Kata Hati.

Kata Hati.
Chapter 44


__ADS_3

Kana menatap Arif dengan tatapan yakin, meski jantungnya juga berdebar karena ini akan menjadi moment yang memastikan apakah ketakutan itu masih ada, apakah bayangan akan masa lalunya yang menakutkan itu masih mempengaruhinya, apakah dia bisa menghadapi ketakutannya dan mengendalikannya. Kana akan mengetahuinya sekarang. Jantungnya berdebar, tapi juga penasaran.


Lain halnya yang dirasakan Kana, apa yang dirasakan Arif jauh lebih nano-nano, ada rasa takut, ada rasa khawatir, ada rasa penasaran, ada rasa tak sabar, ada rasa lapar, semuanya bercampur membuat jantungnya berdebar tidak karuan.


Arif berdeham, mencoba untuk mengusir keraguannya sendiri.


"Oke," katanya kemudian setelah beberapa saat mematung. "Hentikan aku kalau kamu masih belum siap."


Kana mengangguk mantap. Ia bahkan berdiri seperti orang yang siap untuk berperang sampai-sampai Arif yang tadinya deg degan dan konsentrasi penuh harus buyar karena melihat bagaimana super seriusnya ekspresi dan cara berdiri Kana, seolah jika Arif mengancamnya, Kana sigap untuk menendang Arif dengan kaki rampingnya itu.


Tapi Arif menahan senyumnya, ia tidak mau mematahkan rasa percaya diri dan rasa yakin yang sudah tertanam dalam diri Kana.


Perlahan Arif melangkah, seperti gerakan slow motion, dengan tatapan mata yang mengunci mata Kana dengan lekat dan dalam. Ia melakukannya dengan hati-hati, tidak ingin terburu-buru dalam ujian praktek pertama ini semenjak Kana konsultasi ke psikolog. Setiap gerakan yang dia lakukan, Arif mencoba untuk mengantisipasi bahasa tubuh Kana.


Begitu pun dengan Kana. Tatapan mata Arif yang penuh dengan perasaan membuatnya semakin berdebar. Bukan debaran orang yang ketakutan setengah mati, tapi debaran yang lain. Debaran yang memabukkan. Hingga sampai Arif berdiri dengan jarak super tipis.


Kana mendongakkan kepalanya, Arif menundukkan kepala, hingga kedua tatapan mata mereka saling mengunci, menghantarkan perasaan masing-masing. Arif diam sejenak, tidak melakukan apa-apa selain menatap dan mengantisipasi respon tubuh Kana.


Kana sendiri mencoba mengartikan debaran jantungnya. Ia tidak merasakan ketakutan, tatapan intens Arif mengaburkan kenangan kelamnya, ketakutannya. Tatapan mata penuh perasaan yang tulus itu menghapuskan ingatan akan tatapan mata penuh kilat napsu dan lapar dari orang-orang yang dulu hampir melakukan rudapaksa, juga tatapan mata Danu yang dulu meminta Kana untuk melakukan itu.


Tangan Arif mulai bergerak setelah melihat tidak ada respon yang negatif dari Kana. Jemari hangatnya menyentuh pelan pipi Kana, mengusapnya lembut, kelewat lembut malah sampai kesannya sangat hati-hati seolah Kana adalah perkamen dari zaman purba yang akan menjadi abu jika tidak penuh kehati-hatian. Ia menyelipkan sejumput rambut Kana ke belakang daun telinga, ibu jarinya sekali lagi mengusap daun telinga itu dengan penuh kelembutan.


Kana merasakan kehangatan dan rasa yang aneh dalam tubuhnya. Bukan, bukan rasa takut atau rasa yang membuat dirinya tak nyaman. Justru, sentuhan kecil-kecil dari Arif membuatnya begitu tentram.


Tangan yang lainnya Arif gerakkan untuk menyentuh pipi Kana dari sisi yang lainnya, mengusapkan ibu jarinya pada pipi Kana yang memiliki bekas jerawat, namun sama sekali tidak mengurangi kadar manis dan cantik istrinya.


Wajah Arif mulai bergerak, semakin dekat....


Dekat...


Kana dapat merasakan hembusan napas yang hangat pada pipinya...


Kana mengepalkan tangannya pada sisi tubuhnya sendiri, tangan Arif seperti memiliki radar, tangan yang tadi menyentuh tengkuk Kana setelah menyentuh daun telinga, dia gerakkan turun untuk meraih salah satu tangan Kana yang mengepal, meremasnya pelan, menghantarkan kehangatan dan kenyamanan dalam genggaman tangannya.


Dan akhirnya.... Arif berhasil mengikis jarak diantara mereka, tidak ada lagi ruang kosong diantara keduanya. Bibirnya menyatu dengan bibir Kana.


Arif mengecupnya ringan dan lembut, tidak ada pemaksaan sama sekali, hanya sebentar, karena ia melepaskan sentuhan bibir mereka, memundurkan wajahnya untuk memastikan istrinya baik-baik saja.


"Bagaimana?" tanya Arif.


Kana mengerjapkan mata.


"Kamu baik-baik aja, kan?"


"Sepertinya." jawab Kana ragu.

__ADS_1


"Sepertinya?" Arif membeo dengan kening berkerut. "Jadi, apa yang kamu rasakan sekarang?"


"Aku... Deg degan." jawab Kana jujur.


"Sama, aku juga."


"Mas kenapa deg degan juga?"


"Takut." jawab Arif sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Kana.


"Takut? Apa Mas perlu konsultasi juga ke Dokter Ani?" Pertanyaan Kana yang polos dan ekspresinya yang berubah sangat khawatir membuat Arif tak tahan untuk menyunggingkan senyuman lebarnya.


"Kenapa kamu lucu sekali sih." Arif mencubit gemas pipi Kana.


"Ish, aku kan nggak lagi ngelawak loh. Lagi serius nih."


"Makanya jadi lucu gini, bikin aku jadi tambah klepek-klepek sama kamu."


"Ih, orang aku tanya serius Mas! Mas takut kenapa? Memang Mas pernah ada trauma juga? Apa Mas pernah hampir diperk*sa juga?"


Pertanyaan Kana sukses membuat Arif menyemburkan tawanya. Benar-benar di luar prediksi pertanyaan yang Kana ajukan, yang lebih bikin Arif gemas adalah ekspresi Kana yang begitu serius.


Karena tawa itu, Kana jadi kesal sendiri, dia sungguh mengkhawatirkan Arif, tapi reaksi Arif malah mentertawakannya. Menyebalkan!


Kana mendorong Arif, ia hendak pergi, tapi kedua lengan Arif langsung melingkar pada seputar pinggang hingga perut Kana, menahan wanitanya tetap berada dalam posisi.


"Kok tiba-tiba sebel?" tanya Arif pelan di daun telinga Kana.


"Ya, abisnya Mas malah ketawain aku, aku kan beneran khawatir loh, Mas takut kenapa, kok Mas Arif bisa ketakutan juga. Gitu. Tapi Mas malah ketawa. Sebel!"


Arif mengecup pipi Kana saking gemasnya.


"Aku nggak apa-apa, sayang. Aku nggak pernah punya pengalaman trauma apa-apa. Ketakutan aku bukan karena aku punya peristiwa buruk secara pribadi." Arif memutar tubuh Kana agar mereka kembali saling berhadapan.


"Aku takut karena... aku takut menyakiti kamu seperti waktu itu. Aku takut uji coba ini akan membuat kamu takut sama aku seperti waktu itu. Aku takut kamu tenggelam lagi dalam ketakutan masa lalu kamu. Itu yang aku takutkan, sayang."


Kana menipiskan bibirnya. Memalingkan wajahnya dari tatapan Arif yang membuat tulang belulangnya seperti meleyot kesegala arah.


"Oh..." hanya itu yang keluar dari bibir mungil yang baru saja dikecup singkat dan lembut yang anehnya menghantarkan getaran aneh dalam relung dada Kana.


"Kamu sendiri bagaimana? Kamu baik-baik aja? Apa yang kamu rasakan? Apa masih takut? Apa ingatan buruk itu muncul lagi tadi saat aku menciummu?"


"Eng.... Ingatan buruk itu muncul sih, tapi..."


"Tapi?"

__ADS_1


"Tapi kabur. Kayak layar tipi yang banyak semutnya. Hampir nggak jelas ingatannya. Dan aku nggak ngerasa takut sama sekali."


"Benarkah?" Kedua alis mata Arif naik, menatap Kana dengan bangga.


Kana mengangguk.


"Tapi.."


"Tapi apa?"


"Aku ngerasain perasaan yang aneh masa."


"Perasaan aneh gimana?"


"Jantung aku jedag jedug, bukan karena takut. Tapi karena... Apa ya... Aku sendiri juga nggak ngerti, aku belom pernah ngerasain perasaan aneh kayak gini sebelumnya." jawab Kana dengan sejujur-jujurnya. Jawaban yang mengundang senyum lebar pada wajah Arif.


"Kalau gitu, gimana kalo kita coba lagi, supaya kita bisa tau itu perasaan apa?"


Ah elah... Modus banget Dokter Arip.


Kana mendongakkan lagi kepalanya saat wajah Arif kembali mendekat dan mengikis jarak, hembusan napas pada pipi Kana membuat kedua mata Kana refleks menutup.


Arif menuntun tangan Kana untuk diletakkan di atas kedua bahu Arif. Bibir dua insan halal itu pun bersentuhan kembali. Kali ini bukan hanya sekadar kecupan singkat uji coba. Karena Arif mulai mencium bibir istrinya itu dengan penuh perasaan yang meletup-letup. Mengalirkan sengatan-sengatan yang membuat darah Kana berdesir hebat. Seperti banyak sekali kupu-kupu terlahir di dalam perut Kana, beterbangan kesana kemari.


Arif melepaskan bibir mereka yang saling beradu untuk melihat wajah Kana yang... Ah, cantik pake banget!


"Sekarang bagaimana?" tanya Arif.


"Perut aku..."


"Kenapa perut kamu?"


"Kayak ada kupu-kupunya."


.


.


.


Bersambung ya~


❤️


Udah baper belom? 😄

__ADS_1


Ada yang bisa tebak abis ini pasutri unyu ini akan ngapain?? Hehehe 😁


__ADS_2