
"Saya rasa kamu nggak perlu lagi saya ajarin bagaimana balas dendam yang elegan." kata Arif, setelah adegan pengusiran mahkluk tak diundang tadi oleh Kana. Arif mengurungkan niatnya untuk kembali masuk ke kamar, dan malah duduk santai di kursi makan sambil terus memerhatikan Kana yang beraktifitas di dapur tanpa banyak bicara.
"Kamu tadi asli, keren banget!" Arif mengacungkan dua ibu jarinya pada Kana. Tapi, gadis itu tidak menanggapinya dengan antusias. Dan hal itu membuat Arif merasa aneh. Tidak seperti Kana yang biasanya bawel.
"Kamu nggak apa-apa, Kan? Kana?"
"Iya Mas, eh, Dok," Kana menunduk, merasa malu karena sudah keceplosan. "Saya nggak apa-apa, Dok."
Arif tersenyum mendengar bagaimana Kana keceplosan memanggilnya. "Kenapa diam saja?"
"Saya cuma lagi mikir aja, Dok."
"Mikirin apa?"
"Kalau saya bukan siapa-siapa dibandingkan Dokter."
"Kok kamu bisa mikir kayak gitu?"
"Mantan Dokter jelas banget mau buat saya salah paham, karena pasti dia mau balikan lagi sama Dokter. Dan saya maklum sih. Karena Dokter orang berada, nggak perlu make koper untuk bikin mantan menyesal. Lah, saya, kalo bukan Dokter yang ngebiayain saya untuk make koper, pasti tadi Mbak-Mbak tadi nggak akan capek-capek bikin saya cemburu segala."
"Tunggu, make koper? Maksud kamu?"
"Ini loh Dok, saya didandanin, disalonin, dibeliin baju." jawab Kana jujur dan menggemaskan di mata Arif.
"Make over, Kana. Bukan make koper."
"Oh, salah ya saya?"
Arif hanya tersenyum melihat ekspresi Kana yang baru sadar dirinya salah berucap.
"Dengar ya, Kan. Dengan atau tanpa make over, saya yakin mantan kamu juga akan menyesali jika tahu kamu adalah orang yang sangat jujur dan tulus. Karena itu lebih penting dari pada sekadar penampilan yang akan hilang dimakan usia." Arif berkata bijak. "Jadi jangan merasa minder."
"Iya sih, Dok. Tapi melihat penampilan Mbak-Mbak tadi, saya kok jadi inspektur ya Dok. Takutnya, Dokter udah keluarin uang banyak untuk dandanin saya, tapi ternyata Mas Danu tetap nggak nyesel?"
"Inspektur?" Arif menaikkan kedua alis matanya.
"Itu loh Dok, yang artinya nggak pede itu loh, bahasa gaulnya kan inspektur."
"Ohh... insecure."
"Salah lagi ya, saya?"
Arif hanya tersenyum.
"Saya yakin, dia akan menyesal. Percaya deh." Arif tersenyum penuh arti. "Karena saya punya ide yang lebih brilian lagi."
***
Yoga dan Jodi menatap Arif dengan cengiran-cengiran khas menyebalkan.
"Eh, Ga, gue yakin si Arif udah kepincut sama si Kana." Bisik Jodi.
"Iya, kan, gue kata juga apa. Pasti setelah si Kana make over, si Arif bakalan luluh, apa lagi si Kana punya senjata rahasianya tuh." sahut Yoga juga sambil berbisik.
"Apa tuh senjatanya, Ga?"
"Itu aroma ajaibnya. Padahal gue selama meriksa mukanya si Kana, nggak nyium aroma apa-apaan deh."
"Sama gue juga. Kenapa cuma idungnya si Arif aja ya yang nyium?"
__ADS_1
"Lo berdua kalo bisik-bisik itu dalem hati, biar gue nggak denger. Atau kalo mau gibahin gue, tuh di ujung Monas." Sungut Arif dengan raut sebal.
Dua rekan dokternya itu pun tergelak.
"Eh, tapi lo yakin ga suka sama si Kana? Atau yakin nggak bakalan jatuh hati, jatuh cinta, jatuh bangun gitu ke si Kana?"
"Penting amat pertanyaan lo, Jod." Cibir Arif.
"Ya bukan gitu, kita mah sebagai bestie lo nih, pengennya lo move on. Dapet pendamping hidup yang lo cintai dan mencintai lo juga dengan tulus. Kayak si Kana gitu. Ya, kan, Ga?" Jodi menyenggol Yoga yang sedang re-apply sun screen.
"Anjr*t, kecolok mata gue!" Pekik Yoga.
"Lah lo ngapain sih pake sun screen sampe ke mata." Dengan sigap Jodi mengambil tisu kemudian dibasahkan dan diusapkan ke mata Yoga yang perih.
"Eh, si keong racun! Kan lo nyenggol-nyenggol gue." Sungut Yoga.
"Lagian ngapain sih pake sun screen di dalem ruangan?"
"Eh, ruangan gue kan ada jendelanya yang ngadep sama matahari siang, ya, cong! Makanya gue kudu rajin pake sun screen, karena UVA itu bisa nembus kaca, kalo kulit gue yang glowing ini nggak terlindungi, bisa-bisa nanti gue cepet keriput, cepet tua kayak lo." Jelas Yoga masi mengusap-usap matanya yang masih agak pedih.
"Sialan! Tampang macem boy band Korea gini dibilang cepet tua."
"Eh, lo berdua kalo mau bertengkar di gudang belakang aja sana, jangan depan gue." Arif menghentikan pertengkaran normal antara dua orang di depannya itu.
"Jadi gimana, Rif?" tanya Jodi.
"Apanya yang gimana?"
"Lo ada rasa-rasa nggak ama Kana?" tanya Jodi lagi.
"Lo nggak ada stok pertanyaan yang lain ya, Jod?"
"Masalahnya, nih, si Jodi itu sebenernya udah dipepet mulu sama nyokapnya, kapan nih playboy pulang bawa calon bini." Yoga menjelaskan. Jodi manggut-manggut membenarkan dan mendukung penjelasan Yoga.
Disaat Jodi dan Yoga menanti sebuah jawaban seperti lirik lagu, seseorang mengetuk pintu dan membuyarkan subjek permbicaraan ketiga dokter tampan itu.
"Masuk!" Arif menyahut.
Tamu yang tak lagi diundang dan diharapkan kembali muncul di depan batang hidung Arif. Yunia datang dengan dandanan anggunnya. Dres tanpa lengan dengan bagian dada agak-agak menganga seperti karet sepatu rusak yang belum disol. Wanita yang mirip dengan artis pemain Sayap-Sayap Copot itu pun melangkah dengan langkahnya yang elegan dan tersenyum cantik pada Arif.
"Eh, Yunia. Kok akhir-akhir ini gue jadi sering ngeliat lo dimari ya?" Ujar Yoga.
"Padahal udah berbulan-bulan asik menghilang sama si Alex." Jodi menimpali.
Yunia tidak lagi terpengaruh dengan sindiran-sindiran pedas mantan teman-temannya itu, yang dulunya begitu akrab dengannya. Yunia sudah mengakui kesalahannya, sudah menyesali perbuatannya. Dan ia menganggap ia pantas untuk diberikan kesempatan kedua.
"Hai, kalian berdua disini?" tanya Yunia.
"Lo sendiri ngapai disini?" Yoga balas dengan ketusnya.
"Gue mau bicara aja sama Arif, empat mata." kata Yunia.
"Nggak ada." Yoga menolak.
"Nggak bisa." Jodi pun ikut melindungi sahabatnya itu dari manipulatif Yunia.
"Mau sampai kapan sih kalian membenci aku? Aku sudah menyesali semuanya. Dan aku ingin memperbaiki lagi aoa yang sudah aku rusak." kata Yunia dengan sabar sambil menampilkan ekspresi sendu.
"Kita nggak akan terpengaruh sama ekspresi lo lagi, Yun." kata Jodi dengan antipati.
__ADS_1
"Nggak nyangka, sekarang kalian pedes banget sama aku. Bahkan pacar mungilnya Arif juga sama pedesnya." kata Yunia yang membuat kedua dokter muda itu menengok serempak menatap penuh tanda tanya kepada Arif.
"Pacar mungil?" Jodi menyipitkan mata.
"Lo punya pacar?" Yoga bertanya dengan nada curiga.
"Lho, kalian nggak tahu? Winna aja tau, kok. Kami ketemu saat pacarnya Arif lagi nyobain baju di butiknya Winna." Yunia berniat untuk mengadu domba tiga rekan dokter di depannya itu dengan berharap Yoga dan Jodi akan kecewa karena mereka tidak tahu apa-apa sementara Winna dan dirinya bahkan sudah tahu.
"Nyobain baju di butiknya Winna?" Sontak kedua mata Jodi melebar. Dan senyuman mengembang pada kedua wajah dokter tampan itu. Sementara Arif ingin sekali meminta alien menarik Yunia keluar dari bumi.
"Pantesaaaan, lo nggak bisa ngejawab pertanyaan gue. Hahahaha!" Jodi tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata oh ternyata. Sungguh plot twist yang sangat membagongkan!" Yoga pun ikut terpingkal.
Tapi Yunia lagi-lagi melongo, niat buruknya sudah dua kali ini selalu gagal dan tidak terprediksi.
"Kalian bertiga keluar deh dari ruangan gue. Kepala gue pusing. Inget, Jod, satu jam lagi kita ada operasi. Jangan kebanyakan ketawa lo."
"Haahaha, siap! Nanti gue minta pacal unyu lo dateng deh, supaya Dokter Arip bisa rileks." Goda Jodi disahut dengan tosan oleh Yoga.
Tanpa diminta oleh Arif, Yoga dan Jodi langsung mengamit begitu saja kedua lengan Yunia dan menyeretnya keluar dari ruangan Arif.
"Eh, eh, tunggu, gue mau bicara sama Arif, penting!" Omel Yunia begitu berhasil diseret keluar dari ruangan Arif dan menjadi objek tontonan orang-orang yang ada di rumah sakit.
"Ada apa ini, Dok?" Tanya salah seorang perawat laki-laki.
"Coba kamu panggil sekuriti, untuk bawa Mbak ini keluar dari rumah sakit ini." kata Yoga.
"Tapi aku mau berobat! Aku ini pasien, lho!" Kilah Yunia.
"Duh, Mbak, kalo mau berobat, Mbak harus pakai prosedur. Ajukan pendaftaran untuk berobat, mau pakai jalur asuransi, mandiri atau jalur beasiswa. Dan untuk bisa sampai ke Dokter spesialis seperti Dokter Arif, Mbak nya harus punya surat rujukan dari dokter umum," Sahut Jodi.
Perawat laki-laki itu pun jadi bingung dengan adegan di depannya. "Jadi, Mbaknya ini pasien atau bukan, Dok?"
"Bukan!" Jawab Jodi dan Yoga.
"Iya." Yunia menjawab bersamaan jawaban dua dokter yang tadi menyeretnya.
Perawat itu menggaruk belakang kupingnya yang pusing. "Gini deh, Mbak. Kalo Mbaknya pasien, bisa saya lihat bukti pendaftaran berobatnya? Atau surat rujukan dari faskes untuk berobat di rumah sakit ini?"
Jodi dan Yoga tersenyum penuh kemenangan.
"Saya... itu..."
"Maaf, Mbak, kalao tidak ada bukti pendaftaran atau surat rujukan, tidak bisa langsung ke bagian Dokter bedah. Mohon Mbak ikut saya turun, jangan membuat keributan disini." Tegas perawat itu.
Akhirnya dengan menelan pil anti malu dan tebal muka, Yunia melepaskan diri dari Yoga dan Jodi, melangkah dengan kesal menuju lift dan menghilang ketika kotak besi itu membawa Yunia turun bersama si perawat yang tegas memintanya untuk pergi.
"Si Danang padahal mukanya baby face gitu, tapi ternyata tegas juga ya orangnya." Jodi menilai.
"Eh, omong-omong, si Arif beneran sama si Kana...." Tanpa meneruskan kalimatnya, Yoga dan Jodi malah tertawa bersama sambil kembali beradu telapak tangan.
"Lo punya telepon si Kana, nggak? Suruh dia kesini, bilang aja, si Arif pingsan. Kalo itu anak dateng, berarti beneran mereka punya something special." kata Jodi.
"Ide cemerlang!" Yoga mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari nomor seseorang.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya~