Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 46 ++ (For Halal Couple Only)


__ADS_3

Siap... Enggak... Siap... Engga...


Dua kata itu berpendar di dalam kepala Kana seperti jungkat-jungkit.


"Aku... nggak tau..." Ujar Kana. Sulit sebenarnya untuk menyadari dirinya sungguh sudah siap atau tidak. Tapi tubuhnya seolah tidak rela ketika Arif melepaskan lingkaran tangannya. Tubuh Kana refleks menarik kemeja yang masih dikenakan Arif. "Aku nggak tau kalo nggak nyoba." cicit Kana.


Malu malu meaow.... Bikin Arif gemas.


"Yakin?" Arif bertanya.


Kana mengangguk.


Senyum Arif mengembang seluas samudera, ia tidak pernah menyangka waktu ini akan tiba dengan cepat. Ia pikir, dirinya harus bersabar berbulan-bulan sampai Kana benar-benar siap, nyatanya Kana juga tak menyangka dirinya telah siap untuk mencobanya. Keinginannya untuk sembuh dan memberikan kebahagiaan untuk Arif lebih besar dari pada rasa traumanya.


Arif merangkum wajah Kana dengan kedua tangan besarnya yang hangat. Ia mengecup kening Kana, kemudian berkata lembut.


"Aku mandi dulu ya. Kamu tunggu aku. Jangan lupa pakai kado dari teman-teman kosmu, yang warna merah sepertinya akan sangat cantik." Arif mengedipkan sebelah matanya kemudian melepaskan Kana untuk membersihkan dirinya dari keringat dan bau aroma rumah sakit.


Kana mengerjapkan kedua matanya, mencoba mencerna apa maksud Arif.


"Kado? Warna merah?" Kana menutup mulutnya yang menganga seketika begitu otaknya mulai mudeng. Buru-buru Kana masuk ke dalam kamar, membuka lemari pakaian dimana ia menyimpan kado-kado ajaib dari teman-teman kosan.


Mata Kana terpejam saat merentangkan pakaian super menerawang yang awalnya Kana pikir waktu buka kado, baju itu adalah barang-barang rijek dan teman-temannya itu ditipu oleh olshopnya. Bukan hanya satu, tapi dua belas baju menerawang dengan berbagai model. Ada yang menerawang bagian dadanya saja. Ada yang pinggirnya tidak menyatu, hanya diikat seutas tali. Ada yang bagian belakangnya seperti kelupaan dikasih bahan tambahan. Ada yang seluruhnya seperti bahan tile untuk ventilasi supaya tidak ada nyamuk. Warnanya pun beragam. Dan untuk kali pertama, sesuai request, Kana mengambil yang warna merah, itu adalah bajunya keseluruhannya menerawang.


"Ini orang yang buat beginian maksudnya apaan ya? Kan, ini mah sama aja gak pake baju. Trus Mas Arif mau aku pake beginian? Duh! kok jadi malu ya!"


Sementara di dalam kamar mandi, Arif sudah tidak sabar untuk unboxing paket paling istimewa dalam hidupnya. Buru-buru dia membilas tubuhnya yang bersabun di bawah guyuran shower, memastikan tidak ada aroma rumah sakit tersisa pada kulitnya.


Arif mengeringkan rambutnya yang basah, kemudian melilitkan handuk pada pinggangnya. Ia memilih untuk tidak perlu mengenakan pakaian untuk mempermudah misi operasi pembukaan.


Pintu dia buka, suasana kamarnya sudah temaram, hanya lampu meja yang merunduk yang memberikan pencahayaan di kamar itu.


"Kana?" Panggil Arif, karena tidak keberadaan Kana dimana pun.


"Disini!" Tiba-tiba saja tangan Kana keluar dari dalam selimut.


Arif mengulum senyum seraya mendekati ranjang dimana Kana rupanya bersembunyi di dalam selimut itu.


"Sayang, kenapa kamu ngumpet? Apa kamu takut? Apa mau diundur saja?"


Kepala Kana kemudian nyembul dari balik selimut, ia menggeleng. "Aku...malu..." lanjutnya.


"Kenapa malu?"

__ADS_1


"Bajunya... aku kayak ventilasi." jawab Kana.


Arif mau tak mau tergelak. "Mana coba lihat."


"Ih malu!"


"Lah, trus gimana? Masa mau nyoba tapi kamu ngumpet gitu?"


Kana menggigit bibir. "Tapi aku takut Mas malah ipil sama aku ngeliat aku pake baju aneh gini."


"Ipil?"


"Itu loh, yang artinya jadi hilang rasa suka gitu. Ipil."


"Oh, ilfeel."


"Nah iya itu, bener kan?"


"Iya, iya." Iyain aja dah biar cepet. "Aku nggak akan ilfeel lah sayang."


"Janji ya?"


Arif mengangguk mantap.


"Mas..."


"Yeah?" Suara Arif tiba-tiba saja serak. Bukan karena tiba-tiba terserang radang tenggorokan, tapi karena tiba-tiba segerombolan hasrat yang menggebu menyerbu dirinya.


"Mas nggak pake celana? Cuma pake handuk doang?"


"Ehem..."


"Trus itu apa? Mas bawa apaan itu di dalem handuk? Senter?"


Arif menunduk, melihat di bawah pinggangnya sesuatu rupanya sudah tidak bisa menahan diri.


"Ya, senter, aku bawa senter." Arif menaikkan satu lututnya ke atas kasur, matanya yang sudah tertutup kabut mengunci mata Kana, tangannya terulur dan kemudian...


Grep! Ia menyentak selimut yang masih menutupi tubuh Kana lalu melemparnya entah kemana.


"Waaa!" Refleks Kana menyilangkan tangannya di depan dada, juga menekuk lututnya.


Mata Arif mengerjap. Ia melihat bagaimana manis, seksih, cantik dibungkus menjadi satu dalam tubuh Kana. Rambut Kana yang panjang sedikit bergelombang mungkin karena efek samping dari ikat rambut, jatuh sempurna pada bahu hingga dadanya, membuat Kana terlihat seperti... peri. Apakah ada peri yang mengenakan lingerie??

__ADS_1


Tak hanya pakaian yang Kana bilang membuatnya mirip dengan ventilasi, G-string segitiga pengaman dengan tali spaghetti membuat hasrat Arif meronta-ronta, apa lagi senter yang sejak tadi dibawanya sudah...begitu lah.


"Mas! Ih, aku malu. Tuh kan, Mas pasti ipil sama aku kan? Sampe nggak kedip gitu matanya! Aku ganti aja ya bajunya, pake baju tidur biasa aja." Kana hendak bangkit, tapi gerakan Arif jauh lebih cepat dari ninja Hatori, tangannya sudah merengkuh pinggang Kana dan menjatuhkan Kana di atas ranjang kembali, tepat di bawahnya. Dia sudah tidak tahan untuk mendaki gunung dan lewati lembah.


"Siapa yang bilang aku ilfeel?" Arif menurunkan wajahnya, menggosokkan wajahnya pada daun telinga Kana. "Aku...menggila... Kamu buat aku menggila, Kana. Please, jangan berubah pikiran, jangan takut, jangan pergi, jangan dibatalkan..."


Bulu-bulu halus Kana meremang. Geli-geli gimana gitu dengar suara Arif yang dalam, rendah dan berbisik sensual tepat di lubang telinganya.


"I... Iya... tapi..."


"Tapi apa?"


"Senternya coba disimpen dulu di laci, kan ini nggak mati lampu, ngapain bawa-bawa senter sih, lagian kok bisa sih senternya nggak jatoh?"


"Coba kamu yang pindahin senternya." Bisik Arif.


Kana mengangguk, ia dengan lugunya menggerakkan tangannya menyentuh 'senter tempel' itu, sedikit mencengkramnya, tapi itu senter bukanya lepas malah suara Arif yang mengerang tertahan.


"Eh, apa ini Mas?! Kok nggak bisa diambil?" Kana malah mencoba menarik-narik senter yang masih tersembunyi dibalik handuk.


"Kanah..." Napas Arif mulai naik turun.


"Ya?"


"Itu senter tempel, nggak akan bisa lepas kalo kamu tarik-tarik gitu."


"Senter tempel?" Benar-benar tidak mempunyai petunjuk apa pun tentang senter tempel yang dimaksud Arif. Ini malah kali pertamanya Kana mendengar senter tempel. Apa maksudnya? Apa senternya nempel ke badannya Arif?


Sibuk dengan pikirannya sendiri, Arif pun tak membuang waktu untuk memberikan Kana jawaban secara langsung, ia menegakkan tubuhnya, kemudian melepaskan lilitan handuknya dan jreng...jreng...jreng...jreng....!


"Mas, apaan tuuu?!!!"


"Ini... Senter tempel, sayang!"


Dan malam itu, setelah menunggu sekian lama semenjak halalnya hubungan mereka, Arif melepaskan semua hasratnya, menggarap tubuh Kana setiap incinya tanpa terlewat sedirkitpun. Ia lakukan dengan lembut dan memastikan malam mereka ini akan meninggalkan memori yang akan benar-benar menghapus memori kelam dalam kenangan Kana dimasa lalu.


.


.


.


Bersambung dulu ya ❤️

__ADS_1


__ADS_2