalau memang niatmu memacari anak Bapak karena memang untuk dinikahi." kata Bapak.
"Secepatnya." Timpal Rudi dengan cepat dan tegas.
"Heh, secepatnya? Untuk apa cepat-cepat sih?" Kana kembali pada tema perbincangan.
"Ya iyalah, Kak. Kakak tuh anak gadis perawan, di kota tinggal sendirian, punya pacar juga yang udah mapan. Jangan sampe keberadaan Kakak disana yang lempeng-lempeng aja malah dijadiin bahan fitnahan disini."
Arif paham betul dengan pemikiran dan kekhawatiran Rudi terhadap Kakaknya. Tapi sepertinya Kana mengalami loading yang agak tertunda kecepatannya.
"Kakak nih kayak nggak tau mulut-mulut cabe rawit gila disini kayak gimana. Kalo mereka tau Kakak punya pacar orang kota, datang dibawa ke sini, trus kalian balik lagi ke kota berdua, orang-orang macem Bu Romlah bisa langsung bikin novel, mengarang imajinasinya." Ujar Rudi menahan gemas karena kadang kalau habis makan, Kakaknya itu jadi agak-agak loading lama.
"Saya mengerti kekhawatiran kamu dan keluarga. Ibu, Bapak dan Rudi nggak perlu cemas, saya pasti akan menikahi Kana. Lagi pula, memang itu tujuan kedatangan kami kesini." ujar Arif dengan serius.
"Eh?" Kana menatap Arif dengan tatapan penuh tanda baca koma dan tanda seru.
"Selain memperkenalkan diri saya, saya juga ingin memberitahukan keseriusan saya untuk meminta Kana sebagai istri saya." Lanjut Arif.
Dari pernyataan Arif, tentu saja Ibu yang paling girang sampai bertepuk tangan seperti sedang ada yang ulang tahun.
"Mas..." Kana semakin penuh pertanyaan pada Arif.
__ADS_1
Arif membalas tatapan mata Kana dengan intens dan lekat lengkap dengan senyuman teduh yang menawan hati.
Duh, kok jadi dangdut gini jantungkuh! Gumam Kana dalam hatinya.
Hiks!
Tiba-tiba Bapak tersedu-sedu melihat bagaimana anak gadisnya ditatap begitu dalam oleh seorang pria yang baru saja dengan berani meminta anak gadisnya secara langsung.
"Bapak nangis?" tanya Rudi.
"Enggak, Bapak digigit semut! Iya lah, kamu pikir ini air kobokan yang keluar dari mata Bapak..Hiks!" Omel Bapak masih tetap dengan isaknya penuh haru.
"Jadi kapan, Nak Arif berencana menikahi Kana? Minggu depan?"
"Ya nggak minggu depan juga Ibuku sayang." Kana menjawab. "Kan semuanya butuh waktu, rencana. Belom lagi Mas Arif kan harus nyari jadwal libur lagi untuk ambil cuti. Iya kan, Mas?" Kana sepertinya sudah mulai mendapatkan kekuatan signal sehingga tidak lagi membutuhkan waktu untuk loading.
"Eh, iya." Arif setuju kali ini dengan ART nya itu.
"Ya udah, kalau gitu, akad aja dulu, resepsinya nyusul. Yang penting menghindari kekhilafan dari zinah karena kalian tinggal di kota yang jauh dari orang tua." Rudi sudah macam orang tua bicaranya.
"Heh, Kakak masih bisa jaga diri ya, Rud. Mas Arif juga. Kok kamu kesannya nggak percaya banget sama Kakak dan Mas Arif?" Kana protes, ia merasa tidak enak justru pada Arif.
"Bukannya aku nggak percaya sama Kakak dan Mas Arif, tapi aku nggak percaya sama syetan yang membisiki hati. Lagi pula kalo udah halal kan udah nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Bebas dari fitnah dan dosa. Semuanya serba halal sentosa." kata Rudi penuh keyakinan dan semakin membuat Ibu sumeringah lebar dan Bapak semakin tersedu-sedu penuh haru membayangkan anak gadisnya akan dipinang.
Duh, kenapa jadi begini, ya?!
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya~