Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 34


__ADS_3

"Jadi?" Arif sedikit menundukkan wajahnya untuk melihat wajah polos Kana lebih jelas. "Apa jawabmu?"


"Saya akan jawab dua pertanyaan." Sahut Kana akhirnya.


"Oke." Arif sebenarnya gugup mendengar pertanyaan yang mana yang akan dipilih Kana, tapi orang itu tetap bersikap sok cool biar terlihat keren dimata Kana.


"Pertanyaan nomer satu. Jawaban saya, iya. Saya nggak punya rasa sama Dokter. Bagi saya, Dokter adalah majikan saya, nggak lebih." Nggak boleh lebih. Kana menambahkan dalam hati.


"Kamu tau kan, apa yang barusan saya bilang? Kalau memang say hanya bertepuk sebelah tangan, saya akan berusaha lebih keras lagi." Arif sudah ingin melompat kegirangan. Tapi ditahan-tahan sekuat tenaga.


"Tau, makanya saya pilih dua pertanyaan." jawab Kana.


"Oke. Lalu?" Arif mengulum senyumnya.


"Pertanyaan yang ketiga yang saya akan jawab." Kana sengaja menjeda jawabannya.


Arif menunggu sambil meremas jemarinya sendiri.


"Ya, saya suka sama orang lain."


Jawaban itu cukup sejenak membekukan otak Arif seperti orang makan secentong es krim sekaligus. Beku.


"Karena itu hati saya bertepuk sebelah tangan? Karena kamu menyukai lelaki lain?"


Kana mengangguk. Tapi tidak melihat mata Arif. Kana memilih untuk melemparkan pandangan matanya pada arah pagar.


"Kamu... Kamu nggak sedang membohongi saya, kan, Kana?" Rasa percaya diri dan semangat untuk berjuang lebih keras lagi mendadak goyah.


Kana menggeleng. "Ah, itu dia datang." Kana berdiri. "Bayu!" Kana memanggil, sambil bangkit dari duduk. Mata Arif mengikuti pergerakan Kana yang berjalan menghampiri seorang lelaki berkaus merah yang baru saja masuk dari arah pintu gerbang kosan. Lelaki yang dipanggil Bayu oleh Kana itu pun menoleh dan tersenyum!


Astaga.... Hancur sudah hati abang, Dek!


Dari tempatnya duduk, Kana melihat bagaimana Kana dan Bayu berinteraksi dengan sangat akrab, kemudian mereka berdua menghampiri Arif yang masih duduk dengan jantung dan hati yang tidak baik-baik saja.


Bayu terlihat melirik Arif sebentar, kemudian kembali menatap Kana dengan ekspresi bingung, tapi hanya sekejap, karena kemudian senyum ramahnya menyambut senyuman manis Kana yang Arif pikir senyuman manis itu adalah miliknya.


Berbagai pertanyaan saling menyambar di dalam kepala Arif. Apakah mereka sudah berpacaran? Atau kah hanya Kana yang menyukai diam-diam laki-laki itu? Atau mereka saling menyukai? Sejak kapan Kana mengenal Bayu? Apa yang mereka bicarakan? Argh!


Arif bangkit berdiri ketika Kana dan Bayu menghampiri.

__ADS_1


"Halo, Dok, salam kenal." Bayu mengulurkan tangannya dengan ramah. Ingin sekali rasanya Arif menepis tangan itu hingga Eropa, tapi itu hanya menunjukkan betapa tidak dewasanya dia menerima kenyataan. Jadi, dengan berusaha melapangkan hati, Arif memaksakan seulas senyum hadir pada wajah tampannya yang kecewa dan membalas uluran tangan Bayu. "Saya Bayu."


"Arif."


"Wah, kayaknya Dokter buru-buru banget ke sini sampe lupa buka jas ya?" tany Bayu dengan nada bersahabat.


Jabatan tangan mereka sudah terlepas karena tidak sampai satu detik.


Arif menundukkan kepala, dan memejamkan matanya, mengutuk kebodohan dan kesembronoan dirinya begitu menyadari jas dokter masih melekat pada tubuhnya.


Arif hanya tersenyum seraya mengedikkan bahu.


"Saya pamit, Kana." katanya pada Kana.


"Lho, udah pamit aja, Dok? Nggak ngobrol dulu, atau nanti ikut kita aja, rencananya mau-"


Kata-kata Bayu pun langsung terhenti begitu sikut Kana menghajar rusuknya. Sambil melotot Kana menatap Bayu, kode bahwa ajakan Bayu bukan hal yang bijak.


Arif cukup dewasa untuk melihat dan mencerna kode itu. Lagi pula, ia tidak mau menjadi obat nyamuk.


Arif tersenyum singkat, namun tanpa kata-kata lagi dia melangkah keluar dari area kos itu. Berusaha berdamai dengan hatinya yang masih cenat-cenut tidak karuan.


Seharusnya ia tetap disana, bertanya pada Bayu dan Kana apa hubungan mereka? Setidaknya jika belum ada status apa pun, Arif masih bisa ada kesempatan, bukan? Ah, tapi, omongan sudah terlanjur terucap, bahwa dia akan mundur jika Kana menyukai lelaki lain.


.


.


.


Kana menghembuskan napas panjangnya, dia masih duduk di atas kursi plastik meski langit sudah berubah gelap, kepalanya menghadap atas. Entah sudah beberapa puluh kali ia membuang napasnya dengan berat.


"Heh, ngelamun aja." Riska datang, dengan membawa dua cangkir teh manis hangat, satu untuknya satu lagi sengaja dibuat untuk Kana yang terlihat galau sejak sore tadi.


"Wah, terima kasih." Kana menerima secangkir teh itu dengan senyuman.


"Si Bayu barusan cerita ke aku, tadi sore Pak Dokter dateng lagi, tapi kamu malah pura-pura mau pergi sama Bayu. Kenapa tuh begitu? Itu bocah sampe bingung."


Kana, lagi-lagi, menghela napas panjang.

__ADS_1


Dari beberapa tetangga kosan, hanya Riska yang lebih kalem dan tidak terlalu ngotot agar Kana menerima hati Arif, dia yang paling dewasa dalam bersikap, dan menjadi tempat curhat Kana. Berasa punya kakak saat sedang bercerita dengan Riska.


Kana pun menceritakan apa yang terjadi sore tadi sebelum Bayu, adik Riska datang untuk membawakan beberapa barang milik Riska.


"Oke, tunggu... tunggu..." Riska menjeda penjelasan Kana. "Maksud kamu, si Pak Dokter mengira kalau kamu suka sama Bayu?"


Kana mengangguk sambil meringis.


Riska menutup bibirnya yang menganga. "Tapi gimana kalo misalnya nih, Dokter itu tau kenyataannya kalo kamu bohong dan Bayu itu masih SMA, cuma badannya aja yang bongsor."


"Nggak akan tau, aku sudah ambil keputusan, besok aku akan berhenti kerja sama Dokter Arif. Kayaknya, aku akan balik ke kampung lagi."


Gantian Riska yang menghela napas. "Kenapa sih susah banget untuk kamu terima aja Dokter Arif itu? Kamu juga punya rasa untuk dia, dia juga setulus itu loh sama kamu. Apa lagi yang kamu cari?"


Kana tiba-tiba malah meneteskan air matanya. "Dokter Arif... dia sempurna..." katanya seraya mengusap air mata yang menetes.


Riska hanya bisa menatapnya simpatik.


"Karena itu, karena dia terlalu sempurna, aku takut, aku takut nantinya dia menyesal karena udah milih aku. Aku orang miskin, Ka, nggak punya apa-apa. Aku takut nantinya aku akan kehilangan dia karena ketidaksempurnaan aku. Menikah dengan Dokter Arif bagaikan mimpi, aku takut kalau suatu hari aku bangun dan mimpiku hilang."


Riska mengusap wajah, ia menyesap teh nya, lalu meletakkannya pada salah satu kursi yang kosong.


"Kamu tau nggak, penolakan kamu, berbagai alasan yang kamu buat itu karena apa?"


Kana menggeleng.


"Karena kamu merasa nggak percaya diri. Kamu trauma dengan mantanmu, mungkin juga kamu punya pengalaman penolakan yang lainnya, jadi sekarang ketika ada seseorang yang jauh lebih baik dari orang-orang yang pernah nyakitin kamu, mendekatimu dengan jujur dan tulus, itu membuat kamu nggak percaya diri. Kamu takut suatu hari orang itu akan mengkhianati kamu juga karena kamu merasa nggak pantas, merasa nggak sejajar dengannya." Riska menjeda sejenak. Ia kembali menyesap teh nya.


"Kamu tau nggak, disaat galau dan ragu, disaat banyak kata dan saran yang masuk dan malah ngebuat kita makin bimbang, coba kamu diam sejenak, dengarkan kata hatimu. Dengarkan dengan seksama, karena kata hati itu nggak akan membuatmu ragu, justru membuatmu yakin."


Kana hanya mengulas senyum tipis.


Tapi tidak dengan seseorang yang tak sengaja mencuri dengar percakapan dua perempuan itu. Senyumnya lebar bagaikan samudera.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ya~


__ADS_2