
"Selamat pagi, Dok." Kana menyapa Arif yang sedang menikmati kopi paginya sambil membaca berkas pasien yang dibawanya pulang.
Suara Kana yang terdengar lemah membuat Arif mau tak mau melirik Kana, dan memperhatikan gerak-gerik wanita itu. Ada yang aneh padanya. Tidak seperti Curut yang dia kenal dalam waktu beberapa hari ini. Curut yang Arif tahu adalah Curut yang bawel, ceria dan aktif seperti anak balita yang lagi aktif-aktifnya. Tapi pagi ini, dia terlihat sendu, tidak bawel, tidak ada tingkah aneh, tidak ada pertanyaan. Tidak ada.
Kana cenderung menghindari tatapan mata Arif, ia langsung mengambil perlengkapan bebersihnya, sapu, kain lap, cairan untuk membersihkan debu dan kawan-kawanya, tapi membalas atau bertanya pada Arif, kenapa Arif melihatnya, kenapa Arif belum berangkat kerja, apakah Arif sudah sarapan, dan pertanyaan-pertanyaan tak penting lain.
Arif berdeham, mencoba untuk memancing perhatian Kana. Tapi Kana terlihat diam saja.
Ada apa dengannya? Kenapa lesu sekali?
"Kana," Pada akhirnya Arif yang memulai duluan interaksi pagi ini bersama Kana.
"Ya, Dok?" jawab Kana dengan nada lesu. Benar-benar aneh.
"Kamu..." Sebenarnya Arif sangat ingin bertanya apakah Kana baik-baik saja, tapi gengsi menelan kepeduliannya. "Kenapa kemarin kamu menitipkan bekal saya ke orang lain? Bagaimana kalau bekal saya malah dimakan sama orang lain? Bagaimana kalau bekal saya malah diracun sama orang lain?"
"Maaf, Dok." Hanya itu yang keluar dari mulut Kana sambil menundukkan kepalanya.
Arif mengerutkan dahi. Curut yang biasanya pasti akan mati-matian menjelaskan alasannya kenapa dia sampai menitipkan bekal makan siang Arif pada orang lain. Tapi, Curut yang kali ini ada di depannya, hanya menunduk pasrah tanpa membela dirinya sama sekali.
"Saya paling ngga suka jika bicara dengan orang lain, yang diajak biacara nggak melihat saya." kata Arif memancing Kana untuk mengangkat wajahnya.
Dan berhasil.
Kana mengangkat wajahnya.
Entah kenapa, begitu melihat kedua mata Kana yang sembab dan bengkak mengerutkan hati Arif. Mata indah Kana seperti hilang dan hanya menyisakan kesedihan dan kegetiran yang dalam.
"Kamu... baik-baik saja?" tanya Arif pada akhirnya. Tak kuasa ia menahan kekhawatirannya. Baru kemarin dia mengkhawatirkan Kana. Dan pagi ini, wanita itu datang dalam keadaan tak berenergi.
"Saya... " Alih-alih meneruskan kalimatnya, Kana malah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu suara tangis terdengar seiring dengan guncangan pelan pada bahu Kana yang terlihat ringkih.
"Hei..." Arif berdiri, mendekati Kana, tangannya terulur untuk menepuk bahu Kana. "Kamu kenapa?" tanya Arif, suaranya berubah lembut dan penuh perhatian.
"Saya... maafkan saya, Dok, saya jadi nangis begini." kata Kana sambil mengusap wajahnya asal saja dengan telapak tangannya.
Bulu mata Kana yang lentik bergerak basah karena air mata itu. Tiba-tiba terbesit keingina Arif untuk memeluk dan menenangkan Kana. Tapi akal sehat menahan keinginan anehnya itu.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu nangis begini? Lihat tuh, mata kamu sampai bengkak seperti disengat lebah." kata Arif mencoba memberikan lelucon, tapi tidak lucu sama sekali, Pak Dokter.
Dan bukannya memberikan ketenangan, Kana malah berjongkok, memeluk kedua lututnya dan kembali menangis. Dan fenomena itu membuat Arif kebingunan dan malah salah tingkah sendiri.
"Hei, ada apa sebenarnya? Apa terjadi sesuatu di kampung?" tebak Arif.
Kana mengangguk.
"Pada keluargamu?"
Kana menggeleng. "Keluarga saya baik-baik aja."
"Lalu? Kenapa kamu nangis sampai kayak gini?"
"Ini pasti teguran untuk saya karena saya pernah menyombongkan diri di depan Dokter. Maafin saya, ya, Dok." kata Kana pilu dan terdengar sangat penuh sesal.
Mendengar itu malah membuat Arif bingung. "Memangnya kapan kamu pernah begitu ke saya?"
"Saya pernah meledek Dokter waktu Dokter pura-pura nelpon pacar di depan mantan Dokter." kata Kana sambil melap ingusnya dengan kerah kausnya. "Trus saya bilang ke Dokter, saya punya pacar dikampung dan kami akan nikah."
"Apa terjadi sesuatu pada pacarmu itu? Apa dia sakit? Atau... kecelakaan?"
Arif menghela napas, gemas dengan penjelasan Kana yang setengah-setengah ditambah sambil menangis sesegukan. Dengan tidak sabar, akhirnya Arif membuat Kana berdiri dan menarik Kana untuk duduk di atas kursi dari pada berjongkok. Arif menuangkan segelas air mineral dingin dan memberikan Kana sekotak tisu dari pada melap air mata dan ingus dengan pakaiannya yang menyedihkan.
"Tenangkan dirimu, lalu ceritakan pada saya apa yang terjadi." kata Arif dengan sangat serius tapi juga sangat lembut.
Kana menarik selembar tisu sambil mellihat Arif tak percaya, "Dokter mau dengarkan saya curhat?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena... " Benar juga, kenapa aku mau mendengarkan dia curhat? Kenapa aku peduli dengan urusannya? "Karena kalau kamu galau seperti ini, hasil kerjaanmu akan berantakan. Saya nggak mau apartemen saya nggak sebersih biasanya gara-gara kamu belum melepaskan kesedihanmu." jawab Arif dengan alasan yang dia karang tapi cukup masuk akal bagi Kana.
Kana mengatur napasnya, menenangkan dirinya agar tidak lagi menangis seperti orang bodoh. Setelah itu, dia menenggak habis air mineralnya, kemudian dengan mata bengkak dan suara lesunya, Kana menceritakan kisah pengkhianatan yang dilakukan Danu bersama sahabatnya. Dengan segala emosi yang ditunjukkan oleh Kana dalam setiap kata yang dia ucapkan, Arif mendengarkannya dengan seksama dan sepenuh hati.
Sambil diam-diam menikmati aroma morphin pribadinya yang menguar dari Kana.
__ADS_1
"Kamu maskulin?" Arif menaikkan kedua alis matanya tak percaya dengan cerita yang diceritakan oleh Kana. "Dari mana si berengsek itu melihat sisi maskulin kamu?"
Kana menggeleng lesu.
"Saya maskulin. Satpam apartemen di bawah maskulin. Tapi kamu? Dari sisi mananya kamu maskulin?" Arif hampir emosi dalam mengutarakan pendapatnya.
"Kalau dia bilang kamu terlalu mandiri, saya bisa mengerti. Tapi maskulin? Astaga!"
Bahu Kana merunduk lesu.
"Percaya lah, kamu harus bersyukur Tuhan membuka jalan kalian putus. Dari pada nanti kamu nikah sama lelaki berengsek seperti itu."
"Padahal saya sama Mas Danu sudah lama pacaran, tiga tahun! Selama itu kami baik-baik aja. Tapi ternyata dia sama sahabat saya sendiri nusuk saya. Sakit banget rasanya, Dok!"
"Ya, saya tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh orang-orang yang kamu percaya." Karena saya juga pernah berada diposisi seperti kamu. Huft.
"Saya harus bagaimana, Dok? Saya nggak bisa pulang ke kampung gitu aja melabrak mereka, kan? Tapi, saya nggak terima disemena-menain kayak gini. Tapi, saya nggak punya apa-apa untuk balas mereka." Lagi, suara Kana bergetar, matanya kembali berkaca-kaca.
"Apa karena keluarga saya orang susah, ya, Dok, makanya orang-orang seenak-enaknya aja menyakiti kami? Menghina kami? Menyepelekan kami? Padahal, kami juga manusia. Orang susah atau bukan, saya juga manusia yang bisa sakit hati, kan, Dok?"
Arif tertegun dengan penyataan Kana. Pikiran Kana yang sederhana membuat Dokter berpendidikan sepertinya sering kali kehilangan kosa kata dalam kepalanya.
"Ya, kamu benar. Kaya, miskin, seharusnya harus saling menghargai dan saling memanusiakan."
"Saya harus bagaimana, Dok? Saya bahkan nggak berani nelpon keluarga saya. Mereka pasti jadi bahan cibiran orang-orang dikampung." Kana kembali menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hei," Arif menarik tangan Kana dengan sangat lembut dan mengusap pipi Kana yang basah, menatap ke dalam mata sembab yang menyembunyikan keindahan di dalamnya. "Saya bisa membantumu."
"Dokter mau bantu saya?" tanya Kana mengulang. Menatap balik tatapan dalam Arif.
Arif mengangguk.
"Bagaimana caranya, Dok?"
.
.
__ADS_1
.
Bersambung ya~