
Arif menghela napas panjang, menghirup dalam-dalam aorma Kana yang memenuhi ruangan Arif. Segala rasa lelah, letih, lesu mendadak sirna. Apa lagi, Kana menunjukkan hasil karya sapuan make up nya pada wajah manisnya.
"Gimana Dok? Saya udah kelihatan kayak Miss Unipres belom?" tanya Kana dudu pada kursi di seberang Arif. Bertanya dengan wajah serius dan lugu.
"Universe kali." Arif mengoreksi.
"Iya, iya itu." Kana manggut-manggut.
"Cantik." Puji Arif jujur dan keceplosan. Seketika Kana menyunggingkan senyumannya yang membuat jantung Arif mendadak disko. Jedag, jedug, jedag, jedug!
Pria itu pun mengalihkan pandangannya dari ekspresi Kana dan menyibukkan diri membuka kotak bekal makan siang yang diantar Kana. Dan segera mengisi dan memberi nutrisi pada cacing-cacing di perutnya.
"Jadi menurut Dokter, saya udah bisa nih bikin mantan saya klepek-klepek?" Pertanyaan Kana membuat Arif tersedak potongan telur balado yang sedang dikunyahnya.
"Uhuk! Uhuk!"
"Duh, Dokter, pelan-pelan Dok makannya." Kana menyodorkan segelas air minum di atas meja Arif dan segera Arif menenggak hingga setengahnya.
"Kamu udah lupa misi kita? Kamu make over bukan untuk bikin mantan kamu klepek-klepek apa lagi sampai balikan lagi sama kamu, ya. Tapi, misi kita adalah untuk ngebuat mantan kamu, sahabat kamu dan orang-orang yang meremehkan kamu itu pada menyesal." Omel Arif.
"Iya Dok, saya ingat, kok. Kok Dokter jadi marah?"
"Saya marah karena... karena..." Karena apa gue marah? Ah! Gara-gara si Jodi nih! "Pokoknya, nanti kamu saya ajarin gimana caranya membalas mantan kamu dengan cara yang elegan. Kamu nggak perlu belajar sama Jodi apa lagi sampe jalan-jalan berduaan segala."
"Kalo Dotker mau, kita bisa jalan-jalan bertigaan juga kok, atau berempatan ajak Dokter Yoga juga."
Mendengar pernyaan Kana yang selalu polos terkadang membuat Arif gemas ingin mencium bibir mungil itu. Eits... apa barusan? Mencium? Wah!
Arif memilih untuk tidak terlalu menanggapi usulan Kana yang sepertinya gadis itu tidak bercanda.
"Saya permisi balik ya, Dok. Mau lanjut lagi jaga anak."
"Lho, kamu belum keluar dari kerjaan kamu sebagai pengasuh itu?" tanya Arif, merasa tidak rela jika Kana meninggalkannya.
"Belum Dok. Saya nggak tega ninggalin anaknya. Kasian kalo ketemu pengasuh yang modelannya sama kayak pengasuh sebelumnya. Kasian Dok."
"Saya tahu, tapi saya sungguh-sungguh minta kamu pertimbangkan tawaran saya. Kalau memang perlu, saya bisa bantu carikan baby sitter pengganti untuk anak itu. Dan kamu bisa full kerja di tempat saya sampai sore." Kalau perlu sampai malam, sih.
*"*Iya Dok\, nanti saya coba bicara sama majikan saya deh. Saya permisi ya Dok." Kana kemudian hendak keluar dari ruangan Arif\, namun tiba-tiba Arif memanggilnya lagi\, lalu mengambil selembar masker medis berwarna hijau dan memakaikannya di wajah Kana. Tak hanya itu\, ia juga melepaskan ikatan rambut Kana\, hingga rambut panjang Kana tergerai dan menutupi leher gadis itu.
"Kok saya diginiin Dok? Panas tau Dok kalo rambutnya nggak diikat."
"Kalo rambut kamu diikat, saya yang panas."
"Hah?" Kana tidak mengerti.
"Udah sana, hati-hati dijalan. Jangan mau diajak jalan sama orang asing." kata Arif seperti memberikan pesan pada anaknya yang bersekolah SD.
.
__ADS_1
.
.
Sambil menunggu angkutan umum di bawah pohon yang rindang, Kana menyentuh kedua pipinya yang tertutup masker, mengingat bagaimana pujian dari Arif ketika menilai hasil riasannya. Padahal, dokter Jodi juga memujinya, tapi tidak memberikan efek samping apa-apa pada debaran jantungnya. Lain halnya ketika mata Arif menatapnya dan memujinya 'Cantik' dan ditambah tadi bagaimana Dokter Arif memakaikan masker untuknya dan melepas ikatan rambutnya.
Sentuhan tipis-tipis dari Dokter Arif membuat sesuatu bergerak-gerak aneh di dalam perutnya dan hatinya. Kana tersenyum-senyum di balik masker medis pemberian Dokter Arif.
"Duh, kenapa sih kok aku jadi kegeeran gini."
***
Keesokan paginya, Arif terbangun begitu mendengar suara dari arah dapur, bibirnya bergerak membentuk senyuman, menyadari kalau Kana kini sudah berada di dapur, tengah membuat sarapan untuknya. Arif melakukan perenggangan otot sebentar, sebelum akhirnya keluar dari dalam kamar untuk menemui pemilik morphin pribadinya.
"Hei, pagi, Rif!" Seorang perempuan yang tidak diharapkan kehadirannya berada di dalam dapurnya saat ini. Mamakai apron yang biasa dipakai Kana, dan menyiapkan sarapan juga kopi untuk Arif.
"Kamu ngapain di sini? Bagaimana bisa masuk?"
Yunia tersenyum. "Aku kan masih simpen kunci cadangan apartemen kamu."
Arif memejamkan matanya, mencoba mengingat tentang kunci cadangan itu.
"Kalau gitu, mulai sekarang, aku minta kuncinya." kata Arif dengan tegas dan datar.
"Iya, nanti aku kasih. Tapi, kamu sarapan dulu ya, ini aku udah buatin kopi juga untuk kamu." Yunia meletakkan sepiring roti panggang isi dengan secangkir kopi. Mungkin dulu, apa pun yang dibuatkan dari hasil tangan Yunia, akan membuatnya bahagia, tapi kini melihat sarapan yang tersaji di depannya sama sekali tidak membuat Arif berselera.
Ia melihat sekeliling, mencari seseorang yang seharusnya berada di posisi Yunia saat ini. Tapi, tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
"Bukan siapa-siapa."
Bisa gawat kalau Kana datang dan Yunia masih disini, bisa kebongkar sandiwara waktu di butiknya Winna. Ujar Arif dalam hatinya.
"Lebih baik sekarang kamu pulang aja, Yun. Aku mau balik tidur. Jangan lupa kuncinya tarok di atas meja." kata Arif sambil berlalu menuju kamarnya.
Gue harus segera hubungi Kana supaya jangan datang dulu sebelum Yunia pergi.
Tapi langkahnya terhenti ketika pintu apartemen dibuka seseorang. Dan Arif langsung tahu siapa yang datang.
"Pagi Do... eh?" Kana menatap bingung dengan dua orang yang ada di depannya. Arif dengan wajah bantalnya, dengan seorang wanita yang mengenakan apron yang biasa dia pakai dan tersenyum kepadanya.
"Pagi," Yunia menjawab dengan manis. "Halo, aku Yunia, kemarin kita sempat ketemu di butiknya Winna, tapi belum sempat kenalan." Yunia menghampiri Kana yang menatap Arif bingung, dan Arif membalas tatapan mata itu dengan kode-kode unik seperti tiga angka terakhir pada jumlah pembayaran belanja online.
"Kamu pacarnya Arif, kan?" Yunia kembali bersuara.
Oh iya, ini orang yang kemarin itu, kan ya? Mantannya Dokter Arip. Dih, mau ngapain dia pagi-pagi ke apartemen mantan? Oh, jangan-jangan Dokter Arip sama ini cewek balikan lagi?
"Plis kamu jangan salah paham ya sama aku." Yunia seolah mengerti apa yang membuat Kana masih bungkam. "Aku cuma anterin kunci aja sih sebenarnya."
"Kunci?" Kana mengerutkan kening.
__ADS_1
"Iya, dulu aku juga sama kayak kamu, dateng pagi-pagi gini untuk ngecek Arif, siapin sarapan juga. Karena kalo nggak kayak gitu, Arif paling cuma minum kopi doang."
"Yun!" Arif mulai geram mendengar bagaimana Yunia sepertinya sengaja untuk membuat 'pacar'nya cemburu.
"Oh gitu?" Kana membalas ucapan Yunia dengan wajah polosnya, walaupun sebenarnya dalam hati sudah sebal. "Mbak ini mantan pacarnya Dokter Arif yang selingkuh itu, kan?" Pertanyaan Kana sukses membuat Yunia kehilangan senyum manis penuh percaya dirinya.
Arif sampai melongo mendengar pertanyaan Kana yang polos tapi njleb.
"Maaf nih, Mbak, saya bukan tipe cewek yang cemburu sama masa lalu yang suram dan penuh pengkhianatan. Lagian Mas Arif bukan tipe cowok yang sama kayak Mbak."
"M-maksudnya?"
"Tipe-tipe peselingkuh di belakang pacarnya. Iya, kan, Mas?" Kana menghampiri meja makan dimana Arif juga masih berdiri disana.
"Iya sayang." jawab Arif dengan nada sangat lembut meski suaranya masih serak khas bangun tidur.
"Dan ini," Kana membawa sepiring roti dan secangkir kopi buatan Yunia dan memberikannya pada Yunia. "Mbak yang makan dan minum aja ya. Soalnya saya sudah punya menu sendiri untuk Mas Arif. Empat sehat, lima bermanfaat."
Yunia menerima begitu saja pemberian Kana tanpa banyak mengelak namun dengan hati yang gondok.
"Dan Mbak bisa bawa apronnya kalo Mbak suka. Mas Arif udah beliin saya apron spesial kemarin, ya kan Mas?" Lagi-lagi Kana mengerling pada Arif yang dibalas dengan sahutan lembut dari bibir pria itu.
"Iya, sayang."
"Jadi, karena saya udah dateng, jadi sebaiknya Mbak pergi dari sini, jangan lupa kunci punya Mas Arif dibalikin lagi, jangan diembat. Tinggalin kuncinya disini, seperti dulu Mbak menyia-nyiakan Mas Arif."
Lagi-lagi kata-kata Kana yang lugu dan polos itu membuat Yunia semakin kehilangan mukanya. Niat hati ingin mencari perhatian pada Arif, dan begitu melihat pacar barunya Arif datang, ia langsung improvisasi untuk membuat pacar dari mantan pacarnya itu cemburu, tapi malah dia yang kehilangan muka sampai kehilangan kosa kata dalam otaknya.
"Mana Mbak kuncinya?" Kana mengulurkan tangan dengan wajahnya yang menampilkan ekspresi polos.
"Ada di kantong apron ini." jawab Yunia dengan suara sepelan suara nyamuk.
Kana dengan mantap melangkah kembali mendekati Yunia dan merogoh tangannya ke dalam saku apron yang dikenakan Yunia untuk mengambil kunci milik Arif.
"Ada lagi barang milik Mas Arif yang masih Mbak simpen?"
Yunia menggeleng.
"Ada lagi urusan Mbak disini selain balikin kunci dan numpang bikin sarapan?" tanya Kana lagi.
Yunia kembali menggeleng. Ia merasa sangat malu. Apa lagi melihat bagaimana Arif menatap Kana penuh dengan tatapan sayang dan terpesona.
"Kalau gitu, Mbak bisa pergi sekarang. Jangan jadi setan diantara saya dan Mas Arif." Kana mengambilkan tas selempang Yunia yang tergeletak di atas table bar lalu menyantelkannya pada bahu Yunia. Kemudian ia membuka pintu lebar-lebar agar Yunia tidak bisa mengelak dengan beralasan lupa dimana pintu keluarnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung ya~