Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 35


__ADS_3

Kana menarik napas dalam, ia sudah memantapkan hatinya untuk berhenti bekerja dan pulang kampung, ia akan kembali membantu bapaknya saja di sawah, yah walaupun resikonya hasil perawatannya akan darah bye bye. Tapi tak apa, pembalasannya ke Danu sudah terealisasikan. Tanpa dia sadari dan terpikirkan olehnya, jika ia terus keras kepala seperti itu, bukan tidak mungkin kisah romantisnya yang singkat saat memperkenalkan Arif di kampungnya bisa jadi momok ejekan nantinya.


Ah, Kana....


Kana membuka pintu apartemen Arif, ia tahu sepagi ini biasanya Arif masih ada di apartement. Dan benar saja, saat Kana mengucap salam ketika masuk, salamnya dijawab oleh seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah Arif.


Pria itu sudah rapih, dengan setelan jas dan koper di tangannya.


"Dokter mau kemana?" tanya Kana dengan polos dan implusif mendekat. Ada sorot khawatir dan juga takut dalam sorot mata Kana. Tapi, Arif harus menahan senyumnya.


Ah... menggemaskan sekali sih.


"Kenapa memangnya? Bukannya kamu akan lebih senang kalau saya pergi?" tanya Arif dengan nada suara yang dia buat datar.


"Jangan..."


"Jangan?" Arif menelengkan kepala. "Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu nggak ada rasa untuk saya. Dan kamu juga menyukai pria lain. Jadi, untuk apa lagi saya nunggu kamu disini? Ya, kan?"


Gugup. Dan tidak ingin. Namun gengsi dan keras kepala masih menyelubunginya.


"Bukan."


"Bukan? Jadi kamu suka saya juga?" tanya Arif dengan cepat.


"Iya, eh, enggak." Kana buru-buru membenari jawabannya juga degupan jantungnya yang tiba-tiba saja merasa sedih bukan main.


Arif mengulum senyum. Arif maju selangkah lebih dekat.

__ADS_1


"Kenapa kamu masih saja mengelak?"


Kana memalingkan wajah. Ia bisa meleleh jika dipandang sendu dan lekat seperti itu.


"Saya hanya akan pergi dalam beberapa hari." kata Arif kemudian. Pernyataan itu kembali mengundang wajah Kana untuk menoleh kepadanya.


"Maksudnya?"


"Saya ada seminar di luar kota."


"Oh." Singkat respon yang keluar dari bibir mungil dan tipis Kana, tapi tidak dengan helaan napas lega yang terlihat oleh Arif tanpa Kana sadari.


"Dan, selama saya seminar, saya ingin kamu menyimpan ini." Arif meraih tangan Kana dan meletakkan sebuah cincin yang dijadikan liontin seperti kalung. Cincin cantik sederhana yang sangat pas menggambarkan kepribadian gadis itu.


"Saya belum menyerah, Kana." Arif melanjutkan. Ditatapnya lekat mata Kana yang indah. "Seberapa besar pun kamu mencoba mencari alasan untuk mengelak dari rasa saya, seberapa besar pun cara kamu untuk menjauhi saya, saya nggak akan menyerah. Sekalipun kamu mengakui menyukai pria lain. Saya pikir, selama kamu belum dipinang, saya masih berhak untuk terus berusaha. Dan ini akan menjadi usaha terakhir saya."


"Saya akan memberikan mu waktu untuk meresapi kata hatimu. Saya tau, kamu bukan gadis egois yang memikirkan dirimu sendiri, kamu selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Tapi kali ini, kali ini saja saya benar-benar meminta kamu untuk sekali saja menjadi egois dan mengikuti apa yang hati terdalam mu inginkan." Arif maju satu langkah lagi. Dihirupnya dalam-dalam aroma morphin yang candu dari aroma Kana.


"Saya akan kembali menemui mu. Dan jika saat kita kembali bertemu kamu memakai cincin ini pada jarimu, maka saya akan langsung membawamu ke KUA terdekat saat itu juga. Tapi, kalau kamu masih tetap nggak mau memberikan kesempatan untuk kita, kamu bisa buang saja cincinnya, atau kamu jual, terserah."


Kana masih terdiam, matanya menyorotkan berbagai macam rasa yang sepertinya sulit untuk dia benar-benar ungkapkan.


"Dan saat itu saya akan benar-benar pergi dari hidupmu. Saya akan kembali menjalani hidup saya seperti ketika saya belum pernah mengenalmu. Walaupun itu akan sangat sulit, dan mungkin akan membuat saya selalu menginap di rumah sakit untuk mencari kesibukan." Lanjut Arif dengan nada yang dia buat didramatisir, dan sepertinya cukup berhasil mencolek keegoisan yang ditahan-tahan gadis itu.


"Saya pergi dulu ya." Senyum tipis-tipis tapi bikin meleyot dibentuk oleh Arif pada wajahnya, kemudian menarik kopornya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Oh, ya, satu lagi." Arif membalikkan tubuhnya, kembali bertatapan dengan Kana. "Sudah sejak lama sebenarnya saya ingin pecat kamu."

__ADS_1


"Apa?" Mata Kana membulat. Akhirnya setelah diam seribu bahasa, bibir itu mengeluarkan suara.


"Ya, saya hanya merasa nggak pantas jika wanita yang saya cintai bekerja sebagai ART untuk saya. Tapi, saya nggak tahu bagaimana bisa terus berhubungan dengan kamu kalau kamu nggak jadi ART saya, makanya saya masih pertahankan kamu. Tapi per hari ini kamu saya ijinkan kalau memang kamu ingin berhenti dan pulang. Karena saya yang nantinya akan menjemputmu." Dan setelah membuat jantung Kana harus memompa darah empat kali lipat dipagi-pagi hari seperti ini, Arif pun pergi meninggalkan Kana di dalam apartemenya.


Kana mengangkat kalung dengan cincin yang dijadikan liontinnya. Napasnya ditarik dalam dan dihembuskannya kuat-kuat. Ia menarik kursi makan, duduk disana untuk menatap lebih lama cincin itu.


Semua ucapan Arif kembali menggema dalam kepalanya, berulang-ulang, seperi kaset jaman dulu yang pitanya kusut.


Kemantapan hatinya untuk pergi dan mengubur perasaannya sendiri pun menjadi sebuah kedilemaan. Dia bimbang.


Disatu sisi, rasa insecure benar-benar menghajarnya dengan ketakutan akan rasa ketidakmampuannya untuk menjadi pendamping yang pantas bagi seorang dokter muda dan sukses dan juga bonus good looking seperti Arif.


Namun disisi lain, ia juga ingin egois, ia ingin sekali dalam hidupnya tidak perlu memikirkan apa kata orang, tidak perlu memikirkan nasib orang lain, tidak perlu memikirkan bagaimana perasaan orang lain jika dirinya gagal, jika dirinya mengecewakan orang lain, yang penting ia mencapai keinginannya.


Tapi, kalau dipikir, Kana tidak akan menjadi egois sekali pun ia menerima Arif. Karena Arif pun menginginkan dirinya. Sekali pun mungkin dia akan mempermalukan citra Arif karena menikahi gadis kampung yang tidak memiliki apa-apa, itu bukan salahnya, bukan karena keegoisannya, karena sejak awal pun Arif sudah menerima Kana dengan segala kekurangannya. Sayangnya, otak Kana terlampau rumit dengan ketakutan tak berdasar, sehingga logikanya mandeg.


"Kenapa aku takut ya, kalo Dokter Arif benar-benar pergi dari hidupku?"


Ya karena situ juga cintah lho Mbaknyaaa... Duh jadi gemes deh!


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2