
Sudah satu minggu semenjak Kana merantau ke kota, Danu tidak bisa dihubungi, tidak juga menghubungi. Seperti hari ini, Kana duduk dengan perasaan jengkel di halte bus setelah berusaha kesekian kalinya mencoba menghubungi Danu. Nomer ponsel kekasihnya itu bahkan tidak aktif. Kana mencoba menghubungi sahabatnya, Juni untuk membantunya mencari tahu dimana Danu, atau paling tidak Juni bisa memberitahu Danu kalau Kana mencoba menghubunginya.
Tapi Juni pun sama saja, tidak bisa dihubungi.
Kana memberengut melihat nanar layar kecil ponselnya. Ada rasa geregetan ingin balik ke kampung untuk mencari Danu dan bertanya kemana kekasihnya itu selama satu minggu belakangan ini.
Tinggal merantau, seorang diri di ibu kota tanpa sanak saudara, bukan hal yang mudah untuk dijalani. Tapi Kana selalu berusaha kuat demi keluarganya. Demi bisa membantu keluarganya membayar hutang pada seseorang. Dan yang menjadi penyemangatnya adalah bahwa keluarganya baik-baik saja dan harapan akan janji Danu untuk menikahinya dengan segera.
Tapi mana? Baru seminggu, tapi Danu sudah tidak bisa dihubungi. Boro-boro memberikan semangat. Lelaki itu seperti menghilang ditelan anaconda.
Ponselnya tiba-tiba berdering, jantungnya hampir loncat karena saking kagetnya. Tapi yang meneleponnya bukanlah orang yang dia tunggu. Melainkan orang lain yang tidak ada dalam daftar tunggunya.
"Iya, Dok?" Kana menjawab panggilan dari Arif.
"Apa kamu sudah masak?"
Kening Kana berkerut mendengar pertanyaan Arif.
"Sudah beres, Dok."
"Bagus. Bisa kamu bawakan untuk bekal makan siang saya sekarang?"
"Hah? Apa?"
"Antarkan makan siang saya ke rumah sakit."
"Tapi, Dok-"
Tut!
Sambungan terputus begitu saja secara sepihak oleh Arif.
"Arrrrggghhhh!" Kana berteriak seraya mengacak rambutnya sampai beberapa orang yang ada di bawah naungan halte itu kaget dan menjauh, khawatir gadis bertubuh kurus itu kesurupan penunggu halte.
Ia melihat waktu pada layar ponselnya, dia punya waktu dua jam sebelum mulai pekerjaan berikutnya sebagai pengasuh. Padahal niatnya waktu dua jam ini mau dia gunakan untuk beristirahat sebentar di kosnya. Tapi majikannya yang aneh tiba-tiba memintanya mengantarkan bekal makan siang!
Mau tak mau Kana segera bergegas balik ke apartemen Arif, dan mulai menyiapkan bekal dalam wadah tupperware. Ia tahu di mana rumah sakit Arif bekerja, tidak terlalu jauh memang dari apartemen, hanya sekitar memakan waktu lima belas menit. Tapi tetap saja, seharusnya waktu lima belas menit itu bisa dia gunakan untuk tidur dan mandi, sebelum kembali bekerja untuk dua pekerjaan berikutnya.
Kana sampai di rumah sakit, segera ia masuk ke loby dan menemui bagian informasi rumah sakit.
"Permisi, Mbak, saya mau bertemu dengan Dokter Arip."
Dua petugas di meja informasi melayaninya dengan baik dan sopan meski penampilan Kana begitu lusuh.
"Dokter Arip?" tanya petugas itu untuk meyakinkan lagi.
'Iya, Dokter Arip. Tadi saya diminta datang."
"Sebentar ya, Mbak. Saya cek dulu." Petugas itu pun mengecek pada perangkat komputernya, dimana keberadaan Dokter Arip. Tapi keningnya yang glowing berkerut, kemudian dia kembali berdiri untuk berbicara pada Kana.
"Maaf, Mbak. Tapi disini tidak ada Dokter bernama Arip. Atau mungkin Mbak salah alamat?"
"Nggak ada? Masa sih, Mbak? Tapi bener kok ini rumah sakit si Dokter kerja."
"Kalau begitu, bagian apa Dokter Arip bekerja, Mbak? Biar saya nanti bantu hubungi bagian suster jaga di lantai tempat dokter Arip praktek."
"Waduh, apa, ya? Saya nggak tau Mbak. Saya nggak pernah tanya Dokter Arip dokter apa." kata Kana. "Saya coba telepon aja deh."
Petugas informasi itu mengangguk dan mempersilahkan Kana untuk menghubungi si Dokter Arip.
Tapi, hanya terdengar nada sambung, tidak ada jawaban. "Apaan sih ini si Dokter? Tadi minta diantar bekal. Sekarang malah nggak bisa dihubungi." Kana menggerutu. "Apa aku titipin aja di bagian informasi, ya? Tapi nanti Dokter Arip marah nggak ya?"
"Bagaimana, Mbak?" tanya petugas informasi.
"Nggak diangkat, Mbak. Gimana, ya? Duh!"
"Ada apa ini?" tanya seseorang dengan jubah dokter menghampiri meja informasi.
__ADS_1
"Eh, Dokter Yoga." Petugas informasi menyapa dokter Yoga. "Ini, Dok, Mbaknya bilang sudah ada janji dengan dokter Arip. Tapi saya cek, disini tidak ada dokter praktek yang bernama Arip. Apa Dokter tau?" tanya si petugas itu pada Yoga.
"Arip?" Yoga bertanya pada Kana.
Kana mengangguk cepat. "Dokter Arip minta diantarkan bekal makan siang." Kana mengangkat kotak makan siang ke depan mukanya.
"Tunggu, kamu Kana, bukan?" tanya Yoga.
"Benar, Dok. Saya, Kana. Kok Dokter tau?" Kana menatap bingung pada dokter pria berwajah glowing di hadapannya itu.
Senyum Yoga tersulam pada wajahnya, ia jadi teringat dengan obrolannya bersama Jodi dan Arif di kantin.
Jadi ini ART-nya Arif yang katanya aromanya segar itu?
"Oh tahu dong, dia sudah kasih tau saya kalau nanti ada yang antar bekal makan siang untuknya, namanya Kana. Begitu." jawab Yoga berbohong.
"Dokter kenal sama Dokter Arip?" tanya petugas informasi itu.
"Kenal, maksudnya Mbak ini, Dokter Arga." jelas Yoga.
"Oh Dokter Arga." Sahut petugas informasi itu mengerti.
"Eh, bukan, Dok. Bukan Arga namanya. Tapi Arip. Pake F katanya." ujar Kana dengan polos dan lucu dimata Yoga. Apa lagi membayangkan betapa kesalnya Arif jika Kana terus salah menyebut namanya.
"Ya, Dokter Arif kalau di rumah sakit lebih dikenal dengan nama Dokter Arga. Sekarang Arif lagi ada operasi mendadak tadi, jadi dia minta tolong saya untuk kasih tau kamu kalau kamu harus menunggu di ruangannya sampai dia selesai operasi." kata Yoga mengarang bebas, tapi dengan tujuan baik dan sedikit iseng untuk memberikan kejutan pada temannya itu setelah operasi selesai.
"Masa, Dok? Kok saya nggak tau ya kalau Dokter Arip punya dua nama?" Kana menatap Yoga dengan tatapan skeptis dan curiga.
Yoga terkekeh mendengarnya. "Bukan punya dua nama. Tapi nama lengkapnya itu Argaprama Arif. Nah, kalo di rumah sakit, Arif dipanggilnya Dokter Arga."
"Oooh." Kana mengangguk mulai percaya. "Tapi, Dok, operasinya lama nggak, ya?"
"Kenapa memangnya?"
"Saya nggak bisa kalau harus nungguin Dokter Arip selesai operasi, soalnya saya harus kerja lagi."
"Lho, kamu kerja di tempatnya Arif, kan? Jadi saya rasa dia nggak akan marah kalau kamu nggak balik kerja lagi ke apartemen."
"Saya sih tidak keberatan, Mbak. Tapi kira-kira Dokter Arga keberatan tidak ya?"
"Biar saya bawa saja, nanti saya yang kasih ke Dokter Arga dan menjelaskan situasinya."
"Maaf jadi merepotkan Dokter." Kana tersenyum tak enak.
"Nggak apa-apa. Sama sekali nggak merepotkan, kok."
"Baik, Dok, kalau begitu saya bisa pergi sekarang?" tanya Kana.
"Ya, tentu saja, jangan sampai gara-gara antar bekal, kamu jadi terlambat."
Kana tersenyum, membungkuk sedikit kemudian berbalik badan dan bergegas keluar dari rumah sakit.
"Itu ART-nya Dokter Arga, ya Dok?" tanya si Mbak petugas informasi.
"Iya, ART baru."
"Manis ya, Dok, orangnya. Matanya bagus banget." kata petugas itu memuji.
"Ya, aku juga berpikiran seperti itu. Auranya kecantikannya akan terpancar kalau dipoles sedikit dengan skincare dan make up tipis-tipis."
.
.
.
Arif baru saja hendak masuk ke ruangannya setelah menghabiskan waktu dua jam di ruang operasi. Perutnya sangat lapar dan dia ingin segera pulang. Entah kenapa, membayangkan aroma Kana membuat Arif ingin cepat pulang dan menenangkan diri dari segala keletihannya.
__ADS_1
"Oi, Dokter Arip." Suara Yoga menghentikan langkah Arif. Seketika ia melotot mendengar bagaimana temannya itu menyebut namanya. Tapi Yoga malah tertawa-tawa tidak jelas seperti orang kerasukan.
"Apa lo terlalu banyak menyuntikkan silikon ke dalam otak lo sampe bermasalah gitu?" tanya Arif dengan kesarkasannya.
Tapi Yoga masih tertawa sampai sepuluh detik. Setelah itu dia menyodorkan kotak makan siang pada Arif.
"Apa nih?"
"Bekal makan siang yang diantar Kana, tadi."
"Hah?" Arif terkesiap. Sontak matanya mencari kemungkinan keberadaan Kana.
"Orangnya udah pergi lagi, kali. Dia titip ini tadi pas lo lagi operasi."
"Lo ketemu Kana?"
"Ketemu lah. Tapi anehnya, ya, kok gue nggak nyium aroma-aroma segar yang seperti lo ceritain sih?"
"Masa?" Arif mengerutkan dahinya.
Yoga mengangguk. "Tapi gue menyadari satu hal begitu melihatnya."
"Apa?" tanya Arif bernada curiga.
"Si Kana ini punya aura positif."
Arif berdecak. "Sudah seperti dukun aja lo."
"Eh, serius, Bro. Si Iren aja, petugas informasi di depan tadi juga mengakui kalo si Kana manis. Dan gue yakin, kalo dia perawatan, paling nggak pakai skincare yang tepat dan dandan tipis-tipis, dia akan sangat cantik." ujar Yoga serius. Sebagai dokter kecantikan, Yoga tahu betul perawatan apa yang dibutuhkan kulit Kana.
"Boro-boro skincare, pake bodylotion aja nggak."
"Ya lo tambahin lah gajinya, kasihan tau." kata Yoga. "Eh, lo tau nggak kalo dia kerja di dua tempat loh."
"Maksud lo?"
"Lo nggak tau?"
Arif menggeleng.
"Tadi gue suruh dia nunggu lo, tapi dia bilang nggak bisa karena dia harus ke tempat kerjanya yang lain. Lo bayangin deh, dia kerja di tempat lo, trus lo suruh di antar bekal makan siang, sementara dia harus berangkat ke tempat kerjanya yang lain. Nggak kasihan lo?"
"Gue... gue nggak tau kalo itu anak kerja di tempat lain juga."
"Ah payah lo jadi majikan nggak perhatian amat." Ledek Yoga.
"Masalahnya itu anak nggak cerita apa-apa." Arif membela diri.
"Makanya lo tambahin aja gajinya, biar dia nggak kerja sampai di dua tempat gitu."
"Urusan dia lah kalo dia mau kerja di tempat lain lagi. Dari awal gue tanya apa gajinya cukup, dia bilang cukup. Ya sudah."
Yoga menggeleng dengan sikap kawannya yang kadang berhati dingin seperti pangeran kegelapan.
"Tapi kan sekarang dia sudah memberikan kontribusi untuk diri lo di luar dari kerjaannya sebagai ART."
Arif mengernyit. "Kontribusi apaan?"
"Aroma segar tubuhnya yang mana cuma lo doang yang bisa nyium. Dan aroma itu memberikan efek baik untuk diri lo, kan?"
Arif tidak menyanggah. Karena memang dia tidak menyangkal, dalam beberapa hari ini pikirannya jauh lebih rileks dan tubuh lelahnya lebih nyaman ketika sampai di apartemennya yang dipenuhi dengan aroma Kana.
"Nih gue kasih sebuah saran untuk lo." Yoga memasang ekspresi seriusnya. Dan jika seperti itu, Arif tahu, bahwa apa pun yang keluar dari bibir Yoga bisa menjadi bahan pertimbangan yang baik untuk dirinya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya~