
Arif menuliskan surat pernyataan lunas yang dia tulis mendadak di atas lantai teras. Walaupun ditulis secara manual, tapi isi surat pernyataan itu sangat rinci dan profesional. Arif bahkan memberikan materai dan meminta Rudi mendokumentasikan pelunasan hutang keluarganya itu, sehingga kedepannya tidak ada celah untuk Bu Dewi mengganggu lagi.
***
Siang tadi sungguh mendebarkan. Itu kali pertama Kana murka dan semarah itu. Rudi harus berkelahi. Ibu dan bapak juga sampai bengkak matanya karena menangis dan tak mampu melawan Bu Dewi.
Rudi mengetuk pintu kamarnya sendiri dan mendorong pintu hingga muat kepalanya untuk melongok masuk.
"Boleh aku masuk, Mas?" tanya Rudi.
"Masuk saja, ini kamar mu, Rud, nggak perlu sungkan begitu." sahut Arif sambil merapihkan isi tasnya.
Rudi masuk dengan sungkan dan segan. Untuk kali pertamanya juga ia merasa begitu aman. Seperti memiliki seorang kakak laki-laki yang mampu melindungi keluarga dari apa pun.
"Mas Arif nggak bisa menginap sehari lagi?" tanya Rudi.
"Pengennya sih sampai seminggu. Tapi waktu cutiku hanya tiga hari. Lain kali aku akan ambil cuti yang lama." sahut Arif.
Rudi mengangguk. Terlihat jelas pemuda itu menjadi canggung.
"Hei, apa yang mau kamu bilang? Katakan saja, jangan jadi sungkan begitu." kata Arif sambil menepuk bahu Rudi.
"Maaf."
"Maaf? Maaf untuk?" Arif tidak mengerti.
"Maaf, karena sejak Mas Arif datang, aku selalu ketus dan nggak percaya sama Mas Arif dan malah ngebiarin Mas Arif hampir nginep di penginapan kemarin." kata Rudi menyesal.
Arif menghela napas, ia tersenyum mengerti.
"Kalau aku jadi kamu, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku ngerti, apa yang kamu lakukan semata karena kamu peduli pada Kana."
Rudi mengangguk.
"Dan terima kasih untuk apa yang udah Mas Arif lakukan untuk keluarga kami. Jujur, sebenarnya, aku cukup khawatir kami nggak akan mampu melunasi hutang kami ke Bu Dewi, orang miskin seperti kami rasanya hampir mustahil bisa melunasi hutang itu meski kerja siang dan malam."
__ADS_1
"Katakan padaku, apa yang akan kamu lakukan untuk melunasi hutangmu padanya?"
"Hemmm, aku sempat berpikir untuk menjual ginjal. Sungguh. Aku sampai mencari tahu ke teman-teman ku, dimana kalau biasanya orang menjual organ tubuhnya." kata Rudi dengan ekspresi yang sangat serius.
Arif menghela napas, lalu meminta Rudi untuk duduk di sebelahnya.
"Menjual ginjalmu bukan jalan keluar, Rud. Kamu akan membuat masalah baru nantinya."
"Ya aku tau, tapi paling nggak urusan dengan rentenir itu selesai."
Arif menepuk bahu Rudi. Menguatkan.
"Kalau aku boleh tau, bagaimana kalian bisa terlibat dengannya?"
Rudi menceritakan bagaimana dulunya Bu Dewi dan keluarga mereka tadinya berhubungan baik-baik saja. Bu Dewi bahkan sangat baik padanya, dan sering kali memuji orang tua mereka karena telah berhasil mendidik anak-anak nya sebagai pribadi yang tidak manja dan mau bekerja.
Lalu suatu ketika, Bu Dewi menawarkan Rudi untuk kuliah, karena melihat potensi Rudi yang cukup pintar di sekolah, sayang kalau tidak meneruskan pendidikan, padahal saat itu Rudi sudah bekerja di sebuah restoran sebagai pramusaji. Tapi Bu Dewi tetap mendorong orang tua Rudi agar Rudi kuliah dengan segala macam persuasif nya. Dengan imingan, dia akan membantu.
Tapi nyatanya dia hanya membantu biaya pendaftaran untuk dijadikan hutang keluarga yang harus diganti dengan bunga. Dan parahnya, Bu Dewi tahu kalau bapak buta huruf, jadi dia memberikan bapak surat perjanjian yang ditanda tangani oleh bapak, dan ternyata isinya adalah tentang kesanggupan bapak mengganti biaya kuliah Rudi beserta bunganya pada Bu Dewi dalam jangka waktu satu tahun tiga bulan.
"Aku akan menggantikan uang Mas Arif yang tadi, tapi aku butuh waktu, aku akan berusaha untuk melunasinya, meski akan memakan waktu yang lama." janji Rudi dengan bersungguh-sungguh.
Arif tersenyum. Melihat kegigihan Rudi mengingatkannya pada Kana. Gadis mungil itu juga mempunyai kegigihan yang sama. Untuk satu hal itu, Arif sependapat dengan Dewi, orang tua mereka telah mendidik Rudi dan Kana dengan sangat baik.
Arif merangkul Rudi. "Kamu sungguh mau mengganti uangku?"
Rudi mengangguk. "Tapi jangan bilang-bilang ke ibu, bapak juga Kakak. Mereka pasti nggak akan ijinin aku kerja sambil kuliah. Kakak pasti akan ambil alih dan malah bekerja mati-matian. Bapak dan ibu juga. Aku nggak mau jadi orang yang nggak melakukan apa-apa."
Arif mengacak rambut Rudi, entah kenapa dia merasa bangga dengan sikap Rudi.
"Oke, aku nggak akan bilang ke siapa pun kau mau mengganti uangku."
Senyum Rudi pun mengembang pada wajahnya.
"Tapi aku ingin kamu mengembalikan uangku dengan cara yang lain."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Kau harus kuliah dengan baik, lulus dengan menjadi lulusan terbaik, angkat derajat keluargamu yang diremehkan orang lain dengan menjadi orang sukses. Aku ingin kau mengganti uangku dengan cara seperti itu. Kalo kamu menggantinya dengan uang juga, sampai mati pun aku nggak akan menerimanya. Bagaimana? Sanggup?" tanya Arif, ia menantang Rudi, ia yakin Rudi bisa.
Mata Rudi seketika berkaca-kaca, ia tidak pernah terpikir merasakan perasaan seperti ini, perasaan mempunyai seorang kakak yang dapat menjadinya tempat bersandar. Ia ingin menjawab, tapi suaranya tercekat pada ujung tenggorokannya. Tangisnya akan pecah jika ia bersuara.
Jadi, Rudi hanya bisa menganggukkan kepalanya, menyanggupi permintaan Arif.
Arif menepuk bahu Rudi kemudian memeluknya, layaknya seorang kakak pada adik bungsunya.
Tanpa dua lelaki itu ketahui, semua pembicaraan mereka didengar dan disaksikan Kana diam-diam melalui celah pintu. Air mata pun tak lagi bisa tertahan dan lolos mengalir membasahi pipi Kana.
Dokter... Kenapa harus sebaik itu? Bagaimana saya harus bersikap ke Dokter nantinya? Batin Kana.
***
Sore itu, Arif dan Kana pun berpamitan untuk kembali ke ibu kota. Ibu dan Bapak melepaskan mereka dengan doa dan air mata haru. Ibu bahkan mengecup puncak kepala Arif sama seperti ibu mengecup puncak kepala Kana. Doa-doa terbaik dari bibir ibu menyertai keduanya.
Tak hanya itu, Ibu juga membekali Arif dan Kana lauk pauk yang bisa disimpan di lemari pendingin nantinya.
"Tolong dijaga anak Bapak, ya Nak Arif, jangan mengingkari kepercayaan kami ya, Nak." Pesan Bapak tadi sebelum Arif dan Kana berangkat. Arif paham betul apa yang dimaksud Bapak tadi.
Perjalanan mereka kembali ke kota pun tidak banyak pembicaraan. Masing-masing memiliki isi kepala yang berbeda. Perasaan yang berbeda dengan ketika mereka datang sebelumnya.
Bagi Arif, beberapa hari menginap di rumah keluarga Kana memberikan kesan yang luar biasa. Meninggalkan jejak hangat yang telah lama ia rindukan. Kehangatan sebuah keluarga.
Sementara Kana, hatinya mulai terasa ketar ketir. Perasaan segan yang tadinya sebatas antara majikan dan ART, perlahan menyusup sebuah perasaan baru. Perasaan yang seharusnya tidak tercipta di dalam hatinya. Sebuah rasa yang hanya akan membuatnya tersiksa karena batasan yang harus dia sadari.
.
.
.
Bersambung ya
__ADS_1