
Empat hari berlalu sejak kali terakhir Kana bertemu dengan Arif di apartemen, gadis itu akhirnya tetap memilih untuk pulang kampung. Ia akan merindukan tetangga-tetangga kosannya, Riska dan yang lainnya telah menjadi saksi bagaimana seorang seperti Kana dicintai oleh seorang dokter seperti Arif.
Ia kembali terjun ke sawah, meski penampilannya yang sudah glowing sangat disayangkan oleh beberapa warga yang melihat Kana panas-panasan lagi di tengah sawah bersama bapaknya dan Rudi.
Tapi kali ini Kana menulikan pendengarannya, dia tidak peduli pendapat orang lain tentang dirinya. Pikirannya sedang sibuk untuk ditambahkan dengan memikirkan pendapat orang lain. Dalam jangka waktu empat hari itu juga, Kana sempat bertemu dengan Juni dalam keadaan yang miris. Juni menjadi korban KDRT bahkan saat dirinya tengah hamil anak Danu. Tapi, Danu malah tidak mau mengakui anak yang dikandung Juni adalah anaknya, dia berpikir dan memelintir kenyataan, dan berpikiran kalau Juni bisa saja sudah hamil sebelum berhubungan badan dengannya sebelum nikah.
Benar-benar gambaran laki-laki bajingan luar dan dalam.
Karena perlakuannya yang kasar pada Juni, Juni pun akhirnya minta bantuan warga karena tidak sanggup lagi dengan Danu yang selalu memukulinya. Ia bahkan hampir kehilangan janinnya. Karena itu, Danu pun akhirnya ditangkap polisi karena pihak Juni dan keluarga tidak mau menerima tawaran damai dari pihak keluarga Danu. Karena anaknya yang tidak bertanggung jawab itu, ayahnya Danu pun dicopot dari jabatannya.
Banyak hal terjadi rupanya setelah kedatangan Kana dan Arif kala itu. Sama halnya seperti banyak juga yang terjadi di dalam hati Kana setelah kembali dari desa.
Pertemuannya dengan Juni membuahkan permintaan maaf yang tulus dari Juni. Dan Kana memaafkannya, bukan karena ia menerima Juni kembali menjadi sahabatnya, dia hanya terlalu lelah untuk menyimpan dendam terlalu lama. Juni dan Danu sudah menerima karma atas perbuatan dan pengkhianatan mereka. Itu sudah cukup bagi Kana.
Kepulangannya ke kampung pun kerap kali mengundang pertanyaan dari orang-orang disana tentang kabar pernikahan Kana yang seharusnya akan terjadi satu minggu lagi. Kebanyakan berpikir Kana pulang karena memang akan mempersiapkan diri menjelang hari pernikahan. Tapi melihat Kana malah terjun ke sawah membuat orang-orang mendadak berprofesi sebagai paranormal gadungan yang menerawang tentang hubungan Kana dan Dokter kota itu.
Ada yang bilang Kana dan Arif pasti sudah putus dan gagal nikah. Ada yang berpendapat kalau Kana dan Arif hanya sedang menghadapi ujian sebelum pernikahan. Ada pula yang mengatakan kalau Arif akhirnya sadar dan lebih memilih orang kota. Ah, tetap aja ada yang mulutnya julid.
Tapi Kana tidak termakan ocehan orang. Meski Ibu yang jadi lebih uring-uringan karena Kana memilih untuk menghindari pertanyaan soal hubungannya dengan Arif dan soal janji Arif yang akan menikahi Kana.
"Ibu udah bayar DP sama Bu Ijah kalo nanti pake cateringnya untuk acara nikahan kalian. Ibu juga udah ke Bu Wagirah untuk baju pengantin sama rias pengantinnya. Orkes campur sari juga udah Ibu pesan." Pernyataan ini sudah berkali-kali diucapkan Ibu semenjak Kana datang.
Tapi Kana malah lebih banyak diam. Lebih banyak ikut bapak ke sawah dari pada di rumah memasak dengan ibu. Bapak tidak secerewet Ibu, meski juga penasaran dengan apa yang terjadi pada anak gadisnya. Hanya saja, Bapak tidak ingin memaksa. Bapak hanya ingin ada disana dan meyakinkan Kana, bahwa apa pun yang terjadi, Bapak akan selalu ada untuk Kana.
Hari sudah menjelang sore, Kana duduk di pinggir sawah setelah seharian membantu Bapak panen padi, dan panen beberapa jagung di ladang yang lain dekat dengan ladang padi.
"Juragan Kardi masih suka potong upah, Pak?" tanya Kana seraya mengusap keringatnya pada kening dengan lengannya.
__ADS_1
"Eh, memangnya Nak Arif nggak ngasih tau kamu?" tanya Bapak.
"Ngasih tau apa, Pak?" Kana mengerutkan kening.
"Ladangnya Pak Kardi dibeli sama Nak Arif untuk kita. Ladang padi dan ladang jagung itu sekarang milik kita, Kan." Bapak ikut duduk disebelah Kana, beliau menatap sendu pada lahan yang baru saja padinya dipanen. "Mimpi apa Bapak sekarang bisa punya ladang sendiri. Padahal dulu kita susahnya kayak apa, upah nggak seberapa juga seringnya dipotong sama Juragan. Alhamdulillah sekarang semua doa diijabah sama Gusti Allah melalui Nak Arif." Mata Bapak berkaca-kaca.
Kana menelan ludahnya susah payah. Perasaan bersalah menyergapnya, teringat kembali bagaimana dirinya malah berusaha mendorong Arif menjauh, menolaknya berkali-kali, sementara Arif sudah sangat tulus padanya. Bukan hanya kepadanya, tapi juga ke keluarganya.
"Kap... Kapan Dok... eh, Mas Arif beli ladangnya Pak Kardi, Pak?"
"Ya pas waktu itu kesini. Waktu itu pas Bapak, Rudi dan Nak Arif ke ladang, kita ketemu Juragan Kardi. Waktu itu Juragan terang-terangan lagi ngomong sama orang kalo dia lagi butuh dana, mau jual ladangnya. Trus Nak Arif langsung nyamber aja dan langsung beli ladangnya Juragan gitu aja. Wah, Bapak sama Rudi sampe bengong. Trus ya gitu, prosesnya cukup cepet, Nak Arif pergi sebentar ikut Juragan untuk langsung bayar dan ngurus macem-macem. Lah, tau-tau, sertifikat udah ditangan Nak Arif, dan dikasih ke Bapak di depan Rudi dan Juragan Kardi juga."
Tes! Air mata Kana tiba-tiba aja meleleh.
""Ini buat Bapak." gitu katanya, disaksikan Juragan Kardi juga. Juragan Kardi juga sampe terharu karena Nak Arif beli ladangnya dibayar langsung lunas dan itu dibeli atas nama Bapak. Ya Allah... Kana.... Bapak hampir pingsan waktu itu. Tapi Nak Arif mewanti-wanti agar kamu jangan sampe tau. Katanya nanti aja taunya biar dia sendiri yang ngasih tau." Bapak menoleh pada Kana.
Kana menggeleng. Pantas saja, Ibu berani membayar DP biaya ini itu. Kana tidak sampai berpikir kalau semua itu karena sekarang Bapak sudah punya penghasilan yang cukup.
Gadis itu akhirnya menangis, menangis disamping bapaknya. Lelaki paruh baya itu memang punya firasat kalau hubungannya dengan Arif sedang tidak baik-baik saja. Hanya saja, Bapak nya memilih tidak ingin memaksa Kana untuk bercerita.
"Kenapa malah menangis, hm?" tanya Bapak lembut.
"Kenapa Mas Arif baik banget Pak?"
"Karena dia punya hati yang tulus dan besar, dan dia tulus sama kamu. Sama kita. Dia bantu lunasi hutang kita, dia beli ladang untuk kita, dia bantu biaya kuliah Rudi. Dia juga sering telepon Rudi untuk tanya kabar. Tapi nggak pernah sekali pun dia sombong di depan kita. Rasanya langka sekali masih ada anak muda yang berjiwa besar dan berhati tulus seperti Arif."
"Tapi kenapa, Pak? Padahal Mas Arif bisa dapet perempuan yang lebih pintar, lebih setara, lebih cantik dari pada Kana. Kenapa Mas Arif malah pilih Kana? Kana takut nggak bisa menyesuaikan diri dengan Mas Arif."
__ADS_1
"Kamu mau dengar cerita Bapak bertemu Ibumu, nggak?"
Kana mengusap air matanya seraya mengangguk.
"Dulu Bapak bertemu Ibu waktu Ibu baru lulus sekolah SMA, Bapak waktu itu udah kerja jadi kuli. Orang tua Bapak pengennya Bapak nikah sama anaknya bos, karena kebetulan orang tua Bapak dan bos tempat bapak kerja sudah kenal. Anaknya cantik, keluarganya juga berada. Tapi, saat itu Bapak nolak, Bapak memilih Ibumu yang cerewet, berasal dari keluarga petani, dan baru lulus sekolah karena Bapak merasa nyaman dengan Ibumu. Ibumu nggak secantik anaknya bos bapak, tapi dimata Bapak dari dulu sampe sekarang, nggak ada yang bisa mengalahkan kecantikan ibumu apalagi kalau sedang marah."
"Keluarga Bapak nggak setuju. Apa lagi emak. Emak mencoba ngasih pengertian ke Bapak tentang masa depan ini itu. Tapi nggak tau kenapa Bapak ragu untuk milih anaknya bos Bapak. Tapi takut mengecewakan emak, dan takut nggak bisa jadi suami yang bisa membahagiakan istri juga bikin Bapak ragu untuk milih Ibumu."
"Trus, gimana akhirnya Bapak bisa jadi nikah sama Ibu?"
"Solat. Bapa minta petunjuk. Bapak minta Gusti Allah ngasih petunjuk yang mana yang harus Bapak pilih. Bapak mendengarkan kata hati Bapak setelah meminta petunjuk dari Gusti Allah. Kamu tau, saat logika dan akal membuat kita bimbang dan ragu, maka dengarkanlah kata hatimu, Nak. Karena biasanya Gusti Allah menyelipkan petunjukNya dan jawabanNya di dalam sana."
Ah... Rasanya rongga di dalam hati Kana melebar, sesaknya hilang. Sesak yang selama ini dia rasakan dan sulit dia bongkar, kini menganga lebar.
"Ah, sudah sore sekali, ayo kita pulang, sebelum malam." Bapak bangkit dari duduknya.
"Kana nyusul aja, Pak. Sebentar lagi duduknya."
"Ya udah, Bapak duluan ya."
Kana memegang dadanya, sesuatu menonjol di tengah, ia menarik keluar benda itu, kalung berliontin cincin masih menggantung di lehernya. Diamatinya lekat cincin itu, sinar matahari senja tiba-tiba membuat matanya menyipit karena melihat sesuatu yang tak terlihat sebelumnya. Pada bagian dalam cincin itu terdapat tulisan, Kamu Adalah Kata Hatiku.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ya~