
"Jadi bagaimana? Kapan Kakak saya dihalalin? Bukan cuma di PHP in?" Tanya Rudi lagi.
Arif dan Kana semakin terpojok. Bukan seperti ini yang ada dalam pikiran Arif ketika kali pertama dia berniat membantu Kana membalaskan dendam pada Danu dan Juni. Tidak pernah terlintas dalam pikiran Arif akan menikah dengan si Curut meski beberapa hari terakhir ini dia jadi sering memikirkan Kana. Tapi menikah dadakan benar-benar di luar antariksa pikirannya.
"Heh, kamu ini nggak bisa menodong orang untuk nikah cepat-cepat, dong, Rud. Nak Arif kan juga harus memberitahu pihak keluarga Nak Arif." ujar Ibu berusaha untuk menjadi netral. Meski sebenarnya ia juga ingin buru-buru Kana menikah agar gunjingan orang-orang pada putrinya selesai.
"Tapi Mas Arif hidup sendirian, Bu. Nggak ada keluarga." Celetuk Kana dengan sangat polos, jujur, menginspirasi dan bodoh berjamaah disaat Arif baru saja menghela napas lega.
Ingin rasanya Arif menjitak kepala Kana dan menaburkan kembang tujuh belas rupa, karena tujuh rupa saja sepertinya kurang.
"Benar begitu, Nak?" tanya Ibu bersimpatik.
"Eh, iya, Bu. Kedua orang tua saya sudah tidak ada semenjak saya SMP. Saya kemudian diasuh oleh Nenek saya sampai saya dewasa. Kebetulan, orang tua saya sama-sama anak tunggal, jadi saya nggak punya Om atau Tante." jawab Arif menjelaskan latar belakang keluarganya dengan singkat dan jelas.
Suasana pun berubah jadi tak seceria sebelumnya. Ibu Ana, Pak Tomo dan Rudi sama sekali tidak menyangka bahwa dokter tampan di depan mereka adalah pria yang hidup sebatang kara tanpa sanak saudara.
"Kami turut berduka cita ya, Nak." ujar Ibu bersimpatik.
"Ehm, terima kasih Bu, tapi nggak perlu jadi sungkan dan canggung seperti ini, kejadiannya sudah lama sekali. Saya udah baik-baik saja."
"Mulai sekarang, kamu jangan sungkan untuk anggap Ibu dan Bapak sebagai orang tuamu, ya, Nak Arif." lanjut Ibu dengan sangat tulus. "Dan Rudi sebagai adikmu. Pokoknya mulai hari ini Nak Arif jangan pernah lagi berpikir kalau hidup Nak Arif hanya sebatang kara yah." Mata Ibu mulai berkaca-kaca. Sepertinya issu yang dibawa Kana mengenai keluarga Arif cukup mengalihkan perhatian keluarga Kana dari percakapan soal pernikahan super dadakan.
Tapi sepertinya Rudi orang yang cukup susah ditaklukan dengan berita-berita dramatis. Pemuda itu bedeham pelan.
"Maaf, bukan bermaksud nggak sopan atau nggak bersimpatik, nih, Mas Arif. Tapi kita tetap harus fokus dengan tema perbincangan kita kan?" tanya Rudi.
"Rud, bisa nggak, ngebahas soal nikah besok aja? Niat aku ajak Mas Arif kesini itu untuk kenalan dulu, bukan langsung nikah-nikah aja, memangnya kayak beli cabe, tinggal raup, timbang trus bayar." Protes Kana.
__ADS_1
Lagi-lagi Arif dibuat speechless oleh Kana. Meski awal gadis itu sangat ingin Arif jitak karena saking polosnya, tapi sekarang malah mencoba membuat sang adik yang posesif dan protektifnya kelewatan itu untuk mengerti bahwa menikah tidak semudah membeli cabai.
"Ya, ya, benar kata Kana, kita lanjut bahas ini besok, ya. Kasian Nak Arif dan Kana sudah datang jauh-jauh malah dipaksa nikah kayak orang digrebek aja." ujar Bapak sambil melap cairan pada lubang hidungnya dengan ujung sarung yang dikenakannya.
"Seenggaknya Nak Arif nggak akan mengkhianati Kana seperti Si Danu dan Juni, kan? Serius kan dengan Kana?" Sahut Ibu.
"Iya, Bu, saya serius." Ah, perasaan Arif semakin tidak enak.
"Bukannya kami mau memaksa Nak Arif untuk menikahi Kana. Tapi, semenjak Kana dikhianati Danu dan sahabatnya sendiri, justru nama Kana yang malah jadi bahan gunjingan orang-orang disini. Kana dianggap nggak pantas lah, nggak cantik lah, dan segala macamnya. Ibu nggak mau gunjingan orang-orang merusak mental Kana. Makanya, kalau memang Nak Arif nggak serius sama Kana, mendingan dari sekarang aja Nak Arif bisa melepaskan Kana sebelum Ibu kasih tau ke orang-orang kalau Kana akan segera dinikahi dengan Nak Arif."
"Maafin Kana ya Bu..." Lagi-lagi tak terprediksi, Kana malah sudah menangis dan bangkit dari duduknya untuk menghambur dalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya, yang selalu pasang badan dan mulut setiap kali ada orang yang mengejek fisik Kana.
"Gara-gara Kana, Ibu, Bapak, Rudi jadi kena imbas gunjingan orang-orang juga. Kana janji nggak akan mengecewakan Bapak, Ibu dan Rudi lagi." kata Kana sambil sesegukan.
"Bukan Kana yang mengecewakan, Nak. Kamu nggak sekali pun mengecewakan kami." Ibu jadi ikut menangis tersedu.
Arif yang melihat pun jadi bingung sendiri harus bagaimana. Rudi menggelengkan kepala. Ia lantas bangkit kemudian menepuk bahu Arif sambil menggerakkan kepalanya untuk meminta Arif ikut dengannya meninggalkan tempat menuju teras depan rumah.
***
Rudi sepertinya masih belum mau percaya begitu saja dengan semua pernyataan Arif tentang keseriusan hubungan Arif dan Kana. Ternyata, bukan orang tuanya Kana yang sulit sibuat percaya, melainkan malah adiknya.
"Mas Arif pasti udah tau tentang mantannya Kana dan sahabatnya itu, kan?" Rudi langsung membuka percakapan begitu saja begitu mereka berdiri di teras.
"Ya, itu pasti sangat menyakitkan hati Kana. Saya bisa merasakannya."
"Awalnya Mas... Si Danu juga mengatakan hal serupa seperti yang Mas Arif katakan di dalam. Pertanyaan Ibu dan Bapak pun sama seperti dulu saat bertanya pada Danu. Orang itu dengan sangat yakin dan mengumbar janji akan segera menikahi Kana. Sampai tiga tahun berlalu dia selalu mencari alasan, mengulur waktu dan segala macam. Sampai akhirnya aku sendiri yang memeregoki mereka sedang melakukan itu di gubuk dekat sawah." Rudi mengepalkan tangannya, gurat-gurat kebencian terpeta pada wajah pemuda itu.
__ADS_1
Arif tahu, saat ini, ia hanya perlu mendengarkan semua uneg-uneg Rudi sekaligus alasan dibalik keinginan kuatnya agar Arif menikahi Kana secepat mungkin jika memang Arif serius dengan Kakaknya.
"Saat itu aku hampir saja masuk penjara karena memukuli Danu. Dan Mas Arif tau apa alasan si bejat itu berselingkuh? Karena selama ini Kana selalu menolak dengan tegas keinginan Danu untuk berhubungan badan, mereka sering kali bertengkar karena Kana selalu menolaknya, meski Danu mengiminginya dengan akan menikahinya, tapi Kana selalu menolaknya. Dan selama ini Kana menyembunyikan fakta itu dengan harapan Danu menepati janjinya dan kata-katanya untuk menikah. Tapi nyatanya, Juni yang mengkhianati Kakakku dengan mengatakan kalau Danu lebih memilih dia karena dia jauh lebih cantik dan seksi dan bisa memuaskan Danu, tidak seperti Kana." Air mata tiba-tiba menetes dari sudut mata pemuda itu.
Buru-buru ia mengusapnya dengan kasar.
"Aku yang akhirnya membuat mereka digiring dan dinikahkan hari itu juga. Tapi, karena ayahnya Danu adalah kepala desa, alhasil nama yang jelek malah nama Kana dan keluarga kami. Entah apa yang dilakukan ayahnya si Danu itu sampai membuat orang seperti Danu dan Juni malah dibela. Sementara Kana malah digunjingkan dan disalahkan."
Mendengarkan penjelasan dan latar belakang alasan yang membuat Rudi terkesan memaksanya untuk secepatnya menikahi Kana pada akhirnya membuat Arif jadi ikut kesal dan keinginannya untuk membalaskan perbuatan Danu dan Juni semakin kuat.
Ia pun ikut mengepalkan tangan menahan amarah sampai urat-urat dipelipisnya menonjol.
"Karena itu, kalau memang Mas Arif hanya ingin bermain-main saja, aku mohon tinggalkan saya Kakakku sekarang juga. Jangan disakiti lagi hatinya. Kana memang terlihat tegar dan kuat dari luar, kadang begitu polos dan kadang bodoh. Tapi dia adalah kakak terbaik. Dia rela tidak meneruskan pendidikan untuk membantu bapak dan ibu bekerja di sawah. Dia rela melepaskan masa mudanya untukku agar tetap bisa melanjutkan kuliah, meski kami harus berhutang. Nggak pernah sekali pun Kana mengecewakan. Tapi..." Suara Rudi mulai bergetar menahan pilu mengingat bagaimana sadisnya mulut orang-orang menggunjing kakaknya.
"Saya akan menikahi kakakmu." Ujar Arif kemudian.
"Apa yang bisa menjamin Mas Arif nggak akan membual seperti si Danu?"
"Karena saya akan menikahi Kana, besok." ujar Arif dengan sangat mantap dan yakin.
.
.
.
Bersambung ya~
__ADS_1