Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 21


__ADS_3

"Aku akan menikahi Kana, besok." Ucapan Arif rupanya bukan hanya didengar oleh Rudi seorang, melainkan juga tiga orang lainnya yang baru saja menginjakkan kaki di teras.


Ibu Ana, Pak Tomo, dan Kana.


"Alhamdulillahhhh." Ibu Ana langsung memeluk Kana sambil jingkrak-jingkrak. "Pak! Pak! Anak gadis kita akan nikah besok, Pak!"


Pak Tomo jangan ditanya, pria paruh baya itu sudah kembali tersedu-sedu. Sementara Kana seperti kehilangan jiwa, dia hanya melongo menatap Arif dengan tatapan yang tak bisa Arif gambarkan.


"Mas Arif serius, kan?" Rudi bertanya lebih tegas.


"Aku serius." jawab Arif cepat.


"Besok, besok?" Rudi kembali menegaskan. "Sekarang tanggal 14 nih, besok tanggal 15 April 2023 Mas Arif benar akan nikah dengan Kana?"


"Ya."


Pak Tomo pun langsung menghampiri Arif dan memeluknya sambil menumpahkan tangis harunya.


"T-tunggu dulu!" Kana mengangkat tangan, seperti sedang menghentikan perkelahian emak-emak. "Mana bisa mendadak begitu." Protes Kana yang malah membuat semua orang bingung dan heran. Bukannya senang akan dinikahi oleh dokter ganteng dan mapan, eh kok ini malah protes.


"Kenapa memangnya?" tanya ibu yang kini sudah berdiri normal dan menatap heran anak gadisnya.


Kana berdeham, mengambil sikap seperti kepala sekolah yang akan pidato di atas podium upacara.


"Coba dipikirkan lagi, kalau aku dan Dok...eh, Mas Arif menikah besok, bukannya itu malah akan bikin orang curiga dan bertenye-tenye, ya?" Kana menatap satu per satu anggota keluarganya juga Arif. "Orang yang nikah mendadak nggak akan jauh-jauh dari rumor kalo si cewek udah hamidun duluan. Ih, amit-amit! Kalo sampe biang-biang gosip di desa ini tau aku nikah besok setelah berbulan-bulan di kota, putus dari Danu, dan pulang-pulang kawin, apa kata dunia? Memang Ibu mau aku digosipin miring-miring lagi?"


Arif semakin kehilangan kata-kata melihat Kana. Terkadang gadis itu sangat loading lama, terkadang sangat polos mendekati bodoh, terkadang cepat tanggap dan pikirannya malah kadang di luar prediksi BMKG.


"Eh, iya juga ya, si Bu Romlah pasti kesenangan bikin gosip baru." Ibu mulai berpikir.


"Nah!" Kana mengangguk.


"Apa lagi nggak ada undangan, nggak ada resepsi, nggak ada persiapan apa-apa." Lanjut Ibu.


"Makanya jangan langsung buru-buru aja." Kana mendelik pada Rudi. "Semuanya butuh proses, anak muda."


Arif hampir saja tertawa melihat bagaimana ekspresi Kana yang sangat serius menatap Rudi. Pemuda yang sejak tadi bersikap tegas pun hanya mengerucutkan bibir, sepertinya baru terbuka juga alam sadarnya dengan pencerahan yang diberikan Kana.


"Dan Mas Arif, maaf, bukan bermaksud menolak Mas Arif, aku tau Mas Arif serius, tapi semuanya nggak bisa serba mendadak, karena ini juga akan menyangkut nama baik Mas Arif juga. Aku nggak mau juga Mas Arif yang niatnya baik dan tulus, malah digosipin yang enggak-enggak." Lanjut Kana.

__ADS_1


Arif tersenyum bangga pada pola pikir Kana yang tak terduga sama sekali. Ia tanpa sadar jadi mengagumi gadis itu.


"Oke, oke." Rudi mengalah pada akhirnya, meski ia menatap curiga pada Arif yang tersenyum, senyuman Arif diartikan lain oleh Rudi. Senyuman itu diartikan sebagai senyuman penuh kemenangan karena Kana sendiri yang mengulur waktu.


"Jadi, kapan biar nggak terkesan dadakan?" Lanjut Rudi.


"Lusa." Kana sudah menjawab dengan mantap.


Jiaaaah! Gubrak! Sama aja dong Neng!


***


Setelah keluarga dan Arif sepakat untuk menikahi Kana satu bulan dari sekarang, Rudi pun mengancam akan memukuli Arif jika sampai Arif mengkhianati Kana. Rudi bahkan tidak peduli jika ia benar-benar akan masuk penjara.


Akhirnya Arif dan Kana bisa keluar dari rumah, menjalankan misi utama dari tujuan kedatangan mereka. Sambil berjalan kaki dengan langkah-langkah santai, Kana membawa Arif berjalan melihat-lihat pemandangan desa yang asri. Sebagian orang-orang yang berpapasan dengan Kana dan Arif menatap Kana dengan tatapan ragu.


Mungkin terlihat seperti Kana, tapi melihat bagaimana penampilannya, mereka ragu untuk menyapa. Jadilah Kana yang lebih dulu menyapa mereka. Orang-orang itu tentu saja langsung heboh melihat bagaimana berubahnya penampilan Kana. Ditambah Kana juga memperkenalkan Arif sebagai calon suami, mengingat bulan depan mereka akan menikah, jadi sekalian saja diperkenalkan ke seluruh desa.


Itu juga bisa menjadi jurus ninja tercepat untuk bisa menyampaikan berita kedatangan Kana, perubahan Kana, dan tentang calon suami Kana yang seorang dokter di Ibu kota, sampai ke gendang telinga Danu juga Juni.


Karena setelah hampir satu jam Kana dan Arif berjalan-jalan keliling desa, para pengkhianat pun menampakkan hidung mereka.


Melihat apa yang terjadi, Arif langsung tahu siapa dua orang itu dan apa yang menyebabkan Kana begitu tegang.


Tangan Arif pun bergerak melepaskan tangan Kana dari lengannya, kemudian memindahkan tangan Kana untuk digenggamnya, hingga jari-jarinya mengisi setiap ruas jari Kana.


"Hei, tenang. Kamu hanya akan menggagalkan misi kalau wajahmu tegang begitu. Dan tatapan matamu penuh kebencian begitu. Tenang. Kamu harus ingat, kita adalah sepasang kekasih yang akan segera menikah, jadi bersikaplah kita saling mencintai sama seperti kita bersikap di depan orang-orang tadi." Bisik Arif, membuat Kana harus menenangkan dirinya dengan singkat sebelum beberapa langkah lagi dua pengkhianat itu sampai di depan Kana dan Arif.


Kana mengangguk. Ia pun membalas genggaman tangan Arif untuk menguatkan dirinya. Tapi yang dirasakan Arif justru berbeda. Apa lagi dengan jantungnya.


"Kana?" Suara Danu menyapa. Ada nada heran, ada nada terkejut. Mungkin karena penampilan Kana yang sekarang begitu manis, cantik, ayu sesuai dengan kriteria idamannya.


"Eh, Mas Pengkhianat...." jawab Kana cuek. Dia bahkan hanya melirik sekilas pada Juni yang melihatnya dengan tatapan iri dan tak suka.


"Kamu kembali?" tanya Danu.


"Iya lah, kenapa memangnya? Kalian pikir aku nggak akan kembali hanya karena pengkhiatanan kalian? Dih! Geer amat." jawab Kana dengan sangat ketusnya.


"Mereka siapa, Sayang?" tanya Arif dengan nada lembut. Suara Arif menarik perhatian Juni. Dilihatnya Arif dengan tatapan mupeng. Sementara Danu langsung menunjukkan ketidaksukaanya.

__ADS_1


"Oh, bukan siapa-siapa, Mas." jawab Kana dengan lembut juga. "Yuk, Mas, kita jalan-jalan lagi." Kana menarik tangan Arif untuk meninggalkan Danu dan Juni. Karena jika lebih lama lagi di depan dua orang yang dulu sangat ia percayai itu hanya akan membuat Kana ingin menyerang keduanya.


"Aku Danu, mantan Kana!" kata Danu kepada Arif dengan percaya diri. Mungkin Danu berpikir pernyataannya dapat membuat Arif cemburu dan akhirnya bertengkar dengan Kana. Yah, itu lah kalau otak mikirnya tidak jauh-jauh dari selang*kangan.


"Mas!" Juni sudah mendelik galak. Tapi sepertinya penampilan Kana yang anggun telah mengalihkan perhatian Danu dari Juni. Perempuan yang telah membuatnya mengkhianati Kana.


"Oh, jadi kamu yang namanya Panu?" Ucap Arif santai.


"Danu, Mas.." Kana mengoreksi dengan nada lembut sambil menahan tawa.


"Oh, Danu ya? Aku pikir Panu." Ledek Arif.


"Heh, jangan kurang ajar ya! Kamu nggak tau siapa saya?!" Danu tersulut emosi.


"Tau, kamu orang yang mengkhianati Kana dengan berzina dengan sahabat Kana sendiri di gubuk dekat sawah. Ya, ampun, apa kalian nggak bisa menjadi manusia yang normal? Kan, bisa putusi Kana dulu, lalu nikahi wanita yang kamu mau, dari pada menjadi pengkhianat dan pezina?" jawab Arif dengan tenang dan santai. Tapi tatapan matanya menatap begitu menusuk Danu. Ia tak peduli dengan Juni.


"Kamu jangan kurang ajar ya?!" Danu lagi-lagi meninggikan suaranya.


"Siapa yang kurang ajar?" tanya Arif sok tidak tahu. "Kamu atau saya?


Meski wajah Arif terlihat tenang, tapi Kana bisa merasakan genggaman tangan Arif begitu kuat, pria itu tengah berusaha menahan diri.


"Aku bisa mengusirmu saat ini juga! Bapakku kepala desa!" ujar Danu, tetap tanpa rasa malu setelah apa yang dia perbuat.


Tiba-tiba saja senyum miring dan tipis tersungging pada wajah Arif.


"Kalau gitu, sampaikan salam saya untuk Pak Jamal. Katakan, Dokter Arif Argaprama datang." kata Arif dengan sangat misterius dan penuh penekanan yang membuat Danu sedikit kehilangan rasa percaya dirinya sebagai anak kepala desa.


Arif akhirnya menarik Kana, meninggalkan Danu dan Juni yang masih disana.


"Mas kenal sama Pak Jamal?" tanya Kana, samar masih terdengar oleh Danu dan Juni.


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2