Kata Hati.

Kata Hati.
Bab 24


__ADS_3

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Arif. "Apa dia melukai tanganmu?" Nada khawatir terdengar dalam suara beratnya.


"Saya nggak apa-apa, Dok eh, Mas." jawab Kana. Entah efek tangannya yang dipegang Arif yang dibolak-balik oleh Arif untuk melihat apakah ada luka akibat cekalan tangan Danu tadi, atau apa karena di bawah sinar matahari dan efek bayangan pohon-pohon rindang membuat visual Arif sangat tampan hingga jantung Kana berdetum-detum hebat seperti ini?


Nggak boleh geer. Nggak boleh geer. Kana mengingatkan dirinya sendiri.


"Ehm, makasih ya Mas, tadi udah belain saya di depan Mas Danu." kata Kana.


Arif tersenyum. Lalu ketika sudah memastikan tidak ada luka atau kemerahan akibat cekalan tangan Danu tadi, Arif melepaskan tangan Kana. Anehnya, ada perasaan tidak rela pada Kana ketika tangannya dilepaskan oleh Arif.


"Memang itu misi kita, bukan? Membuat mantanmu itu menyesali perbuatannya yang sudah meremehkan mu. Sekarang dia benar-benar menyesal sudah menyia-nyiakan mu." jawab Arif sambil berbisik. Jangan ditanya bagaimana hebohnya jantung dan seluruh organ dalam tubuh Kana ketika Arif harus mencondongkan kepalanya hingga ke samping telinga Kana untuk berbisik tadi.


"Eh, iya. Saya rasa kita berhasil."


Arif mengangguk. "Kita pulang sekarang?"


Kana mengangguk.


Selama perjalanan menuju rumah, beberapa warga menyapa Kana dan Arif. Ada yang memberikan mereka ucapan selamat juga dan ikut senang dengan kabar bahagia yang tersebar bahwa Kana akan segera menikah dengan orang kota. Tapi setelah itu, ada seseorang yang datang, setengah berlari ke arah mereka.


"Kana! Kana! Cepat pulang, itu Bu Dewi lagi ngamuk di depan rumahmu! Cepat pulang!" kata orang yang membawa informasi mencengangkan itu.


Tidak tahu siapa Bu Dewi ini, tapi begitu melihat perubahan wajah Kana yang mendadak penuh kebencian pun dapat Arif simpulkan, sosok Bu Dewi ini bukan orang yang menyenangkan.


Kana dan Arif tiba tepat waktu ketika orang-orang suruhan Bu Dewi tengah mengangkuti barang-barang dari dalam rumah orang tua Kana. Sementara Rudi sudah ditahan ayah agar tidak mengamuk, dilihat adanya luka pada wajah Rudi, sepertinya Rudi baru saja dihajar oleh salah seorang dari orang-orangnya Bu Dewi itu. Ibu sudah menangis sambil memeluki Rudi.


"Berhenti! BERHENTI!" teriak Kana sekuat tenaganya hingga membuat semua aktivitas terhenti seketika, termasuk jantung Arif. Ini kali pertama Arif melihat Kana seperti itu.


"Eh, ini dia sudah datang." sosok perempuan bertubuh gemuk dengan perhiasan yang menggantung pada leher, pergelangan tangan dan kesepuluh jari tangannya menghampiri Kana. Wanita itu melihat Arif dengan tatapan sebelah mata. Lalu kembali kepada Kana.


"Wah penampilanmu benar-benar seperti orang kota ya sekarang, Na." Sindir Bu Dewi. "Tapi percuma toh, mau penampilanmu berubah jadi seperti putri keraton pun kalau kamu nggak tepati janji melunasi hutang keluargamu ini, percuma!"


"Saya udah bilang, saya pasti akan lunasi. Bukannya jatuh tempo masih satu tahun lagi? Kenapa malah jadi begini?" Suara Kana penuh dengan kemarahan, bahkan tatapan mata yang biasanya menyorot polos itu pun ditutupi kabut kemarahan yang luar biasa.


"Ya, saya berubah pikiran lah, dengar-dengar kamu kan akan nikah sama orang kota, ya sudah buat apa mengulur waktu sampai satu tahun, toh?" jawab Bu Dewi itu dengan sangat santai. "Tapi rupanya ini orang kota yang akan jadi calonmu?" Bu Dewi melihat Arif dari atas ke bawah.


Kaus polos, celana panjang yang digulung dan terdapat noda-noda bekas tanah sawah dan sandal jepit melengkapi penampilan Arif siang itu dihadapan Bu Dewi.

__ADS_1


"Hah, rupanya nggak ada harapan juga." Cibir Bu Dewi. "Jadi dari pada membuang waktu saja sampai setahun, lebih baik saya cicil dari sekarang, kan? Barang-barang rongsok dari rumahmu itu juga nggak menutupi semua hutang kalian."


"Tetap aja bukan seperti ini perjanjiannya!" Teriak Kana. "Sampai jatuh tempo kami bisa menyicil pembayarannya, dan sejauh ini kami sudah mencicilnya. Kenapa sekarang malah jadi begini?!"


"Heh, harusnya kamu tuh terima kasih ya nggak saya laporin polisi. Saya udah bantu kamu mencicil hutang dengan ambil sebagian barang-barang rongsokan itu. Lagi pula, seperti dugaan saya, mau nikah sama orang kota sekali pun, hidup kalian akan tetap susah dan-"


"Berapa hutangnya?" Potong Arif tiba-tiba. Suaranya tenang tapi tatapan matanya tajam.


Bu Dewi melihat Arif, tatapannya meremehkan, bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah cabai itu menyeringai menjengkelkan.


"43 juga. Dan keluarga calon istrimu ini baru mencicil tiga kali, jadi sekarang sisa 38 juta. Duit dari mana mereka bisa melunasi utang dalam setahun? Saya sarankan sebaiknya kamu urungkan niatmu menikahi anak gadis ini, karena kamu akan-"


"Kami juga nggak akan berhutang ya kalo bukan Bu Dewi yang menjanjikan yang manis-manis taunya busuk!" Rudi akhirnya bersuara. Tak tahan melihat Bu Dewi merendahkan keluarganya.


"Eh, Rud, kamu itu harusnya makasi sama saya, kalo bukan karena saya, kamu nggak akan jadi anak kuliahan, cuma kerja di sawah seperti bapakmu itu."


"Saya nggak pernah minta untuk dikuliahkan, ya. Saya udah cukup bisa membantu keluarga saya, tapi kamu malah memaksa saya kuliah dan malah menipu kami dengan perjanjian mu itu."


"Loh saya nggak menipu ya, kan saya sejak awal sudah bilang kalo saya hanya membantu dan itu artinya Saya bukannya mau membiayai kuliah kamu." Bu Dewi menjawabnya dengan santai dan remehkan .


"Iya. Mana ada orang yang mau memberikan pinjaman pada keluarga miskin seperti mereka? Cuma saya yang mau. Harusnya mereka berterima kasih sama saya sudah saya beri keringanan bunganya, saya beri waktu jatuh tempo juga."


"Wah, Anda bahkan memberikan bunga pada keluarga Kana yang sejak awal nggak mau berhutang? Anda tau? Seharusnya Anda yang melanjutkan pendidikan.'


"Heh, kamu orang luar nggak usah ikut campur. Lagi pula, kamu juga nggak akan bisa membantu, kan? Jadi diam aja." Cibir Bu Dewi.


"Ayo cepat, ambil lagi apa yang bisa diambil." Bu Dewi kembali memerintahkan anak-anak buahnya.


"Saya akan lunasi sekarang." ucap Arif bulat, tanpa keraguan sama sekali.


"Mas! Jangan!" Tolak Kana.


Bu Dewi terkekeh meremehkan. "Mau kamu lunasi pakai apa? Ginjalmu?"


"Saya akan melunasinya dengan ginjal jika Anda memberikan pinjaman dengan ginjal. Jika Anda masih memberikan pinjaman dengan uang, saya membayarnya juga dengan uang. Sesederhana itu logikanya." Balas Arif tak kalah meremehkan Bu Dewi.


"Sombong sekali! Memang berapa sih uang kamu punya?"

__ADS_1


"Banyak. Bahkan saya bisa bayar dua kali lipat orang-orang Anda untuk mengembalikan barang-barang itu kembali ke dalam rumah dan membuat mereka bekerja dengan saya untuk gantian merampas harta benda yang ada di rumah Anda." Kali ini jawaban Arif cukup membuat Dewi tertegun. Entah karena percaya dengan omongan Arif, atau karena aura yang terpancar dari sorot mata juga nada suara Arif membuat nyali menjadi ciut.


"O-oke. Kalo memang kamu bisa melunasi hutang keluarga calon istrimu yang miskin ini. Buktikanlah dengan melunasinya sekarang, nih, kirim ke nomer rekening ini!" Bu Dewi menyerahkan sebuah kartu nama, dimana pada kartu itu terdapat nama wanita itu, nomer ponsel dan nomor rekeningnya. Dan pada bagian atas tertulis jelas: Pinjaman Cepat!


"Rentenir rupanya?" Arif melirik meremehkan.


"Baik akan saya lunasi."


"Oke, saya tunggu sampai sore ini. Karena saya baik hati, saya tau untuk transfer uang, satu-satunya ATM di desa ini harus 30 menit perjalanan."


Gantian Arif yang terkekeh meremehkan. "Apa Anda nggak tau pembayaran via online? Mobile banking?'"


Bu Dewi terlihat gugup dan malu. "Lihat sekarang? Seharusnya Anda yang sekolah lagi." Arif terkekeh. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, dan membuka aplikasi mobile banking.


"Jangan Mas, saya mohon. Biar ini jadi tanggung jawab keluarga saya." Tolak Kana.


"Eh, Kana, biarin aja sih calon suami mu ini mau melunasi hutang keluargamu."


"Mas!" Kana tidak menghiraukan omongan Bu Dewi.


Tapi Arif hanya tersenyum, lalu fokus pada pembayaran yang dia lakukan via ponselnya.


"Oke, sudah lunas!" Arif menunjukkan bukti pembayarannya pada Bu Dewi. Kedua mata wanita gemuk itu pun melotot, membeliak dengan sangat lebar melihat deretan angka itu sudah masuk ke dalam rekeningnya hanya dalam hitungan detik.


"Buat surat pernyataan lunas sekarang juga." sambung Arif tegas. Matanya menatap lebih tajam hingga rasanya badan gemuk Bu Dewi bolong-bolong.


"Surat pernyataan?" Bu Dewi sepertinya masih loading.


"Sayang, bisa aku minta kertas dan pulpen?" Arif bertanya pada Kana, dengan suara yang menenangkan jiwa dan raga.


.


.


.


Bersambung ya

__ADS_1


__ADS_2