Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 07


__ADS_3

Kotak makan siang di hadapan Arif sudah kosong, tidak ada sebutir nasi pun yang tersisa. Ia sangat kelaparan, disamping itu, masakan Kana membuatnya ketagihan. Ah, ada apa dengan gadis aneh itu? Kenapa begitu mengetahui kalau Kana bekerja di tempat lain membuat Arif merasakan sedikit ke khawatiran. Pekerjaan apa? Dimana? Apakah dia aka cukup makan?


"Hhhhh." Arif menyandarkan punggungnya pada kursinya. Mengelus perutnya yang baru saja dimanjakan oleh masakan buatan Kana. "Ah! Kenapa wajahnya selalu saja terbayang." Arif menggelengkan kepalanya. Ia berusaha memejamkan mata, tapi bayangan akan sepasang mata Kana yang memiliki warna yang unik malah semakin menjadi-jadi. Arif membereskan kotak makan siangnya, mencuci tangan dan membasuh wajah di dalam kamar mandi, untuk menyegarkan pikirannya dari pengaruh persuasif Yoga dan bayangan akan Kana ketika beberapa kali dirinya dan Kana tak sengaja terlibat skinship.


"Bayangkan, gimana nyamannya diri lo kalo Kana bisa selalu ada di dekat lo. Aroma morphin darinya bisa selalu membuat lo rileks, kan? Jadi, saran gue adalah, lo bayar dia dua kali lipat, supaya dia full day kerja cuma untuk lo. Lo bisa bebas suruh dia untuk dateng ke rumah sakit, anter bekal lah, atau antar baju lah, atau apa lah. Aromanya bisa selalu ada disekitar lo. Atau lo juga bisa suruh dia nginep juga di tempat lo. Gimana?"


Saran gila dari Yoga yang sebenarnya cukup Arif pertimbangkan. Bukan hanya karena aroma Kana yang membuat Arif seperti orang kecanduan, tapi disisi lain, Arif khawatir tubuh Kana yang kurus dan kecil itu tidak sanggup dan terforsir hingga membuatnya akan jatuh sakit.


"Ah! Apa peduliku, biarkan saja lah, terserah dia. Urusan dia. Lagi pula, aku nggak sekecanduan itu dengan aroma si Curut." Arif tetap menguatkan diri dari saran Yoga. Berusaha untuk tidak tergoyahkan.


.


.


.


Ponsel Kana berdering, nama Danu yang tertera di sana hampir membuat Kana memekik saking senangnya. Ia segera pergi keluar melalui pintu belakang bar. Ya, sudah beberapa hari ini akhirnya Kana menerima tawaran untuk menggantikan posisi wanita yang pernah bertemu denganya di depan minimarket sebagai cleaning services. Kana mencari tempat agar mojok agar tidak terlalu bising dengan suara musik di dalam.


"Mas Danu?" Suara Kana secerah matahari musim kemarau. "Mas Danu kemana aja? Kana teleponin nggak pernah diangkat, Kana SMS nggak pernah di balas. Mas Danu juga nggak pernah ngehubungin Kana. Mas Danu baik-baik aja, kan?" Kana nyerocos panjang begitu saja dengan perasaan penuh suka cita. Tapi, anehnya lawan bicaranya tidak seantusias Kana. Terdengar cenderung gugup dan suram.


"Kana... maaf." kata Danu akhirnya bersuara.


"Eh, Mas Danu kenapa? Kok lemas gitu kedengarannya?" tanya Kana, seketika merasakan begitu khawatir dengan pria yang pernah berjanji akan menikahinya.


"Kana, aku rasa, kita nggak bisa lagi diteruskan." ujar Danu begitu saja.

__ADS_1


"Ap-apa?" Senyuman Kana hilang ditelan bumi. "Mas Danu lagi bercanda, ya? Mas Danu lagi mau kasih kejutan, ya, untuk Kana?" Wanita itu masih berusaha berpikiran positif.


"Aku nggak bercanda, Kan. Hubungan kita harus berakhir. Aku nggak bisa lagi meneruskan hubungan kita."


"Tapi, tapi kenapa, Mas? Apa alasannya? Apa aku ada salah? Hubungan kita selama ini baik-baik aja, kan, Mas? Apa karena aku kerja ke kota? Tapi, Mas Danu udah janji, Mas akan tunggu aku. Kita akan nikah tahun depan, kan? Tapi kenapa jadi begini? Apa yang salah?"


"Maaf, aku nggak bisa tepatin janji aku sama kamu." ujar Danu, terdengar tidak ada penyesalan meski nada suaranya lemas.


"Tapi apa alasannya?"


"Karena aku sudah menikah dengan seseorang."


"APA?!" Kana membeliak tak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Mas.... Mas udah nikah? Dengan siapa Mas? Wanita mana yang Mas nikahi?!" Suara Kana sudah bergetar, air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Sebelah tangannya mencengkram ujung kemeja segaramnya dengan kuat.


"Juni." jawab Danu. Jawaban yang memberikan Kana efek seperti tersambar petir di malam hari yang penuh bintang.


"Juni sahabatmu."


"Apa?" Air mata pada akhirnya menumpahi kedua pipi Kana. "Juni... tapi kenapa Mas? Bagaimana mana bisa kalian berdua mengkhianatiku? Kenapa tega sekali? Apa salahku, Mas? Apa kurangku?" Kenapa kamu jahat sekali?!" Teriak Kana penuh pilu.


"Maaf, Kana. sebenarnya sudah lama kami berhubungan. Sudah lama aku berpaling darimu, sudah lama aku dan Juni saling menyukai. Tapi aku punya alasan!" Danu masih mencoba untuk mencari pembelaan dan pembenaran atas perlakuannya pada Kana.


"Oh, ya?! Apa alasanmu mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri, hah?!"


"Karena dia jauh lebih feminin dari pada kamu. Dia bisa merawat diri seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Kamu tahu, bagaimana aku tidak suka jika kamu terlalu cuek dengan penampilanmu. Dan bagiku, kamu itu terlalu maskulin."

__ADS_1


"Apa? Hanya karena itu Mas tega berselingkuh dengan sahabatku?"


"Bukan sepenuhnya salahku dan salah istriku,"


Hati Kana seperti ditusuk parang ketika mendengar Danu membela dan menyebut Juni sebagai 'istriku' padanya.


"Kamunya saja yang nggak pernah menghargai kesukaanku, kamu selalu mengabaikan keinginanku agar kamu lebih merawat diri, lebih feminin, dan nggak selalu kerja di sawah sama bapakmu."


"Mas!" Kana pada akhirnya meninggikan suara. Tak tahan dengan alasan aneh yang dibuat Danu. "Kamu tau sendiri bagaimana kehidupanku. Kalau bukan aku yang ngebantu bapak di sawah, siapa lagi? Kalau bukan aku yang bantu bapak dan ibu bekerja, siapa lagi? Kalau Mas mau aku merawat diri, kenapa Mas nggak beliin saja aku skincare-nya? Mas tau, aku nggak punya banyak uang untuk beli skincare yang nggak murah!"


"Tapi-"


"Apa pun alasanmu untuk membela diri, tetap saja kamu dan Juni jahat padaku! Kalau memang Mas sudah tidak menyukaiku, seharusnya Mas katakan sejak awal ketika Mas berpaling pada Juni. Jangan terus berpura-pura mencintaiku, tapi berkhianat di belakangku, lalu menusukku dengan sangat sadis dan kejam seperti ini! Jahat sekali! Apa kalian tidak punya rasa kemanusiaan?!"


"Kana, aku...."


"Permintaan maaf kamu aku tolak! Sampai kapan pun aku nggak akan memaafkan kalian! Aku sumpahin kalian mendapatkan karma dari apa yang kalian lakukan padaku!" Tanpa perlu menunggu lebih banyak lagi pembelaan yang keluar dari suara Danu, yang tadinya sangat dia rindukan, Kana langsung memutuskan sambungan telepon dan mencabut baterai ponselnya.


"Huaaaaa!" tangisnya pecah di pojokan bangunan bar, tubuhnya merosot sambil bersandar pada dinding. Sambil menekuk kedua lutut, Kana memecahkan tangisnya, melepaskan sesak di dadanya, mencoba menarik parang yang menancap dalam pada hatinya.


"Tega sekali kamu Mas... tega sekali kamu Juni... tega sekali kalian!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ya~


__ADS_2