Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 47


__ADS_3

Tengah malam Arif terbangun karena perutnya yang berisik, ia baru ingat, sejak pulang kerja tadi, ia belum makan malam. Dirinya langsung mendapatkan kejutan paling istimewa dari sang istri mungilnya yang kini tengah terlelap dalam dekapannya setelah aktifitas manis yang penuh dengan cinta dan sayang.


Arif mengecup sayang puncak kepala Kana, masih teringat jelas bagaimana wajah Kana yang terkejut bukan main saat melihat milik Arif. Matanya melotot, antara kaget, takut dan penasaran. Lucu sekali. Kana yang menggeliat, Kana yang menutup bibirnya ketika ia kelepasan bersuara saat Arif menyentuh bagian-bagian sensitifnya, Kana yang meringis saat kali pertama Arif mencoba memasukinya, Kana yang mencakar punggungnya, Kana yang mulai bisa mengikuti gerakan Arif dan menatap Arif dengan mata indahnya, mata yang menyorotkan hasrat yang sama besarnya, Kana yang...ah sudah lah, Arif sudah benar-benar kecanduan parah, terserang bucin akut. Ia mencintai, menyukai, mengagumi, mengidolakan apa pun yang ada pada Kana. Baik fisiknya, kepribadiannya, hatinya, juga kekurangan wanitanya.


Pelan-pelan Arif menggeser tubuh Kana agar bisa berbaring di atas bantal, dan supaya Arif bisa bangkit dari tempat tidurnya. Ia menutupi tubuh polos itu dengan selimut yang tadi dia lempar sampai ke sungai Amazon. Diusapnya rambut Kana, mata, pipi, bibir, dan berakhir ia mencuri ciuman lembut pada bibir itu.


"Kamu benar-benar berbahaya, sayang. Sangat buat aku kecanduan." Ia tersenyum melihat bagaimana tenang dan damainya wajah Kana.


Pelan-pelan Arif beranjak dari dalam kamar setelah ia mengenakan celana panjang dan dia biarkan bagian atas tubuhnya terekspos. Ia meja makan yang terdapat tudung saji di sana. Tudung saji yang sejak kedatangannya tidak mendapatkan perhatian dari Arif karena terlalu sibuk dengan mangsanya yang lain.


Dibukanya tudung saji itu, benar saja, tiga piring lauk pauk ada disana. Arif tersenyum melihat bagaimana Kana tidak pernah absen memasak. Dihangatkannya kembali lauk-lauk itu. Suara desis lauk pada wajan membuat Arif meringis, takut akan membangunkan istrinya yang pasti sangat lelah setelah dia garap.


Setelah selesai menghangatkan dua piring, ia baru saja hendak menghangatkan lauk pada piring ke tiga saat pintu kamar tidurnya bergerak terbuka.


"Mas..."


"Sayang?" Dengan sigap Arif mematikan kompor dan meninggalkan semua aktifitasnya di dapur untuk segera menghampiri Kana yang berjalan kesulitan, ditambah Kana menyelubungi dirinya dengan selimut.


Arif langsung menggendong Kana di depan dadanya, sangat mudah sekali, lalu mendudukkan Kana di atas sofa dengan sangat pelan-pelan.


"Milikmu pasti masih belum nyaman, sakit banget ya?" tanya Arif sambil mengusap rambut Kana dari kepalanya yang menyembul di dalam balutan selimut.


"Iya sakit. Tapi...." Kana menggigit bibirnya.


"Tapi apa?"


"Tapi tadi enak." Cicitnya sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam selimut.


Arif yang mendengar jawaban Kana jangan ditanya bagaimana ekspresinya. Dia langsung menghujani Kana dengan kecupan-kecupan brutal.


"Kamu lapar nggak? Aku lagi hangatkan lauk-lauk."


"Ya ampun! Mas belom makan dari pulang kerja tadi, ya? Ya ampun, maaf ya! Aku saking semangatnya sampe nggak mikirin Mas udah makan apa belom. Pasti tadi Mas lapar banget kan?"


"Iya, tadi memang lapar sekali, tapi itu lapar yang lain."


"Memang ada lapar yang lain?"


"Ada." Arif tersenyum.


"Ya udah, biar aku aja yang nerusin di dapur-" Kana sudah hendak berdiri. Tapi tangan Arif menahan pundaknya.


"Memangnya kamu pake baju?"


"Eh... Enggak."


"Trus mau ke dapur pake selimut gini?"


"Ya udah aku pake baju dulu." Kana hendak bangkit lagi, tapi tangan Arif kembali menahannya.

__ADS_1


"Diam disini, duduk yang manis, biar aku yang kerjakan. Nanti kita makan sama-sama, oke?"


"Tapi..."


"Nggak ada tapi-tapian." Arif langsung beranjak setelah mengecup kening Kana.


Aroma masakan yang sudah dihangatkan membuat bunyi gebukan drummer band metal di dalam perut semakin galak. Bukan hanya Arif yang lapar, tapi Kana juga. Mereka berdua makan dengan santai, di atas sofa. Arif juga menyuapi Kana karena tangan Kana yang kesulitan memegangi selimut agar tubuh polosnya tetap tersembunyi dari pantauan mata elang sang suami.


Setelah selesai mengisi perut, Arif membereskan dan membersihkan dapur dari sisa-sisa menghangatkan lauk tadi. Setelah itu ia menggendong Kana kembali langsung ke kamar mandi, didudukkanya Kana disamping wastafel. Dengan telaten ia juga menggosokkan gigi Kana. Setelah selesai dengan Kana, baru lah ia menyikat giginya sendiri.


"Padahal aku juga jago loh sikat gigi, nggak perlu disikatin." kata Kana.


"Kan, tangan kamu megangin selimut, sayang."


"Ish, kan tadi aku juga mau pakai baju, tapi sama Mas nggak boleh."


Arif hanya tersenyum melihat Kana yang mencebikkan bibir.


Kana hendak turun dari tempatnya duduk, sayangnya tangan Arif terlalu sigap untuk menahan Kana agar tetap berada di tempatnya sampai dia selesai menyikat giginya.


"Kamu masih sakit sayang, biar aku gendong aja."


"Udah nggak terlalu kok." kata Kana meski tetap saja kini dia sudah berada pada gendongan suaminya.


Pelan-pelan Arif meletakkan Kana di atas ranjang, kemudian dia juga ikut merebahkan dirinya setelah perutnya full.


"Sayang, apa aku perlu sewa ART untuk bantu kamu ya disini?"


"Lho kenapa? Kan kamu jadi nggak terlalu repot beberes dan masak, sayang. Aku nggak mau kamu kecapean ngurusin apartement dan masak."


"Enggak boleh!"


"Kenapa memangnya?"


"Nanti Mas Arif kepincut lagi."


"Hah?" Arif tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Dulu aja Mas kepincut sama aku yang cuma ART. Aku takut Mas bakalan kepincut lagi, kayak dulu sama aku. Enggak aku nggak mau!" Kana langsung memeluki Arif dengan sangat posesif.


"Ya nggak akan lah, sayang. Aku udah punya kamu, untuk apa lagi nyari apa lagi sampai kepincut yang lain."


"Dulu juga Mas Danu gitu ngomongnya. Tapi apa coba? Dia malah ngekhianatin aku."


Ada sebuah sentilan yang terasa dalam dada Arif. Entah kenapa, dia tidak suka dengan pemikiran Kana.


"Maksud kamu, aku sama aja kayak si Danu itu? Apa selama ini kamu anggep aku sama kayak laki-laki bajingan yang gampang mempermainkan perempuan?" Suara Arif yang mendadak datar dan dingin membuat Kana mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Arif.


"Mas Arif marah, ya?" tanya Kana alih-alih menjawab pertanyaan Arif.

__ADS_1


"Jawab aku. Apa sejauh ini kamu anggap aku sama seperti Danu yang bajingan itu? Laki-laki yang hanya mengumbar janji, menyakiti istrinya, dan pengkhianat? Apakah aku seperti itu dimata kamu?"


"Nggak gitu..."


Arif memalingkan wajahnya. Ia kesal, tentu saja. Apakah sampai saat ini Kana masih belum bisa melihat ketulusannya? Cintanya yang besar?


"Tidur lah, kamu pasti ngantuk." ujar Arif tanpa melihat wajah Kana.


"Maaf..." Ujar Kana lirih. "Bukan maksud aku nyamain Mas sama Mas Danu."


"Tidur Kana, sudah sangat malam."


"Nggak mau, Mas marah sama aku." Suara Kana sudah seperti kejepit pintu.


"Aku nggak marah."


"Itu nggak mau lihat aku. Manggilnya juga Kana doang, nggak ada sayangnya. Mas pasti marah, kan? Iya kan?"


Arif menghela napas panjang. Ia buka lagi matanya untuk kembali melihat Kana, kemudian menyesali sikap kekanakannya yang bodoh begitu melihat Kana yang sudah meneteskan air matanya.


Tanpa aba-aba, Arif langsung menarik Kana, memeluknya erat.


Dasar bodoh! Bodoh banget gue!


"Aku nggak pernah sekali pun nyamain Mas kayak Mas Danu. Mas Danu mah laki-laki jahat, kalo Mas Arif seperti malaikat pelindung aku. Mana mungkin bisa sama kayak Mas Danu." Suara Kana mulai terisak.


"Maaf... Maaf, aku yang bodoh." ujar Arif lembut.


"Aku cuma takut, ketakutan aku bukan karena nggak percaya sama Mas Arif, tapi aku takut aku nggak cukup sempurna untuk Mas. Aku takut, aku yang bodoh ini bikin Mas bosan, bikin Mas capek. Aku takut orang lain ngerebut Mas dari aku karena aku yang nggak cantik, aku yang nggak-"


Sudah tidak lagi bisa Kana melanjutkan kalimatnya. Ucapan Kana terlalu membuat hati Arif pilu dan merasa begitu jahat pada istrinya. Kenapa dia hanya melihat dari sudut pandangnya saja? Bodoh!


Bibir Arif menghentikan semua kalimat Kana, menciumnya dengan lembut.


"Maaf sayang, aku yang bodoh."


Kana menenggelamkan wajahnya pada dada Arif yang polos tanpa pakaian.


"Jangan pernah berpikiran seperti itu lagi, oke? Bagi aku, kamu yang paling sempurna. Entah si Danu pernah menjanjikan apa saja padamu, atau entah memujimu dengan bagaimana, yang jelas, aku nggak akan pernah mengingkari janji aku dihadapan Tuhan dan orang tuamu. Please jangan takut, jangan menganggap dirimu bukan apa-apa. Kamu adalah ratuku sekarang dan selamanya. Calon ibu dari anak-anak kita. Perempuan yang akan aku relakan nyawaku untukmu."


Haaaaah meleyot sudah hati Kana. Rasa percaya dirinya yang tadinya berada di ujung tanduk mendadak bisa menghilangkan tanduk itu dan malah tumbuh bermekaran dalam diri Kana. Dia bisa merasakan dengan pasti ketulusan hati dan cinta Arif padanya. Ia tidak pernah meragukan kesungguhan Arif. Dan kini pun, ia tidak akan pernah meragukan dirinya lagi bahwa ia akan bisa dan selalu bisa membalas setiap cinta yang dia terima dari suaminya.


"I lop yu, Mas Arip."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ya ❤️


__ADS_2