Kata Hati.

Kata Hati.
Bab 28


__ADS_3

Arif segera turun dari mobilnya begitu sampai di mulut gang tempat dimana kosan Kana berada. Ia berjalan cepat ketika waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Mungkin sudah terlalu larut untuk bertamu, tapi kedatangan Arif bukan untuk bertamu, ia hanya ingin mengatakan sesuatu.


Ia mengatur napasnya yang sedikit menderu, menenangkan dirinya sebentar sebelum kakinya melangkah dua langkah untuk mengetuk pintu.


Tiga kali ketukan tapi tidak ada tanda-tanda sambutan ataupun sahutan dari dalam. Arif kembali mengetuk, suasana masih sama, sunyi. Ketukan selanjutnya dibuat agak kencang sembari memanggil nama penghuni kosan itu. Tapi yang menyahut malah penghuni yang lain.


"Nyari Kana, Mas?" tanya penghuni kosan sebelah.


"Eh, iya."


"Nggak ada jam segini mah, tadi sore udah berangkat kerja malam." tetangga menjelaskan.


"Kerja malam?" Kening Arif berkerut.


"Iya. Biasanya kalo berangkat sore, jam duaan baru dateng. Kalo berangkat malem, jam empatan baru pulang. Kerja apa ya begitu, Mas?"


"Lah mana saya tahu." sahut Arif. Dia pun juga sedang menerka, apa yang dikerjakan gadis mungil itu malam-malam? Bukannya setelah kerja dari apartemennya, Kana juga bekerja lagi sebagai baby sitter? Lalu apa ini? Malam pun juga bekerja? Bahkan sampai pulang menjelang subuh?


"Mas nya siapa? Nanti kalo Kana pulang saya kasih tau ada yang nyari."


"Saya calon suaminya." jawab Arif dengan sadar dan tanpa paksaan.


"Oalah calon suami toh, pantesan langsung panik gitu mukanya, Mas nya nggak tahu berarti ya kalo Kana sering kerja malam begini?"


"Kalau saya tahu, nggak mungkin saya datang."


"Oh, ya, bener juga."


"Saya permisi. Mari."


Kekhawatiran langsung menerpa jiwa dan raga Arif, ia langsung mengeluarkan ponselnya sambil berjalan menjauh dari lokasi kosan setelah berpamitan dengan sang tetangga. Ia mulai menghubungi nomor Kana, tapi hanya terdengar nada sambung, dan nada sambung itu sepertinya tidak ada niatan untuk menenangkan jiwa Arif yang mulai berpikiran jauh ke arah negatif.


"Kemana kamu, Kana?!" Sekali lagi Arif mencoba menghubungi Kana. Tapi tetap nada sambung menjengkelkan yang menyapanya.


"Ah sial!" Arif masuk kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat dengan hatinya yang resah dan gelisah.


*


*


*


Jadwal prakteknya hari ini ada di jam sembilan pagi, itu artinya Arif mempunyai cukup waktu untuk mengintrogasi Kana ketika gadis itu datang nanti. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan dimana Kana bekerja dan apa yang gadis itu kerjakan malam-malam?


Secangkir kopi hitam sudah dia seduh dalam cangkir, aroma kopi menguar memberikan sedikit kesadaran pada dirinya untuk tetap berpikir jernih. Dia harus tenang untuk mengajukan pertanyaan pada Kana nanti. Tidak boleh pakai emosi apa lagi sampai memarahinya.


Tepat seperti perkiraannya, Kana datang akhirnya setelah mengabaikan puluhan panggilannya semalam.

__ADS_1


"Pagi, Dok." Sapa Kana, seperti biasa, dengan riang. Padahal sudah tiga hari ini Arif menggalau memikirkan gadis itu, tapi sepertinya yang dipikirkan hidup dengan tenang-tenang saja.


"Pagi. Kenapa kamu pakai masker?" tanya Arif, melihat Kana yang memakai masker tidak seperti biasanya.


"Oh, saya lagi agak-agak mau flu Dok, jadi dari pada nularin ke Dokter, saya pake masker aja. Kalo Dokter kan harus selalu sehat, kasian pasien Dokter kalo Dokter sakit." jawab Kana panjang sambil memulai aktifitasnya di dapur.


"Kamu nggak lihat panggilan saya semalam?" tanya Arif sambil menyesap kopinya, terkesan santai tapi ekor matanya mengawasi.


"Iya baru lihat tadi pagi. Maaf ya, Dok, semalam saya sudah tidur. Memang ada apa Dokter nelponin saya sampe 67 kali gitu?"


Dia berbohong! Dan berarti dia belum bertemu dengan tetangganya yang semalam, atau mungkin tetangganya lupa menyampaikan kalau gue mencarinya.


"Kamu bilang, kalo saya cape, kamu bisa pijit." Arif kembali beralasan.


"Oh itu, Dokter nggak enak badan?"


"Ya, semalam. Badan saya sakit semua."


"Mau saya pijitin sekarang?"


"Nggak usah, saya udah panggil tukang pijit." lagi-lagi Arif menciptakan karangan bebas.


Kana hanya mengangguk, kemudian sibuk memasak. Anehnya, aroma kopi yang sedari tadi memenuhi ruangan dan indra penciumannya, kemudian aroma masakan yang diolah Kana, tidak seberapa dibandingkan aroma khas Kana. Aroma itu mengalahkan segalanya. Dan aroma itu seperti mempunyai magnetnya sendiri untuk menarik Arif lebih mendekat pada Kana.


Arif pura-pura mencuci cangkirnya hanya untuk berada dalam jarak yang lebih dekat dengan Kana.


"Taro aja disitu Dok, nanti biar saya yang cuci." kata Kana sambil menengok pada Arif. Tepat saat itu mata tajam Arif melihat sesuatu yang janggal pada wajah Kana. Instingnya mengatakan masker itu bukan untuk menutupi virus menjelang flu, tapi ada hal lain yang ditutupi Kana.


"Eh, kenapa Dok?" tanya Kana, matanya menatap bingung pada wajah Arif yang tiba-tiba berubah datar.


"Buka masker kamu."


"Eh? Tap-tapi nanti Dokter ketula-"


"Buka!" Kali ini Arif lebih kuat.


Kana menundukkan kepalanya, tangannya bergerak untuk melepaskan masker pada wajahnya. Tapi sampai masker itu lepas dari wajahnya, Kana tetap menundukkan kepalanya.


"Lihat saya."


Kana menggeleng.


"Lihat saya, Kana!"


Akhirnya kepala gadis itu bergerak, wajahnya kini berhadapan dengan wajah Arif. Seketika itu juga kedua mata Arif membulat sempurna, Kana bisa merasakan kemarahan pada sorot mata Arif.


"Siapa yang melakukan ini padamu?!" Arif bahkan sampai tidak berani menyentuh memar yang ada pada pipi Kana, bahkan sudut bibir Kana juga ikut terluka.

__ADS_1


Arif bukan hanya marah, tapi dia murka. Dia yakin dia bisa menghabisi siapa pun yang sampai membuat Kana seperti itu.


"I-ini kecelakaan kerja, Dok. Saya nggak apa-apa." jawab Kana takut-takut.


"Kecelakaan kerja?!" Arif mencengkram kedua lengan Kana. "Jangan bodohi saya, Kana! Saya tahu mana yang kecelakaan dan mana tindakan kekerasan! Siapa yang melakukannya?! Katakan!"


"Bu-bukan s-siapa-siapa, Dok. Aduh Dok, lengan saya sakit."


Saat itu lah Arif baru menyadari, cekalannya mewakili rasa marahnya. Arif memejamkan mata sejenak, dan menarik napas panjang sampai dada bidangnya ikut membusung.


Lalu tanpa berkata-kata, Arif maraih tangan Kana dan menariknya dengan pelan keluar dari dapur, ia membawa Kana ke sofa.


"Diam disini." Titahnya pada Kana. Dari ekspresi wajah juga sorot mata itu, Kana tahu Arif tidak ingin dibantah.


Tak lama kemudian, Arif kembali dari kamarnya, membawa kotak perobatan dan mulai mengobati memar dan luka pada sudut bibir itu.


"Saya beneran nggak apa-apa, kok, Dok."


"Diam."


Kana langsung mengunci mulutnya.


"Siapa yang sudah lakukan ini padamu?"


Tapi Kana tetap menutup bibirnya rapat.


"Jawab Kana. Saya juga memiliki batas kesabaran."


"Dokter suruh saya tadi untuk diam."


Arif membuang napas kasar seraya melemparkan kapas yang sudah bekas ke meja.


"Apa kamu sedang menguji iman saya?"


"Eh?"


Ah sial! Kenapa gue jadi ingin menciumnya?! Ini gila!


"Saya nggak ngapa-ngapain kok Dok, apa lagi sampe menguji iman Dokter. Mana berani."


"Kalau begitu, jawab yang jujur, siapa yang melakukan ini padamu? Jawab yang jujur atau saya akan menciummu."


"Apa??!"


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ya~


__ADS_2