Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 37


__ADS_3

Kana melebarkan senyum, hatinya mantap sekarang, tak lagi bimbang, tak lagi ragu, tak lagi insecure. Sudah berhari-hari dia sudah tahu apa kata hatinya bilang, sudah tahu apa yang kata hatinya mau, hanya saja dia belum menemukan sesuatu yang... klik untuk memantapkan hati.


Ia pernah ragu dengan ketulusan dan kebaikan juga janji-janji manis yang pernah diucapkan Arif karena kegagalan yang pernah tercipta dengan Danu. Ia butuh berhari-hari meyakinkan diri kalau Arif dan Danu adalah dua manusia dari level yang berbeda. Dan setelah meyakini bahwa Arif sepertinya titisan malaikat tanpa sayap, malah Kana yang jadi merasa tidak percaya pada dirinya. Minder. Dan takut keberadaan dirinya malah menorehkan noda pada citra Arif yang sempurna.


Tapi kini tidak. Ia sudah membuka mata hati juga setiap sel dalam otaknya, bahwa Arif sudah sadar akan kondisi keluarganya, tapi bukannya mundur dokter kota itu malah terus bergerak maju. Arif bukan hanya tulus kepadanya tapi juga kepada keluarganya.


Kini hati Kana diselubungi rasa semangat membara, saking semangatnya dia sampai kehilangan keseimbangan dan....


"Eh, eh, waaa!"


Bruk!


Badannya sampai sewajah-wajahnya jatuh di atas sawah!


*


*


Ibu, bapak dan Rudi keluar dari dalam rumah ketika mendengar suara orang mengucapkan salam. Suara laki-laki yang sudah cukup familiar ditelinga Rudi, ibu dan ayah karena lelaki itu sering kali menghubungi untuk berkabar.


"Nak Arif!" Ibu langsung heboh menyambut Arif, ibu bahkan spontan memeluk Arif seperti memeluk putranya yang pulang dari merantau di kota. Begitu pun dengan bapak, dan Rudi yang tersenyum sangat lebar menyambut kehadiran Arif di tengah-tengah mereka.


"Ayo masuk!" Ajak Bapak seraya merangkul pundak Arif sembari menjinjitkan telapak kakinya.


"Pasti capek sekali ya, Nak?" Ibu menyuguhkan minuman hangat dan gorengan untuk Arif, tapi Rudi malah inisiatif untuk menyomotnya, sayangnya refleks tangan ibu cukup cepat untuk menabok tangan Rudi dan memelototinya.


Arif tersenyum melihat bagaimana Rudi pura-pura kesakitan.


"Iya lumayan, Bu. Aku baru pulang seminar."


"Seminar dimana Mas?" tanya Rudi.


"Kota sebelah."


"Oh, di rumah sakit yang besar itu, ya?"


Arif mengangguk.


"Boleh kan aku menginap disini, Bu, Pak? Jauh sekali mau langsung balik Jakarta, sekalian lepas kangen sama Ibu, Bapak, sama Rudi juga "


"Sama Kak Kana enggak?" tanya Rudi sambil memainkan alis matanya naik turun.


"Wah kalo sama Kana, lagi ketemu aja udah kangen." sahut Arif sambil terkekeh, disambut kekehan juga oleh yang lainnya.


"Ya sudah nggak apa-apa lah kamu kalo mau nginep disini, Ibu dan Bapak tuh udah anggap Nak Arif anak kami sendiri, jadi jangan sungkan ya."


"Terima kasih, Bu."


"Kami yang harusnya terima kasih ke Nak Arif, Nak Arif sudah banyak membantu kami."


"Bukannya memang sudah sewajarnya anak membantu orang tuanya, kan? Selama ini Kana dan Rudi yang membantu Ibu Bapak, aku juga ingin jadi anak yang berbakti."


Ah... meneteslah sudah air mata dari Bapak.

__ADS_1


Arif merangkul Pak Tomo sambil menepuk pundaknya. Kedua mata Ibu juga sudah berkaca-kaca, dan Rudi merangkulnya.


"Omong-omong Kana dimana?" tanya Arif.


"Oh, dia masih di sawah." jawab Bapak sambil membersit hidungnya dengan ujung sarung yang dipakainya.


"Sawah?"


"Anak itu semenjak pulang banyak sekali diamnya, setiap ibu tanya soal hubungan kalian, dia pasti menghindar, ke sawah. Kalian baik-baik saja, kan, Nak?" Ibu melihat Arif dengan sorot khawatir.


"Sejujurnya, beberapa hari terakhir ini aku dan Kana agak sedikit berkendala."


"Ya ampun, kendala apa Nak? Apa masalahnya besar? Kalian ribut?"


"Mas Arif dan Kakak putus?"


Arif tersenyum miris. Putus? Mereka bahkan belum memulainya, apanya yang bisa putus?


"Kami baik-baik saja, kok." jawab Arif dengan tenang, meski sebenarnya hari ini adalah penentuan jawaban dari hatinya.


"Ibu selalu mendoakan agar kalian berjodoh, menikah, beranak cucu, hidup bahagia. Walaupun pasti nanti ada saja batu sandungannya, kalian tetap saling menjaga, saling mengasihi."


"Amin." Arif mengamini.


Tak lama kemudian suara salam terdengar dari arah luar. Suara Kana. Mendadak, jantung Arif langsung jumpalitan. Beberapa hari tak bertemu dengan wanitanya, beberapa hari menerka-nerka apakah usaha terakhirnya akan membuahkan hasil, membuat Arif merasa gugup hanya karena mendengar suara Kana. Ia bangkit dari duduknya, untuk mengikuti Rudi ke luar.


"Waa!" Rudi yang lebih dulu sampai di teras tiba-tiba memekik. Arif pun melebarkan langkahnya, Bapak dan Ibu pun ikut beranjak ke teras.


"Dokter?"


Penampilan Kana yang sudah seperti kucing kecebur got tentu saja mengundang gelak tawa dari bibir Rudi.


Bapak dan Ibu sampai terheran-heran bagaimana bisa Kana berpenampilan ajaib seperti itu. Sementara Arif menatap Kana dengan tatapan yang membuat Kana ingin menenggelamkan diri karena saking malunya.


Siapa yang tidak akan malu dipandang penuh cinta seperti yang dilakukan Arif disaat Kana sendiri sedang cosplay menjadi manusia tanah berjalan.


*


*


Rudi masih tertawa ketika mengantar Arif ke dalam kamar, dia merapihkan kamar dan menyiapkan kasur agar bisa ditempati Arif dan dirinya selama Arif menginap.


"Berhenti mentertawakan kakakmu, Rud." Tegur Arif.


"Habisnya Kak Kana lucu sekali, bisa-bisa jatuh di atas sawah sampai penampilannya kacau begitu."


"Tapi tetap cantik. Kakakmu terlalu cantik."


"Astaga, Mas Arif benar-benar cinta mati sama Kak Kana."


"Memang." Sahut Arif dengan entengnya.


"Wah, aku nggak tau kalo Kak Kana punya pesona sekuat itu."

__ADS_1


Arif terkekeh.


Kemudian pintu kamar diketuk, Arif membukanya, Kana berdiri di depan pintu. Penampilannya sudah kembali normal. Tubuh dan wajahnya sudah bersih dari tanah. Kana sudah terlihat segar dan aroma manis Kana semakin menguar membuat Arif harus mencengkram gagang pintu kuat-kuat.


"Saya... mau bicara. Bisa?" tanya Kana, terlihat malu-malu. Dan itu membuat Arif benar-benar menggila, Arif yakin dirinya akan menjadi gila secara harfiah jika kali ini Kana kembali menolaknya.


Arif mengangguk.


"Kita ngomong diteras ya."


"Oke."


Arif mengikuti Kana dari belakang, menahan setiap syaraf dalam tubuhnya untuk tidak memeluk Kana, membawa gadis itu dalam dekapannya.


Mereka sampai di teras rumah yang kecil, tapi nyaman. Berlantaikan kayu, Kana dan Arif duduk bersila disana.


"Jadi, apa Dokter datang hari ini untuk minta jawaban saya?"


"Sebenernya saya datang karena saya kangen sama Ibu, Bapak, Rudi dan...kamu."


Kana memalingkan wajahnya. Bukan karena tidak suka, tapi karena ia senang. Ia menyembunyikan senyumnya.


"Dan ya, saya juga ingin dengar jawaban kamu." lanjut Arif. "Tapi saya lihat, cincin yang saya kasih nggak ada di jari kamu." Suaranya mendadak lirih. Arif cukup gugup menanti jawaban Kana. Meski dia sudah berusaha menyakinkan diri, tapi tetap saja terkadang manusia tidak dapat diprediksi.


Kana mengeluarkan cincin yang masih menjadi liontin dari rantai kalung yang dikenakan Kana.


"Ini cincinnya." Kana melepaskan kalung itu.


"Apa benar Dokter akan langsung ke KUA kalau saya milih untuk pakai cincinnya?"


"Benar. Saya udah siap bawa dokumen surat menyurat ijin nikah dan segala macamnya."


"Hah?" Kana sampai melongo mendengarnya. "Beneran?"


Arif mengangguk.


"Serius?"


"Satu milyar rius."


Kana menunduk tiba-tiba. Tangannya terulur untuk meraih tangan Arif, membuka telapak tangan pria itu lalu meletakkan cincin itu disana, di atas telapak tangan Arif.


Deg!


Hati Arif mencelos. Apakah ini artinya dia benar-benar akan menyerah?


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2