
Mobil Arif berhenti di depan gang kecil ketika langit sudah berubah gelap, kepalanya menengok ke sebelah, tepat dimana Kana terlelap pada kursi penumpang. Lamat-lamat Arif memandangi wajah manis itu, wajahnya begitu tenang. Sebuah perasaan menyusup dalam dada Arif, refleks tanpa dia sadari tangannya bergerak menyentuh pipi Kana. Aroma Kana yang membuatnya kecanduan sekaligus tersiksa.
Kana membuka mata tiba-tiba dengan posisi tangan Arif masih pada pipinya.
"Eh?"
"Eeee, ada bulu mata." Arif beralasan sambil pura-pura membuang bulu mata goib itu. Canggung kini yang tercipta di antara mereka.
"Udah sampai, ya?" Kana mengucek matanya dan menegakkan posisi tubuhnya.
Arif mengangguk seraya melepaskan seat belt lalu memalingkan wajahnya. Tepat saat itu ia melihat padagang nasi pecel ayam kaki lima yang tak jauh dari gangan tempat kosan Kana.
"Kita makan dulu ya." katanya kemudian.
"Eh, makan?" Kana mengulang.
"Ehm." angguk Arif seraya keluar dari dalam mobil.
Mereka akhirnya duduk bersebelahan di bawah tenda kaki lima pedagang nasi pecel ayam yang memang biasa ada ketika malam hari.
"Jadi, gimana menurutmu?" tanya Arif setelah mereka menyelesaikan makan malam mereka sembari membahas kelanjutan janji mereka yang akan menikah bulan depan kepada keluarga Kana. Dan selama makan itu pun Kana susah payah mengunyah dan menelan makanan dalam mulutnya.
"Tapi, Dok, apa yakin saya dan Dokter akan nikah? Nikah sungguhan gitu?" tanya Kana terdengar ragu.
"Kita sudah terlanjur membuat janji pada keluargamu."
"Iya, sih, tapi kan, dalam waktu sebulan ini kita atau saya bisa cari alasan yang bisa membuat Dokter nggak perlu nikahin saya."
Kening Arif berkerut. "Maksudnya?"
"Ya saya akan cari alasan apa kek yang buat kita seolah nggak cocok dan berantem dan akhirnya putus."
Arif kini menaikkan kedua alis matanya. Ia tahu, pernikahan yang mereka bicarakan bukanlah rencana mereka, semua terjadi di luar kendali, tapi kenapa Arif merasa seperti ditolak ya?
"Kamu nggak mau nikah memangnya?"
__ADS_1
"Mau lah, tapi... nggak mungkin juga sama Dokter, kan?"
"Kenapa?"
"Ya karena, saya begini, dan dokter adalah dokter."
"Apa sih, saya nggak ngerti kamu ngomong apa."
Kana menarik gelas minumnya, menenggak air teh panasnya yang sudah tidak panas lagi demi membasahi tenggorokannya dan kegugupannya.
"Saya tau dokter nggak mungkin ada rasa sama saya, kan. Jadi, saya nggak mau Dokter tersiksa nantinya nikah sama orang yang Dokter nggak cinta sama sekali. Apa lagi hubungan kita di desa kemaren cuma pura-pura, dan soal pernikahan itu terjadi di luar kendali kita."
Arif terdiam. Mencoba untuk mencerna dan memahami jawaban Kana.
"Saya sudah sangat bersyukur dan berterima kasih atas semua bantuan Dokter kemarin. Misi kita untuk membuat Mas Danu menyesal pun berhasil. Bahkan Dokter juga sampai melunasi hutang keluarga saya. Saya nggak tau gimana saya harus membalas kebaikan Dokter. Jadi saya nggak mungkin meminta Dokter untuk nikah sama saya juga, hutang saya ke dokter udah sangat besar. Kalo Dokter juga menikahi saya karena apa yang terjadi di desa kemarin, saya akan semakin nggak bisa membalas kebaikan Dokter."
"Kamu merasa berhutang budi ke saya?" Arif mulai memahami kesukaran Kana.
Gadis itu mengangguk.
"Lalu, apa kamu berniat untuk membayar hutang budimu itu?"
Arif tersenyum kemudian. Teringat kembali pada kata-kata Rudi, Kana akan berusaha untuk mengganti uang itu.
"Oh ya, dengan cara apa kamu akan ganti uang saya dan mengganti hutang budimu ke saya?"
Kana terlihat berpikir sejenak, bola matanya melirik ke atas dengan wajahnya yang berekspresi polos.
Tanpa Arif sadari, bibirnya membentuk senyuman melihat wajah Kana yang menggemaskan.
Menggemaskan?
"Untuk hutang uang, saya akan mencari pekerjaan lagi agar bisa cepat mengumpulkan uang. Dan untuk hutang budi, saya akan bekerja lebih giat lagi sebagai ART nya Dokter. Saya akan buat apartemen Dokter kinclong, wangi, rapi dan saya juga akan masak makanan-makanan yang enak untuk Dokter. Kalo Dokter capek, saya bisa pijit juga. Kalo mobil Dokter kotor, saya bisa cuciin juga."
Arif menghela napas mendengar bagaimana panjang dan penuh semangatnya Kana membeberkan cara bagaimana dia nanti akan membayar hutangnya pada Arif. Padahal, ia sama sekali tidak pernah menyebut apa yang dia lakukan untuk keluarga Kana sebagai hutang yang harus Kana bayar kembali dalam bentuk apa pun.
__ADS_1
"Jadi, kamu nggak mau nikah sama saya?" Pertanyaan Arif hampir saja dijawab jujur dari hati oleh Kana dengan satu kata, 'Mau' tapi untung kali ini Kana sedang dalam mode waspada atas semua kata yang akan diproduksinya lewat mulut.
Jadi pertanyaan Arif dijawab dengan pertanyaan lain. "Memangnya Dokter mau nikahin perempuan yang Dokter nggak suka apa lagi cinta?"
Pertanyaan Kana kini membuat Arif merapatkan bibirnya. Kembali sebuah rasa yang sejauh ini membuatnya gelisah menggelitik hatinya. Ia tidak yakin dengan rasa baru itu.
"Nggak." jawab Arif pada akhirnya. "Jika pertanyaanmu seperti itu, maka jawaban saya adalah enggak. Nggak ada orang yang mau nikah tanpa cinta."
Kana mengangguk setuju. "Karena itu saya nggak bisa membiarkan Dokter mengorbankan hidup Dokter untuk saya. Karena saya juga bukan apa-apa. Bukan siapa-siapa yang harus membuat Dokter mengorbankan hidup Dokter. Dokter sangat baik, dan berhak bersanding dengan perempuan yang pantas dan sederajat dengan dokter. Bukan saya."
Arif menghela napas. Dia sangat memahami pikiran Kana. Tapi tetap saja, seperti ada rasa yang tidak rela jika rencana pernikahan ini gagal. Dan jujur, Arif tidak mengerti kenapa dia merasa tidak rela. Atas dasar apa?
"Misalnya, nih, misalnya, kita tetap menikah, setidaknya supaya keluarga kamu nggak kecewa, dan orang-orang desa nggak mencibir keluargamu. Karena seperti yang kita tau, mereka pasti akan menjadikan keluargamu bual-bualan karena lagi-lagi kamu gagal nikah. Kalau kamu takut saya tersiksa karena menikah dengan orang yang nggak saya cinta, mungkin kita bisa menikah selama setahun."
"Lalu pisah?" Kana bertanya.
Arif mengangguk.
"Kayak semacam nikah kontrak gitu maksud Dokter?"
"Ya semacam itu. Setidaknya saya juga harus menepati janji saya dengan keluargamu, terlepas kita punya hubungan sungguhan atau nggak, tapi saya laki-laki, dan pantang bagi saya mengingkari janji yang saya buat. Dan menyelamatkan nama keluargamu juga. Bagaimana? Kamu nggak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan saja dulu. Oke?"
Harap-harap cemas Arif menunggu respon Kana. Entah gadis itu akan langsung menolak atau mengikuti permintaan Arif untuk memikirkannya lebih dulu. Meski Arif sendiri sungguhan tidak mengerti mengapa sangat tidak rela jika rencana pernikahan yang sudah dijanjikan bulan depan gagal begitu saja. Padahal, jika pun tidak terjadi pernikahan, tidak akan memberikan pengaruh apa pun pada diri dan hidupnya.
Hanya saja, ia merasa tidak rela atas alasan yang Arif sendiri tidak mengerti.
Pada akhirnya, Kana menganggukkan kepalanya. "Saya... Saya akan pikirkan lagi."
Seulas senyum terbit pada wajah tampan Arif.
Aku pasti sudah gila, karena aku sungguh berharap dia mau.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya.