
Kana bergegas masuk ke dalam rumah sakit sambil membawa seorang balita yang lucu dan menggemaskan, ia langsung naik lift dan menuju lantai dimana ruangan dokter Arga berada. Sejak Jodi menghubunginya dan memberitahukannya kalau Arif sakit dan pingsan, tak hentinya Kana memanjatkan doa agar Dokter Arif baik-baik saja. Perasaan takut langsung menyelubunginya dan membuatnya tidak bisa tenang. Jadi ia tidak punya pilihan lain selain meminta ijin pada majikannya untuk membawa anaknya ke rumah sakit.
"Maaf, mau kemana, Mbak?" tanya seorang perawat yang baru saja memasuki shifnya dan melihat seorang wanita yang tengah cemas sambil membawa seorang balita.
"Saya..."
"Dokter anak ada di lantai bawah, Mbak, Disini khusus lantai dokter bedah." potong perawat itu, yang sepertinya dia belum tahu siapa Kana. Karena, sudah beberapa kali Kana bolak balik ke rumah sakit untuk mengantarkan bekal makan siang, maka Kana bisa langsung ke ruangan Dokter Arif atau yang biasa dikenal sebagai Dokter Arga.
"Bukan, Sus, saya bukan mau ke dokter anak, tapi saya mau ketemu Dokter Arip."
"Dokter Arip?" Perawat itu mengerutkan kening, meski terbilang perawat baru, dia sudah cukup hapal siapa saja nama dokter-dokter di rumah sakit itu. Dan tidak ada dokter yang bernama Arip.
"Maaf, Mbak, disini nggak ada Dokter yang bernama Dokter Arip."
"Eh, maksudnya, Dokter Arga! Saya harus ketemu Dokter Arga sekarang, katanya dia pingsan!"
"Hah?" Perawat itu melongo mendengar pernyataan Kana yang cemas.
"Dokter Arga pingsan?"
Kana mengangguk. "Saya harus ketemu-"
"Kana?" Dokter yang dimaksud pun akhirnya memunculkan batang hidungnya, dengan tatapan bingung ia melihat Kana berada disana dengan wajahnya yang cemas sambil mengendong seorang balita. "Kamu ngapain?"
"Dokter? Dokter nggak pingsan?" tanya Kana tak kalah bingungnya dengan Arif.
"Dokter kenal Mbak ini?" tanya perawat tadi.
"Iya, saya kenal." jawab Arif sambil menghampiri Kana.
Perawat tadi pun mengangguk dan meninggalkan tempat.
"Kamu ngapain?" tanya Arif lagi sambil menuntun Kana untuk ke dalam ruang kerjanya. "Ini juga anak siapa kamu bawa kesini?"
"Dokter nggak apa-apa? Nggak sakit? Nggak pingsan?"
"Apaan sih? Saya nggak apa-apa, ini malah mau siap-siap ke ruang operasi, ada jadwal operasi lima belas menit lagi." jawab Arif. "Kamu belum jawab pertanyaan saya, kamu ngapain disini dan ini anak siapa?"
__ADS_1
"Tadi, dokter Jodi telepon saya, dia bilang dokter Arif sakit sampai pingsan." jawab Kana, kecemasan masih berada di dalam sorot matanya. Sorot mata yang sungguh meluluhkan hati Arif.
"Jodi?" Arif menaikkan kedua alis matanya.
Kana mengangguk, "Saya sampai minta ijin sama majikan saya untuk bawa anaknya ke RS karena saya harus ketemu dokter."
Sebuah senyuman terbit pada wajah Arif mendengar betapa polos dan lugunya Kana. Ia mengulurkan tangannya, memegang lembut kedua bahu Kana dan menatapnya begitu intens. "Saya baik-baik saja. Sehat wal afiat. Tapi, kalau pun saya sakit dan pingsan, kamu nggak perlu sampai buru-buru ke sini, karena saya berada di rumah sakit, saya dikelilingi tenaga-tenaga medis yang pasti akan langsung sigap menolong saya."
"Ah, ya, benar juga ya..." Baru setelah itu wajah Kana mulai berangsur lebih tenang.
Arif tersenyum. Ia menarik tangannya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. Karena jika tidak, ia ingin sekali memeluk Kana dan menghidu dalam-dalam aroma menenangkan Kana sebelum melakukan operasi.
"Jadi, ini anak majikan yang kamu bilang nggak tega untuk kamu lepas ke pengasuh lain?"
"Iya." Kana menjawab. "Lucu banget kan, Dok?"
Arif tersenyum dan mengangguk. Ia mengeluarkan salah satu tangannya untuk menyentuh pipi gembul si anak yang lucu itu. Seketika fantasi dan imajinasi Arif mulai berkeliaran, seperti apa jika ia mempunyai anak bersama Kana? Apakah akan manis seperti Kana? Atau tampan seperti dirinya? Namun begitu si balita mulai merengek, buyar sudah fantasi Arif. Ia segera menggelengkan kepalanya.
"Jadi, Dokter sekarang sudah mau siap-siap ke ruang operasi?" tanya Kana.
"Iya, saya nggak bisa temenin kamu. Saya juga nggak tau kapan operasinya selesai."
"Menyusui?" Lagi-lagi fantasi Arif berkeliaran, membayangkan Kana tengah menyusui anak mereka di dalam ruang kerjanya. Menyusui ASI secara langsung dari payu*dara gadis itu.
Astaga! Kenapa pikiranku jadi kotor begini sih!
"I-iya, boleh." Arif mengusap belakang lehernya. "Eh, ini buat ongkos kamu nanti pulang." Arif memberikan beberapa lembar uang berwarna biru.
"Iya, Dok, terima kasih. Nanti setelah selesai memberi susu, saya akan langsung pulang."
Arif mengangguk.
"Dok, sudah ditunggu di ruang operasi." Seorang perawat datang dan melongokkan kepalanya di celah pintu ruangan Arif yang tidak tertutup rapat.
"Ya, saya segera kesana." jawab Arif. Meskipun sebenarnya enggan meninggalkan Kana seorang diri, dia ingin lebih lama bersama gadis itu. Ah, dia pasti sudah gila!
""Saya tinggal, ya."
__ADS_1
"Iya, Dok. Maaf sudah mengganggu Dokter."
Arif tersenyum sambil mengacak puncak kepala Kana. "Saya harusnya berterima kasih sama kamu, karena kamu sudah khawatir dan peduli sama saya. Terima kasih, ya."
Kana hanya mampu melongo dan tersenyum malu-malu dengan ucapan terima kasi Arif padanya.
***
"Lama amat sih, Dok?" tanya Jodi yang sudah lebih dulu di dalam ruang operasi.
Arif langsung melemparkan tatapan galak padanya, namun Jodi hanya menyengir di balik maskernya, hanya matanya saja yang agak menyipit yang terlihat.
"Ada yang dateng nyariin, ya?" lagi-lagi Jodi menggoda Arif.
"Lo lama-lama minta dibius juga, ya, Jod?"
Jodi terkekeh. "Oke, bisa kita mulai sekarang?" tanya Jodi dengan santai kepada semua praktisi kesehatan yang siap untuk berjuang.
Selama melakukan tindakan operasi, Arif begitu serius dan fokus. Dia cukup profesional untuk bisa mengesampingkan rasa yang saat ini begitu menggangu pikirannya. Apakah Kana masih di dalam ruangannya? Apakah Kana akan baik-baik saja jika pulang sendirian bersama anak kecil? Dengan apa dia akan pulang?
Arfi harus bisa mengesampingkan semua rasa kekhawatirannya pada Kana.
Setelah satu jam tiga puluh delapan menit berlalu, akhirnya operasi pun berakhir. Arif segera meninggalkan ruang operasi. Di belakangnya, Jodi terkekeh geli melihat Arif yang langsung bergegas.
Hal ini tentu saja tidak akan lupa dia sampaikan pada Yoga, sebagai bahan ghibahan yang hakiki.
Begitu sampai di ruang kerjanya, sebuah perasaan kecewa pun menyerempet hatinya, begitu melihat ruangan kerjanya sudah kosong, tidak ada tanda-tanda keberadaan Kana sana, namun ada secarik kertas yang ditinggalkan di atas meja.
[Saya pulang, ya, Dok. Dokter jaga kesehatan ya, jangan sampe sakit beneran apa lagi sampe pingsan.]
Seulas senyuman terbit pada wajahnya, sebuah rasa yang menghangatkan hatinya membuat Arif semakin bimbang dengan apa yang dirasakan hatinya sebenarnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ya~