Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 42


__ADS_3

Lambaian tangan diberikan untuk mengiri kepergian Arif dan Kana kembali ke ibu kota setelah malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri yang sah secara hukum agama dan negara. Malam pertama yang paling romantis yang pernah dialami oleh keduanya. Meski tidak ada aksi pembukaan segel dan pembobolan brankas paling berharga, namun malam pertama mereka terasa begitu intim dan manis. Keduanya saling membuka diri, menceritakan ketakutan masing-masing, menceritakan hal-hal yang membuat mereka bahagia, menceritakan tentang mimpi-mimpi masa depan yang kini akan mulai mereka rajut bersama-sama, dalam senang dan sedih, Dan pada akhirnya obrolan hangat membawa mereka tidur saling berpeluk di atas ranjang yang kecil, namun malam itu, ranjang kecil itu justru membawa kehangatan dan kenyamanan dari pada ranjang di hotel bintang lima.


Kana membiarkan kaca jendelanya terbuka, membiarkan angin pegunungan menyapa membelai setiap kulit permukaan kulitnya dan membuat helai-helai rambutnya berhamburan menghantarkan aroma terapi pribadi milik Arif dengan sangat baik. Sesekali Kana melambaikan tangannya pada orang yang dia kenal yang berada di sawah.


Arif sesekali melihat senyum bahagia Kana, ah... hatinya menghangat seketika.


"Mas..." Panggil Kana, sesuai dengan kesepakatan mereka semalam, bahwa mulai malam itu dan seterusnya, Kana tidak lagi boleh memanggil Arif dengan panggilan 'Dokter Arif' atau 'Pak Dokter'. Ah, selain itu, tidak ada lagi panggilan 'Saya' diantara mereka, yang ada hanya, 'aku' 'kamu' dan 'Mas' sementara panggilan Arif untuk Kana tak kalah membuat hati Kana berkedut senang sekaligus malu-malu.


"Ya, nafasku."


Sumpah, kali pertama Kana mendengar pilihan panggilan Arif untuk Kana sangat membuat Kana tidak mampu menahan tawanya. Nafasku? Norak banget, kan? Tapi pada akhirnya panggilan itu membuat Kana mesem-mesem sendiri, malu tapi senang dipanggil dengan panggilan spesial pake telur dan sosis dan bakso juga sawi hijau yang seger.


"Boleh nggak, kalo panggilannya khusus kalau kita lagi berdua aja. Kalo lagi ada orang lain kayak tad di depan Ibu, Bapak dan Rudi, panggilnya pake nama aja."


"Lho kenapa? Bapak dan Ibu juga tadi senyum-senyum aja kok dengernya." Sahut Arif.


"Ya, karena nggak mungkin juga diketawain di depannya Mas dan aku, kan?"


"Kamu malu dipanggil gitu? Padahal kamu itu memang seperti nafasku. Ah, apa aku panggil oksigenku aja ya?"


"Mas!!!" Kana melotot. Arif tertawa.


"Nggak ada orang yang panggil istrinya kayak gitu tau."


"Kalo gitu aku jadi yang pertama."


"Masss." Kana akhirnya merengek agar Arif tidak memanggilnya seperti itu jika di depan orang lain. Cukup saat mereka berdua saja.


"Trus aku manggilnya apa dong?"


"Ya biasa aja, aku juga manggil Mas juga biasa, kan?"


"Tapi buat aku itu panggilan spesial."


Kana menepuk jidadnya, tak menyangka sama sekali, dokter Arif yang selama ini selalu bersikap keren ternyata juga mempunya sisik norak yang tak tertolong jika sedang bucin seperti ini.


"Ya panggil yang normal-normal aja gitu, Mas. Atau panggil nama aja juga udah terasa spesial kok buat aku."


Arif mengangguk-angguk, entah setuju atau mengangguk saja agar Kana berhenti merengek untuk memintanya mengganti panggilannya.


"Oke, oke, nanti aku panggil biasa aja kalo di depan orang lain." Sahut Arif sambil mengelus rambut Kana yang lembut pada permukaan telapak tangannya.


"Oh, ya, omong-omong semalam aku lupa tanya sama Mas." kata Kana sambil menutup kaca jendelanya karena kini mobil sudah mulai keluar dari pedesaan dan mulai memasuki jalanan kota menuju pintu tol.


"Tanya apa?"


"Kok bisa semuanya kayak udah direncanain gitu sih?"

__ADS_1


"Apanya?"


"Pernikahan kita."


"Kan memang udah direncanain dari kali pertama kita datang kesini, sayang."


Duh, panggilan sederhana yang udah mainstream itu justru terdengar lebih membuat Kana jauh lebih jedag-jedug nih jantungnya.


"Ih, tapi kan kemaren itu dadakan. Gimana kalau misalnya jawabanku masih enggak?"


"Rencananya kalau kamu masih jawab enggak, aku akan gendong kamu paksa, bawa kamu langsung ke depan penghulu aja."


"Hah?" Kana melongo mendengar jawaban Arif.


"Hehehe, canda. Ya nggak mungkin gitu lah, barbar amat aku."


"Trus kok bisa semuanya pas? Mas udah siapin surat-surat juga, dan taunya surat-suratku juga udah siap. Pak RT dan tetangga-tetangga yang lain juga tau, dokter Yoga, dokter Jodi sama Mbak Winna juga bisa sampe dateng, itu berarti kan memang udah dikabarin, kan?"


"Atau mungkin mereka sebenarnya punya kekuatan supernatural?" ujar Arif sambil menunjukkan ekspresi sok terkejut dan itu malah membuat Kana melotot galak.


"Bisa nggak jawabnya yang serius gitu loh."


Arif tertawa, senang sekali melihat ekspresi cemberut istrinya, semakin kiyut di mata Arif yang kini dimatanya hanya ada Kana seorang.


"Oke, jadi sebenarnya aku udah ngabarin Rudi, sudah kasih tau semua rencana aku untuk melamarmu lagi nanti setelah aku selesai seminar, jadi aku minta Rudi untuk nggak ngasih tau kamu, tapi minta bantuan dia, Ibu sama Bapak untuk siapin surat-surat, ngabarin Pak RT dan beberapa tetangga untuk jadi saksi dan membuat janji dengan penghulu. Walaupun sebenarnya takut juga sih, takut kalau tiba-tiba rencanaku gagal, atau kamu yang misalnya masih keras kepala untuk menutup kesempatan untuk kita. Tapi aku tetap yakin, aku nggak mau menyerah." jawab Arif membuat Kana kehilangan kosa katanya karena sama sekali tidak menyangka kalau Arif akan menjalankan rencana yang nekat seperti itu apa lagi sampai melibatkan Pak RT segala.


Tiba-tiba saja Arif tertawa dan tawa itu membuat Kana jengkel dan kembali cemberut.


"Sebenarnya waktu kamu berusaha untuk matahin hati aku sore itu, aku nggak langsung pulang, aku cukup lama di dalam mobil sampai tau-tau aku ngelihat laki-laki yang namanya Bayu itu keluar dari dalam gang. Jadi, aku nekat untuk nyamperin dia, dan tanya to do point sudah berapa lama dia jadi pacar kamu."


"Apa?" Kana melebarkan matanya. "Mas... Mas ketemu dan tanya langsung ke Bayu?"


"Ck, ck, ck," Arif menggelengkan kepala sambil melirik Kana dengan tatapan jahilnya. "Kenapa bisa-bisanya otak kamu kepikiran untuk jadiin anak SMA itu sebagai tumbal untuk mematahkan hati aku, sih?"


"Ih, bukan tumbal." Kana mengalihkan wajahnya, Ah, dia sungguh malu, kebohongannya sudah langsung diketahui oleh Arif rupanya hari itu juga, pantas saja, alih-alih melangkah mundur, Arif malah memberikannya cincin.


Arif membuka jendela untuk menempelkan kartu elektroniknya untuk membayar masuk di gerbang tol.


"Trus apa kalo bukan sebagai tumbal?"


"Pengalih untuk ngebuat Mas berhenti berharap sama aku."


"Huh, kejamnya." Mobil kembali melaju setelah portal tol terbuka.


"Maaf." Kana meringis. "Trus apa karena Mas tau Bayu bukan orang yang aku suka, Mas langsung siapin semuanya gitu?"


"Jadi, abis aku ngobrol sama Bayu, Bayu bilang kalau sebenarnya kamu dan Bayu nggak ada rencana untuk pergi kemana-mana, jadi aku mutusin untuk balik lagi ke kosan kamu, dan..."  Arif nyengir.

__ADS_1


"Dan...?"


"Dan aku dengar semua percakapan kamu sama Riska."


"Hah?" Kedua mata Kana melebar. Kedua pipinya merona menahan malunya yang tak tertolong. Niat untuk benar-benar membuat Arif mundur dan berhenti berharap malah membuat pria itu mengetahui semua isi hatinya dengan lengkap tanpa jeda iklan.


Kana sampai menutup wajahnya dengan kedua tangannya saking dia malu. Melihat bagaimana tingkah Kana yang menggemaskan seperti itu membuat Arif tertawa sendiri. Ah, perjalanan kembali ke ibu kota sama sekali tidak membuatnya lelah. Ia sungguh menikmatinya.










Arif membukakan pintu apartemen dan mempersilahkan Kana untuk masuk lebih dulu, ia membuka tirai hingga matahari menjelang sore menyinari ruangan apartemen itu dengan sinarnya yang tidak lagi sesemangat sinar pada siang hari yang terik. Kana masih berdiri di tengah ruangan itu sementara Arif sudah membawa masuk koper dirinya dan tas Kana yang berisi baju-baju miliknya ke dalam kamar yang biasanya hanya ditempati oleh Arif seorang. Tapi mulai malam ini, tempat tidur besar itu akan menjadi milik mereka berdua. Kamar pribadi itu akan menjadi kamar pribadi milik mereka.


Kana masih mengenang kali pertama dirinya datang ke apartemen itu, melamar sebagai ART untuk dokter muda yang memiliki ekspresi super dingin dan tidak bersahabat. Dan kini, siapa yang akan menyangka, dirinya justru menjadi istri dari pemilik apartemen yang dulunya dia panggil majikan.


Ah, lucu sekali hidup ini.


Grep! Dari belakang, Arif melingkarkan tangannya pada pinggang Kana, mendekapnya erat, menghidu dalam-dalam aroma tubuh Kana yang - entah sudah berapa kali dikatakan - membuatnya kecanduan tak tertolong.


"Selamat datang, istriku." Bisiknya tepat di telinga Kana.


Krrruuuuukkkkk! Bunyi misterius tiba-tiba terdengar cukup jelas pada ruangan apartemen yang sunyi. Kana menggigit bibirnya.


"Suara apa itu?" tanya Arif dengan nada pura-pura kaget.


"Musik metal." jawab Kana sambil nyengir polos tanpa dosa.


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2