Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 38


__ADS_3

Pundak Arif luruh melihat cincin di atas telapak tangannya. Harapan terakhirnya pupus, ingin marah tapi ia tak punya hak untuk marah, segala keputusan adalah sepenuhnya hak Kana. Ia tidak pernah setitik pun mengharapkan pamrih atas semua kebaikan yang dia lakukan untuk Kana dan keluarganya. Tapi, kali ini, rasa untuk meminta balasan atas semua kebaikannya tiba-tiba muncul sebagai cara terakhir untuk mendapatkan Kana. Apakah itu licik? Apakah itu akan membuat Kana semakin membencinya? Apakah Kana membencinya?


"Kana..."


"Saya nggak mau pakai cincin ini... sendiri." Suara Kana membuat Arif mengangkat wajahnya. Tatapan bingung tersampaikan dengan sempurna dari mata Arif.


"Maksud kamu?" tanya Arif.


"Saya maunya Dokter yang pakein cincin itu di jari saya, tapi Dokter harus ijab qobul dulu sama Bapak saya di depan penghulu." ujar Kana sembari menyulam senyum manisnya yang lebar.


"Ap-apa?" Arif mengerjapkan kedua matanya. "Apa ini artinya... Kamu... Kamu terima saya?" Ekspresi bahagia penuh lega pun tergambar jelas pada wajah tampan yang semakin tampan saat tersenyum seperti itu.


Kana mengangguk malu-malu.


"Alhamdulillaaaaahhhh!" Ucap penuh syukur lolos dari bibir Arif sambil melakukan sujud syukurnya. Kana tertawa melihat bagaimana reaksi yang ditunjukkan Arif. Implusif ia mendekati Kana ingin memeluknya tapi...


"Eits! Tahan dulu Mas Dokter." Lengan Rudi tiba-tiba menahan lengan Arif. "Dihalalin dulu, baru boleh peluk-peluk."


"Alhamdulillahhh." Ibu dan Bapak juga keluar dari tempat persembunyiannya sejak tadi mengintip dari dalam.


"Lho, lho, kok..." Kana menatap bingung satu-satu keluarganya yang tidak ada angin tiba-tiba muncul.


"Hayuk lah kalo gitu, nanti keburu malam." kata Ibu.


"Kemana?" tanya Kana yang tiba-tiba ngelag otaknya.


"Ke KUA lah, gimana sih, katanya maunya dipakein cincinnya setelah ijab qobul di depan penghulu." Sahut Rudi.


"Lah, memangnya dokumen untuk ngurus nikahnya udah ada? Aku bercanda doang kok."


"Maksud kamu bercanda? Kamu terima saya cuma bercanda?" tanya Arif.


"Bukan itu, maksudnya ke KUA yang bercanda harus sekarang. Kan bisa besok, aku juga belum siapin surat apa-apa." jawab Kana.


"Eits, tenang aja, udah beres. Nih." Rudi menunjukkan map biru yang berisi segala urusan surat menyurat untuk kepentingan pernikahan.


"Hah?" Kana sampai melongo dan kehilangan kata-kata, padahal banyak sekali bentuk kalimat tanya yang ngumpul diujung bibir Kana.

__ADS_1


"Nah itu Pak RT sama Bu RT dateng." Ibu melihat ke arah dua orang yang juga berpenampilan rapi.


"Siap?" tanya Pak RT setelah mengucapkan salam.


"Pak RT mau ngapain?" tanya Kana ke Rudi.


"Jadi saksi di KUA."


*


*


*


Dengan gaun sederhana yang sudah dipersiapkan untuk acara akad ini, Kana tampil dengan sangat manis dan cantik bersamaan. Akad sederhana itu pun bukan hanya disaksikan oleh Pak RT dan istri, tapi juga oleh sekertaris RT, dan beberapa tetangga dekat yang sudah menunggu kedatangan mereka di KUA. Yang lebih mengejutkan lagi adalah, Yoga, Jodi dan Winna juga datang membawa beberapa kotak hantaran.


Ah, ini terlalu indah untuk terjadi di depan mata Kana.


"Jangan nangis, jangan nangis, make up kamu udah manis banget, jangan sampe luntur." Bisik Wina sambil memeluk Kana memberikan selamat.


"Akhirnya si Arif kesampean juga hatinya." Bisik Yoga.


"He'eh, gue jadi pengen tobat jadi playboy kalo gini. Pengen cari calon istri yang serius." Sahut Jodi juga sambil berbisik.


"Halah, udah berapa kali lo ngomong kayak gitu selama hidup Lo? Udah pernah ada yang terlaksana belom?"


"Ya, nanti lah, abis makan gue nyari."


"Ssht, berisik amat sih Lo berdua. Arif udah mau ijab qobul nih." Winna protes karena dua dokter kota itu terlalu berisik di telinganya. Seperti nyamuk sebelum mengisap darah korbannya.


Akad pun berlangsung penuh khidmat dan haru, setelah Arif dan Bapak selesai ijab dan qobul dan dipastikan sah oleh penghulu dan semua orang yang hadir, Arif dan Kana pun akhirnya sah menjadi sepasang suami dan istri. Ucapan syukur dan doa memenuhi ruang. Tangis haru Ibu dan Bapak menular ke semua orang yang ada termasuk Yoga, Jodi dan Winna.


Mereka tahu bagaimana perjalanan hidup Arif yang kini terlihat sempurna pernah harus menjalani hari-hari yang begitu sulit. Kesepian, dan sebatang kara semenjak neneknya meninggal. Dikhianati oleh orang yang dicinta dan sahabatnya sendiri. Ia kehilangan rasa percaya pada orang lain, skeptis pada jalinan hubungan asmara. Dan memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya sendirian. Tapi kini, sahabat mereka tak lagi sendiri tanpa keluarga, dia telah memiliki keluarga sekarang. Ia telah memiliki seseorang yang membuat hatinya hangat, ia telah memiliki seseorang yang akan mendampingi sisa hidupnya.


Hidup Kana pun tak kalah sulitnya, semua orang di kampung tahu bagaimana Kana sebagai anak perempuan tidak pernah ragu dan tidak pernah malu untuk membantu bapaknya di sawah. Ia tak malu dengan penampilannya, dia tak malu dengan pendidikannya. Ia hanya ingin menjadi anak yang bisa meringankan beban orang tuanya. Pengkhianatan, dan dikucilkan oleh masyarakat tak menjadikan Kana dan keluarga menyerah, dan kini doa juga kesabaran mereka membuahkan hasil yang baik. Siapa yang akan menyangka, gadis kampung yang tadinya tidak terlihat cantik, hanya tamatan SMA, ke kota pun bekerja sebagai pembantu malah membuat seorang dokter kota yang mapan, baik dan tulus jatuh hati.


Hidup memang kadang memberikan kejutan yang indah bagi mereka yang bersabar, yakin dan tidak putus asa.

__ADS_1


"Ah, akhirnya! Selamat ya Rif! Bahagia banget gue!" Yoga memeluk Arif. Jodi pun demikian. Tapi Winna tidak, dia tahu, pandangan orang di kota dan di pedesaan berbeda jika melihat perempuan dan laki-laki berpelukan. Mungkin bagi mereka itu bukan hal yang aneh dan biasa, tapi mungkin tidak bagi sebagian tetangga keluarga Kana. Jadi demi menghormati lingkungan dimana dirinya berada, Winna hanya menyalami Arif dan memilih untuk memeluk Kana.


"Kita nggak boleh ikutan peluk si Kana?" tanya Jodi. Yang langsung dihadiahi tendangan di tulang keringnya dari Yoga.


"Nggak usah aneh-aneh deh ente." Yoga melotot.


"Ih kamu mah, dibilangin jangan nangis, nanti luntur." Winna mengusap pelan-pelan air mata Kana dengan jari lentiknya. "Omong-omong kamu dandan sendiri atau ada MUA nya?"


"Sendiri. Kan udah belajar."


"Cantik banget loh, serius! Mulus banget, natural tapi tetap kelihatan ada bedanya gitu. Pas banget. Aku suka deh lihatnya."


"Hehehe, makasi Mbak."


"Aku yang makasi lho sama kamu, Kan."


"Makasi kenapa Mbak?"


"Karena kamu, sahabat aku nggak akan melajang seumur hidupnya."


"Hah? Telanjang?"


"Eh, bukan, tapi melajang." Winna tergelak.


"Oh, hehehe, maaf, salah denger." Kana ikut tertawa.


Dan tawa itu pun tak luput dari pandangan Arif.


Ah, dia jatuh cinta lagi, kali ini jatuh cinta kepada istrinya.


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2