Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 22


__ADS_3

Setelah jauh dari dua mahkluk astral yang ingin sekali Kana cabik-cabik, Kana dan Arif duduk di sebuah saung dekat dengan sawah. Sambil menikmati segelas eh teh manis yang menyegarkan setelah menahan diri dari rasa panas yang menyiram hati.


"Jadi, Dok-eh, Mas Arif kenal sama Pak Jamal?" tanya Kana karena pertanyaan sebelumnya hanya dijawab dengan senyuman saja.


"Saya pernah ketemu sama Pak Jamal, mungkin sekitar empat tahun lalu." jawab Arif sambil mengingat-ingat.


"Oh, ya? Dimana?"


"Di Jakarta. Waktu itu Pak Jamal masuk RS dengan seseorang." jawab Arif.


"Oh, ya? Dengan Mas Danu?"


Arif menggeleng. "Seorang gadis. Saya pikir itu anak perempuannya."


"Anak perempuan?" Kana mengernyitkan dahi. "Pak Jamal kan nggak punya anak perempuan. Cuma Mas Danu doang anaknya."


Arif tersenyum. Senyuman yang menyimpan arti, tapi gadis sepolos Kana tidak akan tahu apa arti senyuman itu.


"Siapa ya yang di dibawa Pak Jamal waktu itu? Apa Pak Jamal nabrak orang itu?" tanya Kana.


"Maaf, saya nggak bisa kasih tau lebih banyak karena itu privasi pasien. Yang jelas, saya kenal Pak Jamal ini. Awalnya saya nggak tau kalo mantanmu itu anaknya Pak Jamal, saya juga nggak tau kalo ternyata Pak Jamal itu adalah kepala desa disini. Tapi, tadi sebelum kita keluar, saya masih sempat cerita-cerita tentang si Panu ini, dan saya baru tau ternyata Pak Jamal kepala desa disini adalah kepala desa yang pernah ketemu saya di rumah skait dulu."


Kana mengangguk-angguk. Entah mengerti atau tidak. Arif hanya terkekeh melihat keseriusan pada wajah manis Kana.


"Oh iya, untuk apa yang terjadi di rumah tadi, saya bener-bener minta maaf ya Dok, saya nggak-" Tiba-tiba suara Kana ngerem mendadak di ujung lidah ketika Arif dengan secara implusif menarik tangan Kana dan menggenggamnya.


"Jangan bicarakan persoalan itu disini. Angin bisa membawa suaramu kepada orang-orang nggak bertanggung jawab. Ngerti kan maksud saya?" Sejenak Arif ragu Kana mengerti maksudnya, tapi detik berikutnya gadis itu mengangguk lagi dengan ekspresi wajah seriusnya.


"Good." Arif tersenyum.


"Tapi, memangnya angin bisa bawa suara, ya?"


Arif rasanya ingin menepuk jidat pemilik warung yang menjual teh manis mereka.


Malam hari, Ibu dan Bapak melarang garis keras Arif untuk menginap dipenginapan yang bernama penginapan MawarMelati. Satu-satunya penginapan yang paling dekat dengan desa itu. Tapi Arif tetap kekeuh akan menginap disana karena tidak ingin merepotkan keluarga Kana. Ia bahkan sudah reservasi penginapan itu melalui internet. Dan dari review pengunjung, penginapan itu sangat memuaskan, entah kenapa orang tua Kana juga Kana melarang Arif kesana. Tapi sepertinya Rudi terlihat santai-santai saja, malah menyuruh Arif untuk menginap disana dan beristirahat dengan tenang disana. Meski, kata tenang tadi yang diucapkan Rudi penuh penekanan.


Akhirnya dengan segala pertimbangan, Ibu Bapak mengijinkan Arif menginap disana, tapi jangan ragu untuk kembali ke rumah mereka.


Arif tiba di penginapan, ia langsung menuju meja represionis sambil memantau sekitar. Tidak ada yang aneh-aneh. Semuanya terlihat normal layaknya sebuah penginapan sederhana.

__ADS_1


Seorang petugas represionis menyambutnya, agak terkejud Arif melihat petugas itu, perasaannya seketika tidak nyaman. Apa lagi melihat pakaian super ketat dan seksi yang menampilkan belahan gunung kembar dengan sangat frontal, ditambah belahan rok span pendek yang sampai menembus dasar samudera. Riasan pada wajah wanita itu pun tak kalah sensasional, bibir tebal yang dipoles dengan lipstik merah cabai kriting, bulu mata palsu membahana, sapuan blush on sepipi dan eyeliner yang membuat matanya mirip tante kunti.


"Ada yang bisa dibantu, Kang?" Suara manja terdengar mendayu-dayu sampai membuat sekujur bulu-bulu pada manusia merinding disko.


"Pagi tadi saya sudah reservasi tempat, atas nama Arif." jawab Arif dengan datar dan tanpa ekspresi.


"Oh, tunggu sebentar ya." Sang represionis sensasional itu pun seperti mengecek reservasi yang dibuat Arif pada sebuah buku besar di atas meja dengan pose membungkuk dari pada duduk di atas kursi plastik yang ada di samping meja itu. Arif memilih untuk mengalihkan pandangannya ke hiasan bunga imitasi pada sebuah vas di atas meja.


"Oke, ini kuncinya, Kang. Kamar nomer 11 yah. Masuk aja ke lorong sebelah sana, kamarnya ada di baris kanan." kata si represionis dengan gaya menggoda setan.


Arif hanya mengangguk dan mengambil kunci itu dari tangan wanita itu, tapi si mbaknya malah nahan hingga membuat Arif mengerutkan dahi.


"Nanti layanan kamar jam 11 ya, Kang." kata wanita itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


Arif hanya bisa tersenyum ngeri melihat wanita itu mengedip padanya. Sepanjang perjalanan menuju kamar tak hentinya Arif berdoa, melafadzkan ayat-ayat suci pengusir setan, demit, jin dan sejenisnya.


Ia mengunci pintu rapat-rapat dan memastikan pintu tidak dapat dibuka lagi setelah Arif masuk ke dalam kamarnya. Ia mengelus dada sambil membuang napas kasar. Baru kali ini ia bertemu represionis berpenampilan wah seperti tadi. Ngeri-ngeri sedap!


Arif melepaskan ransel yang dibawanya, ia mengecek sekitar ruangan dengan alat khusus pengecek signal yang selalu dibawanya setiap kali menginap di hotel atau tempat-tempat penginapan lain.


Hari ini cukup menguras energi, permintaan nikah dari keluarga Kana yang di luar prediksi, bersandiwara kepada seluruh warga desa, bertemu dengan Danu yang ternyata seribu kali lipat menguras energinya dibandingkan permintaan nikah dari keluarga Kana.


Anehnya, selelahnya dia hari ini, kasur di kamar nomer 11 itu tak kunjung membuatnya tertidur, ia justru gelisah. Teringat kembali dengan ucapan si mbak-mbak represionis tadi.


"Layanan kamar macam apa jam 11 malam?" tanya Arif pada dirinya sendiri. Dan rupanya ucapan si mbak tadi terbukti.


Tok tok tok.


"Room service." Suara perempuan mendayu-dayu terdengar dari depan kamar. Seketika, Arif menajamkan pendengaran. Sepertinya bukan hanya kamar dirinya yang mendapatkan layanan kamar aneh ini. Sekali lagi terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Suara perempuan kembali berucap.


"Room service."


Arif berusaha membasahi tenggorokannya susah-susah. Ia bangkit dari tempat tidur, dan menuju pintu.


"Siapa?" tanya Arif tanpa membuka pintu.


"Room service, Kang." Suara perempuan itu dibuat manja-manja.


Arif bergidik mendengarnya. Perasaannya sudah tak karuan. Instingnya sebagai pria dewasa, room service aneh ini pasti sangat menjerumuskan. Ia segera memakai kembali celana jinsnya, jaket dan menggemblok kembali tas ranselnya. Tak lupa, dia bawa semua harta bendanya.

__ADS_1


Gue haru out dari sini secepatnya nih! Ucapnya dalam hati.


Ia menarik napas panjang, sebelum membuka pintu.


Dan benar saja, penampakan seorang wanita berambut panjang, memakai gaun tidur berwarna putih berbahan setipis tisu dan akses-akses jalan tol dari berbagai arah sudah berdiri di depan kamarnya.


Alih-alih napsu, Arif malah memejamkan matanya rapatnya dan beristigfhar kuat-kuat sambil keluar dari kamar mengabaikan panggilan manja dari si wanita layanan kamar.


Segera ia berlari keluar penginapan itu, masuk ke dalam mobilnya dan melesatkan roda empat itu kembali ke desa.


"Sial! Penginapan apaan tadi?! Hampir aja hilang perjaka gue. Asem!" Omel Arif seraya mengusap wajahnya kasar. Hanya satu tempat tujuannya malam ini, rumah Kana.


Sepuluh menit berkendara, Arif sampai lagi di depan rumah Kana. Diihatnya Rudi dan Kana disana. Rudi menyambutnya dengan cengiran lebar melihat wajah Arif yang masam.


"Gimana, Mas?" tanya Rudi sambil menaik turunkan kedua alis matanya.


"Mas Arif nggak apa-apa kan?" tanya Kana, yang terlihat khawatir dan takut.


Arif membuang napas kasar.


"Horor!" jawab Arif kesal, tapi membuat Rudi terkekeh.


"Fix, lulus tes deh kalo gini." kata Rudi. "Ayo lah, masuk, ibu udah siapin alas tidur untuk Mas Arif di kamarku." kata Rudi sambil masuk duluan ke dalam rumah.


"Kamu udah tau kalo penginapan itu penginapan yang errggghhh!?" Arif bergidik di akhir kalimatnya.


Takut-takut Kana mengangguk.


"Kenapa nggak bilang?" Tanya Arif gemas.


"Dilarang sama Rudi. Dia bilang mau ngetes Mas Arif. Kalo balik lagi kesini, berarti Mas Arif bukan lelaki hidung belang, dan memang serius sama saya."


"Astaga! Gimana kalo saya tetap disana walau pun saya nggak melakukan apa-apa? Apa saya akan tetap dicap hidung belang? Ck!" Arif menggeleng kesal dan sebal. Bagaimana mungkin imannya dites secara sengaja seperti ini.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ya~


__ADS_2