Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 33


__ADS_3

Maaf.


Satu kata itu selalu terngiang dalam benak dan memori Arif. Bahkan ketika ada perawat, atau pasien atau rekan sesama dokter yang mengucapkan maaf pada Arif itu membuat Arif merasa kesal sendiri.


Sudah lima hari berlalu sejak Arif melamar Kana yang ditolak mentah oleh wanita itu, sejak hari itu juga Arif tidak atau belum bertemu lagi dengan Kana, tapi ia tahu Kana datang bekerja, karena rumahnya selalu rapi dan makanan tersedia di meja setiap kali Arif pulang. Tak lupa dengan sisa aroma khas Kana yang ada. Gadis itu seolah sengaja menunggu Arif berangkat lebih dulu barulah dia datang bekerja. Sepertinya janji untuk datang lebih pagi sudah tidak lagi berlaku. Kana bahkan sudah tidak lagi mengirimkan makan siang untuknya.


Entah!


Arif merebahkan dirinya di atas sofa. Sofa yang menjadi tempat dia mencuri paksa ciuman dari bibir Kana. Ia menutup matanya, tapi yang muncul adalah bayang-bayang wajah Kana yang menangis saat bercerita tentang mantan kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Arif menyerah untuk memejamkan mata, dia bangkit untuk mandi. Air dingin menjadi pilihan untuk menjernihkan pikirannya. Tapi nyatanya, setelah tersentuh air dingin, justru bayang-bayang Kana yang tertawa saat bersama keluarganya menjadi kilasan yang memenuhi kepalanya.


Astaga! Seperti ini kah jatuh cinta?


Padahal ini bukan kali pertama Arif jatuh cinta. Tapi saat dia menyukai Yunia dulu, ia tidak pernah seperti orang salah tingkah seperti ini. Ia tidak pernah merasa frustasi karena terus-terusan memikirkan seseorang.


Arif keluar dari dalam kamar mandi, setelah berpakaian, ia duduk di kursi meja makan, mengisi perutnya yang tak terlalu berselera makan. Tapi dia sadar, satu-satunya yang menghubungkan dirinya dengan Kana adalah memakan masakan Kana, dengan cara itu ia tetap bisa merasakan kehadiran Kana.


Ah, dia sungguh jatuh cinta. Dan jatuhnya terlalu dalam.


Dulu, dia pernah juga jatuh karena cinta, dan itu membuatnya patah hati. Tapi, jatuhnya kali ini tidak membuat hatinya patah, melainkan frustasi, bimbang, galau, dan malah semakin tergila-gila, tapi... dia harus menahannya. Menahan semua rasa yang membuat hatinya ingin meledak.


Ia sudah berusaha, ia sudah meyakinkan, tapi Kana yang memilih untuk pergi. Gadis itu yang memilih untuk tidak mempercayainya. Seharusnya secara logika, Arif harusnya menyerah, sakit hati karena penolakan, tapi kata hatinya membisikkan kata-kata yang berbeda. Kata hatinya meyakinkan dirinya bahwa penolakan Kana bukan karena hatinya bertepuk sebelah tangan. Bukan.


Tapi karena sesuatu yang lain yang terlihat rumit bagi Kana. Karena itu, Arif mengalah sejenak. Ia memberikan ruang dan waktu sejenak untuk Kana mempertimbangkan tentang lamarannya.


.


.


"Mau sampai kapan sih lo uring-uringan gitu, Rif?" tanya Jodi sambil ngemut lolipop, setelah beberapa hari kemudian Jodi dan Yoga memperhatikan sikap Arif yang terlihat memperhatinkan.


"Tau ih nih anak, kayak ABG tua." Yoga menimpali.


"Berisik!"


Yoga menggeleng.


"Lo nggak temuin Kana lagi? Ngomong lagi gitu ke dia. Yakinin lagi." tanya Jodi.


"Dia akan semakin nolak gue." jawab Arif.


"Ya trus lo nyerah?" tanya Yoga.


"Nggak lah. Memangnya gue keliatan kayak orang nyerah?"


"Lah kaga nyadar nih orang." Ujar Jodi.


"Lo bukan kayak orang nyerah lagi, tapi kayak orang ga pengen idup. Lemes nggak bergairah." Sahut Yoga.

__ADS_1


Arif mengusap wajahnya frustasi dengan ocehan-ocehan dua sohibnya itu.


"Gue nggak nyerah. Oke?" Arif meyakinkan meski pandangan dua pria di depannya terlihat skeptis. "Gue cuma memberi jarak untuk Kana, memberi dia waktu dan ruang agar dia nggak merasa dipaksa atau terpaksa terima gue."


"Trus berhasil?" Anehnya pertanyaan itu serempak keluar dari bibir Jodi dan Yoga.


"Ya nggak tau, gue belum ketemu Kana lagi."


"Nah, itu yang kita khawatirin." kata Jodi mengundang kerutan pada kening Arif.


"Apanya?"


"Kita malah takut Kana ditikung orang lain. Memang Lo nggak kepikirian dengan penampilan Kana yang sekarang, bakalan banyak tawon yang ngedeketin?"


Kejadian di club pun menjadi pengingat Arif kembali. Bagaimana cowok sialan itu mencoba melecehkan Kana, jika saja dirinya tak datang tepat waktu mungkin saja....


"Ah, sial!" Arif segera bangkit dari kursinya, tanpa melepaskan jubah putih kebanggaan ia melesat keluar dari ruangannya sampai membuat Yoga dan Jodi melongo, saling melihat dan kemudian tergelak bersama.


"Hadeh, dasar ABG labil."


*


*


*


Jika ada pria lain yang lebih maksimal mendekati Kana, maksimal usahanya untuk meyakinkan Kana, bukan tidak mungkin bisikan kata hatinya bisa saja melenceng jika Arif sendiri tidak melakukan apa-apa.


Arif menarik napas dalam untuk meluruhkan rasa groginya. Ia keluar dari dalam mobil, masih mengenakan jas dokternya yang sepertinya memang dia lupa untuk dilepas saking fokusnya tertuju pada pujaan hati seorang.


Arif mengetuk pintu kamar kosan Kana, tak menunggu lama, pintu pun bergerak terbuka. Betapa terkejutnya masing-masing dari mereka. Arif yang kaget melihat wajah Kana yang sedang maskeran dengan Charcoal mask, dan Kana yang tidak mengharapkan Arif melihatnya dengan masker keabu-abuan seperti itu.


Implusif Kana langsung menutup pintu bahkan tanpa Arif bisa menahannya, karena dia sendiri masih syok.


"Itu Kana, kan, ya?" tanyanya pada diri sendiri.


Lima menit kemudian, pintu kembali di buka oleh Kana, wajahnya sudah kembali normal tanpa masker. Arif tersenyum kikuk melihat Kana yang terlihat salah tingkah gara-gara masker tadi.


"Maaf mengganggu." kata Arif.


Canggung.


Krik. Krik. Krik.


Tahu tahu terdengar suara jangkrik.


"Ada apa Dokter kesini?" tanya Kana. Sepertinya dia sudah menguasai diri untuk tidak lagi merasa malu gara-gara masker tadi.

__ADS_1


"Saya mau ketemu kamu."


"Iya saya tau, nggak mungkin Dokter kemari mau ketemu sama Ibu kos."


Arif tersenyum. Walaupun diucapkan dengan suara ketus, tapi entah kenapa terdengar lucu.


"Saya rasa, saya perlu bicara, ah bukan, tapi kita perlu bicara."


"Tentang?"


"Kita."


Ada sesuatu yang berdesir dalam dada Kana saat Arif menyebut persoalan yang akan dibicarakan adalah tentang mereka. Tapi, sayangnya Kana masih terjebak dalam rumitnya pikirannya sendiri.


"Memangnya ada apa dengan kita?"


"Bisa kita bicara sambil duduk?"


Kana mengangguk, kemudian mengarahkan Arif untuk duduk di halaman depan kos, ada tiga kursi plastik yang biasa digunakan untuk duduk-duduk berjemur pagi.


"Jadi, apa yang mau dibicarakan lagi soal kita, Dok?"


"Saya nggak akan lagi meyakinkan kamu tentang bagaimana seriusnya perasaan saya padamu, Kan. Betapa saya sungguh-sungguh sama kamu. Perasaan saya tulus, dan apa yang saya lakukan untuk kamu bukan untuk pencitraan semata. Semuanya masih dalam porsi kesungguhan yang sama dan nggak akan berubah."


Kana diam. Dia hanya memain-mainkan jemarinya di atas pangkuan pahanya sendiri.


"Saya ingin tanya, kenapa kamu selalu menolak saya? Apa karena perasaan saya hanya bertepuk sebelah tangan? Apa kamu masih belum move on dari mantan kamu? Atau apa kamu menyukai orang lain?"


"Apa saya harus jawab?"


"Tentu. Karena bukan hanya hubungan saja yang butuh kepastian. Sebuah penolakan pun juga perlu kepastian. Jawaban kamu akan menuntun saya pada sikap saya dimasa depan padamu."


"Maksud Dokter?"


"Kalau memang hati saya bertepuk sebelah tangan, maka saya akan berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan hatimu. Kalau memang kamu belum move on dari mantanmu, saya akan buka matamu untuk melihat betapa berengseknya dia. Dan kalau kamu ternyata menyukai orang lain saya akan..."


"Dokter akan apa?"


"Saya akan mundur perlahan. Saya nggak akan lagi mengganggumu."


"..."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ya~


__ADS_2