Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 12


__ADS_3

"Mas ganteng, lihat ini hasilnya dong." Sis Jena memanggil Arif yang menunggu Kana sambil sibuk dengan gawainya. Arif mengangkat wajahnya dari layar ponselnya, seketika ia merasa semua kehidupan di sekitar dirinya mendadak berhenti. Begitu terpesona Arif melihat wajah baru Kana yang sangat... cantik. Rambut Kana yang tadi potongannya biasanya saja, dirombak dan diperbaiki lagi modelnya oleh Sis Jena, dan tangan ajaib Sis Jena telah berhasil mengubah sekaligus mengeluarkan aura kecantikan pada Kana.


Make up yang disapukan pada wajah Kana hampir tidak terlihat, Kana dirias senatural mungkin. Tapi justru ia terlihat sangat cantik hingga membuat orang-orang yang ada di sana terpukau dengan Kana.


"Dok? Dok? Gimana muka saya sekarang?" tanya Kana yang merasa Arif seperti orang kehilangan jiwa.


"Oh, ehm... ya... lumayan." jawab Arif. Ia menghindari tatapan Sis Jena yang tersenyum seakan tahu apa yang sedang dialami jantung Arif saat ini. Berdebar tak karuan. Ia juga menghindari tatapan Kana yang tersenyum manis ketika dipuji lumayan oleh Arif. Padahal, dalam hati Arif sangat mengagumi kecantikan Kana.


Setelah selesai urusan di salon, mereka menuju lokasi berikutnya. Sambil sesekali Arif melirik Kana yang duduk pada kursi penumpang disebelahnya.


Kana pun sama diamnya seperti Arif, ia kembali teringat dengan perkataan Sis Jena yang berpikir kalau Arif melakukan semua ini karena Arif mungkin saja mempunyai rasa padanya. Jadi, dari pada membiarkan hatinya gelisah, Kana memutuskan untuk bertanya langsung saja pada Arif.


"Dok," Kana mulai bersuara.


"Hem."


"Dokter suka ya sama saya?" tanya Kana begitu jujur dan polos apa adanya.


"What?!" Arif membeliakkan mata, sejenak melihat Kana tapi langsung kembali melihat jalanan di depan mereka. "Dari mana kamu dapat ide pikiran kayak gitu?"


"Sis Jena bilang, nggak mungkin seorang majikan bayarin saya ke salon kecantikan kalo nggak ada rasa ke saya."


Tiba-tiba saja tenggorokan Arif kering kerontang seperti isi dompet di tanggal tua. Ia berdeham untuk mengusir kecanggungan atas pertanyaan Kana yang terkesan tidak berarti apa-apa.


"Padahal saya udah cerita krologoisnya."


"Kronologis." Arif mengoreksi.


"Tapi, Sis Jena nggak percaya, dan masih berpikir kalo sebenarnya Dokte suka sama saya. Memang bener gitu Dok?"


Arif mengusap tengkuk lehernya. "Saya nggak suka sama kamu. Jadi jangan geer. Apa yang saya lakukan murni karena misi awal kita." jawab Arif jujur tapi tidak sepenuhnya jujur juga, karena ada sebagian hatinya yang menolak jawaban itu.


"Tapi, kadang saya suka mikir, kenapa kayaknya Dokter yang lebih semangat mau balas perbuatannya Mas Danu dari pada saya. Dokter nggak pernah ada hubungan apa-apa sama Mas Danu, kan?"


Pertanyaan Kana yang super aneh membuat Arif melotot.


"Maksud kamu apa? Saya tau mukanya si Danu-Danu itu aja nggak tau."


"Namanya Danu aja, Dok. Bukan Danu-Danu." kali ini gantian Kana yang mengoreksi Arif dengan gaya tenang.


"Intinya, saya nggak kenal sama mantan kamu. Dan apa yang saya lakukan untuk kamu murni karena saya mau bantu kamu. Nggak ada niat lain. Ngerti?"


Kana menganggukkan kepalanya. "Iya Dok."


Arif mendengkus. Untung saja Kana adalah pemilik aroma terapi terbaik untuk Arif, meski si pemilik aroma tidak mengetahuinya, jadi kekesalannya tidak sampai membuat tekanan darahnya melonjak karena dituduh pernah mempunyai hubungan aneh-aneh dengan Danu.

__ADS_1


"Omong-omong," Kana kembali bersuara. "gaji Dokter memangnya nggak habis bayarin saya ini-itu. Karena kalo saya itung-itung, biaya perubahaan saya ini sudah hampir sepuluh juta. Saya aja nggak pernah lihat uang satu juta."


"Kamu nggak usah pikirin gaji saya. Kamu fokus saja belajar untuk merubah penampilan kamu untuk membalas mantan dan sahabatmu itu. Ngerti?"


"Iya, Dok."


Mobil Arif berhenti di depan sebuah butik setelah perjalanan dari salon kecantikan.


"Kita ngapain ke toko baju, Dok?"


"Beli obat sakit kepala!" Jawab Arif asal, sambil keluar dari dalam mobilnya.


"Ih si Dokter kok aneh, masa nggak tau kalo beli obat harusnya di apotek bukan di toko baju."


Seorang wanita berpenampilan modis menghampiri Arif dan Kana yang mengekor di belakang Arif.


"Arif?! Wah, apa kabar?" Wanita itu terlihat senang sekaligus terkejut melihat kedatangan Arif. "Sudah lama banget gue nggak dengar kabar dari lo." kata wanita itu.


Arif tersenyum singkat saja lalu masuk ke dalam butik.


"Halo?" Wanita itu menyapa Kana dengan ramah.


"Halo." jawab Kana kikuk.


"Bukan!" jawab Kana dan Arif bersamaan. Sangat kompak seperti peserta lomba joget balon.


"Oh, oke." kata Winna, sambil tersenyum. "Jadi, ada yang bisa gue bantu untuk kedatangan lo bersama gadis cantik ini?" tanya Winna seraya menghampiri Arif.


Sementara Kana tersenyum malu dipuji oleh Winna yang menurutnya jauh lebih cantik dari padanya.


Setelah menjelaskan pada Winna apa maksud dan tujuannya membawa Kana ke butik, wanita modis pemilik butik sekaligus teman Arif langsung paham apa yang ada dalam pikiran Arif. Ia segera mengumpulkan beberapa pilihan baju untuk dicoba oleh Kana. Dimulai dari gaun-gaun yang agak-agak kekurangan bahan dibagian punggung, lalu lengan, lalu bagian depan, gaun-gaun yang membuat Kana risi mencobanya dan terlihat canggung menunjukkan penampilannya di depan Arif.


Meski Arif harus berkali-kali menenangkan jantungnya yang terus melompat-lompat melihat bagaimana gadis kampung itu bisa berubah begitu drastis dengan gaun-gaun pilihan Winna. Kana terlihat begitu menggoda dan seksi. Serius, Arif benar-benar tak mengerti bagaimana mungkin Kana bisa menyembunyikan segala kelebihan yang dia punya di balik kesederhanaan Kana.


Tapi, meski memuji kecantikan dan kelebihan Kana dalam hati, Arif merasa tidak rela jika Kana harus mengenakan pakaian terbuka untuk dipamerkan di depan mantannya yang bodoh itu. Bahkan untuk keluar dari butik ini dengan gaun pilihan Winna saja, Arif merasa tak rela.


"Winn, lo nggak ada baju-baju yang lebih bersahaja aja gitu? Yang lebih sopan tapi kelihatan elegan tanpa harus nunjukin kulit punggung, lengan apa lagi bagian dada." Sungut Arif.


Winna terkekeh mendengar omelan Arif. "Kenapa? Lo terpesona ya?"


Arif mengusap tengkuk lehernya, mengalihkan dirinya dari tatapan Winna. "Dih, siapa yang terpesoan, gue takut aja si Kana malah masuk angin pake baju-baju begitu." Kilahnya.


"Oh, masuk angin..." Winna cengengesan melihat bagaimana Arif mulai diserang kecanggungan dan komplotannya. "Ada sih pakaian-pakaian yang lebih manis, simple dan gue rasa akan sangat cocok banget untuk karakter Kana."


"Nah, ya udah coba biar Kana cobain deh."

__ADS_1


"Tapi, lo harus siapin jantung ya?"


"Maksudnya?" Arif menautkan kedua alis tebalnya.


Winna hanya tersenyum-senyum misterius sambil mengambil beberapa baju.


"Eh, tunggu." Arif mencegah Winna. "Coba gue lihat dulu bajunya sebelum si Kana pakai di depan gue."


"Kenapa emang? Takut lo panas dingin, ye?" Kikik Winna. Yang direspon Arif hanya dengan dehaman saja.


Kali ini, pakaian yang dibawa Winna cukup normal untuk seorang Kana. Tidak terbuka, dan cukup sopan. "Oke nih. Kasih ke si Kana deh."


Winna meminta stafnya untuk memberikan beberapa pakaiannya ke kamar pas dimana Kana berada, menunggu dengan bosan dan lelah karena harus berkali-kali ganti pakaian.


"Rif," Winna mengambil tempat di sofa panjang yang sama dengan Arif. "Lo nggak naksir sama Kana?"


"Hah?"


"Dari pada meratapi masa lalu lo, kenapa lo nggak coba aja membuka lembaran baru sama Kana?"


"Win, si Kana itu ART gue, ya kali gue menjalin hubungan sama ART gue sendiri."


"Ya memang kenapa?" tanya Winna santai. "Memangnya si Kana wanita bersuami? Kan enggak, dia malah baru saja dikhianatin mantannya kan, sama kayak lo. Pas deh, kalian memulai lembaran baru bersama."


"Nggak usah ngadi-ngadi kayak si Jodi sama Yoga, deh, Win." Arif mengusap wajahnya.


"Memang lo yakin nggak bakal naksir sama Kana? Dia manis loh, cantik malah."Ujar Winna seperti sedang mempromosikan Kana.


"Dia bukan tipe gue, oke?"


"Trus tipe lo kayak siapa? Yunia?"


"Gue-"


Belum sempat Arif merespon pertanyaan Winna, seseorang memasuki butiknya lagi. Seseorang yang barusan saja namanya di sebut oleh Winna.


"Wah panjang umur juga dia." ujar Winna.


.


.


.


Bersambung ya~

__ADS_1


__ADS_2