
Untuk kali pertama Arif tidur sekamar dengan seorang wanita, begitu pun dengan Kana, kali pertama kamarnya itu ditiduri oleh seorang pria. Dulu dia berpikir laki-laki yang akan memasuki kamarnya dan tidur bersamanya adalah Danu. Pria yang pernah berjanji akan menikahinya sebelum Kana menolak permintaan Danu untuk 'icip-icip' sebelum nikah.
Tapi rupanya, Tuhan memberikan Kana hadiah dan rejeki yang lebih baik. Lebih mapan, mapan finansial, mapan adab, mapan kedewasaan, mapan sikap dan bonus ganteng.
Dan pada akhirnya, Kana mengalah dan menurut untuk tidur di atas kasur sementara Arif yang di atas karpet. Berkali-kali Kana mendengar Arif menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan, hingga Kana mempunyai dugaan Arif tidak nyaman, padahal Arif sedang menikmati aroma morphin pribadinya yang menenangkan seluruh syaraf tegang dalam dirinya.
"Dok,"
"Ya?"
"Dokter sesak napas ya tidur di kamar saya?" Pertanyaan Kana yang kadang-kadang di luar garis batas khatulistiwa.
"Kok kamu bisa mikir kayak gitu?" tanya Arif. Ia mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat Kana yang ada di atas ranjang.
"Itu dari tadi narik-narik napas mulu."
Arif terkekeh, ia memiringkan badannya untuk melihat Kana lebih jelas. "Saya memang narik napas dalam-dalam, menyesapi setiap tarikan napas saya untuk menenangkan setiap syaraf dalam tubuh saya, karena dalam setiap tarikan itu ada aroma misterius yang sangat menenangkan."
"Hah? Aroma? Perasaan saya nggak nyium aroma kang nasi goreng apa aroma indomi deh."
"Kok jadi aroma nasi goreng dan indomi?"
"Soalnya, kalo saya biasanya kalo lagi laper trus, perut keroncongan sampe bunyinya kayak musik metal, tapi nggak punya duit, biasanya saya nungguin kang nasi goreng lewat buat nyium aroma pas dia masak nasi gorengnya. Atau kalo duit lagi tipis-tipisnya di dompet, paling beli indomi goreng, aromanya aja udah menenangkan jiwa." jawab Kana dengan sangat jujur dan polosnya tanpa dibuat-buat. Jawaban itu justru membuat Arif meringis. Dia yang bisa membeli makanan apa pun, kapan pun, terkadang masih mengeluh tidak napsu makan, kadang malah tidak menghabiskan makanan lantaran rasanya kurang garam lah, kurang ini itu.
Ah, tertampar sekali rasanya. Ingin sekali Arif saat ini memeluk istri mungilnya itu, tapi sumpah, kamar Kana memang cukup sempit untuk sekadar cuddling.
"Kana," Arif sudah bangkit duduk, kepalanya dia daratkan tepat dipinggir tempat tidur di samping wajah Kana, hingga jika Kana menengokkan wajahnya, dia bisa melihat bagaimana kondisi kulit wajah Arif tanpa filter kamera. Yang wow nya, kulitnya nampak bersih, pori-pori pun seperti kondisi kulit bayi yang mulus. Kok bisa sih? Padahal Arif tidak perawatan? Cuma rajin pake sunscreen.
Oke, balik ke Arif yang lagi lekat-lekatnya menatap sang istri tercintanya yang imut.
"Mulai sekarang, setiap kali perut kamu setel lagu metal kamu bisa langsung beli makanan apa pun yang kamu mau, saya janji nggak akan membuat kamu menahan lapar apa lagi cuma nyium aroma nasi goreng yang lewat. Kalo mau, saya bisa beliin juga sama gerobak-gerobaknya."
"Eh, buat apaan beliin sampe gerobak-gerobaknya? Jualan? Eh, apa saya perlu jualan nasgor juga, Dok?"
"Lah kenapa begitu?"
"Ya, biar bantuin Dokter nyari nafkah."
Lah, ini si Kana lupa.kayaknya kalau suaminya sudah pernah ngelunasin hutang yang totalnya puluhan juta, bayarin dia make over sampe belasan juta, terakhir ngebeli kontan dan dadakan ladang padi dan jagung untuk keluarganya.
__ADS_1
Arif terkekeh mendengar bagaimana tulusnya niat Kana untuk membantunya mencari nafkah.
"Buat apa? Mulai hari ini, kamu nggak perlu lagi bekerja untuk mencari nafkah apa lagi untuk menjadi tulang punggung. Kamu akan menjadi ratu saya, kamu akan menjadi ibu dari anak-anak kita. Pekerjaanmu sebagai seorang ibu nantinya akan jauh lebih sulit dan lebih berat dari pada saya, nggak mungkin saya biarkan kamu bekerja juga untuk membantu saya mencari nafkah. Insyaallah, kita nggak akan kekurangan." ujar Arif dengan sangat adem dan menenangkan.
Haduuuh meleyot dah itu hati.
"Tapi, kalo kamu mau bekerja untuk berkarir sebagai seorang perempuan, kalau kamu mau dan mampu tanpa melupakan kewajibanmu sebagai seorang ibu dan istri, saya persilakan, saya ijinkan, saya bahkan akan mendukungmu."
Tak pernah sekalipun Kana bermimpi akan menjadi ratu. Dilarang bekerja untuk membantu mencari nafkah. Dan menjadi seorang wanita karir. Ia bahkan sudah mengubur cita-citanya menjadi seorang designer pakaian agar bisa membantu meringankan beban ibu dan bapaknya. Jadi, perkataan Arif sungguh menyentuh Kana. Ia menangis, menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Hei, kenapa jadi menangis?" Arif bangkit, dia duduk di tepi kasur, mengusap lembut rambut Kana.
Kana bergerak, ikut bangkit dan duduk di kasur, dengan matanya yang basah, Kana refleks memeluk Arif. Melingkarkan kedua tangannya pada pundak Arif, menenggelamkan wajahnya pada bahu Arif yang kokoh.
Arif membalas pelukan itu meski cukup terkesiap. Ini adalah pelukan pertama mereka setelah sah.
"Kenapa?" Suara deep dan lembut Arif menggema merdu dalam gendang telinga Kana.
"Terima kasih." Ujar Kana.
"Terima kasih untuk?"
"Untuk semua yang udah Dokter kasih ke saya. Terima kasih karena Dokter memilih saya padahal kalo Dokter mau, perempuan yang lebih mapan, cantik dan pintar pasti banyak yang mau juga sama Dokter. Terima kasih karena Dokter bukan cuma peduli sama saya, tapi juga peduli sama keluarga saya. Terima kasih-"
"Masa iya saya begitu? Perasaan saya nggak ngelakuin apa-apa? Nggak narik Dokter dari dalem sumur juga."
Arif menyulam senyum. Ia mengecup kepala Kana.
"Kamu mau tau aroma apa yang membuat saya tenang?"
Kepala Kana mengangguk dalam pelukan Arif.
"Kamu."
"Saya?" Kana melepaskan pelukannya untuk melihat Arif dengan ekspresi bingungnya.
"Perasaan saya nggak pake minyak wangi, nggak pake minyak urut juga. Yang ada malah aroma sabun colek."
"Itu lah, saya juga nggak ngerti, Jodi dan Yoga juga nggak nyium aroma apa-apa, tapi saya menciumnya. Aroma kamu manis dan bikin saya kecanduan."
__ADS_1
"Hah? Bahaya dong!" Ekspresi Kana pun berubah panik.
"Kok bahaya?"
"Kata orang, sesuatu yang bikin kecanduan itu bahaya untuk kesehatan."
Astaga!
Arif tergelak sampai harus ditutup mulutnya dengan tangan Kana karena khawatir bikin tetangga apa lagi orang-orang di dalam rumah kebangun.
"Ih, kok Dokter malah ketawa sih." Kana sudah tidak lagi menangis.
"Ah, saya cinta banget sama kamu." Arif menarik Kana kembali dalam dekapan.
Sementara Kana hatinya sudah berflower-flower.
"Kana, saya tau kamu belum siap, tapi apa boleh saya minta satu hal."
"Dokter mau minta apa memangnya?"
"Hidangan pembuka."
"Dokter laper?"
"Iya, tapi saya nggak pengen makan makanan."
"Lah trus makan apa? Katanya mau hidangan pembuka?"
"Saya pengen makan kamu." Arif mengendurkan pelukan, untuk bisa menatap mata indah Kana dengan jarak kurang dari satu jengkal. "Boleh saya minta hidangan pembukanya dulu?" Mata Arif turun ke bibir mungil Kana. Jemarinya pun bergerak, menyentuh pipi dan ibu jarinya mengusap lembut bibir Kana.
Ada yang menyengat semua syaraf indra pada tubuh Kana, tapi bukan listrik. Sengatan itu bahkan jauh lebih berbahaya dari pada sengatan listrik.
"Boleh saya cium kamu?"
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ah~
Hehehehe 🫰🏼✌🏻