Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 23


__ADS_3

Kana bangun pagi ini dengan perasaan mengganjal gara-gara semalam dia merasa sudah membuat kesalahan pada Arif. Kana yakin betul Arif pasti marah padanya, padahal Arif sudah banyak membantunya bahkan siap menikahinya padahal itu tidak ada dalam rencana. Arif sudah banyak berkorban untuknya, tapi Kana malah dengan bodohnya menuruti kemauan Rudi untuk mengetes Arif di penginapan itu.


"Bodoh banget sih aku!" Runtuknya sambil memakai pakaiannya setelah selesai mandi. Kemudian ia membuka pouch skin care, menuruti apa yang selama ini Yoga ajarkan untuk selalu mengaplikasikan skin care pada wajahnya, terutama sunscreen.


Setelah selesai, Kana keluar dari kamarnya dan mencari Arif, tapi semua pria di rumah itu tidak ada. Hanya ada Ibu yang di dapur.


"Bu, Bapak, Rudi sama Mas Arif kemana?" tanya Kana.


"Semuanya ke sawah pas kamu lagi mandi tadi." jawab Ibu sambil menyiangi sayuran.


"Mas Arip juga?" tanya Kana setengah kaget.


"Iya, katanya mau ikut bantu-bantu di sawah." jawab Ibu sambil menyunggingkan senyum lebar. "Ibu bahagia sekali kamu ketemu sama Nak Arip. Dia laki-laki yang soleh, sopan, baik dan kelihatan banget sayang sama kamu. Semoga setelah ini nggak ada lagi yang menyakiti kamu." ujar Ibu seraya menatap lembut puterinya.


Kana langsung menghampiri ibunya dan memeluknya dari belakang. Hatinya begitu sesak. Arif sangat diterima oleh keluarganya, sementara hubungan mereka hanya sebatas sandiwara. Dan Kana pun tidak berani untuk berharap lebih pada Arif. Dia sadar diri, sadar dengan latar belakang dirinya dan latar belakang Arif yang sungguh berbeda. Mimpi menjadi Cinderella pun Kana tak berani, apa lagi meminta Arif untuk sungguh-sungguh mencintainya.


Kana menguatkan hatinya agar tidak terlampau terbawa perasaan atas semua sandiwara yang terjadi di depan keluarga juga orang-orang di desa. Dia tidak tahu bagaimana kedepannya nanti, rencana pernikahan mereka bulan depan dan segala macamnya. Kana yakin, Arif akan menemukan jalan keluar untuk mereka. Dan perlu Kana lakukan adalah mengikuti setiap arahan Arif.


Setelah selesai membantu ibu di dapur, Ibu menyiapkan makan siang di dalam rantang untuk dibawa Kana ke sawah, tempat dimana bapaknya, Rudi dan Arif berada.


Sepanjang perjalanan, banyak yang menyapa Kana, sungguh perubahan yang sangar drastis. Padahal dulu, orang-orang hampir tidak menyadari keberadaan Kana.


"Bapak!" Panggil Kana begitu sampai di saung. Ia melambaikan tangan pada tiga pria beda generasi itu.


Akhirnya Bapak, Rudi dan Arif beranjak dari tengah sawah untuk menikmati makan siang mereka yang sederhana tapi sangat nikmat.


"Mas Arif kenapa nggak bilang ikut ke sawah?" tanya Kana.


"Yaelah, emangnya harus ijin dulu sama Kakak?" Cibir Rudi sambil menuang nasi ke atas alas daun pisang.


"Ya bukan begitu, Mas Arif kan nggak biasa di sawah, kalo sampe jatoh gimana? Atau ketemu ular sawah gimana?" kata Kana.


Bapak dan Rudi malah terkekeh, sementara Arif hanya senyum-senyum saja.


"Kayaknya kamu nggak tau apa-apa tentang calon suami mu ya." kata Bapak.

__ADS_1


"Eh? Maksudnya?" Kana bingung.


"Nak Arif bahkan lebih lihai dari pada si Rudi. Kamu lihat, disebelah kanan itu semuanya hasil tanamnya Nak Arif, si Rudi malah nggak sampe setengah petak."


Rudi mencibir.


"Mas Arif bisa?" tanya Kana dengan polosnya.


"Bisa." jawaban singkat Arif entah bagaimana sedikit mencubit hati Kana. Ia sungguh berpikir Arif masih dalam mode marah padanya.


Duh, gimana caranya minta maaf sama Pak Dokter ya? Keluh Kana dalam hatinya.


Setelah selesai makan siang, dan hari yang semakin siang juga terik. Bapak memutuskan untuk menyudahi pekerjaan hari ini, tiga petak sawah sudah ditanam semua, berkat Arif, pekerjaan jauh lebih cepat selesai.


Tidak seperti Rudi dan Bapak yang langsung pulang, Kana dan Arif berjalan-jalan disekitar perairan buatan warga desa untuk mengairi sawah.


"Dokter, saya benar-benar minta maaf untuk kemarin malam, seharusnya saya tetap kasih tau tentang penginapan itu ke Dokter, seharusnya saya minimal kasih bocoran kalo Rudi mau ngetes Pak Dokter, seharusnya-"


"Jangan panggil saya Dokter selama disini." Arif membungkuk, mencondongkan tubuhnya di depan Kana hingga wajah mereka saling sejajar. "Ingat, kita sedang dalam misi."


Jantung Kana yang mendadak dangdut melihat sebegitu dekatnya wajah tampan Dokter Arif sampai terkejut dan lupa ingatan.


"Udah nggak usah dipikirkan, saya udah nggak marah kok, saya minta maaf juga, nggak seharusnya juga saya marah sama kamu." ujar Arif yang membuat hati Kana adem sari. Lega rasanya mendengar bagaimana Arif tak lagi marah padanya.


Tak jauh dari mereka adala sebuah air mengalir dari sebuah bambu.


"Apa itu air bersih?" tanya Arif.


Kana mengangguk.


"Apa boleh dipakai untuk cuci tangan?"


"Boleh kok. Mau dipake buat cuci muka, cuci kaki juga boleh, yang ga boleh itu kalo dipake buat mandi disitu langsung." jawab Kana merembet gitu aja tanpa maksud melucu sama sekali. Tapi Arif malah tergelak mendengar ocehan Kana yang kadang memang merepet aja.


Disaat Arif menuju air mengalir itu, Kana menunggu agak jauh. Karena gerakan Arif mencuci tangan dan wajah begitu menantang.

__ADS_1


"Kana." Suara lain memanggilnya, Kana menoleh. Danu disana, tanpa Juni. Lelaki itu hanya sendirian. Matanya sendu melihat Kana. Ada penyesalan dalam sorot mata Danu, begitu pun dengan senyum sedihnya.


Kana hendak pergi meninggalkan Danu, tapi pemuda itu menangkap tangan Kana, menahan Kana berada ditempatnya.


"Lepas, Mas!" Pinta Kana sambil berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Danu.


"Nggak akan, sampai kamu mau dengerin dulu semua penjelasan aku." kata Danu tak tahu malu, eh, apa memang tidak ada malunya ya?


"Dih, mau ngejelasin apa lagi sih? Kan Mas Danu udah jelasin semuanya waktu di telepon itu? Aku terlalu maskulin, kan? Aku nggak bisa merawat diri kayak Juni. Ya udah nggak apa-apa. Silakan lanjutkan kisah Mas Danu sama Juni, lagi pula Mas Danu memang harus bertanggung jawab sama apa yang udah Mas Danu dan Juni lakukan. Mungkin juga aku harus terima kasih sama kalian, kalo aja kalian nggak mengkhianati aku, mungkin aku nggak ketemu sama Mas Arif." kata Kana begitu tenang walaupun tangan dan kaki sudah sangat geregetan untuk mencakar dan menendang Danu sampai ke luar angkasa.


"Nggak, nggak semua yang aku katakan itu benar, Kana. Maafkan aku, aku yang salah, aku yang buta nggak melihat kecantikan kamu yang selama ini tersembunyi dan..."


"Ish, udah deh Mas, jangan muji-muji aku lagi, nggak akan mempan. Aku udah dapet laki-laki yang seribu kali lebih baik dari pada kamu. Dan kamu juga udah dapet perempuan yang setipe sama kamu, kan? Sama-sama tipe pengkhianat. Jadi ya udah, nggak usah nyesal sama keputusan masing-masing. Jalani aja hidupmu, rumah tanggamu dengan pilihanmu. Aku juga akan segera menikah dengan pria yang menghormatiku sebagai wanita baik-baik." Kana menghentakkan tangannya, tapi Danu mencekalnya lagi, kali ini lebih kuat sampai membuat Kana kesakitan.


"Lepas Mas, kamu biki tangan aku sakit!"


"Nggak! Kamu harus tau dulu, kalo aku-"


Belum sempat Danu menyelesaikan kalimat bucinnya yang bikin mual, tangannya sudah dihempaskan oleh Arif dengan sangat kasar. Dan Arif langsung berdiri di depan Kana dengan sangat protektif.


"Apa kamu punya kotoran menumpuk di dalam telingamu? Wanitaku bilang, lepas! Jadi, jangan pernah menyentuh wanitaku lagi." Ujar Arif dingin.


"Heh, orang kota, nggak usah ikut campur deh!" Danu sok keren.


"Tentu saja aku ikut campur, kamu mengusik wanitaku, calon istriku! Jadi menjauh darinya dan keluarganya atau..." Arif agak mencondongkan tubuhnya, bersikap mengintimidasi pada Danu yang mentalnya sebenarnya hanya mental ayam kandang. "Statusmu sebagai anak kepala desa akan berakhir." Bisik Arif dengan nada rendah tapi terdengar mengerikan di telinga Danu.


"Ayo, sayang." Arif menggenggam tangan Kana dan membawanya pergi.


Kekesalan dan amarah yang meluap tadi seketika hilang, lenyap begitu saja saat Arif dengan sangat keren menolong Kana dari Danu, apa lagi ketika Arif terang-terangan membelanya sebagai apa tadi dia bilang? Wanitaku? Calon istriku?


Ah, boleh nggak sih aku geer?


.


.

__ADS_1


.


Bersambung ya~


__ADS_2